Putri (OC)
Oh Sehun (Exo)
Li Hana (OC)
Genre:
Romance
“Ma! Mama pasti bercanda
kan?!” Tanya seorang gadis yang saat ini tengah sarapan bersama
sang Mama di ruang makan. Mamanya sendiri kini menatap dalam mata
anak gadis satu-satunya itu.
“Mama sama sekali tidak
sedang bercanda Putri, ini memang sudah diputuskan sejak lama. Kamu
bakalan Mama tunangkan dengan anak sahabat Mama.”
Putri sama sekali tidak
tau harus berkata apa. Semua ini benar-benar diluar dugaannya. Gadis
itu sama sekali tidak pernah menyangka akan mendengar hal seperti ini
di pagi hari. Semalam sebelum tidur Mamanya memang sudah memberitahu
akan mengatakan sesuatu padanya esok hari tapi ia sama sekali tidak
pernah menyangka kalau yang akan dibicarakan oleh sang Mama adalah
hal seperti ini. Bahwa dirinya akan ditunangkan dengan seseorang.
Marah? Kemudian menolak?!
Yah! Mungkin bagi gadis-gadis lain di jaman sekarang ini hal itulah
yang pertama kali mereka lakukan saat mendengar bahwa mereka
dijodohkan layaknya Siti Nurbaya. Namun seseorang seperti Putri tidak
mungkin bisa melakukannya. Bukan karna takut, melainkan karna ia
terlalu menyayangi Mamanya.
Melihat kesedihan yang
dialami oleh Mamanya semenjak sang Papa meninggal sudah cukup bagi
Putri, ia sama sekali tidak ingin menambah kesedihan itu dengan
membantah ataupun menolak keinginan yang nantinya mungkin akan
membuat Mamanya kembali sedh. Ia tidak ingin hal itu sampai terjadi.
“Tapi Ma..apa Mama
yakin? Sekarang ini kan Putri masih kuliah, lagipula Putri juga sama
sekali belum kenal dengan cowok itu.” Ujar Putri mencoba mencari
alasan
“Loh?! Bukannya kamu
udah kenal ama dia?!” Ucapan Mamanya barusan membuat Putri sedikit
terkejut lalu menatap kearah Mamanya heran.
“Namanya Oh Sehun. Anak
tante Jihyun sahabat Mama. Bukannya kamu dan Sehun dulu sudah pernah
kenal satu sama lain waktu kita sekeluarga liburan ke Korea? Malah
kelihatannya kamu lumayan akrab kok dengan dia.”
Putri tidak langsung
berkomentar, gadis itu masih berusaha mengingat sesuatu. Sehun?
Sepertinya nama itu memang terdengar tidak asing di telinganya. Tapi
bayangan seperti apa orangnya saat itu, ia sama sekali belum bisa
mengingat apa-apa.
“Jujur..walaupun Mama
bilang kalau Putri cukup akrab dengan cowok itu, Putri gak begitu
yakin. Soalnya kami berdua kan udah lama gak ketemu Ma..apalagi Putri
dan dia juga pasti sama-sama gak saling suka. Walau emang gak sampe
benci sih..”
Sang Mama kini menatapnya
dalam lalu tersenyum.”Sayang, terkadang rasa suka ataupun cinta
datang secara tiba-tiba tanpa kamu sadari. Dan disaat kamu berusaha
untuk menghindari perasaan itu, saat itulah cinta akan semakin
melekat di hati kamu.”
Putri berpikir sejenak,
berusaha mencerna apa maksud dari perkataan Mamanya barusan namun
alih-alih saat masih berusaha berpikir, matanya mendadak terarah pada
jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 08.10.
“HAH?! Udah jam 8?!”
Putri yang terkejut sontak bangkit dari tempatnya dan mengambil tas
kemudian berniat pergi sampai Mamanya sempat berniat menahannya.
“Eh..tunggu, Mama belum
sempat ngasih tau sesuatu lagi sama kamu.” Kata Mamanya
“Duh..Ma! Ngasih tau nya
nanti kalau Putri pulang aja yah. Soalnya Putri dah telat nih. Putri
berangkat dulu ya! Dah Mama!!” Seru Putri bergegas meninggalkan
ruang makan setelah sebelumnya sempat mencium pipi sang Mama. Mamanya
sendiri hanya dapat menatap punggung anak gadisnya yang kini
menghilang dari balik pintu.
