Don't Touch Me !- Chapter 6 [Final]


Juniel membuka matanya perlahan. Ia mendapati dirinya yang berada didalam sebuah ruangan berwarna serba putih. Ruangan itu terasa begitu sejuk dan wangi. Mungkinkah tempat itu adalah surga? Tapi itu berarti dia sudah..?
Mendadak ia merasakan sakit di kepalanya membuatnya seolah menyadari sesuatu. Tunggu dulu? Kalau ia sudah meninggal, ia tidak mungkin merasakan sakit bukan?!
Menyadari hal itu Juniel pun kembali memandang seisi ruangan, kini ia tau kalau dirinya sedang berada di dalam rumah sakit. Tanpa sengaja gadis itu menyentuh sebuah tangan, membuatnya berbalik ke samping dan akhirnya mendapati seseorang yang sedang tertidur lelap disamping ranjangnya.
Mata Juniel mendadak terbelalak saat melihat orang itu. Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya gadis itu kembali mengamatinya dan akhirnya yakin dengan apa yang dilihatnya.
Orang itu kini terbangun dari tidurnya, lalu membuka matanya perlahan. Detik berikutnya ia nampak begitu senang melihat Juniel yang sudah sadar.
“Juniel~ah..kau sudah sadar?! Ooh~syukurlah! Terima kasih, Tuhan!” Ucap orang itu lega
Eom...eomma?!” Ucap Juniel sedikit terbata. Ia sama sekali tidak pernah menyangka ia bisa kembali bertemu dengan Eommanya saat ini.
Nyonya Choi menatap anaknya itu cukup lama lalu seketika memeluk anak satu-satunya itu penuh kasih.
“Benar sayang, ini Eomma.” Kata Nyonya Choi memastikan. “Eomma sudah menelantarkanmu. Karna keinginan bodoh eomma kau menjadi seperti ini dan bukannya membantumu aku malah membiarkanmu melalui semuanya seorang diri. Maafkan Eomma..Juniel~ahEomma benar-benar seorang ibu yang jahat.”
Juniel tidak bisa menahan airmatanya lebih lama lagi. Gadis itu pun terisak dalam dekapan eomma-nya. “Kau bukanlah orang jahat. Bagiku kau adalah ibu terbaik yang pernah kumiliki. Dan selamanya akan seperti itu.” Ucap Juniel sambil terisak.
“Mulai saat ini eomma berjanji akan selalu ada bersamamu, Juniel~ahEomma akan selalu ada disampingmu..” Ucap Nyonya Choi. Juniel sendiri tidak menjawab. Gadis itu terlalu bahagia untuk bicara saat ini.
♥:♥:♥

Juniel dan eomma-nya kini sedang menuju kamar tempat Eunjae dirawat. Beruntung mereka berdua dirawat dirumah sakit yang sama. Jadi tidak sulit bagi Juniel untuk menemukannya. Juniel tidak dapat berjalan sementara karna mengalami keretakan di salah satu kakinya, saat ia tertabrak bagian depan mobil rupanya tidak hanya menghantam kepalanya namun juga kakinya. Itulah sebabnya ia harus menggunakan kursi roda untuk saat ini.
Akhirnya ia pun tiba di depan sebuah kamar yang tidak lain adalah kamar tempat Eunjae berada. Juniel nampak ragu sampai akhirnya Nyonya Choi memegang pergelangannya sambil tersenyum mengangguk. Juniel yang melihat itupun menunduk dan akhirnya mempersiapkan dirinya. Detik berikutnya, mereka pun berjalan masuk kedalam.
Juniel memandang sekeliling, nampak kedua orang tua Eunjae yang duduk disalah satu sofa. Dan Minhwan yang sedang berdiri bersandar di pojok kamar. Kemudian mendapati Eunjae yang sedang terbaring di tempat tidur. Juniel pun berjalan mendekatinya. Gadis itu rupanya sedang tertidur lelap.
“Dokter baru saja menyuntikkan obat tidur padanya.” Ucap Tuan Choi yang tidak lain adalah ayah Eunjae.
