Minhwan baru saja tiba di depan sebuah rumah. Tempat yang sudah cukup lama ditinggalkannya, rumah itu memang berukuran sederhana namun memiliki arti begitu besar baginya. Sambil tersenyum ia pun berlari masuk kedalamnya.
“Aku pulang!!” Serunya
“Oh?! Minhwan~si..apa yang kau lakukan disini?!” Kata seseorang saat ia baru saja muncul dari balik pintu. Orang yang tidak lain adalah Juniel. Ia dan semua orang didalam rumah tersebut sedang makan bersama.
“Yaa!! Pertanyaan macam apa itu?! Aku kan baru saja pulang! Bukannya disapa baik-baik malah seperti itu!” Ucap Minhwan kesal
“Oh?! Oppa? Kau sudah pulang rupanya! Ayo makan bersama kami..Appa 1dan Eomma sudah menunggumu sejak tadi.” Seru Eunjae yang baru saja tiba sambil membawa sebuah sup panas yang kemudian diletakkannya diatas meja.
“Apa-apaan ini?!” Kata Juniel tiba-tiba, membuat semua memandang kearahnya.
“Kau…kenapa?!” Tanya Minhwan heran
“Kau ini sebenarnya siapa?! Maksudku..kalian semua sebenarnya siapa?! Anii~aiish..aku bingung harus bagaimana mengatakannya.” Ucap Juniel terlihat kesal pada sikapnya sendiri
“Yaa~kau ini sebenarnya kenapa?!!” Tanya Minhwan yang juga kesal
“Kau..kenapa Eunjae mengatakan Appa dan Eomma sudah menunggumu?”
“Memangnya ada yang salah? Mereka berdua kan orang tuaku!” Sahut Minhwan
“Bagaimana mungkin?! Bukannya kau dan Eunjae adalah sepasang kekasih?!”
“MWO?!!!” Pekik semua orang dalam rumah bersamaan. Minhwan bahkan sudah tersedak makanan hingga cepat-cepat meneguk air minum.
“YAA~MICEOSSO?!!” Gertak Minhwan tiba-tiba, membuat Juniel sedikit terkejut. “YAA! Bagaimana mungkin aku dan Eunjae bisa menjadi sepasang kekasih?! Dia itu kan adikku sendiri!!” Pernyataan Minhwan membuat Juniel seketika tercekat di tempatnya. Apa katanya? Jadi ternyata mereka berdua adalah kakak beradik?!!
Menyadari kebodohannya yang berpikir kalau Eunjae dan Minhwan adalah sepasang kekasih membuat gadis itu cepat-cepat menundukkan kepalanya malu.
“Mianhae~” Katanya merasa bersalah
“Yaah~neo jinjja..aku hampir saja mati tersedak karna ulahmu ini tau?!” Protes Minhwan membuat Juniel mengerling sedikit kesal
“Eiiyy~orang sepertinya tidak akan mati hanya karna hal kecil seperti itu.” Ucap Juniel pelan berusaha tidak terdengar namun ternyata dugaannya salah, Minhwan bisa mendengarnya dengan jelas.
“Mwo..mworago?! Ouwwh~gadis ini benar-benar…”
“Sudah hentikan..tidak baik bertengkar di meja makan. Lagipula kesalahpahamannya kan sudah selesai? Ayo lanjutkan makannya.” Sela Tuan Choi sambil tersenyum. Sesuai perkataannya, yang lain pun melanjutkan acara makan mereka.
♥:♥:♥
Mereka baru saja selesai makan. Appa dan Eomma Minhwan kini sedang beristirahat di kamar. Sedang Juniel, Minhwan dan Eunjae berada di ruang tengah.
“Mianhaeyo, Juniel~si..kau pasti merasa tidak nyaman kubawa ke tempat seperti ini.” Kata Eunjae merasa bersalah.
“Apa maksudmu?! Jangan berkata seperti itu..aku malah ingin berterima kasih padamu karna telah mengajakku kesini.”
“Eh? Kenapa kau...”
