Sehun kini sedang berjalan kaki di sebuah pemukiman yang ia sendiri tidak begitu bisa mengenalinya karna lampu jalan yang hanya berjumlah sedikit dan lumayan redup. Sedangkan Putri sendiri mengikutinya berjalan di belakang dan masih dengan jarak yang cukup jauh. Jujur saja suasana pemukiman yang sunyi sepi membuat gadis itu sedikit ketakutan, ia memang kurang suka dengan kegelapan. Namun ia tidak mau mengambil resiko dengan mendekat kearah Sehun, apalagi setelah apa yang terjadi di hotel tadi.
Tadi saat Sehun bertanya apakah ia membawa uang atau tidak, ia dengan mudahnya mengatakan iya membuat Sehun kelihatan lega saat mendengarnya. Namun disaat itu pula ia baru menyadari satu hal kalau ternyata dompet miliknya hilang. Rupanya tadi saat mereka tiba di hotel, Putri terlalu terburu-buru mengikuti Sehun sampai melupakan tas kecil miliknya yang berisi dompet berisi semua uang serta kartu debit miliknya. Saat itulah raut wajah Sehun mendadak berubah, dan Putri bisa melihat kalau pemuda itu pasti sangat kecewa.
Kini Putri seolah mengutuk dirinya sendiri atas apa yang terjadi hari ini. Belum juga masalahnya yang pertama dan Sehun selesai, ia sudah menambahkan masalah baru dengan membuat kecewa pemuda itu. Putri bahkan berpikir mungkin setelah ini Sehun tidak akan lagi mau bicara dengannya.
Betapa terkejutnya Putri saat gadis itu berniat melanjutkan perjalanannya. Dihadapannya kini terdapat pertigaan membuatnya kebingungan. Tadi karna ia terus saja memikirkan kejadian di hotel membuatnya tidak memperhatikan jalan dengan benar. Kini ia sama sekali tidak tau jalan mana yang dilalui oleh Sehun.
“Sehun~si..kau dimana?” Gumamnya.
Asal menebak akhirnya ia pun memutuskan memilih jalan lurus kedepan. Selangkah demi selangkah Putri terus berjalan mengikuti jalan tersebut namun ia sama sekali belum melihat tanda-tanda Sehun berada disana.
Lampu yang remang-remang ditambah dengan suasana yang sepi sunyi membuat Putri mendadak menghentikan langkahnya. Rasa takut kini mulai menyelimuti dirinya hingga membuat langkahnya tidak terarah.
Tepat saat gadis itu sudah sangat ketakutan sekaligus bingung. Seseorang tiba-tiba saja menarik tangannya.
“KYAAAA!!!”
Pekiknya kaget setengah mati
“Aissh~ jinjja!! YAA!! Kenapa teriakanmu keras sekali?! Aku sendiri sampai ikutan kaget tau!” Seru orang itu yang tidak lain ternyata adalah Sehun. Putri sendiri masih tidak dapat bicara karna terlalu terkejut.
“Se..Sehun~si” Ucap Putri akhirnya
“Kau ini darimana saja?! Kau tau, sejak tadi aku terus-terusan mencarimu tau?! Bisa tidak sekali saja jangan membuatku kebingungan.?!.”
“Maafkan aku!!” Seru Putri membuat Sehun terdiam. “Maaf..karna terus saja membuatmu kesal dengan sikapku dan maaf karna kehadiranku hanya membuat lelah juga menyusahkanmu. Sejak tadi aku sudah berusaha agar tidak menyusahkan dengan cara menjaga jarak denganmu, namun sepertinya yang terjadi malah semakin banyak masalah yang muncul.” Tuturnya dengan nada suara bergetar
“Aku..hanya menjadi beban bagimu. Aku sama sekali tidak berguna.” Tepat setelah mengatakan itu airmata mendadak menetes membuat Sehun menatapnya terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka kalau rasa bersalah dan penyesalan gadis itu sampai seperti ini.
