What is Love (Chapter 5/End)



“Bagaimana Unnie? Apa rasanya enak?” Tanya Hana saat Putri baru saja selesai mencicipi sup yang ada diatas meja.
Putri sendiri mengangguk mantap sambil tersenyum.”Enak. Masakan ini enak sekali..”
“Benarkah?! Itu aku dan Sehun oppa yang membuatnya bersama-sama..” Ucapan Hana barusan membuat Putri sejenak menghentikan kegiatannya namun akhirnya kembali tersenyum lebar.
“Begitu yah..itu artinya kalian berdua cocok jika bersama-sama.” Kali ini giliran Sehun yang menghentikan aktivitas makannya, dan menatap tajam kearah Putri.
Kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal aneh seperti itu?
Jinjja?! Wah!! Aku senang sekali mendengar unnie berkata seperti itu..kkk~” Kekeh Hana membuat Putri tersenyum melihat tingkahnya.
“Ah iya! Hubungan oppa dan unnie sebenarnya apa? Kenapa malam itu kalian bisa bersama-sama..?”
Pertanyaan Hana barusan seketika membuat Sehun dan Putri menghentikan kegiatan makannya karna terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Hana akan menanyakan hal seperti ini. Dan sejujurnya, mereka tidak yakin harus menjawab apa.
“Dia adalah...”
“Adik perempuan!” Seru Putri tiba-tiba saat Sehun berniat mengatakan yang sebenarnya.
Pemuda itu kini menatap terkejut kearah Putri.
Apa yang baru saja dikatakannya? Adik perempuan?! Sebenarnya ada apa dengannya?

