Don't Touch Me !- Chapter 3


Minhwan sama sekali tidak menyangka kalau sekarang ia sedang berada di tempat seperti ini. Tempat yang tidak lain adalah klub seni. Jujur saja, tempat ini lebih terlihat seperti sebuah studio hanya saja ukurannya lebih luas. Namun satu hal yang tidak dimengertinya, bagaimana seseorang seperti Juniel bisa bergabung di tempat ini?
Annyeong haseyo” Sapa Juniel pada salah seorang gadis yang berjalan kearah mereka
Gadis itu tersenyum sambil mengangguk. “Oh?! Kau sudah datang rupanya. Dan ini…” Tanyanya saat melihat kearah Minhwan
“Namanya Minhwan. Dia..adalah orang yang menggantikan Saeyu eonni, untuk hari ini.” Jawaban Juniel nampaknya sedikit mengejutkan gadis itu. “Minhwan~si kenalkan, ini Nari eonni! Dia adalah salah satu ketua klub ini.” Ujarnya. Minhwan dan Nari pun saling mengenalkan diri dan tersenyum satu sama lain.
“Kalau begitu, kau bersiap-siaplah..sebentar lagi kita akan memulai latihannya.” Kata Nari pada Juniel yang mengangguk mengerti. Sambil menunggu ia dan Minhwan duduk disalah satu pojok ruangan saat ini.
Minhwan memandang Juniel cukup lama. “Kau..kenapa bisa…”
“Bergabung dalam klub seperti ini, kan?” Sela Juniel seolah tau apa yang dipikirkan Minhwan. “Dulu..karna phobia ini, aku tidak mempunyai teman seorang pun. Yang aku lakukan hanyalah mengerjakan semuanya sendirian. Termasuk hobby-ku. Suatu hari, Nari eonni menemukanku sedang bernyanyi sendirian di taman kampus. Dan ia menyarankanku untuk bergabung disini. Jujur saja, awalnya aku menolak. Bahkan menceritakan penyakitku padanya. Tapi bukannya menyerah, ia malah semakin bersemangat mengajakku. Hari itu sama sepertimu, ia mengatakan bahwa aku harus terbuka dan mengenal orang lain. Karna kita membutuhkan orang lain dalam menjalani hidup ini, kita tidak dapat melakukan segalanya sendirian selamanya.” Tuturnya panjang lebar
“Perkataan itu mungkin terdengar santai. Tapi bagiku, itu adalah sesuatu yang berhasil membuatku termotivasi. Aku ingin mencoba mengenal orang lain..aku ingin merasakan keceriaan bersama dengan yang lainnya. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk bergabung dalam klub ini. Semua orang disini sudah tau keadaanku, jadi sebenarnya tidak ada masalah bagiku.” Tambahnya.
Minhwan memandangi Juniel yang memandang ke depan. Pemuda itu sadar sebenarnya Juniel tidak diam saja mengetahui penyakitnya yang seperti ini. Gadis itu tetap berusaha menghadapinya, walau belum sepenuhnya yakin dengan apa yang dilakukannya.
“Juniel~ah..sepertinya hari ini kita tidak bisa latihan untuk band dulu.” Kata Nari yang tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua
“Memangnya kenapa, eonni?” Tanya Juniel khawatir
“Minhyuk tidak bisa datang hari ini karna harus mengurus hal penting, jadi kita tidak punya pemain drum nya.” Jelas Nari. “Bagaimana ini? Oh~aku benar-benar minta maaf, Juniel~ah..padahal sudah lama kau tidak kesini. Tapi disaat kau datang malah tidak bisa latihan. Kau pasti kecewa.” Ucapnya merasa bersalah
Juniel sendiri hanya tersenyum melihatnya. “Aniya~eonni..jangan begitu. Aku baik-baik saja. Mungkin..lain kali aku bisa kesini lagi.” Ucapnya tenang. Namun Minhwan bisa melihat dengan jelas raut wajah sedih yang terpancar dari gadis itu. Ia sama sekali tidak pandai menyembunyikannya.
“Nari~si..” Ucap Minhwan tiba-tiba membuat Nari berbalik kearahnya.
“Bolehkah aku yang melakukannya?”
♥:♥:♥