♥~:♥~:♥
Hari sudah beranjak malam
saat Putri akhirnya tiba dirumah. Gadis itu baru saja berjalan masuk
kedalam rumah sampai langkahnya terhenti saat melihat Mama nya
bersama dengan seorang pemuda yang kini tengah duduk di sofa ruang
tamu dengan posisi membelakanginya.
“Nah! Akhirnya kamu
pulang juga sayang..” Seru Mama nya seraya tersenyum kearah Putri
yang masih tidak beranjak dari tempatnya. Detik berikutnya pemuda
membalikkan tubuhnya dan saat itulah Putri bisa melihat wajahnya
dengan jelas. Pemuda itu lalu tersenyum kearahnya membuat Putri
sempat mematung ditempatnya saat pemuda itu menunjukkan eye smile
nya.
“Putri..kamu ngapain
terus berdiri disitu?! Sini!” Panggilan Mamanya berhasil
menyadarkan Putri dari lamunannya hingga akhirnya mengangguk lalu
berjalan menghampiri mereka. “Kamu kemana aja? Kok pulangnya
malem?” Tanya Mamanya saat Putri duduk di sebelahnya
“Tadi abis ngerjain
tugas bareng di rumah temen. Maaf ya ma, gak bilang dulu” Sesal
Putri
Mamanya sendiri hanya
tersenyum kemudian meraih tangan anaknya itu. “Gak apa-apa
sayang..yang penting kamu udah ngasih tau alasannya.” Kata sang
Mama menenangkan. “Oh iya, tadi kenalin dulu! Dia ini anak tante
Jihyun yang Mama ceritain tadi pagi..”
Putri menatap terkejut
kearah pemuda dihadapannya saat ini.
Anak tante Jihyun? Itu
berarti dia ini..?
“Annyeong haseyo!!
Ah..maaf seharusnya saya tidak..” Kata pemuda itu yang awalnya
tanpa sengaja menggunakan bahasa Korea kemudian menyadarinya hingga
akhirnya cepat-cepat menggantinya dengan bahasa Indonesia.
“Tidak apa-apa! Sehun
boleh kok menggunakan bahasa Korea kalau merasa itu lebih nyaman.
Lagipula Tante dan Putri bisa mengerti apa yang kau katakan.” Kata
Nyonya Nara yang tidak lain adalah nama dari Mamanya Putri.
Putri sendiri berusaha
mengangguk pelan, mengiyakan apa yang baru saja dikatakan oleh
Mamanya. Mama Putri sebenarnya adalah wanita asli Korea yang kemudian
bertemu dengan Ayahnya yang berkebangsaan Indonesia. Mereka
sekeluarga sempat tinggal beberapa tahun di Korea sampai mengkuti
sang Ayah yang akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Meski
begitu, Mamanya sama sekali tidak pernah melupakan ataupun kehilangan
bahasa Koreanya. Bahkan sang Mama sering mengucapkannya dalam
kehidupan sehari-hari membuat Putri akhirnya ikut terbiasa dan
lumayan fasih dalam berbahasa Korea.
“Benarkah?! Jeongmal
gamsahamnida” Kata pemuda itu seraya tersenyum kearah Nyonya
Nara yang juga melakukan hal yang sama. Putri sendiri masih mengamati
pemuda dihadapannya saat ini. Kulit putih mulus dan eye smile
yang dimiliki pemuda itu membuatnya harus mengakui bahwa pemuda itu
memang tampan.
“Kau ini pasti Putri.”
Kata Sehun tiba-tiba membuat Putri mengangguk pelan. “Senang
melihatmu lagi.” Putri menatap Sehun datar, sepertinya ia memang
pernah bertemu dengan pemuda itu sebelumnya. Namun dalam jangka waktu
yang lama.
“Malam ini Sehun akan
menginap disini, supaya besok kita bisa berangkat bersama-sama ke
Bandara.” Ucapan Nyonya Nara barusan sontak membuat Putri terkejut
sekaligus heran
“Hah?! Bandara? Mau
ngapain, Ma?” Tanya Putri pada Mamanya yang terlihat baru saja
mengingat sesuatu.
“Ah iya! Mama lupa
ngasih tau ke kamu kalau besok kita bakalan berangkat ke Seoul.”
