Don't Touch Me !- Chapter 2



Minhwan masih memandangi Juniel yang terbaring di tempat tidur. Sejak tadi gadis itu belum juga sadarkan diri dan jujur saja Minhwan sedikit khawatir dengan hal ini.
Beberapa saat kemudian, Juniel pun mulai bergerak. Matanya perlahan terbuka dan mendapati Minhwan yang duduk disamping tempat tidur sambil memandanginya. Ia menatap wajah namja itu sebentar, kemudian membalikkan tubuhnya.
“Memalukan, bukan?!” Ucapnya pelan sambil membelakangi Minhwan. Pemuda itu sendiri tidak mengatakan apa-apa. “Padahal dia cuma seorang anak kecil, tapi mampu membuatku ambruk seperti tadi.”
“Juniel~si..” Ucap Minhwan pelan
“Aku bukannya tidak ingin mengenal orang lain. Dan bukannya tidak ingin mengetahui apa yang terjadi diluar sana. Disaat orang lain merayakan kelulusan mereka bersama teman-teman dan kerabat mereka, aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Disaat orang-orang berjalan-jalan mengitari kota Seoul di pagi hari, aku hanya dapat menikmati sejuknya udara pagi di halaman rumah ini. Dan semua itu hanya dapat kulakukan sendirian. Karna penyakit ini. Haphepobia.” Tutur Juniel lemah namun dapat terdengar sedikit kekesalan dalam ucapannya.
*Haphephobia= Istilah pada orang yang memiliki ketakutan (phobia)  saat disentuh
Minhwan belum mengatakan apa-apa, ia hanya menatap punggung Juniel yang masih membelakanginya. Ia bisa melihat dengan jelas, tubuh Juniel sedikit gemetar menandakan bahwa gadis itu sedang menangis saat ini. Hanya saja ia tidak ingin menunjukkannya. Menyadari itu, Minhwan pun bangkit dari tempatnya dan berjalan keluar kamar setelah mengatakan sesuatu.
Mianhae..
♥:♥:♥

Juniel akhirnya tiba di ruang makan saat Yara Ahjumma baru saja selesai menyiapkan makan malam. Sesaat ia memandangi sekeliling rumah yang tampak sepi.
Ahjumma..Minhwan~si, dia...kemana?” Tanyanya saat tidak menemukan sosok pemuda itu.
“Oh..tadi siang dia bilang harus pergi ke suatu tempat, tapi sepertinya sampai sekarang belum juga kembali.” Jelas Yara Ahjumma membuat Juniel mengangguk pelan. Gadis itu pun akhirnya duduk disalah satu kursi.
Tepat saat itu pula seseorang muncul dari ruang tengah. Orang yang sebelumnya diceritakan kini akhirnya pulang kerumah. Juniel memandanginya selama beberapa detik, dan entah kenapa ada yang aneh dengan Minhwan. Wajah pemuda itu kelihatannya begitu lelah, seperti baru saja melakukan sesuatu yang berat.
Minhwan baru saja berniat menaiki tangga menuju kamarnya sampai Juniel memanggilnya.
“Minhwan~si!!” Seru gadis itu membuat langkah Minhwan terhenti lalu berbalik kearahnya. “Kau pasti belum makan, kan?!” Tanya Juniel membuat Minhwan memandangnya sebentar lalu mengangguk pelan. Juniel tersenyum kecil melihatnya. “Kalau begitu, setelah berganti pakaian..temani aku makan bisa kan?!” Lagi-lagi Minhwan memandangi gadis itu tidak percaya, padahal tadinya ia berpikir kalau Juniel mungkin sedang tidak ingin bicara dengannya untuk sementara waktu. Tapi ternyata dugaannya salah. Ia pun akhirnya ikut tersenyum seraya mengangguk kemudian kembali berjalan menaiki tangga.
Tidak butuh waktu lama bagi Minhwan untuk berganti pakaian. Kini ia sudah duduk bersama dengan Juniel di depan meja makan. Tentu saja dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain. Namun sejak makan tadi Juniel sama sekali belum mengatakan apa-apa pada Minhwan. Jujur saja, ini membuatnya sedikit risih. Baru kali ini ia makan dengan suasana sunyi nan sepi seperti ini.
Yaa~” Ucap Minhwan pelan, membuat Juniel mengangkat wajahnya.
“Hm? Waeyo?” Tanya gadis itu santai
“Kau ini..masih marah padaku yah?!”
