What is Love (Chapter 2)


Bingung sekaligus takut kini mulai menghampiri Putri. Gadis itu sudah berjalan kesana kemari namun tidak bisa menemukan Sehun dimanapun. Tangan Putri kini mulai gemetar dan dingin, ia memang paling tidak suka berada diantara keramaian jika sendirian. Karna kebingungan Putri pun tanpa sengaja menabrak beberapa orang yang sedang berjalan didekatnya dan akhirnya cepat-cepat menunduk meminta maaf.
Bagaimana ini!? Aku takut...
Tepat saat gadis itu lagi-lagi hampir menabrak orang lain, seseorang tiba-tiba saja menarik tangannya menjauhi kerumunan.
Babo~anii?!” Kata orang itu yang tidak lain adalah Sehun. Putri sendiri tidak langsung menjawab. Pikirannya masih sulit mencerna apa yang baru saja terjadi.
♥~:♥~:♥

Putri meneguk minuman hangat yang diberikan oleh Sehun dari minimarket yang tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Tangannya yang sebelumnya dingin, kini terasa sedikit hangat karna minuman itu.
“Kau ini bodoh atau apa..?” Tanya Sehun yang tidak habis pikir dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Putri. “Kau kan tau tempat ini begitu luas..tapi kenapa kau malah berani-beraninya berjalan sendirian?! Kalau kau sampai tersesat bagaimana?!”
Mianhae..” Ucap Putri pelan membuat Sehun menatapnya. “Maafkan aku, sejujurnya aku sama sekali tidak berniat merepotkanmu. Hanya saja aku tidak tau harus kemana saat aku kehilangan jejak Eomma dan Ahjumma. Itu sebabnya aku berusaha menemukanmu, tapi yang ada malah...” Putri tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Sehun sendiri bisa melihat rasa sesal yang mendalam pada diri gadis itu. Saat itulah ia menyadari satu hal, dibalik sikapnya yang terlihat kuat dan tegas sebenarnya gadis itu masih polos dan terkadang mudah rapuh.
“Ayo!” Kata Sehun yang mendadak bangkit dari tempatnya lalu mengulurkan tangan kearah Putri yang menatapnya heran.
“Mau kemana..?” Tanya Putri
Sehun menghela nafas pelan.”Aku tau tempat yang bagus. Setidaknya bukan hanya berdiam diri disini menunggu ibu-ibu itu selesai berbelanja.”
Putri menatap uluran tangan Sehun sebentar lalu akhirnya bangkit dan meraihnya. Sehun lalu menatap kearahnya sambil tersenyum. Keduanya pun akhirnya berjalan bersama menjelajahi tempat tersebut. Sesaat Putri menatap kearah tangan Sehun yang kini menggenggam tangannya erat. Tangan pemuda itu ternyata terasa hangat. Berbeda dengan sikapnya yang terkadang begitu dingin.
Tidak butuh waktu lama bagi Sehun dan Putri berjalan, mereka pun akhirnya tiba di depan suatu wahana yang tidak lain adalah arena Ice skating.
“Sehun~si, kau pasti bercanda kan?” Tanya Putri memastikan sesuatu
Ani! Aku memang ingin ke tempat ini.” Jawaban Sehun yang santai namun berhasil membuat kaki Putri terasa lemas seketika.
“Tapi..” Mendengar itu Sehun lalu menatap kearahnya. Jujur saja Putri ragu ingin memberitahukan yang sebenarnya pada Sehun atau tidak, tapi merasa tidak ada jalan lain akhirnya ia pun berniat mengatakannya. “Sebenarnya..aku tidak tau cara bermain ice skating.”
Sehun sedikit terkejut mendengar pernyataan gadis itu. “Jinjja?! Apa di Indonesia tidak adaice skating?!”
Putri menggeleng cepat. “Bukan begitu. Di Indonesia juga ada, walau memang tidak sebesar dan seluas disini. Hanya saja aku tidak pernah mencoba untuk memainkannya.”
“Kalau begitu ayo! Akan kuajarkan padamu bagaimana caranya.” Kata Sehun lalu menarik tangan Putri namun dengan cepat ditahan oleh gadis itu.
“Tidak usah. Kau saja yang masuk kedalam, biar aku menunggumu disini.”
“Kau ini bagaimana? Bukankah kita kesini agar tidak terus-terusan menunggu Eomma-ku dan Nara Ahjumma. Kenapa malah kau lagi yang ingin menungguku..?”
“Tapi kan..”