Putri menatap Mamanya
tidak percaya. Berharap agar ia salah dengar dengan ucapan Mamanya
barusan. Namun saat menyadari bahwa Mamanya sama sekali tidak
bercanda, Putri pun akhirnya menghela nafas berat. “Kenapa
tiba-tiba kayak gini sih, Ma?”
“Tadi pagi sebenarnya
Mama ingin memberitahukan ini sama kamu, tapi kamu sendiri kan yang
bilang kalau ngebahasnya nanti tunggu kamu pulang aja.” Terang
Mamanya.
Putri sendiri hanya dapat
menghembuskan nafasnya pelan, ia ingat tadi pagi Mamanya memang ingin
memberitahu sesuatu namun karna terburu-buru ia mengatakan agar
memberitahukan hal itu saat dirinya pulang kuliah. Namun ia sama
sekali tidak tau kalau hal yang akan dibahas itu adalah hal seperti
ini.
“Maafin Mama ya sayang,
sebenarnya ini semua permintaan Tante Jihyun. Selain karna ingin
bertemu kita, Mama juga ngerasa kalau dengan berada disana selama
seminggu setidaknya bisa membuat kamu dan Sehun bisa lebih saling
mengenal satu sama lain. Itu akan lebih baik, sebelum nantinya kalian
resmi ditunangkan.”
Mendengarkan penjelasan
Mamanya barusan membuat Putri tidak mampu berkata apa-apa lagi. Kini
ia hanya dapat menerimanya dengan pasrah, apapun yang diinginkan oleh
Mamanya.
Sekilas matanya tanpa
sengaja bertemu dengan Sehun yang kini tersenyum kecil kearahnya.
Namun senyuman itu sepertinya sedikit berbeda. Senyuman itu bukanlah
sebuah senyum bahagia.
♥~:♥~:♥
Seoul, South Korea
Mereka bertiga akhirnya
tiba di Seoul. Tempat yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi
dikunjungi oleh Nyonya Nara dan Putri. Tempat yang memiliki kenangan
indah bagi mereka berdua bersama sang Ayah, terutama bagi Nyonya
Nara. Ketiganya kini sedang berada dalam perjalanan menuju ke
kediaman keluarga Oh. Nyonya Jihyun yang merupakan Ibunya Sehun
sengaja mengirimkan seseorang untuk menjemput mereka dengan mobil di
Bandara.
Sekitar hampir satu jam
perjalanan mobil pun tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar dan
juga luas. Nyonya Nara dan Putri pun akhirnya berjalan mengikuti
Sehun yang berjalan masuk kedalam rumah lebih dulu. Namun baru saja
kedua orang itu melangkah masuk kedalam, Nyonya Nara mendadak
menghentikan langkahnya saat melihat seorang wanita tengah baya
berdiri tidak jauh dari sana sambil memandang kearahnya membuatnya
seolah tidak mampu berkata apa-apa. Wanita itu pun perlahan berjalan
menghampirinya dan saat ia berada tepat di depan Nyonya Nara, ia pun
tersenyum pelan.
“Sudah lama
sekali..Nara~ya” Kata wanita itu singkat. Nyonya Nara
sendiri tidak langsung menjawab dan hanya menatap wanita itu datar.
Detik berikutnya ia tertawa pelan dan langsung memeluk wanita
dihadapannya.
“Aku merindukanmu!
Jihyun~ah..” Ucap Nyonya Nara setengah terisak. Ia memang
sangat merindukan sahabatnya itu. Itu karna ia dan Jihyun sudah
bersahabat sejak masih kecil, jadi ikatan mereka berdua sudah sangat
kuat.
“Na do. Kau
ini..masih cengeng seperti dulu. Dasar!” Canda Nyonya Jihyun
tertawa sambil mempererat pelukannya pada Nara. Sehun dan Putri
sendiri hanya dapat tersenyum melihat tingkah ibu mereka.
Setelah puas melampiaskan
rasa rindu masing-masing, keduanya pun akhirnya melepaskan
pelukannya. Kini mata Jihyun terarah pada Putri yang sejak tadi
mengamati mereka berdua.
“Kau ini
jangan-jangan...Putri?!” Ucap Jihyun terbata
Putri yang mendengarnya
langsung tersenyum. “Nde..annyeong haseyo! Nama saya
Putri.” Jawabnya sedikit canggung.