“Ah~jadi kalian berdua ini bersaudara?! Padahal aku sempat berpikir kalau kalian ini pasangan kekasih. Tapi syukurlah, ternyata dugaanku salah. Itu sebabnya kau mau mendukungku, terima kasih banyak unnie..” Seru Hana terkekeh. Tampaknya ia begitu senang saat ini, membuat Putri mengangguk seraya tersenyum lebar melihatnya. Berbeda dengan Sehun yang masih menatap kearah Putri. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa gadis itu bukannya mengatakan bahwa dia sebenarnya adalah calon tunangannya dan malah berkata bahwa ia hanya seorang adik perempuan. Ia harus mencari tau apa sebenarnya yang terjadi.
Malam sudah larut namun entah kenapa Putri sama sekali belum bisa tidur. Itulah sebabnya ia memilih keluar dan duduk di teras rumah.
Putri memandang kearah langit, malam ini tidak seperti kemarin. Salju tidak turun dan yang ada hanyalah bulan yang menyinari malam dengan cahayanya ditemani bintang-bintang yang semakin membuat langit terlihat begitu indah saat ini.
“Disini kau rupanya..” Suara seseorang yang begitu dikenalnya membuat Putri seketika tersadar dari lamunannya. Melihat Sehun yang kini berada dibelakangnya membuatnya bangkit seketika dan berniat masuk kedalam rumah sampai Sehun berhasil menahan lengannya.
Dwaesso, kau pikir berapa lama kau bisa menyembunyikan alasanmu terus-menerus dariku?!” Kalimat Sehun membuat Putri terdiam sejenak lalu akhirnya kembali duduk di tempatnya semula diikuti Sehun yang juga duduk disebelahnya.
Babo~ya? Kenapa kau harus berbohong padanya?” Tanya Sehun akhirnya
“Apa kau lupa? Bukankah sebelumnya kau sudah mendengarnya. Hana sudah kuanggap seperti adik perempuanku sendiri, dan seorang kakak tidak mungkin membiarkan adiknya sedih apalagi terluka.”
Sehun menatap gadis itu tidak percaya. “Tapi dia itu kan juga bukan adik kandungmu..?”
“Kau bisa mengatakan itu karna kau tidak tau seperti apa rasanya kehilangan seorang adik.”
Sehun menatapnya heran.
“Apa maksudmu?”
“Aku masih ingat, saat itu aku dan kedua orang tuaku begitu menunggu-nunggu kehadiran adik perempuanku yang masih berada dalam kandungan. Sampai kecelakaan itu pun terjadi. Eomma yang sudah siap berangkat menghadiri acara perpisahan sekolahku berniat menuruni tangga, namun karna terburu-buru ia mendadak jatuh terpeleset saat hampir menuruni 4 anak tangga terakhir membuatnya harus kehilangan bayinya saat itu juga."
Tutur Putri kemudian menarik nafas dalam.
"Hal itu diperparah saat dokter terpaksa harus mengangkat rahim eomma karna dianggap membahayakan dirinya akibat dari keguguran tersebut. Kau tau kan apa artinya itu? Eomma tidak akan bisa mengandung lagi dan aku tidak akan pernah bisa tau seperti apa rasanya memiliki seorang adik. Untuk selamanya. Apa kau tau bagaimana perasaan kami saat itu? Apa...” Gadis itu tidak sanggup melanjutkan kalimatnya karna airmatanya sudah lebih dulu menetes di pipinya. Kenangan itu memang terlalu sulit untuk dilupakannya.
Sehun menatap Putri yang sedang kini terisak ditempatnya sambil tertunduk. Seolah tergerak dengan sendirinya, ia mendekat lalu menarik gadis itu dalam dekapannya erat, membuat isakan Putri semakin menjadi. Namun Sehun membiarkannya, entah kenapa ia tidak suka jika melihat gadis itu menangis.
Hatinya terasa begitu sakit dan sesak melihat Putri yang terisak seperti saat ini, dan sebisa mungkin ia akan berusaha membuat kesedihan gadis itu berkurang.
Sekitar beberapa menit keadaan itu berlangsung dan akhirnya perasaan Putri sudah cukup membaik saat ini. Putri yang sepertinya baru menyadari sesuatu lalu mengangkat kepalanya hingga tanpa sengaja mendapati wajah Sehun yang juga menatapnya saat ini dengan jarak yang begitu dekat. Keduanya terdiam saat pandangan mereka bertemu satu sama lain.