“Percayalah padaku.” Sergah Sehun sebelum Putri kembali menolak. Gadis itu menatap Sehun cukup lama, dan akhirnya tersenyum seraya mengangguk pelan.
Sehun yang melihat itu langsung tersenyum memperlihatkan eye smile nya. Tatapan yang sempat membuat Putri terpana sebelumnya.
Keduanya akhirnya memasuki arena ice skating. Tidak seperti Putri yang masih berpegangan di pinggiran arena, Sehun sudah mampu meluncur kesana kemari dengan lihai. Putri memandang sekelilingnya sekilas, ternyata ada juga selain dirinya yang masih belum tau cara bermain. Dan itu membuatnya sedikit lega.
Putri kini menatap kearah Sehun yang masih meluncur kesana kemari dengan riang. Ia yang tidak ingin menganggu kesenangan Sehun akhirnya memberanikan diri untuk meluncur sendiri ke tengah arena. Namun baru saja gadis itu melepaskan pegangannya gerakan kakinya sudah mulai bergerak tidak teratur hingga terpeleset dan hampir saja jatuh diatas es kalau saja seseorang tidak cepat menahannya.
Ya! Kau ini..kenapa tidak memanggilku dan langsung menuju ke tengah?!” Seru Sehun sedikit kesal sekaligus terkejut saat melihat wajah gadis itu hampir menghantam lantai es.
“Maaf..aku hanya tidak ingin merusak kesenanganmu saja, jadi..”
“Kau ini benar-benar..!! Setidaknya pikirkanlah dulu dirimu sendiri sebelum memikirkan orang lain!!” Bentak Sehun yang sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Putri. Melihat Putri yang kembali menunduk, Sehun pun akhirnya merasa bersalah.
Mianhae..tidak seharusnya aku membentakmu seperti barusan. Aku hanya...”
“Tidak apa-apa. Aku mengerti.” Sergah Putri cepat bahkan sebelum Sehun sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Baiklah. Kalau begitu sesuai janjiku, aku akan mengajarimu sekarang. Ayo!” Kata Sehun tersenyum lalu mulai membantu Putri meluncur perlahan-lahan diatas es.
Cukup lama keduanya bermain ice skating dan mereka cukup menikmatinya. Hanya saja nampak Sehun yang mulai frustasi karna sejak tadi mengajari Putri namun gadis itu sama sekali belum bisa berjalan diatas es sedikitpun.
“Ah jinjja!! Kau ini sebenarnya bodoh atau hanya pura-pura bodoh?!” Tanya Sehun frustasi saat Putri kembali berpegangan pada pinggiran arena.
Putri yang tak terima langsung membalas. “Mwo?! Ya! Enak saja mengataiku bodoh..kau saja yang tidak becus mengajariku. Kau lihat gadis itu? Dia juga tadinya belum bisa, tapi setelah diajari oleh temannya ia akhirnya mulai bisa melakukannya. Itu karna temannya memang tau cara mengajari orang lain dengan benar.”
“Oh benarkah?! Baiklah..kalau begitu cari saja sana orang yang bisa mengajarimu dengan benar..” Seru Sehun kesal lalu berbalik berniat meninggalkan tempat itu.
Putri yang mendengar itu seketika menyadari kalau apa yang baru saja dilakukannya adalah kesalahan besar segera memanggil Sehun dan berniat mengejar pemuda itu sampai-sampai ia lupa kalau dirinya masih menggunakan sepatu ice skating.
“Sehun~si! Tunggu seben..Kyaaa!!!”
BRUKK!!
Putri akhirnya terjatuh, namun bukannya terjatuh diatas es gadis itu malah jatuh menindih Sehun yang kini berada dibawahnya. Sehun yang melihat saat dirinya hampir terjatuh berusaha menahan namun karna posisi Putri yang sudah terlalu rendah Sehun pun akhirnya membiarkan tubuhnya jatuh tertimpa gadis itu.
Tanpa mereka sadari posisi mereka membuat jarak wajah diatara mereka begitu dekat saat ini. Mereka bahkan sempat menatap satu sama lain cukup lama sampai mendadak rasa sakit yang tiba-tiba terasa di pergelangan tangan Sehun membuatnya tersadar dan akhirnya bangkit dari posisinya begitupula dengan Putri. “Akkh!!” Rintih Sehun
“Sehun~si! Ada apa? Kau terluka?!” Tanya Putri sedikit panik
Sehun menggeleng.”Tidak. Aku tidak apa-apa..ayo!” Jawabnya lalu membantu Putri berjalan keluar dari arena ice skating.