“Mianhae. Sikapku sejak pulang dari taman hiburan memang keterlaluan. Sejak tadi aku selalu saja menganggap semua yang terjadi ini adalah karnamu. Tapi aku sadar, semua ini tidak ada hubungannya sama sekali denganmu. Bukan kau yang sengaja melukai pergelanganku dan bukan kau pula yang sengaja membuat kita sampai terjebak dalam masalah ini. Tidak seharusnya aku menyalahkanmu sejak awal. Mianhae..” Ujar Sehun yang akhirnya juga menyadari sikapnya yang sempat keterlaluan.
“Sekarang ayo kita selesaikan masalah ini..bersama-sama.” Ucap Sehun seraya mengulurkan tangan kanannya yang kemudian diraih oleh Putri.
Mereka pun akhirnya terus berjalan menyusuri pemukiman yang lebih terlihat seperti desa tersebut. Udara yang dingin karna salju yang turun semakin lebat membuat Putri kedinginan hingga tanpa sengaja sempat mempererat genggamannya. Sehun yang menyadari sesuatu mendadak menghentikan langkahnya. Detik berikutnya ia lalu membuka jaket miliknya kemudian berniat memakaikannya pada Putri yang dengan cepat menahannya.
“Apa yang kau lakukan?!” Tanya Putri sedikit terkejut
“Jangan banyak berkomentar dan pakai saja!” Perintah Sehun lalu berhasil menutupi tubuh Putri dengan jaket miliknya. “Bagaimana?! Sudah lumayan hangat kan?!”
Putri menatap Sehun terkejut.
Bagaimana pemuda itu bisa tau kalau saat ini dirinya sedang kedinginan?!
“Darimana kau tau kalau aku..?”
“Kau pikir aku ini mati rasa hah?! Sejak tadi tanganmu ini terus saja gemetaran. Bagaimana mungkin aku tidak tau..” Terang Sehun seraya memperlihatkan Putri pergelangannnya yang bahkan masih gemetar hingga saat ini. Sedangkan Putri menatapnya tidak percaya. Jadi sejak tadi dia sudah menyadarinya?
“Gomawoyo..Sehun~si.” Ucap Putri pelan. Sehun yang mendengarnya kini tersenyum lebar membuat Putri lagi-lagi tertegun saat melihat eye smile pemuda itu. Sesuatu yang berkali-kali membuatnya seolah terhipnotis sejenak saat melihatnya.
“Ya~kau tidak akan jatuh cinta padaku hanya karna aku menatapmu kan?!” Pertanyaan Sehun berhasil menyadarkan lamunan Putri.
“Ma..mana mungkin. Kau pikir seseorang bisa jatuh cinta semudah itu apa?!” Ujar Putri berusaha terlihat santai walau sebenarnya juga tak yakin.
Tiba-tiba saja Sehun mendekatkan wajahnya kearah Putri. “Hm..benar juga. Mana mungkin bisa langsung menyukai seseorang hanya dengan melihatnya sekali saja.” Ujarnya tersenyum seraya memandangi wajah gadis itu yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Putri sendiri kini hanya dapat mematung di tempatnya.
Mendadak ia merasakan ada hal aneh yang terjadi, jantungnya kini berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dan juga beruntung hari sudah malam jadi Sehun pasti tidak bisa melihat wajahnya yang sudah memerah saat ini. Entah kenapa wajahnya terasa begitu panas saat Sehun menatapnya seperti sekarang ini. Ia benar-benar bermasalah dengan tatapan eye smile yang dimiliki pemuda itu.
“Bisa tidak kau berhenti melakukan itu?!” Seru Putri tidak tahan lagi
“Begini maksudmu..?!” Tanya Sehun seraya menarik tubuhnya agar menjauh
“Bukan itu! Ah..sebenarnya it..itu juga..” Jawab Putri terbata membuat Sehun menatapnya heran. Gadis itu sendiri menyesali bingung dengan tingkahnya barusan. Ini pertama kalinya ia gugup sampai seperti ini dalam hidupnya. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
“Lalu mana yang kau maksud sebenarnya?!” Tanya Sehun lagi
“Matamu itu..ah tidak~maksudku tatapanmu..aiish~jinjja! Aku benar-benar bisa gila kalau begini terus..” Ujar Putri kesal dengan sikapnya yang semakin aneh
“Dan aku juga bisa ikut-ikutan gila jika kau tidak juga mengatakan apa sebenarnya yang kau maksud sejak tadi.” Sambar Sehun
“Ani~matamu itu..bisa tidak kau berhenti menunjukkan tatapan seperti itu padaku..?” Kata Putri sedikit ragu-ragu. Takut pemuda itu tersinggung dengan ucapannya. Namun yang ada Sehun malah tertawa pelan mendengarnya.