“Eh?! Marah?! Apa maksudmu?” Tanya Juniel bingung
“Iya, marah. Karna kejadian tadi pagi. Itu sebabnya sampai sekarang kau tidak ingin mengajakku bicara, benar kan?!”. Juniel menatap Minhwan tak percaya. Detik berikutnya ia tertawa kecil. Membuat Minhwan memandangnya heran. “Mwoya~memangnya apa yang lucu?” Tanyanya heran melihat tingkah gadis dihadapannya itu
Aniya. Kupikir ada masalah apa, rupanya hanya soal itu. Kejadian tadi pagi itu aku tidak pernah mempermasalahkannya, aku mengerti kok kalau hal itu memang sudah menjadi tugasmu. Karna itu adalah salah satu cara agar aku bisa melawan penyakitku ini. Kalau soal tidak mengajakmu bicara sejak tadi, mianhaeyo. Aku memang selalu seperti ini saat makan. Mungkin karna terlalu sering makan sendirian jadi aku kebiasaan tidak mengatakan apa-apa sampai selesai makan.” Tutur Juniel
Minhwan menatapnya sekilas lalu memadangi sekeliling rumah. “Apa memang selalu seperti ini?” Tanyanya saat menyadari sesuatu. Rumah itu begitu luas dan besar, setiap sisi rumah bahkan begitu terang oleh cahaya lampu. Tapi entah kenapa rumah ini justru terasa begitu kosong dan sunyi.
“Inilah rumahku. Besar dan luas. Jika seseorang melihatnya dari kejauhan mereka mungkin akan kagum dan berpikir betapa menyenangkannya jika bisa memiliki rumah seperti ini. Tapi bagiku, rumah ini hanyalah sebuah rumah tua yang ditinggali oleh seorang mayat hidup yang tidak lain adalah diriku.” Minhwan menatap Juniel nanar. Dia mengerti apa maksud perkataan gadis itu. “Bukannya tidak mensyukuri apa yang sudah kumiliki. Tapi jika saja Tuhan memberikan pilihan untukku, aku akan lebih memilih tinggal dalam sebuah rumah kecil yang penuh dengan orang-orang yang kita sayangi daripada memiliki rumah besar namun seolah tak berpenghuni.” Juniel menundukkan wajahnya malu. Ia tau, tidak seharusnya ia mengatakan hal seperti ini. Tapi ia sama sekali tidak dapat membendungnya lagi, ia benar-benar tidak tahan dengan semua hal yang terjadi padanya sampai saat ini.
Minhwan masih menatap Juniel cukup lama sampai akhirnya sesuatu terlintas di benaknya.
“Yaa~mau ikut denganku tidak?!”
♥:♥:♥

Juniel masih memandang sekelilingnya takjub. Minhwan rupanya membawanya mengunjungi air mancur yang terdapat di depan Blue House. Dimana terdapat beberapa lubang di lantai yang kemudian mengeluarkan air mancur yang disinari lampu berwarna-warni membuatnya terlihat seperti pelangi di malam hari. Dari tempat ini ia juga dapat melihat ramainya lampu yang berkelap-kelip dari tiap bangunan-bangunan kota Seoul. Pemandangan yang begitu indah yang sama sekali tidak pernah disangkanya. Pemandangan yang sudah begitu lama tak dilihatnya, cukup banyak juga yang berubah. Berubah menjadi lebih indah.
 “KYAAA~!!” Saat tengah menikmati pemandangan, seseorang tiba-tiba saja memercikkan air kearah Juniel membuat gadis itu terkejut dan berbalik hingga menemukan pelakunya. Orang yang tidak lain adalah Minhwan. “Yaa~apa yang kau lakukan?!!” Pekiknya
“Oh?! Masih sadar rupanya?! Padahal tadi kukira kau sudah kerasukan hantu di air mancur ini, makanya aku sengaja menyiram air kearahmu.” Jelas Minhwan
Mworago?! Apa kau sudah gila?!” Tanya Juniel berusaha menahan kesalnya
“Habisnya..wajahmu benar-benar terlihat seperti seseorang yang kehilangan kesadaran. Sejak tadi hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa.”
“Aku diam karna aku sedang menikmati pemandangan kota ini! Lagipula, apa kau pernah menemukan ada orang yang kerasukan di tempat ini hah?!” Seru Juniel kesal seraya menatap tajam kearah Minhwan. Pemuda itu sendiri tidak berkomentar apa-apa, detik berikutnya nampak ia sedang berusaha menahan tawanya. Saat itulah Juniel menyadari kalau sejak tadi Minhwan ternyata hanya sedang mengerjainya.
Melihat Juniel yang tiba-tiba saja tersenyum lebar membuat Minhwan mengerling heran sekaligus curiga.
YAA!! Apa yang kau lakukan?! Aiish jinjja~!! Bajuku jadi basah semua!!” Pekik Minhwan terkejut saat gadis itu tiba-tiba saja memercikkan air dari pinggiran kolam kearahnya.