Setelah keduanya keluar dari sana, mereka pun duduk di kursi yang tersedia di dekat arena. “Kau terluka gara-gara aku. Mianhae..aku ini sejak tadi sepertinya hanya terus merepotkanmu.” Tutur Putri. Entah kenapa ia merasa sepertinya hanya membuat masalah sepanjang bersama Sehun.
“Kau ini..bisa tidak kau berhenti menyalahkan dirimu sendiri?!” Kata Sehun dingin sambil menatap tajam kearah Putri yang sepertinya sedikit terkejut dengan perkataannya barusan.
Mia..”
“Dan juga..berhentilah meminta maaf! Sejak tadi yang kudengar hanyalah permintaan maaf darimu.” Kata Sehun lagi sebelum Putri sempat berkata maaf untuk kesekian kalinya.
Sesuai perkataan Sehun, Putri pun akhirnya tidak berkata apa-apa lagi. Begitupula dengan Sehun yang nampaknya lebih memperhatikan pergelangan tangannya yang masih terasa sedikit nyeri.
“Sehun! Putri!! Rupanya kalian disini..” Seru sebuah suara yang tiba-tiba mucul dari belakang mereka. Rupanya Nyonya Jihyun dan Nara yang sejak tadi mencari mereka.
Eomma..Ahjumma” Ucap Putri saat seraya menghampiri kedua wanita itu, begitupula dengan Sehun.
“Oh?! Sehun~ah..tanganmu kenapa?!” Tanya Nyonya Jihyun saat melihat Sehun terus memegang pergelangan tangan kanannya.
GwencanaAku hanya tidak sengaja terkilir saat bermain didalam tadi. Jangan khawatir,Eomma! Tutur Sehun
“Benarkah?! Syukurlah kalau begitu..” Kata Nyonya Jihyun seraya mengusap pelan kepala anak tunggalnya itu.
“Ah~Eomma..kau masih saja melakukan itu padaku. Aku ini kan sudah dewasa, Eomma tidak lihat banyak orang yang memperhatikan kita?” Gerutu Sehun.
Jihyun sendiri lalu memandang ke sekeliling dan benar saja, ternyata memang cukup banyak yang melihat kearah mereka saat ini. Bahkan ada beberapa gadis yang tersenyum melihat mereka. “Baiklah. Lain kali Eomma janji tidak akan melakukannya lagi. Itu karnaEomma sangat menyayangimu.” Seru Jihyun senang dan tanpa sadar kembali mengusap kepala Sehun dan seketika berhenti saat menyadarinya. “Ups..”
Eommaaaa~” Ucap Sehun yang tidak tau harus mengatakan apa lagi. Baik Jihyun maupun Nara hanya dapat tersenyum melihat tingkahnya.
“Iya..iya maaf. Oh?! Aku sampai lupa..bukankah kita harus berangkat ke Jeju. Sebentar lagi pesawatnya akan berangkat kan?!” Seru Jihyun membuat yang lain memandangnya
“Ah benar! Aku sendiri hampir lupa..” Nyonya Nara ikut mengiyakan
“Tapi..kita kan baru mengunjungi satu tempat? Belum sempat mengajak kalian ke tempat wisata lain di Seoul ini.” Sesal Jihyun membuat Nara tersenyum lalu memegang pundaknya
“Tidak apa-apa. Kita kan masih bisa menemukan tempat wisata di Jeju.” Terang Nara membuat Jihyun mengangguk setuju.
“Benar juga. Kalau begitu ayo..kita berangkat. Tapi sebelumnya biar aku menyuruh supir rumah dulu agar datang kemari dan mengantar kita ke Bandara Incheon.” Ujar Jihyun kemudian menekan sebuah nomor di ponsel nya.
Sementara itu Putri sejak tadi belum mengatakan apa-apa. Gadis itu terus saja memperhatikan Sehun yang sepertinya sejak tadi belum memandang kearahnya. Sikap Sehun yang seperti itu sejujurnya membuat Putri merasa kurang nyaman. Gadis itu tidak ingin kalau Sehun mendiaminya seperti ini. Dia tidak menyukai hal itu.
♥~:♥~:♥

Hari sudah beranjak malam saat mereka tiba di Bandara. Panggilan terakhir untuk pesawat yang mereka tumpangi pun kini sudah terdengar.