“Jadi hanya karna itu..?!” Tanya Sehun tak percaya kalau sejak tadi itu yang menjadi permasalahannya. “Memangnya apa yang salah dengan tatapanku?”
“Tidak. Sama sekali tidak ada yang salah. Hanya saja aku merasa kurang nyaman setiap kali kau melakukan itu di depanku. Wajahku bisa..” Putri mendadak menghentikan kalimatnya. Hampir saja ia mengatakan yang sesungguhnya pada pemuda itu. “Pokoknya sebisa mungkin jangan lakukan itu dihadapanku.” Katanya mengakhiri lalu berjalan meninggalkan Sehun yang menatapnya heran.
“Ya! Apa kau tau yang mana arah jalannya?!” Ucapan Sehun seketika menghentikan langkah Putri. Gadis itu pun berbalik kebelakang lalu akhirnya menggeleng pelan. Melihat itu Sehun hanya dapat menahan tawanya kemudian berjalan duluan lalu diikuti oleh Putri. Kali ini gadis itu berada disampingnya.
♥~:♥~:♥
Cukup lama mereka berjalan menyusuri pemukiman yang semakin sepi, begitupula dengan malam yang semakin larut. Sejujurnya mereka sendiri tidak tau harus pergi kemana dan berbuat apa lagi saat ini. Sehun sudah berkali-kali menghubungi Mamanya, tapi telpon nya sama sekali tidak pernah diangkat membuatnya akhirnya memilih menyerah. Salju yang turun semakin lebat membuat udara kini benar-benar terasa sangat dingin.
“Sehun~si, bagaimana jika kita istirahatt dulu sejenak. Jujur saja, aku lelah sejak tadi berjalan terus. Sehun sendiri tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengangguk kemudian berjalan menuju sebuah pondasi kecil yang terdapat tidak jauh dari sana. Meskipun pondasi tersebut kecil setidaknya cukup melindungi mereka dari salju lebat.
Putri sedang berusaha menghangatkan tubuh dengan mengusap-usap kedua telapak tangannya saat ia berbalik kearah Sehun disebelahnya. Sejak tadi pemuda itu hanya diam saja sambil menunduk. Putri yang merasa ada yang aneh mencoba mencari tau.
“Sehun~si..” Tegur Putri seraya menepuk pelan bahu pemuda itu. Betapa terkejutnya ia saat kepala Sehun tiba-tiba saja jatuh bersandar di pundaknya. Ia pun berniat memindahkan tubuh Sehun sampai lagi-lagi dikejutkan oleh sesuatu. Tubuh pemuda itu seolah membeku karna dingin sedangkan kepalanya terasa panas. Sehun sama sekali tidak sadarkan diri.
Saat itulah Putri langsung membaringkan Sehun dan setelah menutupi tubuh pemuda itu dengan jaket yang sebelumnya ia pakai tanpa pikir panjang lagi gadis itu pun langsung berlari menerobos lebatnya salju sampai akhirnya menemukan sebuah rumah sederhana. Putri mengetuk pintu rumah itu berkali-kali, belum ada jawaban. Itu pasti karna pemilik rumah sudah tertidur lelap. Sebenarnya ini termasuk menganggu kenyamanan orang lain, namun melihat keadaan Sehun saat ini Putri sama sekali tidak bisa memikirkan hal lain lagi. Tidak ada hal yang lebih penting daripada menolong Sehun saat ini. Ia harus bisa menolongnya secepatnya. Harus.
Pintu di depan Putri akhirnya terbuka, nampak seorang gadis menatap kearahnya heran. Dalam keadaan tubuh menggigil serta bibir yang sudah hampir membeku ia mencoba mengatakan sesuatu seraya menatap gadis dihadapannya itu.