Juniel memandang wajah Eunjae yang nampak begitu tenang. Nampak beberapa luka di sekitar wajahnya. Mendadak bayangan kejadian semalam kembali terlintas dalam benaknya, saat dimana Eunjae berusaha menahan para pria jahat itu demi menolongnya. Mengingat itu membuat airmata Juniel kembali menetes. Semua ini terjadi karenanya, kalau saja malam itu ia tidak ikut bersama dengan Eunjae keadaannya pasti tidak akan jadi seperti ini.
“Maafkan aku Eunjae~ya..” Isaknya sambil memegangi tangan Eunjae yang terasa dingin. Setelah beberapa saat ia kembali berbalik dan menjalankan kursi rodanya hingga berada tepat didepan kedua orang tua Eunjae.
Kedua orang itu memandang Juniel bingung, sampai tiba-tiba Juniel mencoba turun sendiri dan akhirnya terjatuh dari kursi rodanya membuat mereka terkejut dan langsung memapahnya untuk berdiri namun Juniel menolak.
Gadis itu kemudian berlutut dihadapan mereka seraya menunduk dalam.
“Maafkan aku. Semua ini terjadi karenaku, aku benar-benar minta maaf. Bukan Eunjae yang harusnya mengalami hal ini, tapi aku. Maafkan aku AhjussiAhjumma..maafkan aku..”Ucapnya berkali-kali seraya terisak. Airmata kini mengalir deras di pipi mungil gadis itu.
Kedua orang itu kini menatap sedih kearah Juniel, dan Tuan Choi segera membantu gadis itu untuk berdiri. “Ini bukan kesalahanmu Juniel~si. Semua ini adalah musibah, dan kami yakin Tuhan masih memiliki rencana yang baik untuk Eunjae dibalik kejadian ini. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri.” Tutur Tuan Choi diikuti anggukan oleh Istrinya.
“Aku sebagai ibunya, juga meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Semua biaya rumah sakit maupun perawatan Eunjae, saya akan menanggungnya. Kami harap anda tidak salah paham, saya melakukan ini bukan bermaksud merendahkan anda tapi setidaknya hanya ini yang dapat saya lakukan untuk membalas kebaikan dari Eunjae~si.” Ujar Nyonya Choi membuat kedua orang tua Eunjae mengangguk mengerti. “Dan juga..Minhwan~si. Terima kasih atas bantuanmu selama ini pada Juniel. Dan aku mengerti kenapa kau tidak ingin melanjutkannya lagi. Jadi aku tidak akan memaksamu menyelesaikannya.” Tambahnya pada Minhwan yang menatapnya sesaat kemudian mengangguk pelan.
Juniel menatap Minhwan tidak percaya. Namja itu sama sekali tidak memandang kearahnya. Mendengar kenyataan bahwa Minhwan akan berhenti sejujurnya membuat hatinya terasa begitu sakit saat ini. Sampai sebenci itukah Minhwan padanya saat ini? Begitu membencinya sampai-sampai melihat kearahnya saja dia tidak mau?
Juniel akhirnya bangkit dari tempatnya dibantu oleh eomma-nya naik kembali keatas kursi roda. Gadis itu berusaha menahan airmatanya yang kini kembali ingin menetes namun tidak berhasil. Ia sama sekali tidak dapat menahannya. Setelah berpamitan kepada keluarga Choi, ia dan Eomma-nya pun berjalan pergi dari sana.
Kini semuanya benar-benar sudah berakhir.
♥:♥:♥

Hari sudah menjelang sore saat Minhyuk tiba dirumah sakit. Ia berada di Jepang untuk menemui Ibunya sampai akhirnya mendapat berita mengenai Eunjae. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun memutuskan kembali ke Korea saat itu juga. Bahkan sesampainya di bandara Inceon, ia langsung menaiki taksi dan menuju rumah sakit.
“Eunjae~ya..” Ucapnya pelan membuat Eunjae dan yang lainnya menatap terkejut kearahnya.