“Aku suka sekali tempat ini. Rumah ini benar-benar ramai. Tidak seperti dirumahku. Disini aku benar-benar bisa merasakan seperti apa rasanya bersama keluarga itu. Rumah ini mungkin kecil dan sederhana, tapi bersama dengan orang-orang yang kita sayangi membuatnya terasa luas dan menyenangkan. Sebenarnya aku pernah mengatakan hal seperti ini sebelumnya pada seseorang.” Kata Juniel lalu melirik kearah Minhwan yang nampak menyadarinya namun berpura-pura sibuk dengan hp miliknya.
Eunjae ikut memandang kearah kakaknya itu, kemudian teringat sesuatu. “Ah benar!! Aku sampai lupa memberitahukannya padamu, Oppa!” Serunya tiba-tiba membuat pandangan Minhwan beralih dari hpnya.
“Memangnya ada apa?” Tanya Minhwan heran
Eunjae tersenyum kearah Juniel kemudian perlahan mengenggam tangan gadis itu lalu memperlihatkannya kepada Minhwan. “Lihatlah..”
Minhwan menatap terkejut kearah kedua gadis dihadapannya itu. Saking terkejutnya ia bahkan tidak mampu berkata apa-apa saat ini. Juniel, gadis itu dan Eunjae..benar-benar saling berpegangan satu sama lain. Dan sama sekali tidak terlihat ketakutan di wajahnya. Gadis itu bahkan ikut tersenyum kearahnya.
“Ka..kalian? bagaimana..mungkin?!” Ucap Minhwan susah payah
“Aku juga tidak tau, tadi saat di kelas seorang anak hampir saja terjatuh dan Juniel eonni berhasil menolongnya. Dan sejak saat itulah ia bisa menyentuh orang lain.” Terang Eunjae membuat Minhwan mengangguk paham
“Aku juga tidak tau kenapa aku bisa melakukan hal seperti itu..tubuhku seolah tergerak dengan sendirinya.” Juniel berpikir sejenak.
“Itu karna nalurimu.” Kata Minhwan tiba-tiba, membuat Eunjae dan Juniel memandang kearahnya bersamaan. “Alasan aku membawamu ke tempat itu adalah untuk mengurangi ketegangan dan tekanan yang kau rasakan. Awalnya mungkin kau merasa tidak nyaman atau bahkan takut saat melihat begitu banyak anak-anak yang berlari kesana kemari mengelilingimu, namun disaat kau semakin mengamatinya saat itulah kau akan tau betapa lucu dan menggemaskannya anak-anak itu. Tanpa kau sadari, Perasaan bahagia saat melihat dan mendengar mereka tertawa membuatmu seolah ingin bergabung dan bermain bersama dengan mereka. Termasuk dalam hal melindungi mereka.”
Kali ini giliran Juniel yang menatap Minhwan terkejut. Apa yang dikatakan pemuda itu semuanya adalah benar. Perasaan bahagia bahkan keinginan untuk melindungi itulah yang mendorong tubuhnya agar cepat berlari untuk menolong anak tersebut. Dia sama sekali tidak mengerti hal ini sebelumnya, namun penjelasan Minhwan barusan berhasil membuatnya sadar akan hal itu.
“Woah~Oppa..kau benar-benar hebat rupanya, kenapa dulu kau sempat mengambil jurusan musik? Bukannya Psikologi?!” Ucap Enjae kagum
“Eiissh~anak ini…” Desis Minhwan kesal membuat Enjae tertawa kecil. Begitupula dengan Juniel. “Oh iya, bagaimana pun juga..sekarang kau sudah sembuh dan sepertinya tugasku sudah selesai. Selamat yah!” Seru Minhwan seraya mengulurkan tangannya pada Juniel.
Gadis itu sendiri belum meraihnya. Entah kenapa mendengar perkataan Minhwan barusan membuatnya merasakan sesuatu yang aneh. Bukankah harusnya ia merasa senang saat ini karna penyakitnya sudah sembuh? Tapi kenapa yang dirasakannya adalah hal lain. Ia justru merasa sedih mengetahui semua ini.
Juniel memandang datar kearah Minhwan yang tersenyum kearahnya, kemudian beralih menatap uluran tangan pemuda itu.