“Kumohon..tolong kami.”
♥~:♥~:♥
Seseorang baru saja menyingkap sebuah gorden membiarkan sinar matahari pagi masuk menembus kaca jendela kamar, mengusik ketenangan pemuda yang berada di dalam sana hingga akhirnya perlahan terbangun dari tidurnya. Sehun membuka matanya perlahan lalu bangkit mengubah posisi tidurnya menjadi duduk kemudian memandang sekeliling heran. Kamar. Hal itulah yang pertama kali disadarinya saat ini. Tapi kamar siapa ini?
Pandangan Sehun kini beralih pada seseorang yang berdiri di dekat jendela. Ia tidak begitu bisa melihatnya karna sinar matahari yang cukup menyilaukan.
“Kau sudah bangun rupanya.” Ucap orang itu saat berjalan menghampirinya. Rupanya seorang gadis, dan Sehun sudah bisa melihat wajahnya dengan jelas saat ini.
“Kau siapa? Bagaimana aku bisa berada disini? Apa kau..yang membawaku kesini?” Sehun langsung menghujani gadis itu dengan berbagai pertanyaan. Namun bukannya menjawab gadis itu tiba-tiba menempelkan telapak tangannya di dahi Sehun membuat pemuda itu sedikit terkejut hingga menarik mundur tubuhnya.
Gadis itu bergumam sebentar lalu akhirnya menarik tangannya kemudian tersenyum kecil. “Baguslah! Nampaknya kau sudah baikan, buktinya baru bangun saja kau sudah langsung menanyakan banyak hal.” Sehun tidak merespon dan hanya menatapnya heran.
Gadis ini, bukannya menjawab pertanyaanku malah mengatakan hal lain.
“Ah iya, maaf. Aku sampai lupa kalau tadi kau bertanya padaku. Yang membawamu kesini semalam itu bukan aku, tapi beberapa penduduk desa disini.” Jawab gadis itu seolah bisa membaca apa yang baru saja dipikirkan oleh Sehun. Pemuda itu sendiri nampaknya sedikit terkejut, walau hanya sesaat.
“Kalau begitu terima kasih...” Ucapan Sehun mendadak terhenti ia tidak tau harus memanggil gadis itu siapa karna ia sama sekali belum mengatakan namanya.
Gadis itu seolah mengerti langsung tersenyum. “Namaku Li Hana, kau bisa memanggilku Hana.” Sesaat setelah gadis itu memperkenalkan dirinya Sehun mendadak tertawa kecil saat menyadari sesuatu.
“Mwoya~apa ada yang lucu dengan namaku?” Tanya gadis itu heran
“Ah maafkan aku. Tidak ada yang salah dengan namamu..Gomawoyo Hana~si” Kata Sehun seraya mencoba menahan diri namun sepertinya tidak berhasil, ia masih saja tersenyum sendiri. Entah kenapa nama saat tadi gadis itu menyebutkan namanya adalah Li Hana, ia tiba-tiba saja membayangkan Rihanna sang penyanyi barat dan sama sekali tidak berani membayangkan ada seorang Rihanna yang tinggal di desa kecil seperti ini.
Diam-diam tanpa sepengetahuan Sehun, Hana ternyata sejak tadi terus memperhatikannya.
“Joahae.” Kata Hana tiba-tiba membuat tawa Sehun mendadak terhenti
“Barusan..kau bilang apa?” Tanya Sehun berusaha memastikan
“Suka. Matamu itu..saat tersenyum tadi kau kelihatan tampan.” Ujar Hana santai.
“Aku suka seseorang dengan tatapan seperti itu. Joahaeyo.” Lanjutnya
Sehun kini hanya dapat melongo di tempatnya sambil memandangi Hana.
“Kau ini..pasti sedang bercanda kan?!”