Semua orang kini memandang kearah panggung yang tidak begitu tinggi yang terletak dihadapan mereka. Nampak Juniel yang sudah bersiap ditempatnya bersama dengan teman-teman yang memang selalu menemaninya latihan. Namun kali ini ada yang berbeda, Minhwan akhirnya benar-benar mengisi posisi Drummer yang sebelumnya kosong.
“Juniel~ah..apa kau yakin dia bisa memainkannya? Maksudku, ini kan pertama kalinya ia latihan bersama kita.” Tanya Jaejin yang tidak lain adalah Bassist mereka. Juniel sendiri tidak menjawab, jujur saja ia juga ragu akan hal itu.
Namun baru saja mereka berdua selesai berbicara, suara dentuman drum tiba-tiba terdengar. Saat itulah hampir semua orang disana seolah menatap tak percaya kearah Minhwan. Pemuda itu ternyata benar-benar tau memainkannya. Juniel yang bertindak sebagai vocal kini juga mulai bernyanyi, begitupun dengan yang lainnya. Dan akhirnya, suara dari berbagai instrument kini menyatu dengan baik. Suara Juniel yang lembut rupanya berhasil mengimbangi suara musik agar tidak terdengar begitu bising bagi orang lain.
Akhirnya, latihan pun berakhir dengan baik. Beberapa orang bertepuk tangan untuk penampilan mereka barusan, membuat Juniel dan lainnya tersenyum lalu menunduk pelan.
“Wah~ternyata dia sungguh bisa melakukannya. Benar-benar hebat.” Puji Lena lalu meninggalkan Juniel yang kini memandang kearah Minhwan yang sedang berbincang dengan beberapa orang. Sesaat pandangan keduanya bertemu hingga akhirnya Minhwan mengedipkan sebelah matanya membuat Juniel terpaku sesaat lalu akhirnya tersenyum kearahnya, begitupun sebaliknya.
Dia memang hebat.
♥:♥:♥