“Minhyuk oppa..” Kata Eunjae tak percaya. Teringat akan sesuatu membuat gadis itu langsung membalikkan tubuhnya. “Untuk apa kau datang kesini?! Pergilah!” Usir Eunjae
“Apa maksudmu, Eunjae~ya?! Kau tau bagaimana khawatirnya aku yang hampir gila memikirkan kapan aku bisa secepatnya tiba disini? Dan sekarang..saat aku datang kau menyuruhku pergi dengan seenaknya.” Ujar Minhyuk tak percaya dengan sikap gadis itu
“Untuk apa kau mengkhawatirkan aku? Tidak usah khawatir, semuanya sudah berakhir. Begitupula dengan hubungan kita.”
“Aku tidak mau. Bagaimana pun juga kau dan aku akan tetap…”
“TIDAKKAH KAU MENGERTI?!!!” Bentak Eunjae tiba-tiba membuat Minhyuk menatapnya tajam. Gadis itu mulai meneteskan airmata. “Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Aku bukanlah gadis sempurna seperti yang kau inginkan dalam hidupmu. Kini aku hanyalah seorang gadis...yang kotor.” Ucapnya susah payah. “Dan aku sama sekali tidak pantas untukmu, oppa! Jadi pergilah..carilah gadis sempurna seperti yang kau impikan.”
Minhyuk menatap nanar gadis dihadapannya itu cukup lama. Detik kemudian, ia mendekat dan langsung mengecup bibir Eunjae lembut membuat semua berada didalam sana terkejut, termasuk Eunjae. Gadis itu bahkan tidak dapat berkata apa-apa saking terkejutnya.
“Aku tidak mencari seorang gadis yang sempurna, Choi Eunjae~si.” Ucap Minhyuk saat melepaskan ciumannya. “Apa kau pikir ada orang yang sempurna di dunia ini?” Tanyanya membuat Eunjae menatap kearah lain. “Tidak ada orang yang diciptakan sempurna di dunia ini, tapi seseorang bisa merasakan seperti apa kesempurnaan itu, disaat mereka bersama dengan orang-orang yang dicintainya. Dan aku menemukan itu dalam dirimu, Eunjae~ya. Bagiku..seperti apa keadaanmu sekarang ataupun nanti, kau tetaplah gadis yang kucintai saat ini dan selamanya.” Kata Minhyuk mengakhiri
Semua orang memandang takjub kearah Minhyuk, tak terkecuali Eunjae. Gadis itu sudah kembali meneteskan airmatanya. Apa yang Minhyuk ucapkan barusan benar-benar diluar dugaannya. Pemuda itu ternyata benar-benar menyayanginya dan tidak seharusnya ia menyia-nyiakan orang yang Tuhan kirimkan padanya saat ini.
♥:♥:♥

Kedua orang tua Minhwan kini sudah pulang kerumah mereka. Minhwan sengaja menyuruh mereka pulang agar dapat beristirahat. Itulah sebabnya hanya ada Eunjae, Minhyuk dan dirinya yang berada dirumah sakit saat ini. Mereka sedang mengobrol satu sama lain sampai seseorang mendadak masuk kedalam kamar. Orang yang tidak lain adalah Eomma-nya Juniel. Wanita itu nampak begitu khawatir dan tergesa-gesa.
Nuguseyo?” Tanya Eunjae heran
Minhyuk memandang wanita itu sejenak lalu akhirnya menyadari sesuatu. “Oh?! Annyeong haseyo~Nyonya Choi.” Sapa Minhyuk seraya menunduk pelan.
Nyonya Choi sendiri tersenyum kecil. “Kau disini juga, Minhyuk~ah..”
Ne. Dia ini adalah yeojachingu-ku..” Ucapnya lalu mengarah pada Eunjae yang tersenyum ramah. “Dia ini..adalah Eomma-nya Juniel.” Lanjut Minhyuk membuat Eunjae seketika terkejut mendengarnya.