“Jangan sampai kau juga menyukaiku.” Kata Putri membuat Sehun tersadar dan langsung menarik wajahnya menjauh.
“Apa maksudmu? Memangnya kena..?” Seolah sesuatu Sehun menatap tajam kearah gadis itu.
“Mungkinkah itu artinya..ka..kau...?”
Putri tersenyum kearah Sehun.
“Tidak salah apa yang dikatakan Jihyun ahjumma tentangmu. Kau memang cerdas."
"Mwo?" Sehun masih menatap gadis itu lirih
"Benar. Aku menyukaimu.”
Mendengar itu Sehun seolah terpaku di tempatnya. Pernyataan Putri yang tiba-tiba seperti ini sungguh membuatnya tidak tau harus mengatakan ataupun melakukan apa sekarang.
“Kau pasti terkejut kan? Mianhae..jujur awalnya tidak berniat mengutarakan perasaanku, namun daripada terus menyimpannya sendirian akan lebih baik jika aku mengatakannya padamu sekarang. Karna aku takut setelah ini aku tidak akan punya kesempatan lagi untuk melakukannya.” Tutur Putri. Sehun sendiri masih diam ditempatnya tanpa berkomentar apapun. Detik kemudian Putri menatap mata Sehun dalam lalu tersenyum kecil.
“Sehun~ah..kita batalkan saja perjodohan ini.”
Ucapan Putri kali ini membuat hati Sehun serasa mencelos seketika. Seolah tidak percaya dengan semua hal yang baru saja di dengarnya. Ia mendengus keras. “Apa kau sedang mempermainkanku? Jangan jadikan perjodohan ini sebagai candaan..”
“Apa aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda dimatamu?!” Sehun menatap kearah Putri. Gadis itu kini kembali meneteskan airmatanya.
“Kau ini sebenarnya kenapa?! Kenapa tiba-tiba saja memutuskan untuk membatalkan perjodohan seperti ini?!” Tanya Sehun dengan nada yang mulai meninggi
“Karna aku tidak ingin bersama dengan seseorang yang sama sekali tidak mencintaiku!!”
Mwo?!”
“Kau...mencintai Hana.”
“Ap…apa katamu? Ya! Bagaimana mungkin kau bisa beranggapan seperti itu?”
“Benarkah? Kalau begitu sekarang katakan kalau kau tidak menyukainya!”
Sehun tidak menjawab. Entah kenapa ia sama sekali tidak tau harus menjawab apa. Sejujurnya saat ini ia belum tau harus mengartikan seperti apa perasaannya pada Hana. Tapi ia juga tidak berani untuk mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun terhadap gadis itu.
Melihat Sehun seperti itu membuat Putri tertawa pelan. “Lihat..kau tidak berani mengatakannya. Itu karna kau memang memilki perasaan untuknya.” Sehun menatap Putri yang masih berusaha tersenyum namun ia masih bisa melihat pipi gadis itu yang basah karna airmata. Detak jantungnya seolah berpacu dengan cepat setiap kali melihat wajah Putri. Dan ia benar-benar benci setiap kali gadis itu meneteskan airmatanya.
“Hana sudah kuanggap seperti adikku sendiri, dan seorang kakak tidak mungkin akan membiarkan adiknya sedih..apalagi sampai terluka. Jadi kumohon..jaga dia baik-baik.” Pesannya pada Sehun yang hingga kini masih memberikan tatapn tak mengerti kearahnya.
“Baiklah. Semuanya sudah kukatakan padamu. Kau tenang saja, setelah tiba di Seoul nanti aku yang akan menjelaskan semuanya pada Eomma dan Jihyun ahjummaAnnyeong..” Ucap Putri bangkit dari tempatnya dan berniat pergi dari sana.
“Katakan padaku..” Kata Sehun tiba-tiba seraya membelakangi Putri membuat gadis itu menghentikan langkahnya. “Apa cinta itu sebenarnya..?”
“Cinta adalah saat dimana jantungmu berdetak cepat disaat melihat seseorang yang kau sayangi bahagia maupun terluka. Cinta juga dapat hadir secara tiba-tiba dan hanya memerlukan waktu sedetik untuk merasakannya, namun terkadang membutuhkan waktu yang lama baru bisa menyadarinya. Seperti saat Hana mengatakan perasaannya padamu dan saat nanti kau juga baru akan menyadari seperti apa perasaanmu padanya sebenarnya.” Terang Putri lalu akhirnya berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Sehun yang masih terdiam di tempatnya. Pandangan pemuda itu menerawang ke depan.