“Jinjja?!Ahjumma
tidak menyangka sekarang kau sudah sebesar ini. Kau semakin cantik
sekarang.” Pujian Nyonya Jihyun membuat rasa canggung dalam diri
Putri sedikit berkurang, meskipun mungkin itu hanya sebuah kata-kata
untuk menghiburnya. Ia tetap berterima kasih.
“Gamsahamnida,
Ahjumma..” Ucap Putri seraya tersenyum kemudian menunduk
pelan
“Nah! Kalian semua pasti
lelah kan?! Sekarang istirahatlah..aku sudah menyiapkan kamar untuk
kalian diatas. Bibi Han, tolong antar mereka.” Perintah Nyonya
Jihyun pada pengurus rumah yang sejak tadi sudah berada disebelahnya.
“Saya mengerti. Mari
silahkan..” Kata Bibi itu seraya mengambil koper yang dibawa oleh
Nyonya Nara.
“Tunggu sebentar..”
Ucap Nyonya Nara tiba-tiba membuat yang lain menatapnya. “Aku masih
ingin cerita disini dengan Jihyun, Putri..kamu istirahat duluan aja
ya sayang. Gak apa-apa kan?!” Tanyanya pada Putri yang akhirnya
tersenyum lalu mengangguk
“Iya Ma..Putri ngerti
kok.” Setelah mendengar itu Bibi Han pun akhirnya juga berniat
mengambil koper milik Putri sampai gadis itu tiba-tiba menahannya.
“Tidak usah, Ahjumma. Biar saya sendiri yang membawanya.
Ahjumma pasti juga lelah..sudah bekerja seharian.”
“Tapi kan..” Bibi Han
masih berniat melakukannya sampai Putri kembali menahannya
“Tidak apa-apa, Ahjumma!
Cukup beritahu saya dimana kamarnya..” Ujarnya membuat yang lain
menatap kearahnya. Kali ini mau tidak mau Bibi Han pun akhirnya
menyerah, dan berniat mengantar Putri sampai Sehun tiba-tiba saja
mengambil koper Nyonya Nara dari tangannya.
Kali ini giliran Putri dan
yang lain yang menatap heran kearah Sehun. Membuat pemuda itu tertawa
kecil. “Ayolah..jangan menatapku seperti itu. Kalau dia saja yang
seorang wanita bisa melakukan itu, masa aku yang seorang pria harus
diam saja melihat Bibi Han mengangkat koper menaiki tangga.”
Jelasnya membuat yang lain tersenyum
“Ahjumma, biar
aku saja yang mengantarnya..” Kata Sehun singkat lalu mulai
berjalan menaiki tangga diikuti Putri dibelakangnya. Nyonya Jihyun
sendiri malah tersenyum kecil menyaksikan semua itu.
“Anak itu..benar-benar
pintar berakting rupanya.” Gumamnya pelan namun dapat terdengar
oleh Nara yang berada disampingnya.
“Hm?! Apa maksudmu?”
Tanya Nara heran. Jihyun menatap datar kearah Nara sebentar.
“Ada yang harus
kukatakan padamu.”
♥~:♥~:♥
Sehun dan Putri akhirnya
tiba di kamar. Setelah menaruh koper di samping lemari hal yang
pertama kali dilakukan oleh Putri tidak lain adalah berjalan keluar
menuju balkon yang terdapat dibalik pintu kaca disamping kamar
tersebut.
“Wah..benar-benar
sejuk..” Ucapnya saat menghirup udara seraya menutup mata. Ini
pertama kalinya Putri merasakan udara sejuk di sore hari seperti ini.
Ia sadar, sulit bisa menemukan hal seperti ini di Indonesia. Bukan
tidak ada, hanya saja cukup sulit untuk ditemukan.
“Aku heran, kau ini
bisa-bisanya tetap tersenyum dalam keadaan seperti ini.” Kata Sehun
tiba-tiba sudah berada disamping Putri membuat gadis itu sedikit
terkejut hingga membuka mata.
“Memangnya kenapa?”
Tanyanya tidak mengerti.
“Kau sudah tau kan,
kalau kita berdua akan ditunangkan?!”
Putri mengangguk santai.
“Aku tau..lalu apa masalahnya?” Pertanyaan Putri sempat membuat
Sehun melongo tak percaya lalu akhirnya menggeleng.
“Aniyo!
