
Sehun sama sekali tidak mengatakan mengenai pertunangan mereka. Mungkinkah itu karna Sehun memang tidak pernah menginginkan pertunangan ini? Apalagi sampai harus bersama dengan seseorang yang sama sekali tidak dicintainya. Apa ini artinya..Sehun bersedia memberi harapan pada Hana?
“Boleh tidak, aku tau kenapa kau menyukai Sehun?” Tanya Putri sedikit ragu
“Aku tidak tau. Aku menyukainya tanpa alasan apapun. Karna perasaan itu tumbuh tiba-tiba dan dengan sendirinya.” Putri kini hanya dapat terdiam di tempatnya mendengar perkataan gadis di depannya saat ini. Hana ternyata sungguh-sungguh menyukai Sehun.
Suara pintu kamar yang terbuka mengalihkan pandangan keduanya. Nampak Sehun yang berdiri di depan pintu dengan mengenakan kemeja putih polos yang terbuka memperlihatkan bagian depan kaos hitam yang dikenakannya didalam.
“Oh?! Kau sudah siap rupanya..cepat juga.” Kata Hana sambil tersenyum
“Aku memang tidak suka berlama-lama jika berpakaian.” Jawab Sehun singkat.
“Aku mengerti. Kalau begitu ayo kita berangkat!” Seru Hana berniat berjalan keluar kamar sampai akhirnya menghentikan langkahnya. “Eh?! Tapi bagaimana denganmu, Putri~si?! Apa tidak apa-apa jika kau ditinggal sendirian disini?”
“Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja, pergilah! Dan jangan lupa, bawa bahan-bahan yang banyak agar kita bisa memasak makanan enak hari ini.” Ucap Putri seraya tersenyum lebar membuat Hana ikut tersenyum kearahnya lalu mengangguk.
“Tentu saja! Aku akan membeli banyak bahan makanan, kau tenang saja! Kami pergi dulu ya, Annyeong!!” Seru Hana lalu berlari kearah Sehun yang hanya memandang datar Putri dari luar kamar. Keduanya pun akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
♥~:♥~:♥
Sehun dan Hana akhirnya tiba di pasar tradisional Seogwipo olle. Salah satu pasar terbaik disana yang memiliki lebih dari 200 toko yang menjual segala sesuatu dari ikan yang baru ditangkap sampai pakaian kasual.
Sehun berjalan pelan sambil memandang sekeliling. Ini pertama kali baginya datang ke pasar tradisional dan kesan pertama yang muncul dalam pikirannya adalah tempat itu cukup baik. Berbeda dengan bayangannya sebelumnya, selama ini Sehun selalu berpikir kalau pasar tradisional adalah sebuah tempat yang penuh sesak dengan orang-orang serta sampah yang kadang berserakan dimana-mana. Tapi melihat keadaan pasar yang ia datangi saat ini sepertinya harus membuatnya menarik ucapannya. Karna di tempat ini selain tempatnya lumayan luas dan jualan yang tertata rapi. Pasar tersebut juga dapat dikategorikan bersih.
“Permisi Bibi, berapa harga ikan segar ini?!” Tanya Hana pada salah seorang penjual disana.
“Ah~yang itu harganya 4000 won.” Jawab Bibi penjual tersebut
“Hah?! Kenapa mahal sekali? Bagaimana kalau 2000 won?!” Tawar Hana seraya memeriksa beberapa ekor ikan. Sehun sendiri menatap terkejut kearahnya.
Apa dia sudah gila? Bagaimana mungkin ia menawarnya sampai setengah harga seperti itu?!
“3000 won..aku sudah memberikan harga murah untukmu.” Kata Bibi itu lagi namun Hana hanya menggeleng pelan
“Aniyo..aku hanya mau 2000 won. Kalau mau aku akan membelinya, tapi kalau tidak..”
“Wah~nona ini benar-benar pintar menawar rupanya. Baiklah..aku akan memberikannya seharga 2000 won untukmu.” Ucap Bibi itu seraya tersenyum begitupula dengan Hana. Satu-satunya orang yang mematung disana adalah Sehun. Pemuda itu sama sekali tidak menyangka kalau Bibi itu benar-benar mau menjualnya dengan setengah harga.