Hana menggeleng pelan.”Tidak. Aku sama sekali tidak bercanda. Aku benar-benar menyukaimu. Aku..suka..padamu..Oh Sehun.” Ulangnya sambil mengeja kalimatnya
Sehun menatap mata Hana dalam, berusaha mencari kebohongan disana. Namun sepertinya gagal, gadis itu serius dengan apa yang dikatakannya barusan. Ia sama sekali tidak mengerti, bagaimana bisa seorang gadis mengatakan bahwa ia menyukai seseorang yang baru saja dikenalnya beberapa menit yang lalu. Tapi untuk mengatakan bahwa gadis itu hanya salah bicara juga tidak bisa, buktinya ia sampai menyatakannya dua kali dan bahkan sampai mengeja kalimat serta nama lengkap Sehun. Tunggu dulu! Nama lengkap?!
“Darimana kau tau nama lengkapku?!” Tanya Sehun
Hana terlihat berpikir sejenak. “Hmm..semalam aku mendengar gadis itu sempat menyebut Oh Sehun. Dan saat kutanya siapa itu Oh Sehun dia mengatakan itu adalah namamu.”
Seolah menyadari sesuatu Sehun memandang kearah lain sampai akhirnya menemukan jaket miliknya yang kini berada dalam pangkuannya.
Gadis?! Apa mungkin..?
“Dimana dia sekarang?” Tanyanya pada Hana
“Di kamar sebelah. Semalam dia sampai berlarian di tengah salju lebat demi mencari pertolongan. Sepertinya sangat mengkhawatirkanmu..” Belum sempat Hana menyelesaikan perkataannya Sehun sudah lebih dulu bangkit dari tempatnya kemudian berlari keluar kamar. Dan setelah menemukan kamar sebelah, ia pun membukanya perlahan. Benar saja, nampak Putri yang sedang duduk dilantai seraya menikmati makanan yang terdapat diatas sebuah meja pendek dihadapannya.
Putri yang melihat Sehun mendadak muncul dari balik pintu terkejut sekaligus senang.“Oh?! Sehun~ah. Ah! Maaf..aku tidak bermaksud..” Kata Putri yang tanpa sadar memanggil Sehun dengan panggilan informal.
“Tidak apa-apa. Mulai sekarang tidak usah bicara formal denganku.” Tutur Sehun membuat Putri mengangguk lega
“Ah! Apa kau baik-baik saja?! Masih ada yang sakit kah?!” Tanya Putri tiba-tiba, membuat Sehun menatapnya tidak percaya
“Sakit?! Kau masih bisa berpikir tentang keadaanku disaat kau sendiri masih seperti ini?!”
“Me..memangnya kenapa? Apa ada yang salah?!” Putri menatap Sehun bingung
“Kau..kenapa kau memberikan ini padaku?!” Kata Sehun seraya memperlihatkan jaket hitam miliknya. “Bukankah aku menyuruhmu untuk memakainya semalam?”
“Apa kau gila?! Bagaimana mungkin aku bisa tetap memakainya sedangkan kau sendiri sudah hampir mati membeku semalam!!” Seru Putri kesal
“Kau..” Sehun baru saja kembali berniat membalas namun mendadak berhenti. Tidak ada gunanya ia terus-terusan berdebat dengan gadis ini. “Ah! Sudahlah!”
“Sudah kuduga kau pasti kesini.” Kata seseorang tiba-tiba.
Orang itu tidak lain adalah Hana. Gadis itu kini berjalan menghampiri mereka.
“Hana~si..” Ucap Putri membuat Hana langsung tersenyum kearahnya
“Selamat pagi! Kau juga sudah bangun rupanya.” Sahut Hana kemudian duduk disamping Sehun. “Kau..bersiap-siaplah!” Ucapnya saat mendadak beralih kearah Sehun
“Bersiap-siap?! Maksudmu..” Tanya Sehun tidak mengerti
“Segeralah bersiap-siap. Aku ingin kau menemaniku berbelanja bahan-bahan makanan untuk makan malam hari ini.”
“Belanja?! Tapi...dimana?”
“Tentu saja di pasar. Kau pikir dimana lagi?”
“Mwo?! Kau bercanda kan? Apa tidak ada swalayan di dekat sini?“
“Sebenarnya ada. Tapi kalau di pasar kita masih bisa menawar dan mendapatkan harga yang lebih murah. Selain itu disana juga kita bisa menemukan lebih banyak bahan.”
“Aku tidak mau.” Kata Sehun menolak.