Sepertinya hanya aku yang bermasalah disini.” Kata Sehun menyerah
“Sebenarnya apa
maksudmu?! Jangan bicara setengah-setengah!” Tanya Putri namun
tedengar sedikit membentak membuat emosi Sehun mendadak mencuat
keluar.
“Ya!! Kenapa
kau jadi tiba-tiba marah seperti itu?!” Balas Sehun tak terima. Ia
lalu menghela nafas keras. “Wah jinjja..aku benar-benar
tidak mengerti kenapa aku harus ditunangkan dengan gadis sepertimu.”
Putri yang merasa kesal
dengan perkataan Sehun barusan juga tak mau kalah.
”Kau bilang apa?! Ya!!
Kau pikir aku senang apa ditunangkan dengan pria bermuka dua
sepertimu?! Menyebalkan!!” Putri benar-benar tidak menyangka kalau
Sehun ternyata seseorang yang memiliki sifat seperti ini. Padahal
sebelumnya ia berpikir kalau pemuda itu adalah seseorang yang baik
dan tenang. Tapi ternyata dugaannya salah, wajahnya saja yang tampan
tapi sikap pemuda itu berbeda 180 derajat dari bayangannya.
“Mwo?! Kau ini
benar-benar..lalu kenapa kau tidak menolaknya?! Kau sendiri
sebenarnya tidak menyetujuinya dan terus berpura-pura tersenyum
didepan semua orang. Seolah-olah semuanya baik-baik saja.”
Putri sama sekali tidak
mampu membalas apa yang baru saja dikatakan oleh Sehun. Semua yang
dikatakan oleh pemuda itu memang benar. Selama ini ia hanya dapat
mengikuti apapun permintaan Mamanya tanpa mempertimbangkannya lebih
dulu.
“Itu karna aku
menyayanginya. Aku sangat menyayangi Eommaku.”
Jawaban yang singkat
memang, namun itu sukses membuat Sehun tertegun di tempatnya. Pemuda
itu sama sekali tidak menyangka kalau alasan yang akan diutarakan
Putri adalah hal seperti ini. Sesuatu yang juga menjadi alasan
utamanya dalam menerima perjodohan ini.
Sehun menatap dalam kearah
gadis dihadapannya cukup lama, detik berikutnya ia membalikkan tubuh
dan berjalan keluar kamar. Tadinya ia berniat meminta kepada gadis
itu agar mau menolak perjodohan ini, namun setelah mendengar
pernyataannya barusan Sehun smaa sekali tidak tau harus bagaimana
lagi. Entah apa yang akan terjadi setelah hari ini, ia hanya dapat
berharap itu adalah sesuatu yang baik. Semuanya baru saja dimulai.
♥~:♥~:♥
Pagi ini Nyonya Jihyun dan
Nara, serta Sehun dan Putri sedang sarapan bersama di ruang makan.
Suasana di ruang makan mungkin akan sunyi sepi kalau saja tidak ada
Jihyun dan Nara yang mengobrol di tempat itu. Sesekali keduanya
menceritakan masa-masa lucu saat mereka masih sekolah membuat Sehun
dan Putri ikut tertawa mendengarnya. Walau terkadang Nyonya Jihyun
mendapati Sehun dan Putri yang saling menatap kesal.
“Oh iya, berhubung kau
dan Putri sudah lama tidak kesini. Hari ini aku dan Sehun akan
membawa kalian berkeliling kota Seoul dan melihat-lihat tempat wisata
disini.” Kata Jihyun membuat semua mata terarah padanya.
“Kalau aku sebenarnya
masih ingat seluruh daerah sini. Aku kan lahir di tempat ini, jadi
mana mungkin aku bisa melupakannya. Tapi sepertinya itu ide yang
bagus buat kamu sayang” Ujarnya seraya memandang kearah Putri.
“Selain karna kamu udah lama gak datang kesini, kamu kan juga belum
sempat melihat banyak hal di Seoul.”
Putri sendiri tersenyum
seraya mengangguk pelan, tanda bahwa ia setuju dengan rencana dari
Nyonya Jihyun.
“Baiklah. Kalau begitu
setelah makan kalian bersiap-siaplah. Ah! Dan juga, siapkan beberapa
baju ganti. Karna setelah berjalan-jalan kita akan langsung berangkat
ke Jeju.” Kali ini baik Putri maupun Sehun sontak menatap kearah
Jihyun terkejut
“Eomma..”