Cinta adalah saat dimana jantungmu berdetak cepat disaat melihat seseorang yang kau sayangi bahagia maupun terluka..

Mengingat ucapan Putri barusan membuat Sehun mendadak tertawa kecil. Bayangan saat Hana tersenyum kemudian berganti wajah Putri saat menangis mendadak muncul di benaknya. Sehun menatap telapak tangan kanannya cukup lama, detik berikutnya ia menempelkan telapak tangan tersebut di dadanya.

“Apa yang harus kulakukan? Apa mungkin..aku menyukai kedua gadis itu?!”
♥~:♥~:♥

Matahari sudah menampakkan sinarnya, walaupun tidak begitu cerah dikarenakan pagi ini cukup berawan. Putri, Sehun dan juga Hana kini baru saja tiba di Pantai Jungmun yang merupakan salah satu tempat indah di Pulau Jeju ini.
“Wah~benar-benar indah..” Ucap Putri yang memandang takjub ke sekeliling pantai, begitupula dengan Sehun dan Hana. Sapuan pasir pucat dan tanaman hijau yang merambat di bukit pasir serta angin pantai yang berhembus pelan membuat tempat itu terasa begitu nyaman dan tenang.
“Hari ini, kumohon bersikaplah seperti biasa.” Ucap Putri tiba-tiba membuat Sehun berbalik menatapnya.
“Anggap saja semalam tidak ada yang terjadi dan aku tidak pernah mengatakan apapun padamu. Aku hanya ingin..hari ini kita bertiga bisa bersenang-senang tanpa ada beban sedikitpun. Kau bisa kan melakukan itu?!” Tanyanya seraya ikut berbalik dan akhirnya saling bertatapan dengan Sehun. Pemuda itu sendiri tidak mengatakan apapun.
Unnie, kemarilah!” Seru Hana memanggil Putri dari kejauhan, berniat memanggilnya untuk ikut berjalan di pinggiran pantai. Membuat keduanya langsung tersadar lalu akhirnya memandang kearah lain.
“Iya! Tunggu sebentar!” Sahut Putri lalu mendadak melepaskan sepatunya. “Kau juga!” Tuturnya pada Sehun tiba-tiba, membuat pemuda itu menatapnya terkejut sekaligus heran.
“Untuk apa?! Aku tidak mau melakukan hal aneh..” Tolak Sehun membuat Putri mendadak merunduk lalu mulai membuka sepatunya. Sehun yang tidak menyangka kalau Putri akan melakukan itu berusaha menahannya. “Ya!Apa yang mau kau lakukan..?!”
Aiish jinjja!! Buka saja..kalau tidak aku akan terus memaksammu!”
Yaa!!! Baik..baiklah! Akan kubuka! Kau ini benar-benar..” Kata Sehun yang akhirnya membuka sepatunya sendiri. “Bagaimana? Senang?!”
Putri langsung tertawa riang. “Senang sekali..Haha!! Akan lebih menyenangkan jika kita berjalan diatas pasir seperti ini tanpa alas kaki. Kkaja!!” Serunya lalu berlari menuju Hana, tanpa menyadari Sehun yang seolah terpaku ditempatnya. Jantungnya mendadak berdetak cepat saat tadi melihat Putri tertawa seperti itu. Sesuatu yang kembali dirasakannya seperti semalam, namun kali ini ada yang berbeda. Ia merasa senang melihat gadis itu
Sesaat ia tersenyum sendiri ditempatnya, lalu akhirnya berlari menuju tempat Putri dan Hana. Namun baru saja ia sampai disana, Kedua gadis itu tiba-tiba saja memercikkan air laut kearahnya kemudian tertawa. Sehun sendiri malah menunjukkan wajah kesalnya membuat tawa keduanya seketika tehenti.
“Kalian pikir ini lucu? Membuat pakaianku sampai basah seperti ini!” Kata Sehun dingin
Mianhae..kami hanya..Kyaaa!!!” Ucapan Putri mendadak tergantikan pekikan saat Sehun tiba-tiba saja memercikkan air ke wajahnya. “Bagaimana, aktingku hebat bukan?!” Seru Sehun seraya tersenyum puas membuat Putri mendelik kearahnya
Aiish jinjja..bisa-bisanya membohongiku. Rasakan ini!!” Putri membalas dengan kembali memercikkan air dan tepat mengenai wajah Sehun dan Hana dan begitu seterusnya. Saat-saat itu benar-benar mereka habiskan dengan tawa dan canda tanpa beban sedikitpun.
Akhirnya setelah puas bermain di Pantai, mereka pun memutuskan untuk mengunjungi taman yang berada di dekat Tebing Jusangjeolli. Sebuah taman yang sengaja dibangun dengan jalan kecil yang berada di sepanjang taman yang memang diperuntukkan bagi pejalan kaki dimana mereka bisa memandangi tebing tersebut dari berbagai sudut.
“Indah sekali ya, oppa!” Seru Hana antusias saat mereka melewati taman. Sehun mengangguk pelan seraya tersenyum. Sedangkan Putri, lagi-lagi ia harus merasa takjub dengan keindahan yang dimiliki oleh Korea selatan terutama Pulau Jeju ini. Begitu banyak keindahan yang ditemukan olehnya selama berada di tempat ini. Keindahan yang mungkin akan sulit ditemukannya di Indonesia.
Langkah Putri mendadak terhenti saat mengingat Indonesia, entah kenapa ia begitu merindukan tanah airnya itu. Rumahnya, suasana kampus bahkan cuaca hangat disana. Ia benar-benar sangat merindukan semua itu. Putri sadar, seindah apapun tempat ini hal itu tidak akan membuatnya lupa pada tempat asalnya sendiri. Karna tempat itu adalah tempat dimana ia memulai kehidupannya dan menyimpan banyak kenangan baginya.
Putri memandang Hana yang terus berjalan ke depan sambil merangkul lengan Sehun. Keduanya nampak begitu menikmati pemandangan taman. Melihat itu Putri tersenyum kecil. Sepertinya inilah saat yang tepat untuk melakukan rencananya.
“Hana~ya..Sehun~ah. Sampai jumpa” Ucapnya pelan lalu mengeluarkan hp dari kantong celana jeans nya dan akhirnya menekan sebuah nomor.
Eomma...”
♥~:♥~:♥

Hana dan Sehun masih terus berjalan menyusuri taman sambil memandang sekeliling.
“Pemandangan disini benar-benar indah, aku senang sekali bisa datang ke tempat ini bersama Sehun oppa dan Putri unnie. Menurut unnie sendiri bagaimana..?” Tanyanya pada Putri. Merasa tidak ada jawaban dari belakang, keduanya pun akhirnya berbalik dan terkejut saat mendapati jalanan yang kosong tanpa seorangpun.
“Oh?! unnie pergi kemana? Bukankah tadi ia bersama-sama dengan kita?”
Mendadak hp milik Sehun bergetar, rupanya sebuah pesan masuk. Sehun terkejut saat melihat nama pengirim pesan yang ternyata tidak lain adalah Putri. Ia pun mulai membacanya