“Bagaimana kau bisa melakukan itu?!” Tanya Sehun pada Hana saat mereka baru saja selesai membeli ikan
“Em?! Melakukan ap..ah! maksudmu penawaran tadi?” Seru Hana saat mendadak menyadari maksud pemuda itu. “Aku hanya tinggal menyebutkan harga yang seharusnya, itu saja. Aku hampir setiap hari pergi ke pasar seperti ini, jadi aku tau berapa harga-harga jualan yang seharusnya di tempat tersebut. Itu sebabnya aku berani menawar rendah, tapi tetap mempertimbangkan keuntungan untuk mereka.” Jelasnya. Sehun sendiri hanya mengangguk pelan mendengarnya.
“Sebenarnya dulu aku dan Oppa-ku sering ke pasar bersama-sama, namun karna sekarang ia harus bekerja dan lebih sering tinggal di Busan. Aku jadi melakukannya sendirian.” Hana yang mendadak terlihat sedih membuat Sehun sedikit merasa bersalah karna telah menanyakan sesuatu yang membuat gadis itu teringat dengan kakak laki-lakinya.
“Maaf..aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu sedih dengan mengingatkanmu pada Kakakmu.” Sesal Sehun
Hana memandang Sehun sebentar. “Boleh tidak aku memanggilmu Oppa?!” Tanyanya tiba-tiba membuat Sehun nampak sedikit terkejut mendengarnya
“Mwo? Oppa?! Tapi kan...”
“Ayolah..lagipula aku sudah lama tidak memanggil seseorang dengan sebutan ‘Oppa’. Atau..anggap saja itu sebagai bentuk permintaan maafmu padaku. Bagaimana?”
Sehun berpikir sejenak. Ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan itu. Sejujurnya Sehun agak ragu untuk mengiyakan permintaan Hana, karna panggilan Oppa bukan hanya sekedar panggilan biasa baginya. Tapi lagi-lagi mengingat ia sedang tinggal dirumah gadis ini, ia pun terpaksa membiarkannya.
“Terserah kau saja.” Jawabnya singkat
“Benarkah?! Gomawo Sehun oppa!!” Seru Hana antusias seraya merangkul lengan Sehun
“Kau sampai sesenang itu?!” Tanyanya cukup takjub dengan perubahan ekspresi Hana. Rasanya baru beberapa saat yang lalu ia melihat mata gadis itu berkaca-kaca dan kini diwajahnya sudah tersungging senyum lebar.
“Tentu saja aku senang! Aku sangat senang karna akhirnya bisa merangkulmu, orang yang kusukai..” Terang Hana yang nampak begitu senang membuat Sehun tanpa sadar ikut tersenyum saat melihatnya.
“Oppa..jangan lakukan itu lagi.” Kata Hana tiba-tiba membuat raut wajah Sehun berubah
“Melakukan apa?” Tanya Sehun tidak mengerti
“Jangan menunjukkan eye smile-mu seperti itu didepan orang lain, karna kau...hanya boleh memperlihatkannya untukku.”
Sehun menatap gadis itu tidak percaya.
“Mwo?! Kau ini aneh..bagaimana mungkin aku bisa tidak memperlihatkannya pada orang lain? Itu kan terjadi dengan sendirinya saat aku tersenyum maupun tertawa.”
“Kalau begitu jangan tersenyum maupun tertawa!” Ucapan Hana seketika membuat Sehun melongo di tempatnya. Gadis ini aneh, gila atau apa?!
Entah kenapa tiba-tiba saja sebuah tawa kecil terdengar dari bibir Sehun. Sungguh, ini pertama kalinya ia menemukan seorang gadis seperti dihadapannya ini. Gadis itu selain begitu jujur juga ternyata berhasil membuat Sehun tanpa sadar seolah terbawa dengan sikap riangnya.
Apa yang terjadi denganku..?
♥~:♥~:♥
Hari sudah sore saat keduanya pulang dari pasar dan selesai membeli bahan-bahan, Sehun dan Hana pun akhirnya tiba di rumah. Betapa terkejutnya mereka saat masuk kedalam dan mendapati rumah yang sebelumnya cukup berantakan kini sudah bersih dengan barang-barang yang tertata rapi ditempatnya.