“Oh?! Bajumu basah ya?! Jadi aku harus minta maaf padamu, begitu?! Yaa!! Kau pikir aku tidak,hah? Bajuku juga basah karna ulahmu tadi, tau?!! Sekarang, aku akan perlihatkan padamu seperti apa bermain-main itu Choi Minhwan~si!” Ancam Juniel sambil tersenyum licik seraya mencoba memercikkan air lagi kearah pemuda itu, membuat Minhwan terkejut hingga berjalan mundur. Tanpa menyadari juga ada sebuah kolam kecil disana dan akhirnya jatuh terduduk didalamnya. Kini tidak hanya baju, bahkan celana dan sepatunya pun ikut basah.
“Kau...” Ucapnya tiba-tiba membuat Juniel sedikit bergidik, seolah merasakan aura berbahaya terpancar dari tubuh Minhwan. Benar saja, pemuda itu kini membuka jaket coklat miliknya dan membuangnya ke sembarang tempat. Setelah itu berjalan menghampirinya. Namun belum sempat Minhwan mendekat, Juniel sudah lebih dulu kembali menyipratkan air kearahnya.
Neo jinjja!!! Yaa~rasakan ini!!” Seru Minhwan sambil ikut menyipratkan air kearah gadis itu, dan begitu seterusnya.
Keduanya pun terbawa suasana, namun bukan rasa kesal yang sebelumnya menjadi alasan mereka melakukan itu. Melainkan rasa senang dapat bermain bersama, Tawa dan canda menghiasi malam mereka saat ini. Walau mungkin hal tersebut terlihat kekanak-kanakan bagi orang lain, mereka sama sekali tidak peduli selama hal itu menyenangkan.
♥:♥:♥

Gomawoyo..Minhwan~si” Kata Juniel tiba-tiba. Ia dan Minhwan kini sedang beristirahat disamping kolam setelah hampir setengah jam bermain. Baik ia maupun pemuda itu kini sama-sama dalam keadaan basah kuyup.
“Terima kasih untuk apa? Karna sudah membuatmu basah kuyup?! Kalau begitu ayo, sekalian saja kau kuceburkan kedalam kolam.” Canda Minhwan membuat sudut bibir Juniel sedikit terangkat. Begitupun sebaliknya dengannya.
Gomawo..karna kau sudah mengajakku ke tempat ini. Menyaksikan pemandangan yang begitu indah, dan juga membuatku tertawa seperti tadi. Dua hal yang rasanya sudah cukup lama tak kulakukan.”
Minhwan menatapnya terkejut. “Maldo andwae~!! Yaa~kau ini benar-benar diluar dugaanku.” Ucapnya takjub. Ia sama sekali tidak menyangka kalau hal seperti ini juga merupakan sesuatu yang langka bagi gadis itu. “Yaa~apa kau tidak menyadari sesuatu?!” Tanyanya tiba-tiba, membuat Juniel berbalik menatapnya tak mengerti.
Minhwan tersenyum kecil melihatnya. “Saat ini jarakku duduk denganmu, tidak lagi begitu jauh.” Juniel memandang kebawah dan akhirnya cukup terkejut menyadari hal itu. Ia dan Minhwan kini tidak lagi berjarak sekitar 1 meter, walau kemajuannya tidak begitu besar. Namun sepertinya cukup berhasil, karna nyatanya ia tidak begitu ketakutan lagi melihat Minhwan yang mulai berada dekat dengannya. “Sebenarnya, ini adalah salah satu pengobatan untukmu.”
“Eh? Benarkah?!” Tanya Juniel tidak percaya
Minhwan memandang kedepan. “Benar. Tujuanku membawamu kesini adalah agar perlahan-lahan kau bisa terbuka dengan dunia luar dan orang lain. Keadaan seperti ini juga akan membuat ketegangan dan rasa gugup yang ada dalam dirimu sedikit berkurang. Dan juga…” Kata Minhwan lagi. “Agar kau bisa melupakan kesedihanmu.”
Keduanya saling menatap satu sama lain cukup lama. Sampai tiba-tiba saja air mancur kembali keluar dari lubang-lubang kecil di belakang mereka. Membuat lamunan keduanya buyar dan akhirnya tertawa kecil bersamaan.
“Ayo pulang..” Ajak Minhwan yang dijawab anggukan oleh Juniel. Minhwan yang melihat Juniel mengusap kedua pergelangannya seolah menyadari kalau gadis itu pasti kedinginan. Bagaimana tidak? Saat ini mereka berdua basah kuyup di malam hari. Alih-alih ia pun berjalan mendekati Juniel dan berniat memakaikan jaket miliknya pada tubuh gadis itu sampai akhirnya menyadari sesuatu yang salah.