Ucap Sehun seraya menatap tajam kearah Mamanya.
“Waeyo?! Eomma
kan hanya ingin membawa mereka ke salah satu tempat indah disini.
Lagipula Eomma yakin kalau Putri juga pasti ingin
mengunjungi tempat itu. Benarkan?!” Tanyanya tiba-tiba pada Putri.
Gadis itu terlihat berpikir sejenak, lalu akhirnya mengangguk
perlahan membuat Sehun langsung mendengus pelan.
Nyonya Jihyun kini menatap
kearah Sehun yang masih mencoba menyelesaikan sarapannya. Ia memang
sengaja memilih Jeju sebagai salah satu tempat yang akan mereka
kunjungi, karna hanya ditempat itulah satu-satunya tempat yang baik
untuk menjalankan rencananya dan Nara. walau sebenarnya ia sadar
mungkin saja sesuatu yang dipikirkannya akan muncul disana.
♥~:♥~:♥
Seperti kata Nyonya Jihyun
sebelumnya mereka benaar-benar berkeliling kota Seoul, dan tempat
yang pertama kali mereka datangi saat ini adalah Lotte World.
Sebuah tempat rekreasi indoor maupun outdoor yang
sangat terkenal di Seoul. Cukup lama mereka berjalan-jalan
mengelilingi tempat tersebut, sampai akhirnya Jihyun dan Nara
menemukan sebuah pusat perbelanjaan lalu kemudian berjalan masuk
kedalam diikuti Sehun dan Putri dibelakangnya.
Sekitar 20 menit lebih
mereka berempat berada didalam sana, namun sepertinya hanya kedua ibu
mereka yang merasakan kesenangan selama berada ditempat itu. Putri
sendiri sebenarnya sudah mulai merasa lelah sekaligus bosan, namun ia
tetap bertahan karna merasa tidak enak jika harus mengatakan yang
sesungguhnya.
Sehun yang sebelumnya
bersandar di dinding toko mendadak berjalan kearah Putri.
“Aah!! Aku
benar-benar bisa gila jika terus berada di tempat ini.” Kata Sehun
frustasi karna sejak tadi yang ia lihat hanyalah sepatu,tas dan
barang-barang milik perempuan saja. Ia lalu berjalan melewati Putri
dan berniat keluar toko sampai langkahnya mendadak terhenti.
“Mau ikut tidak?”
Tanyanya tiba-tiba membuat Putri berbalik memandangnya.
“Kau bertanya padaku..?”
“Bukan! Pada boneka
disebelahmu. Kau pikir siapa lagi yang berada disitu selain dirimu?!”
Ketus Sehun
Merasa kesal dengan sikap
pemuda itu, ia pun langsung menolaknya. “Dwaesso! Aku
senang kok berada disini.” Balas Putri tak kalah kemudian kembali
membalikkan tubuhnya. Tepat saat ia melakukan itu wajah Putri
langsung berubah terkejut. Ternyata apa yang dikatakan oleh Sehun
tadi benar, tidak ada orang lain disana. Nyonya Jihyun dan Mamanya
sendiri sudah tidak berada di tempat sebelumnya ia melihat mereka.
Putri berjalan-jalan mencari ke beberapa sudut toko tapi tetap tidak
bisa menemukan kedua wanita itu. Merasa tidak ada jalan lain, ia pun
akhirnya memutuskan untuk mencari Sehun dengan memberanikan diri
keluar dari toko. Dan lagi-lagi untuk kedua kalinya Putri harus
terkejut saat dirinya keluar dari toko. Diluar sana ternyata begitu
banyak orang yang berlalu-lalang, dan pastinya akan sulit menemukan
sosok Sehun di tempat ini.
Bingung sekaligus takut
kini mulai menghampiri Putri. Gadis itu sudah berjalan kesana kemari
namun tidak bisa menemukan Sehun dimanapun. Tangan Putri kini mulai
gemetar dan dingin, ia memang paling tidak suka berada diantara
keramaian jika sendirian. Karna kebingungan Putri pun tanpa sengaja
menabrak beberapa orang yang sedang berjalan didekatnya dan akhirnya
cepat-cepat menunduk meminta maaf.
Bagaimana ini!?!
Aku...takut.
#To Be Cont.


0 comments:
Posting Komentar