“Minhwan~si..bukannya kita mau pulang? Tapi kenapa kau malah jalan kearah sini?” Tanya Juniel heran saat Minhwan melewati jalan yang jelas-jelas bukan menuju ke rumah.
“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Jawab Minhwan santai
“Eh?! Memangnya mau kemana?”
“Nanti kau akan tau sendiri. Oh iya, omong-omong..posisiku saat ini benar-benar seperti seorang supir, tau tidak?” Ucap Minhwan tiba-tiba.Wajar saja pemuda itu berkata seperti barusan. Bagaimana tidak? Saat ini dialah yang menyetir mobil sedangkan Juniel duduk di jok belakang. Jika orang lain melihat ini mereka pasti akan menyangka Minhwan adalah seorang supir pribadi.
Juniel memandangnya sesaat lalu menunduk. Gadis itu benar-benar merasa tidak enak. “Oh?!Mianhaeyo~aku…”
“Dasar bodoh. Aku kan hanya bercanda! Mana mungkin aku marah hanya karna hal ini. Aku tau kau tidak berani duduk disampingku, karna masih takut kan? Gwencanayo..” Seru Minhwan cepat. Juniel sendiri tidak berkomentar.
Cukup lama perjalanan yang harus mereka tempuh sampai akhirnya mereka pun tiba di tempat tujuannya. Tempat yang tidak lain ternyata adalah..
Play group?!” Kata Juniel tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya saat ini. Entah apa yang dipikirkan Minhwan sampai membawanya ke tempat ini. “Minhwan~si..memangnya untuk apa kita tempat seperti ini?”
“Nanti akan kuberitahu..sekarang ayo masuk!” Sahut Minhwan lalu berjalan lebih dulu diikuti Juniel dibelakangnya.
Juniel memandang ke sekelilingnya, Nampak beberapa anak-anak balita yang sedang berlari kesana kemari. Bahkan ada juga beberapa yang masih lebih muda, mereka dijaga oleh beberapa wanita dalam sebuah ruangan.
Karna begitu serius memandang kearah ruangan Juniel, tanpa ia sadari kini 2 orang anak laki-laki yang sedang berkejaran sedang menuju kearahnya. Namun belum sempat anak-anak tersebut sampai, seseorang tiba-tiba saja menarik ujung bajunya hingga berpindah ke samping ruangan membuatnya sedikit terkejut.
“Apa yang…?” Ucapan Juniel terhenti saat melihat 2 anak tadi lewat didepan mereka.
“Bodoh. Perhatikan sekelilingmu saat berjalan.” Kata Minhwan singkat lalu berjalan masuk kedalam sebuah ruangan. Juniel menatapnya sebentar, kemudian ikut masuk kedalam. Cukup banyak juga anak-anak kecil didalam sana.
Annyeong haseyo..” Sapa Minhwan seraya membungkuk pelan bersamaan dengan Juniel, membuat yang lain tersenyum kearah mereka.
“Oh?! Minhwan oppa!?” Tanya seorang gadis yang baru saja masuk kedalam ruangan.
“Eunjae~ya!! Bogoshippeo” Sahut Minhwan tersenyum lalu mengacak rambut gadis bernama Eunjae itu, membuat Juniel menatapnya terkejut. Jadi mereka berdua saling kenal? Juniel memandang mereka cukup lama. Keduanya Nampak begitu dekat satu sama lain. Ini pertama kalinya ia Minhwan kelihatan begitu senang seperti saat ini. Dan jujur saja, entah kenapa ia merasa ada yang aneh terjadi padanya saat melihat kedekatan mereka berdua. Siapa gadis ini sebenarnya?
Oppaneo jinjja…kenapa kau masih suka melakukan hal seperti itu padaku!” Gerutu Eunjae sambil berusaha merapikan lagi rambutnya. Minhwan sendiri hanya tertawa kecil melihatnya. Ia memang sangat suka mengerjai gadis itu. Ini adalah salah satu hal yang membuatnya bahagia. “Oh iya?! Apa yang kau lakukan disini?”
Minhwan berhenti tertawa. “Ah~aku sampai lupa. Namanya Juniel dan dia ini adalah…”
“Oh? Juniel yang kau ceritakan itu yah?!” Seru Eunjae bersemangat membuat Minhwan mengangguk. “Senang sekali bisa bertemu denganmu, Juniel~si..” Ucapnya lagi seraya berniat menyalami tangan Juniel dan dengan sigap ditahan oleh Minhwan.
Ya! Apa kau sudah gila?!” Seru Minhwan sedikit terkejut
Eunjae menatapnya heran sesaat, lalu seolah menyadari sesuatu ia pun memukul pelan kepalanya. “Aaah!! Aku sampai lupa!! Maafkan aku ya, Juniel~si..” Sesalnya.
Gwencanayo..aku juga minta maaf karna tidak bisa membalas uluran tanganmu.” Ujar Juniel tersenyum.
“Oh?! Suaramu lembut sekali. Kau tau? Minhwan oppa sangat menyukai gadis yang bersuara lembut. Sama sepertiku..benar kan?!” Tanyanya seraya bertindak sedikit manja pada Minhwan yang hanya tertawa kecil mendengarnya.
Yaa~berhenti tersenyum terus-terusan seperti itu. Kau tidak lihat apa sekarang orang-orang dalam ruangan ini menatap kearahmu?! Mereka pasti berpikir kau ini sudah gila!” Eunjae membalikkan tubuhnya dan seketika terkejut. Benar saja, beberapa pasang mata kini memandang kearah mereka.
“Sekarang bantu aku. Seperti yang sebelumnya kukatakan padamu. Bisa kan?” Tanyanya pada Eunjae. Gadis itu menatapnya sesaat lalu akhirnya mengangguk pelan sambil tersenyum.
“Serahkan padaku.”
“Aku akan pergi sebentar..kau tunggu aku disini. Eunjae akan memberitahumu apa saja yang harus kau lakukan.” Ujarnya pada Juniel namun melihat raut wajah gadis itu berubah ia pun tersenyum. “Tenang saja, aku bisa menjamin..kau akan baik-baik saja. Dia akan menjagamu lebih dari dirinya sendiri. Aku pergi.” Pamitnya lalu berjalan meninggalkan ruangan.
“Tidak usah takut. Aku sudah berjanji pada Minhwan oppa kalau aku akan menjagamu selama dia tidak ada.” Tutur Eunjae membuat Juniel tersenyum kecil. Mendengar perkataan orang itu seolah membuatnya merasa lebih tenang sekaligus aman. Dia percaya pada mereka berdua.
♥:♥:♥