“Siapa yang..” Kalimat Hana mendadak terhenti saat melihat Putri yang baru saja keluar dari dapur.
“Oh?! Kalian sudah pulang rupanya..kenapa lama sekali?” Ucap Putri sambil tersenyum
“Putri~si..apa kau yang melakukan semua ini?!” Tanya Hana seraya memandang sekeliling, begitupula dengan Putri
“Ne..memang aku yang melakukannya.” Putri mengangguk pelan. “Ada apa?! Apa kau marah? Ah! Maafkan aku karna telah menyentuh barang-barang disini, aku hanya berniat membantu membersihkan rumah ini. Aku sama sekali...”
“Terima kasih..” Hana yang tiba-tiba saja berjalan kearahnya kemudian memeluknya membuat Putri mendadak menghentikan kalimatnya. “Terima kasih karna sudah mau membantuku merawat rumah ini.”
Putri yang sempat terkejut kini berubah tersenyum lalu membalas pelukan Hana.
“Terima kasih juga karna telah membiarkan kami tinggal disini.” Ucapnya. Meski ini baru pertama kali baginya, tapi entah mengapa ia merasa begitu dekat dengan Hana. Memeluk gadis itu serasa memeluk saudara perempuannya sendiri.
Setelah beberapa saat mereka pun akhirnya melepasakan pelukannya. “Memelukmu..rasanya seperti memeluk kakakku sendiri.” Seakan bisa membaca apa yang dipikirkan olehnya Putri menatap Hana terkejut.
“Aku juga merasa seperti itu, aku seolah sedang memeluk adik perempuanku sendiri. Sesuatu yang bahkan belum sempat kurasakan karna adik perempuanku yang tidak jadi lahir ke dunia ini.” Ujar Putri lirih.
Baik Hana maupun Sehun kini sama-sama tertegun mendengar perkataannya barusan.
Hana menatap Putri menyesal.
“Maaf..aku sama sekali tidak tau kalau..”
“Tidak apa-apa..lagipula aku senang, setidaknya sekarang aku sudah bisa merasakan seperti apa rasanya memeluk seorang adik perempuan itu.” Kata Putri tersenyum
“Kalau begitu..boleh tidak aku memanggilmu dengan sebutan Unnie ?! Aku sangat ingin memiliki seorang kakak perempuan. Lagipula umurmu memang lebih tua dariku kan?”
Putri memandang wajah gadis itu sebentar lalu akhirnya tersenyum kecil. “Kau boleh memanggilku Unnie kapanpun kau mau.”
“Benarkah?!” Seru Hana antusias membuat Putri mengangguk. “Wah! Aku benar-benar beruntung, bisa mempunyai 2 kakak sekaligus dalam sehari. Putri Unnie dan Sehun Oppa.”
Perkataan Hana sempat membuat Putri tertegun di tempatnya.
Oppa? Jadi ternyata Hana sudah bisa memanggil Sehun dengan sebutan itu sekarang. Ia sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu bisa secepat ini akrab dengan Sehun.
“Kalau begitu, mana bahan-bahannya? Biar aku yang memasak, kalian pasti lapar kan!” Seru Putri berniat mengambil bungkusan plastik belanjaan dari tangan Hana saat gadis itu tiba-tiba saja menariknya.
“Unnie. bukankah kau baru saja selesai membersihkan seisi rumah..kau pasti sangat lelah! Sekarang istirahatlah di kamar, biar aku saja yang memasak untuk makan malam.” Terang Hana
“Tapi mana mungkin aku membiarkanmu mengerjakannya sendirian..kau..”
“Biar aku yang akan membantunya.” Ucap Sehun tiba-tiba saat Putri belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Lihat kan?! Lagipula sudah ada Sehun oppa yang membantuku. Unnie tidak usah khawatir.” Jawab Hana tersenyum senang seraya sesekali memandang kearah Sehun yang justru saling bertatapan dengan Putri.
Putri menatap pemuda itu lekat. Detik kemudian, ia pun akhirnya mengangguk pelan.