Nyonya Choi memandang kearah Minhwan sesaat. “Minhwan~si, bolehkah aku meminta pertolonganmu?” Tanyanya.
Minhwan sendiri tidak langsung menjawab, membuat Nyonya Choi berjalan mendekatinya. “Junhee~dia sendirian diluar sana. Dan aku sama sekali tidak tau harus mencarinya kemana lagi..”
Ahjumma~apa maksud anda..?” Tanya Eunjae berusaha memastikan sesuatu
“Dia lari dari rumah sakit saat aku pergi membelikannya makanan. Ia juga hanya meninggalkan sebuah surat dikamar.” Ketiga orang tersebut nampak begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Nyonya Choi barusan. Mereka pun membaca surat yang ditinggalkan oleh Juniel.
Eomma..aku benar-benar minta maaf. Selama ini aku hanya bisa mengecewakanmu dan juga orang-orang disekitarku. Aku sama sekali tidak berguna. Maafkan aku.
Aku mencintaimu..
“Apa mungkin..dia merasa bersalah atas apa yang telah terjadi padaku? Itu sebabnya..” Ucap Eunjae yang akhirnya menyadarinya. “Oppa..kenapa kau diam saja?! Cepat cari dia!!” Serunya pada Minhwan yang nampak tidak bergerak dari posisinya. Eunjae menatapnya tidak percaya.
“Apa kau menyalahkan dia atas apa yang terjadi padaku?! Dasar Bodoh!!” Umpat Eunjae membuat Minhwan menatapnya terkejut. “Apa kau pikir semua yang terjadi ini adalah keinginannya? Apa kau pikir dia juga tidak merasa bersalah? Apa kau pikir dia tidak merasa sedih seperti apa yang kita rasakan saat ini? Apa kau tau?! Malam itu..walau Juniel eonni tau kalau dirinya tidak bisa disentuh oleh pria, dia berusaha bertahan untuk tetap bersamaku. Kalau saja saat itu aku tidak menyuruhnya pergi, maka kau tidak hanya melihat satu melainkan 2 orang yang kau sayangi akan kehilangan kebahagiaannya.”
Minhwan mengepal kuat tangan kanannya. Semua yang dikatakan adiknya itu memang benar. Tidak seharusnya ia menyalahkan Juniel atas semua yang telah terjadi. Gadis itu bahkan sudah hampir kehilangan nyawanya karna tabrakan, dan yang ia lakukan malah bersikap seolah-olah Juniel lah penyebab semua itu.
Akhirnya tanpa berpikir panjang lagi, Minhwan pun berlari meninggalkan tempat itu. Dia harus mencari gadis itu sebelum terlambat. Dia harus menemukannya.
♥:♥:♥

Juniel memandang laut yang nampak begitu tenang dan sunyi. Hanya suara ombak dan beberapa burung kecil yang sempat berkicau disana. Gadis itu membuka sepatu miliknya, pasir-pasir pantai ternyata begitu lembut saat menyentuh kakinya. Angin yang bertiup lembut menerpa rambutnya benar-benar membuatnya merasa begitu tenang. Seakan ingin selamanya berada tempat itu.
Tiba-tiba saja airmata menetes membasahi pipinya. Perlahan gadis itu pun berjalan maju dengan tongkat di kiri kanannya. Terus dan terus berjalan sampai akhirnya saat air telah mencapai setingkat dadanya ia pun berhenti. Detik berikutnya, gadis itu pun melepaskan dua tongkat yang dipegangnya membuat tubuhnya langsung tenggelam kedalam air. Dengan keadaan kaki yang terluka, ia tentu saja tidak akan bisa berenang. Tapi memang itu tujuan Juniel. Gadis itu berniat mengakhiri hidupnya di tempat ini. Nafas Juniel kini mulai terasa sesak, bahkan entah sudah berapa kali ia menelan air laut hingga membuat dadanya sesak. Dingin dan gelap itulah yang dirasakan dan dilihatnya saat ini. Penglihatan gadis itupun mulai kabur dan akhirnya…
♥:♥:♥

Yaa!! Ireona!!! Choi Jun hee, cepat bangun!!” Seru Minhwan seraya terus mengguncang tubuh Juniel. Tubuh gadis itu begitu dingin dan seolah kaku. “YAA!! Jangan membuatku takut, Juniel~ah!! Kumohon bangunlah!!” Ucapnya berulang kali namun sama sekali tidak ada respon dari gadis itu.