Meski tidak tau apa sebenarnya tujuan Minhwan membawanya ke tempat ini, Juniel tetap menuruti perkataan Eunjae yang menyuruhnya untuk mengikutinya melihat-lihat anak-anak bermain dalam ruangan. Eunjae ternyata adalah salah satu guru di tempat ini. Meski masih tergolong muda, gadis itu sudah bisa mendapatkan predikat seorang guru di tempat ini. Bukan hanya karna kepandaiannya mengajar anak-anak, tapi ia juga dikenal sebagai orang yang ramah dan mampu menyemangati anak-anak maupun orang-orang disini.
“Juniel~si..boleh tidak aku memintamu melakukan suatu hal?” Tanya Eunjae seraya memberikan sebuah minuman kaleng padanya.
“Apa itu?”
“Bisakah..kau mencoba bersalaman dengan salah satu anak disini?” Ucapan Eunjae barusan membuat Juniel terkejut. Baru mendengarnya saja, ia sudah mulai merasa ada hal aneh yang terjadi pada tubuhnya. “Juniel~si, dengarkan aku! Kau harus bisa melawan ketakutan itu. Percaya padaku, hal yang paling utama harus kau lakukan adalah melawan gelisah yang kau rasakan saat ini.” Juniel tidak menjawab, detak jantungnya mulai tak beraturan. “Bukankah kau ingin sembuh? Ketakutan itu tidak akan hilang jika kau tidak memiliki keyakinan untuk itu. Aku yakin kau pasti juga ingin menjalani kehidupan seperti orang lain tanpa ketakutan seperti ini lagi, kan? Aku percaya kau bisa melakukannya Juniel~si..”
Juniel memandang kearah lain. Apa yang dikatakan Eunjae memang benar, semua ini tidak akan pernah berakhir jika bukan ia yang mengakhirinya. Ia harus berusaha mengakhiri rasa takut dalam dirinya saat ini. Ia tidak ingin seperti ini terus. Ia ingin seperti orang lain yang bebas melakukan apapun tanpa rasa takut yang membayangi mereka.
“Aku..akan melakukannya.” Seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, Eunjae menatap lama Juniel. “Aku mau bersalaman dengan anak itu, Eunjae~si..”
Eunjae terlihat begitu senang mendengarnya, dan ia pun akhirnya memanggil salah seorang anak perempuan yang sedang bermain agar menghampiri mereka.
“Yerim~ah, Juniel eonni ini ingin berkenalan denganmu..jadi perkenalkan dirimu padanya yah!” Tutur Eunjae pada anak itu membuatnya mengangguk.
Annyeong haseyo, namaku Ahn Yerim imnida~ senang berkenalan denganmu eonni..” Ujar Yerim sembari mengulurkan tangannya.
Juniel memandang uluran tangan itu cukup lama. Ia pun menarik nafas dalam-dalam dan akhirnya memberanikan diri menjawab uluran tersebut. Namun tepat saat tangannya menyentuh tangan anak itu, seketika perutnya terasa mual dan tubuhnya pun terasa dingin hingga akhirnya melepaskan tangannya dan berlari keluar kelas. Meninggalkan Eunjae yang hanya dapat memandangnya dari kejauhan.
♥:♥:♥

Eunjae berjalan pelan menghampiri seseorang yang sedang duduk bersandar di pinggiran atap gedung. Gadis itu terlihat sedang menangis diatas sana sendirian.
“Aku menyedihkan, bukan?!” Ucap Juniel saat Eunjae berdiri dihadapannya. “Bahkan disaat aku sudah yakin pada diriku sendiri, itu tetap saja tidak berhasil. Memalukan. Aku tidak mau lagi melakukannya. Aku sama sekali tidak berguna..”
“Kenapa kau selalu saja mengutuk dirimu sendiri!” Seru Eunjae tiba-tiba membuat Juniel mengangkat kepalanya lalu menatap gadis itu. “Apa kau tidak percaya pada dirimu sendiri?! Kau hanya gagal sekali dan kau sudah ingin menyerah?! Apa ini yang kau sebut dengan kepercayaan diri, hah?!”
Juniel tidak menjawab. “Apa kau tau berapa kali aku harus merasakan kegagalan sebelum aku mendapatkan pekerjaan di tempat ini?! Aku..baru bisa diterima menjadi seorang pengajar setelah setahun menganggur mencari sekolah yang mau menerimaku.” Ujar Eunjae. “Bagi beberapa orang menganggur setahun adalah hal kecil. Mungkin benar bagi orang kaya seperti kalian, setelah lulus namun belum mendapatkan pekerjaan itu bukanlah masalah besar. Tapi bagi kami, yang terpaksa berhenti sekolah dan hanya dapat mengandalkan diri sendiri untuk hidup kami bahkan untuk orang tua kami. Satu tahun bukanlah waktu yang cepat. Setiap hari kami terus berpikir apa yang harus kami gunakan untuk mendapatkan sesuatu yang dapat mengisi perut kami. Apa pernah kau membayangkan hal seperti itu?”
Juniel menatap nanar kearah Eunjae yang terlihat menundukkan wajahnya. Ia tau kalau gadis itu pasti juga sedang menangis. Ia sama sekali tidak menyangka kalau perjalanan hidup gadis itu ternyata seberat ini. Bahkan mungkin jauh lebih berat dari apa yang dialaminya.
Mianhae..aku sama sekali tidak berniat menghakimimu seperti ini. Aku..hanya ingin kau tau, hidup ini terus berjalan Juniel~si. Dan kita harus menghadapi apa yang nantinya akan terjadi di kemudian hari dengan berani. Jangan putus asa, dan percayalah pada dirimu sendiri.” Tepat setelah mengatakan itu, Eunjae pun berjalan pergi meninggalkan Juniel yang memandangnya dari kejauhan.
♥:♥:♥