“Baiklah..aku mengerti.” Ucapnya singkat lalu berjalan masuk kedalam kamar.
“Ayo oppa..kita masak!” Seru Hana seraya menarik tangan Sehun kearah dapur.
Sesampainya mereka disana Hana langsung mengeluarkan bahan-bahan yang mereka sudah mereka beli sebelumnya. Dan setelah memisahkan beberapa bahan tersebut, mereka pun mulai memasak sesuai apa yang dikatakan oleh Hana.
Saat mereka tengah sibuk memasak, Hana tanpa sengaja memandang kearah Sehun dan tepat saat gadis itu melihat apa yang dilakukan Sehun ia pun tak kuasa menahan tawanya.
“Haha!! Mwoya~apa yang sedang oppa lakukan?!” Tanyanya seraya terrtawa terbahak
“Kau tidak bisa lihat apa?! Aku sedang memotong bawang, memangnya apa yang lucu?!” Tanya Sehun balik sambil menatap Hana heran
“Oppa..apa kau tidak salah?! Masa memotong bawang sampai setebal ini?!” Terang Hana seraya mengangkat salah satu hasil potongan bawang Sehun yang tebalnya mungkin sekitar 2cm. “Memangnya oppa pikir memotong bawang itu sama seperti memotong mentimun apa?! Haha!!” Serunya sambil terus tertawa
“Ya!! Kau ini cerewet sekali! Kau pikir ini mudah apa? Coba saja lakukan sendiri kalau kau bisa!” Kata Sehun kesal seraya memberikan pisau tersebut pada Hana. Gadis itu sendiri tersenyum kecil lalu menerima pisau tersebut.
Betapa terkejutnya Sehun saat Hana mulai menggerakkan pisau tersebut lalu memotong bawang. Gerakan gadis itu begitu cepat dan berhasil membuat irisan-irisan bawang tersebut menjadi jauh lebih tipis dari miliknya. Ia menatap takjub kearah Hana, gadis ini memang diluar bayangannya.
Setelah selesai Hana pun menatap kearah Sehun sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Dasar..oppa ini kan seorang pria, tapi masa begitu saja tidak bisa sih?!”
Mendengar itu Sehun mendadak merasa panas dan langsung mengambil pisau dari tangan Hana. “Kau bilang apa?! Ya! Jangan sembarangan..kau pikir aku ini apa? Kau pikir aku juga tidak bisa melaku..Akkhh!!” Pekiknya saat tanpa sengaja mengiris jarinya sendiri sewaktu berniat mengiris bawang tersebut dengan terburu-buru.
Lagi-lagi Sehun dikejutkan oleh tingkah Hana yang tidak terduga.
Gadis itu tiba-tiba saja menghisap jarinya berusaha menghentikan darah yang mengalir, membuat Sehun tertegun di tempatnya. Mendadak ia merasakan desiran aneh dalam dadanya. Sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.
“Ada apa denganmu? Kenapa sampai begitu ceroboh melukai jari sendiri, huh?!” Seru Hana kesal sekaligus terlihat begitu khawatir membuat Sehun menatapnya bersalah.
“Mianhae..lain kali aku akan berhati-hati. Maaf sudah membuatmu khawatir.” Sesalnya lalu perlahan menarik tubuh gadis itu dalam dekapannya.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang memandangi mereka dari kejauhan. Putri yang baru saja berniat mengambil minum mendadak menghentikan langkahnya saat tiba-tiba mendapati Sehun dan Hana yang sedang berpelukan di dapur.
Mendadak Putri merasakan sesuatu yang bergejolak terjadi dalam dirinya. Jantungnya berdetak dengan cepat dan dadanya yang terasa sesak seolah membuatnya sulit bernafas. Tak ingin berlama-lama disana, ia pun berjalan meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam kamar. Baru saja gadis itu sampai didalam ia langsung menyandarkan tubuhnya pada pintu yang tertutup. Pandangannya kini menerawang ke depan. Mengingat apa yang baru saja disaksikannya.
Mungkinkah ini berarti bahwa Sehun ternyata juga menyukai Hana?
--To Be Cont.

0 comments:
Posting Komentar