Berkali-kali Minhwan terus berusaha mencari Juniel namun tetap tidak bisa menemukan keberadaan gadis itu. Hal itu sempat membuatnya frustasi, sampai akhirnya ia mengingat sesuatu. Pemuda itu mencari Saeyu dan menanyakan dimana tempat yang biasa dikunjungi oleh Juniel. Saeyu yang saat itu ingat kalau Juniel sering mengunjungi Pantai disaat ingin sendirian langsung memberitahukannya pada Minhwan.
Namun saat Minhwan tiba di tempat itu yang ditemukannya hanyalah sepatu Juniel yang tergeletak di pasir dan juga tongkat yang mengapung di air. Minhwan yang menyadari hal itu seketika melompat masuk kedalam air dan akhirnya berhasil menemukan Juniel. Sayangnya saat menemukannya, gadis itu sudah kehilangan kesadarannya.
Minhwan mendekap tubuh Juniel erat. “Mianhae! Semua ini salahku. Aku sama sekali tidak memikirkan perasaanmu. Maafkan aku..” Seru Minhwan kesal pada dirinya sendiri. Pemuda itu akhirnya menangis. Meratapi gadis yang dihadapannya yang kini sudah tidak berdaya. Hatinya benar-benar sakit mengetahui semua ini.
Uhukk~uhukk!
Suara yang begitu dikenal Minhwan membuat matanya terbelalak seketika saat menyadari Juniel yang terbatuk seraya mengeluarkan air dari mulutnya. Setelah beberapa saat gadis itu pun akhirnya berhenti terbatuk.
Juniel membuka matanya perlahan dan mendapati wajah Minhwan yang sedang menatapnya.
“Minhwan~si..” Ucapnya pelan
Minhwan menatapnya kesal. “MICEOSSO?!! Bisa-bisanya kau melakukan hal bodoh seperti itu?! Kau ingin mati, hah?!”
“BENAR! AKU INGIN MATI!!” Balas Juniel membuat Minhwan seketika tersentak mendengarnya. Ini pertama kalinya ia melihat gadis itu bersikap seperti ini. “Aku ingin mati! Karna hanya dengan begitu aku bisa bebas. Bebas dari rasa bersalah dan bebas dari phobia terkutuk ini!!
Minhwan tidak membalas. Ia hanya memandang gadis dihadapannya itu dengan tatapan nanar.
“Karna phobia ini, kebahagiaan yang seharusnya kurasakan saat bersama dengan orang lain semuanya menjadi hilang. Karna penyakit ini pula, aku..sama sekali tidak dapat menolong orang-orang yang kusayangi saat mereka terluka. Penyakit ini membuatku merasa menjadi orang yang tidak berguna dan hanya dapat menyakiti orang-orang yang kusayangi. Terutama dirimu.”
Mworago..?!”
Juniel kembali terisak. “Apa kau tau bagaimana perasaanku saat melihatmu yang begitu membenciku. Aku benar-benar sedih. Hatiku sakit saat melihat orang yang kusayangi bahkan untuk memandangku saja tidak mau. Hatiku sakit saat mengetahui dia begitu membenciku. Dan semakin sakit lagi saat menyadari bahwa dia sama sekali tidak…” Ucapan Juniel mendadak terhenti karna Minhwan sudah lebih dulu membungkamnya dengan mengecup bibir gadis itu.
Juniel yang terkejut seketika membelalakkan matanya dan berusaha melepasnya namun Minhwan justru menarik tubuhnya. Akhirnya Juniel yang sadar ia tak akan menang dari pemuda itu pun akhirnya mengalah.