Sehun~ah..saat ini aku akan kembali ke Indonesia. Tidak ada lagi yang harus kulakukan disini, aku juga sudah menjelaskan semuanya pada eomma dan Jihyun ahjumma dan mereka bisa menerimanya dengan baik. Jadi jangan khawatir. Sampaikan salamku untuk Hana dan kumohon jaga dia baik-baik. Terima kasih untuk semua yang telah kalian lakukan untukku selama ini. Sampai jumpa..^^

Hati Sehun serasa mencelos seketika saat selesai membaca pesan di layar hpnya. Tangannya menggenggam erat hp tersebut. Entah kenapa hatinya terasa begitu sesak dan sakit saat membaca pesan tersebut. Pikirannya pun seolah mulai kacau saat ini.
Sehun menatap jauh ke belakang, jujur saat ini ia ingin sekali berlari dan mencari Putri agar bisa mencegah kepergian gadis itu. Namun ia tidak mungkin melakukan itu disaat Hana sendiri masih bersama dengannya saat ini.
Oppa..kau sebenarnya mencintai Putri unnie kan?!” Pertanyaan Hana yang tiba-tiba seketika membuat Sehun tertegun di tempatnya.
“Ap..apa maksudmu?”
“Kau mencintainya oppa..itu bisa terlihat dari sikapmu saat ini.”
“Jujur saja saat ini aku sendiri tidak bisa mengartikan perasaanku sendiri.” Kata Sehun akhirnya.
“Dia bilang cinta itu adalah saat dimana jantung seseorang berdetak cepat dikala elihat orang yang disayangi bahagia maupun sedih. Tapi aku justru merasakan hal itu pada kalian berdua.”
“Apa oppa yakin?!” Tanya Hana lagi
“Apa sebenarnya maksudmu?!” Sehun menatap gadis itu tidak mengerti
“Disaat aku dan unnie tersenyum detak jantung oppa mungkin berdetak lebih cepat, namun perlakuanmu saat aku dan unnie sedang sedih begitu berbeda. Apalagi setelah menyaksikan semuanya semalam.”
Sehun menatap terkejut kearah Hana.
“Kau...melihatnya?!”
“Semalam saat oppa mendekap unnie aku bisa melihat dengan jelas kalau kau terus memperhatikannya. Tatapanmu malam itu menunjukkan bahwa kau seolah bisa merasakan seperti apa kesedihan yang dirasakan oleh unnie. Sangat berbeda dengan perlakuanmu padaku saat berada di dapur. Waktu kau memelukku saat itu yang aku rasakan hanya sebuah pelukan dari seorang kakak yang ingin menenangkan adiknya. Tidak lebih.” Tutur Hana membuat Sehun akhirnya ikut menyadarinya.
Malam itu saat ia melihat kekhawatiran di wajah Hana, ia memang sengaja memeluknya untuk menghilangkan kekhawatiran gadis itu sekaligus berusaha menenangkannya. Sedangkan saat bersama Putri, tubuhnya seolah bergerak dengan sendirinya mendekap gadis itu karna hatinya ikut merasakan sakit saat melihat gadis itu meneteskan airmatanya.
“Cinta mungkin buta oppa, tapi kita tidak buta..kita harus tau siapa orang yang sebenarnya kita cintai dalam hati ini. Lagipula, aku yakin kalau kau bukan mencintaiku. Kau hanya menyayangiku, berbeda dengan Putri unnie. Gadis yang sebenarnya diinginkan oleh hatimu. Dialah gadis yang sesungguhnya kau cintai, oppa..”
Sehun kini tidak mampu berkata apa-apa. Mendadak ia teringat akan perkataan eommanya saat ia dan Putri baru saja tiba di Jeju.

“Eomma hanya ingin kau dapat belajar suatu hal disana. Sesuatu yang sebenarnya dapat Eomma katakan secara langsung padamu. Namun akan lebih baik jika kau dapat menemukannya sendiri.”