Benarkah tidak ada lagi hal yang dapat dilakukan untuknya? Dan benarkah..ini berarti bahwa ia tidak dapat bertemu dengan Minhwan lagi? Benarkah semuanya sudah selesai..?
Setelah beberapa saat terdiam, Juniel pun akhirnya memutuskan untuk membalas uluran tangan Minhwan.
“Terima ka...” Ucapan Juniel yang mendadak terhenti membuat Minhwan maupun Eunjae menatap khawatir kearahnya.
Apa ini? Tubuhku..kenapa mendadak terasa dingin? Dan kenapa semuanya tiba-tiba seolah berputar? Kenapa semuanya jadi gelap? Apa yang terjadi padaku?!
♥:♥:♥
Juniel membuka matanya perlahan lalu memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.
“Eonni..apa kau baik-baik saja?!” Tanya sebuah suara yang dikenalnya. Juniel memandang sejenak ke sekelilingnya. Sepertinya ia berada dalam sebuah kamar, tapi entah kamar siapa. Alih-alih ia menemukan Eunjae yang duduk disamping ranjang. “Eonni..ini minumlah.” Ucap Eunjae seraya memberikan minuman padanya
“Ehm..aku tidak apa-apa. Gomawoyo Eunjae~si..” Jawabnya setelah meneguk air minum tersebut. “Apa yang terjadi? Kenapa aku tiba-tiba kembali seperti ini? Bukankah kalian mengatakan bahwa aku sudah sembuh?” Tanyanya heran
“Juniel eonni..bisakah kau memegang tanganku?” Tanya Eunjae, berusaha memastikan sesuatu. Juniel sendiri menatapnya ragu, namun melihat Eunjae yang tampak yakin, ia pun percaya pada gadis itu lalu mengenggam tangan Eunjae perlahan. Juniel menatapnya terkejut. Tidak ada yang terjadi. Tapi kenapa tadi saat ia memegang tangan Minhwan yang terjadi malah…?!
“Eunjae~si..kenapa seperti ini?” Tanyanya semakin bingung
Eunjae sendiri tidak langsung menjawab, ia menatap mata Juniel dalam.
“Eonni..bolehkah aku bertanya sesuatu yang pribadi padamu?” Tanyanya dengan wajah serius. Juniel menghembuskan nafasnya pelan kemudian mengangguk.
“Apa..sesuatu yang buruk pernah terjadi padamu? Dan itu berhubungan dengan seorang…pria?” Tanya Eunjae hati-hati. Juniel menatap kearah lain sesaat, lalu akhirnya kembali menatap Eunjae dalam.
Mungkin inilah saatnya ia harus menceritakan kepada orang lain tentang apa yang pernah terjadi padanya. Sesuatu yang merupakan mimpi buruk baginya. Yang berkali-kali berusaha ia lupakan namun justru selalu menghantuinya setiap saat. Sesuatu atau mungkin..seseorang yang menjadi penyebab ia menjadi seperti sekarang ini.
“Ayahku meninggal dalam kecelakaan pesawat sewaktu umurku 13 tahun. Kepergian Appa merupakan sebuah pukulan keras bagiku dan Eomma. Itu karna kami berdua begitu menyayanginya dan untuk menghadapi kenyataan bahwa kami telah kehilangan dirinya bukanlah hal yang mudah. Setahun setelah kepergian Appa, Eomma tiba-tiba saja mengatakan bahwa ia menemukan seorang pria yang sangat baik. Dan berniat menikah dengannya. Jujur saja, awalnya aku tidak menyetujuinya..tapi melihat Eomma yang terus-terusan membujukku. Itu menunjukkan bahwa dia benar-benar menyayangi orang itu. Hal itu berhasil meluluhkanku hingga akhirnya menyetujui hubungan mereka.” Juniel menghela nafasnya yang terasa berat.