“Bagaimana ini? Nara sama sekali belum kembali dari toilet. Ah! Kalian berdua naik saja ke pesawat lebih dulu, biar nanti Eomma dan Nara Ahjumma menyusul. Aku akan mencarinya dulu. Mengerti?!” Jelas Jihyun pada Sehun membuat pemuda itu mengangguk mengerti dan akhirnya berjalan menuju gate diikuti Putri dibelakangnya.
Putri sengaja memperlambat langkahnya agar tidak begitu dekat dengan Sehun. Untuk saat ini menurutnya mungkin akan lebih baik jika ia tidak dekat-dekat dengan pemuda itu. Lagipula setelah kejadian tadi, Sehun bahkan mungkin sudah tidak ingin bicara dengannya lagi. Gadis itu kini menatap tiket ditangannya yang bertuliskan seat 11b, ia pun berjalan mencari tempat duduknya sambil bergumam pelan.
“Sembilan..sepuluh..seb..”Gumaman Putri langsung terhenti saat menemukan tempat duduk yang ia cari. Ternyata sudah ada orang lain yang duduk di kursi satunya, dan orang itu tidak lain adalah Sehun. Pemuda itu sedang memandang keluar jendela pesawat.

Kini Putri sama sekali tidak tau harus melakukan apa. Apa ia harus duduk disamping Sehun? Tapi bagaimana kalau pemuda itu menolak lalu menyurhnya pindah ke tempat lain. Akhirnya ia pun memutuskan untuk tetap berdiri disamping tempat duduknya untuk menunggu Eomma-nya dan Jihyun Ahjumma dan berharap agar salah satu dari mereka mau bertukar tempat duduk dengannya.
Cukup lama Putri berdiri disana namun tanda-tanda Nyonya Nara dan Jihyun datang sama sekali belum ada. Beberapa orang yang berjalan sempat kesulitan lewat dikarenakan posisi Putri saat ini, dan sejujurnya ia sendiri mulai merasa pegal di kakinya.
“Permisi Nona, apa disini adalah tempat duduk anda?” Tanya seorang Pramugari yang menghampirinya. Putri yang sedikit terkejut lalu mengangguk pelan.
“Maaf, tapi kami harap anda segera duduk karna pesawat sebentar lagi akan berangkat.” Kata Pramugari itu seraya tersenyum.
Putri terlihat masih ragu. “Tapi..”
“Duduklah!” Ucap Sehun tiba-tiba membuat Putri seketika berbalik memandangnya, pemuda itu masih memandang kearah luar pesawat. Mendengar ucapan Sehun barusan sekaligus sudah merasa tidak enak pada Pramugari didepannya ia pun akhirnya duduk disana.
Saat itulah rasa canggung menyelimuti mereka berdua. Putri benar-benar tidak tau harus berbuat ataupun berkata apa saat ini. Ia hanya berharap pesawat ini segera berangkat dan mereka bisa secepatnya sampai di Jeju. Tepat saat gadis itu selesai memikirkannya, terdengar sebuah pemberitahuan bahwa pesawat akan segera berangkat. Mendengar itu Putri mendadak terkejut.
“Oh?! Berangkat?! Tapi kan Eomma dan Jihyun Ahjumma belum naik. Bagaimana ini?!” Gumamnya yang mulai panik. Sehun yang seolah menyadari sesuatu segera mengambilhandphone dan menekan sebuah nomor.
Mwoya~kalian sebenarnya dimana?!” Gerutu Sehun kesal karna sejak tadi Mamanya tidak juga mengangkat telpon.
“Maaf..” Ucap seseorang membuatnya sedikit terkejut, yang tidak lain adalah salah seorang Pramugari.
“Di dalam pesawat tidak diperkenankan menggunakan handphone.”
Dengan terpaksa Sehun mematikan hp nya dan pesawat pun akhirnya berangkat menuju Jeju. Tanpa kedua ibu-ibu mereka.
Sebenarnya ada apa dengan hari ini? Kenapa semua hal seolah-olah tidak ada yang berjalan dengan lancar?
♥~:♥~:♥

Hari sudah malam saat Sehun dan Putri tiba di Pulau Jeju, dan hal pertama yang dilakukan Sehun tentu saja adalah menelpon Eomma-nya. Ini adalah ketiga kalinya ia menelpon sang Mama tapi sejak tadi belum juga ada jawaban dari sana. Tepat saat ia mulai lelah dan berniat mematikan hp, saat itulah terdengar sebuah suara dari seberang telpon membuat Sehun tidak jadi mematikannya.