Juniel akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas. Ruangan nampak sudah sepi, walau memang masih ada sekitar 3 orang anak yang bermain disana.
“Permisi..” Kata seorang wanita yang mendadak menghampirinya. “Bisakah aku meminta tolong untuk mengawasi anak-anak ini sebentar saja? Aku harus ke kamar mandi. Aku janji akan kembali secepatnya. Terima kasih sebelumnya..” Kata wanita itu lagi seraya berlari keluar kelas sambil memegangi perutnya, tanpa memberi kesempatan bagi Juniel untuk bicara sedikitpun.
Juniel hanya dapat mematung di tempatnya, alih-alih memandangi anak-anak yang sibuk dengan permainan mereka sendiri. Ia pun menghela nafas pelan lalu duduk disalah satu kursi. Mengawasi saja bukan masalah besar kan?
Gadis itu memandangi kedua anak laki-laki yang sedang bermain bersama dengan mobil-mobilan mereka. Keduanya terlihat begitu senang, wajah-wajah mereka saat tertawa sungguh lucu dan menggemaskan. Sejujurnya, ia sangat ingin menghampiri mereka dan bermain bersama anak-anak balita itu. Namun keraguan lagi-lagi seolah menahannya.
Mata Juniel seketika membelalak saat memandang ke pojokan ruangan. Seorang anak perempuan berusaha mengambil bola yang terletak diatas meja dan dengan cara menaiki kursi plastik didepannya. Namun karna posisinya yang berdiri diujung kursi membuat kursi tersebut bergerak tidak seimbang dan akhirnya terjatuh.
Tepat saat itu pula pintu terbuka dan Eunjae muncul dari sana. Apa yang disaksikan Eunjae saat ini benar-benar diluar dugaannya. Ia bahkan mematung di tempatnya tanpa mampu berkata apa-apa.
Rupanya, tadi saat anak perempuan itu hampir jatuh Juniel yang sudah lebih dulu berlari menghampirinya dengan sigap berhasil menangkap tubuhnya. Tubuhnya seolah terdorong dengan sendirinya saat melihat anak itu hampir terjatuh dari kursi
“Ya Tuhan! Untung saja..aku benar-benar berterima kasih padamu, Nona!!” Kata seorang wanita yang tidak lain adalah ibu dari anak tersebut menghampiri Juniel lalu membungkuk beberapa kali setelah itu berjalan keluar dari ruangan. Kini baik Juniel maupun Eunjae sama-sama terpaku di tempatnya. Keduanya sama-sama belum dapat mempercayai apa yang terjadi barusan.
Selangkah demi selangkah Eunjae pun berjalan menghampiri Juniel, dia berdiri dihadapan Juniel yang terlihat masih memandang kosong ke depan.
“Eunjae~si..aku..aku..tidak merasakan apa-apa.” Ucapnya susah payah
“Kau melakukannya. Kau benar-benar berhasil melakukannya Juniel~si..KAU BERHASIL!!!” Seru Eunjae senang dan tanpa sadar langsung memeluk tubuh Juniel. Ia yang seolah menyadari apa yang dilakukannya langsung berniat melepaskan pelukannya namun segera ditahan oleh Juniel.
“Tunggu!!” Kata Juniel cepat. Gadis itupun mencoba membalas pelukan Eunjae dan seketika membelalakkan matanya. “Eunjae~si, aku benar-benar tidak merasakan apa-apa. Aku bisa memelukmu!! Aku baik-baik saja!” Serunya antusias begitupula dengan Eunjae.
“Kau sembuh, Juniel~si!! Kau berhasil melakukannya!!” Kata Eunjae lagi.
Keduanya pun berpelukan sambil tertawa satu sama lain.
Aku berhasil?


#To Be Cont.

0 comments:

Posting Komentar