“Kim Dongsu. Dia akhirnya resmi menjadi Ayah tiriku. Awalnya semua baik-baik saja, ia sangat baik dan selalu memperhatikanku dan juga eomma. Namun semua mulai berubah disaat eomma mulai sibuk mengurus perusahaan. Sejak saat itu, ia sangat jarang berada dirumah. Dongsu Ahjussi yang terpaksa berhenti dari pekerjaannya karna tempat ia bekerja mendadak bangkrut juga mulai jarang berada dirumah. Sampai pada suatu hari, ia pulang ke rumah. Saat itu Yara ahjumma meminta izin pulang ke kampung halamannya untuk beberapa hari jadi aku sendirian di rumah. Malam itu aku sedang tertidur, sampai aku mendengar seseorang membuka pintu kamarku. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat siapa yang berada disana. Dia adalah Dongsu ahjussi. Dan dia dalam keadaan mabuk. Sambil memegang botol minuman ditangannya, ia berjalan kearahku. Kemudian mendadak mendorong tubuhku hingga jatuh diatas tempat tidur. Aku yang terkejut berusaha pergi dari sana namun tangannya dengan cepat menahanku. Dia bahkan..menyobek pakaianku dengan paksa. Saat itu aku berteriak dan seketika ia menamparku. Mendadak mataku terarah pada botol minuman yang diletakkannya disampingku, seketika itu pula kuambil botol tersebut lalu memukulkan ke kepalanya. Setelah itu dengan cepat berlari meninggalkan tempat itu.”
“Lalu..bagaimana denganmu?” Tanya Eunjae seraya menatap Juniel dalam.
“Malam itu aku terus berjalan tanpa tau arah. Tubuhku gemetar karna udara yang dingin bercampur dengan ketakutan yang menyelimuti pikiranku. Akhirnya aku memutuskan pergi ke rumah Yaraahjumma.” Juniel berhenti sejenak. Gadis itu lalu menatap kearah Eunjae.
“Saat mengetahui semua itu, eomma dan appa tiriku pun bercerai. Dan sejak saat itulah aku menyadari sesuatu. Aku…takut jika disentuh oleh orang lain selain eomma-ku dan Yara ahjumma. Kedengarannya memang seolah tak masuk akal, tapi inilah kenyataannya. Kejadian itu telah merenggut kebahagiaanku. Kehidupan yang seharusnya dapat kubagi bersama orang lain, kini hanya dapat kunikmati sendirian. Semua ini benar-benar…” Juniel tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Airmata gadis itu sudah lebih dulu jatuh menetes membasahi pipinya.
Eunjae yang melihat itu langsung memeluk Juniel. Tangis gadis itu pun akhirnya pecah dalam dekapan Eunjae. Dadanya terasa begitu sesak mengingat semua ini.
“Sebenarnya apa kesalahanku? Kenapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi padaku, Eunjae~si?Waeyo?!” Ucap Juniel sambil terisak. Eunjae sendiri tidak menjawab. Airmatanya juga kini ikut menetes. Ia sama sekali tidak pernah menyangka kalau yang menjadi penyebab ketakutan Juniel selama ini adalah hal seperti ini. Pasti menyakitkan setiap kali harus mengingat kejadian itu. Dan itu harus dilalui oleh Juniel selama 5 tahun ini.
“Mianhaeyo…eonni” Ucap Eunjae kemudian mempererat pelukannya.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar. Orang itu tidak lain adalah Minhwan. Pemuda itu sudah mendengar semuanya.
♥:♥:♥
Juniel sedang berada di dalam kelas. Saat ini ia sedang bersama dengan Eunjae menemani anak-anak di play group untuk bermain. Untuk beberapa hari ke depan ia akan tinggal sementara dirumah Minhwan. Ia bahkan sudah memberitahukan hal ini pada Saeyu yang merupakan pengawal pribadinya.
Meski tau dirinya saat ini hanya dapat menyentuh perempuan saja, itu tidak membuatnya ragu untuk ikut dengan Eunjae ke sekolah. Ia merasa senang jika dapat bermain bersama anak-anak kecil di tempat ini. Anak-anak itu sekarang tengah duduk tenang dengan posisi menyerupai lingkaran dan Juniel berada ditengah-tengah mereka. Dengan gitar yang dipegangnya saat ini, Juniel pun memainkannya kemudian mulai bernyanyi.