“Halo..Eomma!!” Seru Sehun. “Kalian dimana..?”
“Eomma dan Nara Ahjumma masih berada di Seoul, dan kami...tidak jadi ke Jeju.” Terang suara Nyonya Jihyun dari seberang telpon.
Mwo?! Eomma, kau bercanda kan?!”
“Aniyo. Eomma sama sekali tidak bercanda Sehun~ah.”
“Tapi..kenapa?!” Seolah menyadari sesuatu, Sehun pun berusaha memastikannya. “Jangan bilang kalian sudah merencanakan ini sejak awal..”
Belum ada jawaban dari seberang telpon. Detik berikutnya terdengar gumaman pelan.
“Hm..kau memang cerdas Sehun~ah.” Mendengar itu Sehun hanya mampu menghela nafas berat.
“Kami berdua memang sengaja tidak ikut ke Jeju. Kami tau kalau kau dan Putri tidak menyukai satu sama lain. Itulah sebabnya Eomma dan Nara Ahjumma berharap jika kalian berdua bersama selama beberapa hari disana, kalian bisa lebih dekat dan semakin mengenal satu sama lain.”
Eomma..waeirae?!” Tanya Sehun yang sama sekali tidak percaya kalau Eomma-nya akan melakukan hal seperti ini.
Eomma hanya ingin kau dapat belajar suatu hal disana. Sesuatu yang sebenarnya dapat Eomma katakan secara langsung padamu. Namun akan lebih baik jika kau dapat menemukannya sendiri.”
“Maksud Eomma sebenarnya apa?” Tanya Sehun bingung
“Nanti kau pasti akan mengerti dengan sendirinya. Baiklah! Jaga diri kalian baik-baik. Ah! Dan juga, selamat bersenang-senang!!” Seru Nyonya Jihyun lalu memutuskan sambungan telpon.
Eomma..Eommaa!! Aissh~jinjja!!” Decak Sehun kesal seraya menatap layar hp nya. Pemuda itu semakin tidak mengerti apa sebenarnya maksud dari perkataan ibunya tadi. Satu hal yang ia tau, malam sudah mulai larut dan ia sedang bersama dengan seorang gadis. Itu artinya mereka harus secepatnya mencari hotel atau penginapan. Disisi lain Putri hanya mampu memandangi pemuda itu dari jarak yang cukup jauh.
Tak lama kemudian mereka pun akhirnya tiba didepan sebuah hotel dengan menggunakan taksi dari bandara. Keduanya langsung bergegas masuk kedalam. Selain karna tidak ingin membuang waktu lebh lama lagi, mereka tidak ingin mengambil resiko berlama-lama diluar dengan udara dingin karna salju yang mulai turun.
Putri sedang duduk di salah satu sofa yang tersedia di dalam hotel, menunggu Sehun yang saat ini tengah berada di bagian receptionist untuk mengurus penginapan mereka.
“Permisi Tuan..” Panggilan seorang pegawai hotel membuat Sehun menatap kearahnya. “Maaf..tapi kartu ini sudah tidak dapat digunakan lagi.” Tutur pegawai itu seraya memberikan kartu debit yang sebelumnya berniat digunakan oleh Sehun untuk membayar biaya hotel.
Mwo?! Tidak mungkin. Apa kau yakin?!” Tanya Sehun seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pegawai didepannya itu barusan.
Mana mungkin kartu miliknya itu tidak dapat digunakan? Padahal kemarin ia baru saja menggunakannya dan tidak ada masalah sama sekali.
“Kalau begitu, tolong coba yang ini.” Katanya lalu memberikan sebuah kartu lain pada pegawai itu. Dan detik berikutnya pegawai itu kembali menggeleng pelan lalu memberikannya kembali pada Sehun membuat pemuda itu melongo di tempatnya.
Akhirnya Sehun pun berjalan kearah Putri, dan setelah sampai disana ia langsung menghempaskan diri ke sofa disamping gadis itu membuat Putri memandangnya heran sekaligus khawatir.
“Ap..apa yang terjadi?” Tanya Putri sedikit ragu. Sehun sendiri tidak langsung menjawab dan hanya bersandar di sofa sambil menutup matanya. Merasa dirinya diabaikan Putri pun akhirnya berniat beranjak dari tempatnya.
“Kau..” Ucap Sehun tiba-tiba membuat Putri tidak jadi pergi lalu kembali menatapnya.
“Apa kau membawa uang saat ini?”


--TBC--

0 comments:

Posting Komentar