Mungkinkah? Yang selama ini dimaksud oleh eommanya itu adalah menemukan arti cinta yang sebenarnya. Pemuda itu mengepalkan tangannya kuat. Menyesali dirinya sendiri yang begitu bodoh karna terlambat menyadari semua ini.
“Semuanya sudah terlambat. Dia sudah akan kembali ke negara asalnya..”
Aniyo..oppa!! Sama sekali belum terlambat. Bukankah oppa orang yang cerdas?! Kau pasti bisa menemukan cara untuk menemukannya! Aku percaya padamu..” Kata Hana seraya menatap dalam kearah Sehun membuat pemuda itu tersenyum kecil.
Gomawoyo. Kau benar, aku pasti akan menemukannya. Pasti.”
♥~:♥~:♥


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan akhirnya Putri pun tiba di bandara Soekarno-Hatta, Indonesia. Gadis itu hanya sendiri, itu karna ia memang memutuskan untuk pulang lebih dulu. Gadis itu memandang sekeliling, rasanya baru beberapa hari ia meninggalkan tempat ini tapi kenapa rasanya begitu senang saat kembali kesini.
Mungkinkah itu karna tidak ada lagi seseorang yang menjadi alasannya untuk tetap berada di Seoul?
Sadar kalau lagi-lagi teringat akan hal itu, ia pun cepat-cepat menggeleng lalu akhirnya memanggil taksi. Ia hanya ingin secepatnya sampai dirumah agar bisa menenangkan dirinya. Melupakan semua yang telah terjadi dan melanjutkan kehidupan lamanya yang sempat tergantikan selama beberapa hari.
Tidak butuh waktu lama bagi Putri untuk sampai dirumahnya. Kini ia sudah berada di depan sebuah rumah putih yang ukurannya cukup besar dan luas. Putri menghembuskan nafasnya lega lalu tersenyum kecil kemudian mulai melangkah masuk.
“Eh?! Nona Putri udah pulang?!” Seru Bibi Ina yang tidak lain adalah pengurus rumah ini. Orang yang juga sudah Putri anggap seperti Ibu kedua baginya.
“Iya bi..” Sahut Putri seraya tersenyum
“Kok gak nelpon ke rumah sih, Non? Nyuruh Pak Saman buat jemput di bandara..”
“Gak apa-apa kok, bi..lagian Putri sendiri yang pengen naik taksi kesini.”
“Ya udah, nona istirahat aja dulu. Nanti biar Bibi buatin makanan. Non, pasti laper kan?” Tanya Bi Inah membuat Putri mengangguk lalu tersenyum kecil. Begitupula dengan Bi Inah.
Akhirnya Putri pun berjalan menaiki tangga, dan setelah sampai di dalam kamar gadis itu langsung menghempaskan tubuh diatas tempat tidur kesayangannya.
Alih-alih memandangi seisi kamar, mata gadis itu mendadak terarah pada sebuah pintu kaca di depannya. Sebuah pintu menuju balkon. Tak ingin berlama-lama, ia pun berjalan menuju pintu lalu membukanya. Setelah sampai di balkon, ia langsung menuruni tangga kecil yang menuju halaman belakang rumah. Balkon tersebut memang sengaja dibangun agar Putri bisa dengan cepat sampai ke halaman yang terdapat di belakang rumah mereka. Tempat yang menjadi bagian favorit dari rumah ini bagi Putri.
Putri tersenyum memandang ke sekelilingnya. Tempat itu dikelilingi rerumputan hijau, dan terdapat sebuah kolam renang ukuran sedang di tengahnya. Gadis itu kini berjalan menuju kolam renang dan setelah sampai disana ia pun langsung duduk di pinggiran kolam.
Pandangan Putri menerawang ke depan, mena
tap pancaran sinar matahari sore yang seolah menembus air di kolam. Angin dingin mendadak menerpa tubuh gadis itu, membuatnya sempat terkejut dan seketika merapatkan jaket yang dikenakannya. Seolah menyadari sesuatu, kegiatan gadis itu mendadak terhenti. Detik berikutnya ia lalu melepas jaket yang dikenakannya lalu menatap barang tersebut yang kini berada dalam genggamannya. Sebuah jaket kulit berwarna hitam, yang tidak lain adalah jaket milik Sehun.
Jaket yang malam itu diberikan oleh Sehun saat ia merasa kedinginan dan berhasil membuatnya merasa hangat. Bukan hanya menghangatkan tubuhnya, tapi juga menyadarkannya akan kehangatan yang tersembunyi dibalik sikap Sehun yang dingin dan terkadang menyebalkan. Sesuatu yang seharusnya bisa menyadarkannya bahwa saat itu ia sudah menyukai pemuda itu.
Mengingat semua itu membuat Putri mendadak menundukkan kepalanya. Detik kemudian setetes airmata jatuh membasahi pipi mungilnya. Menyesali dirinya yang ternyata belum bisa melupakan Sehun. Ia tidak mampu melakukannya.
“Menangis lagi.”