“Sebenarnya terserah padamu. Kalau tidak mau, kalian boleh tinggalkan rumah ini sekarang juga.” Ucapan Hana seketika membuat Sehun dan Putri memandang terkejut kearahnya. “Setauku selain sdah tidak mempunyai uang, kalian berdua juga tidak tau harus kemana saat ini. Dan maaf saja, aku juga tidak bisa membiarkan seseorang tinggal dirumah ini tanpa melakukan apa-apa.”
Sehun menatap Hana sejenak. Semua yang dikatakan oleh gadis itu memang benar kalau bukan karna dia yang menolongnya semalam. Ia dan Putri pasti sudah tidak tau bagaimana dan berada dimana saat ini. Jika gadis itu sampai mengusir mereka, Sehun sudah tidak tau lagi harus pergi keman dan ia sama sekali tidak ingin itu terjadi. Satu-satunya cara adalah mau tidak mau ia terpaksa harus menuruti semua keinginan gadis ini.
Sehun menghela nafas berat.”Baiklah. Aku akan menemanimu.” Ucapnya akhirnya membuat Hana tersenyum senang.
“Baguslah! Kalau begitu mandilah dulu, aku akan menunggumu sampai kau selesai.” Terang Hana. “Kamar yang semalam kau gunakan itu adalah kamar kakak laki-lakiku, tapi dia sedang berada di Busan sekarang. Jadi kau boleh menggunakan kamar mandi serta bajunya kalau kau mau. Kau tidak mungkin kan mengenakan pakaian itu terus menerus.” Ujarnya seraya memperhatikan Sehun dari bawah ke atas.
“Sebenarnya aku membawa beberapa baju ganti di ranselku, jadi tidak usah khawatir.” Kata Sehun membuat Hana mengangguk paham. Ia pun bangkit dari tempatnya kemudian berjalan keluar meninggalkan Hana dan Putri.
“Terima kasih banyak ya, Hani~si..” Ucap Putri membuat Hana berbalik menatapnya
“Maafkan aku..” Kata Hana tiba-tiba membuat Putri menatapnya heran
“Kenapa kau tiba-tiba minta maaf?!”
“Tadi..aku sebenarnya tidak bermaksud berkata seperti itu pada kalian. Aku sama sekali tidak pernah berniat mengusir kalian dari rumah ini. Bahkan aku sangat senang ada kalian berdua disini.”
“Lalu kenapa kau..?” Tanya Putri mencoba mencari tau alasan gadis itu
“Itu karna..aku ingin Sehun menemaniku. Aku menyukainya. Itulah sebabnya aku sengaja berkata seperti itu, agar aku bisa bersama-sama dengannya.”
Pernyataan Hana barusan seketika membuat Putri tertegun di tempatnya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau alasan Hana melakukan semua ini ternyata adalah karna gadis itu menyukai Sehun.
Jadi gadis itu tidak bercanda? Dia..benar-benar menyukai Sehun?
Mendadak Putri lagi-lagi merasakan sesuatu yang aneh terjadi dalam dirinya seperti semalam. Namun kali ini berbeda dari sebelumnya.
“Begitu yah..jadi kau menyukai Sehun?” Ucap Putri datar.
Hana mengangguk mantap. “Benar. Aku bahkan sudah mengatakan itu padanya..”
Putri menatap terkejut kearah Hana. “Kau bilang..sudah mengatakan itu padanya?!” Tanya Putri mencoba memastikan yang dijawab anggukan oleh Hana. “Lalu..apa katanya?”
“Tidak ada. Awalnya dia tidak percaya pada ucapanku, tapi karna aku meyakinkannya bahwa aku benar-benar menyukainya, ia akhirnya mengerti.” Tutur Hana. Putri sendiri kini memandang kearah lain.
Sehun sama sekali tidak mengatakan mengenai pertunangan mereka. Mungkinkah itu karna Sehun memang tidak pernah menginginkan pertunangan ini? Apalagi sampai harus bersama dengan seseorang yang sama sekali tidak dicintainya.
Apa ini artinya..Sehun bersedia memberi harapan pada Hana?
#TBC


0 comments:
Posting Komentar