Cheot sarangeun areumdawoseo, sarangeun kkochiramnida[Cinta pertama itu indah, cinta pertama seperti bunga]Bomi omyeon hwaljjak pineun..oh~nuni bushin kkot cheoreom[Saat musim semi dating..pesona matamu seperti bunga]Cheot sarangeun eorin~ae cheoreom, sarangeun seotureumnida[Cinta pertama itu seperti seorang anak kecil, cinta pertama terasa kikuk]Sarangeul akkim-eopshi jugo gatjil mothanikka[Kau memenuhiku dengan cinta..aku tidak dapat menerimanya]Illa illa illa...illa illa illa...illa illa illa...~Nae sarang goodbye..[Selamat tinggal, cintaku...]*Illa illa-Juniel
Suara tepuk tangan dari anak-anak dan beberapa orang dalam kelas mengakhiri nyanyian Juniel. Gadis itu sendiri tersenyum sambil menunduk pelan.
“Eonni..suaramu indah sekali.” Puji salah seorang anak perempuan.
“Benarkah?! Gomawoyo, adik kecil! Kau juga sangat cantik..” Sahut Juniel tersenyum senang seraya mengusap kepala anak itu pelan.
Disisi lain Minhwan yang menyaksikan itu dari pojok kelas sempat terpaku. Padahal ia sudah pernah mendengar gadis itu bernyanyi sebelumnya, tapi kenapa rasanya kali ini berbeda. Ia benar-benar terpesona saat melihat gadis itu bernyanyi sambil memainkan gitar barusan.
“Oppa!! Minhwan oppaaaa!!” Pekikan Eunjae seketika menyadarkan lamunannya
“Aiish~kau ini kenapa berteriak seperti itu?! Telingaku sakit, tau!!” Gerutunya seraya mengusap telinganya yang sedikit berdengung
“Mwo? Justru aku yang harusnya bertanya! Ada apa denganmu?! Padahal aku sudah memanggilmu berkali-kali sejak tadi, tapi kau sama sekali tidak mendengarku!” Balas Eunjae kesal
Minhwan menatapnya terkejut. “Oh?! Benarkah?!”
Eunjae memandang kakaknya itu cukup lama, kemudian mendapati Minhwan yang memandang kearah Juniel sekilas. Seolah menyadari sesuatu, ia pun membelalakkan matanya. “Oh?!! Mungkinkah sejak tadi kau tidak mendengarku karna kau terus memperhatikan Juniel eonni?! Jangan-jangan kau..” Pekiknya cukup keras hingga membuat beberapa orang kini memandang kearah mereka, termasuk Juniel. Minhwan yang melihat itu seketika menjadi salah tingkah.
“Ya~yaa!! Jangan sembarangan!! Aku tidak memperhatikan dia.” Kata Minhwan terbata. “Owh~ya!! Kenapa ruangan ini panas sekali?! Apa tidak ada kenapa pendingin ruangannya tidak dinyalakan?!” Tanya Minhwan seraya mengibaskan kerah bajunya.
“Miceosso?! Ini kan musim dingin?! Bagaimana mungkin kita menyalakannya? Oppa ingin membuat orang-orang didalam sini mati karna kedinginan? Lagipula..sepertinya hanya kau yang merasa gerah saat ini.” Minhwan membelalakkan matanya. Menyesali dirinya yang sudah bertindak bodoh. Ia benar-benar lupa kalau saat ini memang tengah musim dingin. Kini Eunjae pasti akan semakin mencurigainya.
“Oppa, kau sudah ketahuan. Tapi masih juga berusaha berbohong! Akui saja kalau kau…”
“Ah! Aku ada urusan. Aku harus pergi sekarang! Annyeong!” Seru Minhwan cepat membuat Eunjae tidak sempat melanjutkan kalimatnya. Ia pun kemudian segera berjalan meninggalkan tempat itu. Eunjae sendiri hanya tersenyum melihat tingkah Minhwan barusan. Ia paling tau, setiap kali kakaknya itu kedapatan berbohong..ia pasti akan terlihat gugup kemudian berusaha pergi secepatnya dari tempat itu.
Mungkinkah dugaannya benar?
#To Be Cont.


0 comments:
Posting Komentar