Suara yang begitu dikenal oleh Putri mendadak terdengar, membuatnya langsung mengangkat kepalanya dan seketika terpaku di tempatnya saat matanya mengarah ke depan. Sehun.
Pemuda itu juga kini sedang duduk di pinggiran kolam seberang sana. Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, Putri lalu menggeleng cepat.
“Tidak mungkin. Ini pasti hanya perasaanku saja! Ini tidak..” Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya Sehun sudah lebih dulu melompat masuk kedalam air dan berenang menuju kearahnya.
Tidak butuh waktu lama, pemuda itu pun kini sudah berada tepat dihadapannya membuat Putri hanya bisa melongo di tempatnya karna kehilangan kata-kata saking terkejutnya.
Sehun akhirnya kesal karna gadis itu tidak juga memberi respon. “Ya!! Kau ini benar-benar! Aku sudah mencari berbagai cara agar bisa secepatnya bertemu denganmu. Tapi yang ada sekarang kau malah diam saja dan tidak...” Kalimat Sehun mendadak terhenti saat Putri tiba-tiba saja ikut melompat kedalam kolam dan langsung memeluknya erat. Jantungnya mendadak berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Terkejut, sedih sekaligus bahagia itulah yang dirasakannya saat ini. Kali ini ia tidak akan salah mengartikannya.
“Aku merindukanmu..” Ucap Putri kini terisak di pelukan Sehun karna terlalu bahagia saat melihat pemuda itu. Sulit dipercaya kini ia melihat Sehun berada di tempat ini.
Saranghae.

Satu kata yang diucapkan oleh Sehun berhasil membuat Putri tertegun di tempatnya saat ini. Berpikir bahwa ia baru saja salah dengar. Ia lalu melepaskan pelukannya dan menatap dalam kearah Sehun.
“Ba..barusan kau bilang apa?!” Tanyanya gugup
“Kau tidak mendengarnya? Aku bilang bahwa aku mencintaimu!” Ulang Sehun
“Tapi bagaimana mungkin? Bagaimana dengan Hana..?”
“Bukankah kau bilang Hana sudah seperti adikmu sendiri? Aku pun merasa seperti itu, bagiku Hana adalah seorang adik perempuan yang sudah seharusnya kujaga dan kulindungi." Tutur Sehun membuat Putri menatapnya dalam.
"Namun bukan seorang gadis yang bisa menempati hatiku, karna hati ini sudah lebih dulu terisi olehmu. Hanya saja aku yang terlambat menyadarinya. Lagipula kau tenang saja, aku sudah mengatakan semua padanya, dan ternyata ia bisa menerima semuanya.” 
Ya! Bukankah aku sudah menyatakan perasaanku padamu?! Sekarang giliranmu!” Ucapnya pada Putri tiba-tiba
“Cinta tidak harus selalu diungkapkan dangan kata-kata Sehun~si, terkadang hanya dengan melihat apa yang dilakukan seseorang untukmu bisa membuatmu sadar seperti apa besarnya cinta orang tersebut padamu.”
“Wah! Kau ini benar-benar ahli masalah percintaan!”
Putri menatap Sehun datar. “Keurae?! Menurutmu begitu..?”
Sehun sendiri tidak menjawab dan malah kembali menarik gadis itu dalam dekapannya.
“Tentu saja. Kau adalah gadis pertama yang membuatku jatuh cinta dan menyadarkan aku tentang hal itu. Karna itu, mulai sekarang ajarkan aku lebih banyak hal mengenai apa dan seperti apa cinta itu sebenarnya. Karna dengan begitu aku bisa semakin dan semakin mencintaimu, untuk selamanya.” Ujarnya tersenyum lalu mempererat dekapannya.
Putri yang sebelumnya sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Sehun, kini berubah tersenyum lalu akhirnya ikut melingkarkan lengannya di pinggang pemuda itu.

-Cinta itu seperti bunga. Sesuatu yang keindahannya terkadang hanya dipandang sesaat. Tanpa tau bahwa bunga tersebut sebenarnya memiliki wangi yang dapat memikat hati seseorang untuk merawatnya. Kita hanya perlu melihat lebih dekat untuk menyadarinya.-



                                   --FINISH--

0 comments:

Posting Komentar