Minhwan tidak peduli, apakah setelah ini Juniel akan pingsan kemudian membencinya. Ia sama sekali tidak peduli dengan semua itu. Saat ini yang ia inginkan hanyalah satu. Ia ingin terus bersama dengan Juniel. Gadis yang selama ini dicintainya.
Setelah beberapa saat Minhwan pun akhirnya melepaskan ciumannya. Ia lalu menatap mata Juniel dalam.
Saranghaeyo..Choi Jun hee~si” Ucapnya singkat
Juniel menatapnya cukup lama dan..
PLAKK!!
Sebuah tamparan tiba-tiba saja mendarat di wajah Minhwan membuat namja itu terpaku sesaat. “Bodoh! Itu balasan karna kau sudah menyakitiku.” Ucap Juniel membuat Minhwan menunduk pelan. Merasa bersalah.
Tiba-tiba saja sebuah kecupan singkat mendarat di bibir pemuda itu, membuatnya terkejut dan seketika mengangkat wajahnya. “Dan itu hadiah karna kau telah menolongku. Gomawoyo, Minhwan~oppa” Kata Juniel seraya tersenyum kecil. Seolah menyadari sesuatu, Minhwan pun berjalan mendekati gadis itu.
Wae..waeyo? Kenapa menatapku seperti itu?!” Tanya Juniel heran
“Kau…tidak merasakan apa-apa?!” Minhwan balik bertanya
“Hm?! Memangnya kenapa? Aku baik-baik sa..” Ucapan Juniel terhenti. Ia akhirnya ikut menyadarinya. “Aa..aku..bisa melakukannya. Aku tidak merasakan apa-apa. Aku berhasil!!” Serunya senang kemudian memeluk Minhwan yang juga tersenyum melihatnya. “Tapi bagaimana bisa?!”
“Karna kau menginginkannya.” Kata Minhwan singkat lagi-lagi membuat Juniel menatapnya heran. “Ketakutan yang kau rasakan selama ini itu tidak lain dikarenakan oleh keinginanmu sendiri. Semua itu berawal dari trauma yang kau alami. Saat itu pikiranmu dengan sendirinya menolak untuk berdekatan maupun bersentuhan dengan orang lain. Tapi disaat kau ingin mengubahnya, hal itu justru sudah semakin sulit untuk dihentikan.” Tutur Minhwan membuat Juniel berpikir sejenak. Semua itu memang benar, selama ini setiap kali melihat orang lain apalagi laki-laki. Bayangan saat ayah tirinya berniat melakukan ‘itu padanya selalu terlintas sehingga membuat tubuhnya menjauh seketika.
“Kau tidak merasakan apa-apa saat ini, karna hati dan pikiranmu sendiri yang mengizinkanku untuk masuk kedalamnya.” Kata Minhwan tersenyum lalu tiba-tiba saja mengangkat tubuh Juniel.
Yaa~apa yang kau lakukan?!!” Pekik Juniel karna terkejut
Waeyo?! Kau tidak lihat apa, ini sudah hampir malam. Memangnya kau mau tinggal disini terus?! Ya sudah..silahkan saja!” Seru Minhwan kemudian berniat menurunkan tubuh Juniel membuat gadis itu terkejut dan cepat-cepat berteriak.
Arasseo..arasseo!! Mianhae..” Pekik Juniel cepat
Minhwan yang merasa berhasil mengerjai gadis itu langsung tersenyum kecil. “Kau tau? Sepertinya aku baru menyadari satu hal. Phobia-mu itu..sepertinya Tuhan memang sengaja memberikannya padamu, agar tidak ada namja lain yang bisa mendekatimu sampai aku datang mengubahnya. Karna kau memang diciptakan hanya untukku, Choi Jun Hee.”

Tuhan memiliki cara yang berbeda-beda pada seseorang untuk menemukan pasangan hidup. Hanya saja terkadang mereka terlambat menyadarinya.


              THE END

0 comments:

Posting Komentar