Yaa!!” Serunya membuat Juniel berbalik menatapnya. “Ja..Jaket ini cukup tebal dan juga tidak begitu basah..bisa membuatmu tetap hangat.” Ucapnya sedikit terbata seraya memberikan jaket miliknya lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Juniel yang sesaat menatapnya heran, lalu akhirnya tersenyum.
Minhwan sendiri bingung dengan sikapnya barusan, kenapa tiba-tiba sikapnya jadi salah tingkah seperti itu? Padahal ia hanya menatap wajah gadis itu. Sama seperti yang biasa dilakukannya, hanya saja kali ini jaraknya lebih dekat.
Apa yang terjadi padaku?
♥:♥:♥

Juniel masih terlelap dalam tidurnya saat samar-samar mendengar sebuah suara yang kerap memanggilnya.
Ireona, Tuan putri..jangan tidur terus.” Ia kenal dengan suara ini. Alih-alih masih merasakan empuknya bantal Juniel berpikir kalau semua ini pasti hanyalah mimpi. Ia pun berniat melanjutkan tidurnya namun belum sempat melakukan itu, tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu menyentuh bahu kanannya.
Tunggu dulu? Kalau ini memang mimpi, ia seharusnya tidak merasakan apa-apa kan?
Palli ireona~!! Kau ini sebenarnya mau tidur sampai kapan hah?!” Juniel membuka matanya dan seketika mendapati Minhwan sedang berdiri disamping tempat tidurnya. Namja itu memegang bonekaDolphin miliknya, yang ternyata digunakan untuk membangunkannya barusan. “Yaa!! Kau ini..gadis macam apa?! Apa setiap pagi aku harus terus masuk ke kamarmu untuk membangunkanmu, hah?!” Seru Minhwan kesal
Neo mwoya~memangnya kau akan bersamaku selamanya, sampai berpikir harus membangunkanku setiap pagi..?!” Ucapan Juniel mungkin terdengar santai namun sukses membuat Minhwan mematung di tempatnya.
Mw..mwo?!” Ucap Minhwan terbata. “Ya~yaa!! Pokoknya cepat bangun! Hari ini kau jadwal kuliah pagi,kan?! Aku akan menunggumu di bawah!! Cepatlah..” Lanjutnya kemudian berjalan meninggalkan kamar Juniel sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Juniel memandang punggung Minhwan yang menghilang dari balik pintu.
“Bagaimana dia bisa tau hal itu?”
♥:♥:♥

Keduanya akhirnya tiba di Universitas Seoul.
“Oh?! Kenapa tempat ini rasanya sepi sekali?” Tanya Minhwan heran saat melihat tidak begitu banyak orang disekelilingnya.
“Tentu saja. Ini kan masih pagi, dari semua mahasiswa disini hanya sedikit yang memiliki jadwal di pagi hari.” Tutur Juniel membuat Minhwan mengangguk mengerti. “Minhwan~si..apa kau akan ikut denganku masuk kedalam kelas?”
Minhwan menatapnya sesaat lalu tertawa renyah. “Miceosso?! Tugasku hanya membuat ketakutan itu menghilang. Bukannya jadi pengawalmu, mengerti?!”
“Kalau begitu kenapa kau menyuruh Saeyu eonnie tidak bekerja?!!” Balas Juniel kesal. Saeyu adalah wanita yang selama ini mengawal Juniel kemanapun ia pergi. Juniel bahkan sudah menganggapnya seperti kakak perempuannya sendiri.
Tadi saat mereka ingin berangkat, Minhwan tiba-tiba saja mengatakan bahwa hari ini dia yang akan menjaga Juniel. Jadi wanita itu bisa bebas untuk seharian ini. Awalnya Saeyu masih ragu, namun setelah Minhwan mengatakan ia sudah mendapat izin dari Nyonya Choi ia pun akhirnya mengangguk mengerti.
“Itu karna Saeyu.” Ucap Minhwan membuat Juniel memandangnya heran.
“Saeyu eonnie..memangnya dia kenapa?” Tanya Juniel tidak mengerti
“Kemarin tanpa sengaja aku mendengarkan percakapannya di telepon. Sepertinya Ayahnya sedang sakit keras, tapi dia tidak bisa pergi. Bukan karna tidak peduli pada Ayahnya, tapi karna mengkhawatirkanmu. Dia takut kalau nantinya ia pergi tidak ada yang menjagamu.” Tutur Minhwan membuat Juniel terpaku di tempatnya sesaat.
Jadi itu sebabnya? Minhwan sengaja mengatakan seperti itu agar Saeyu bisa pergi menemui Ayahnya tanpa harus khawatir karna tau sudah ada pemuda itu yang menjaganya.
“Mianhae..” Sesal Juniel sambil menunduk pelan
Minhwan menatapnya sesaat lalu akhirnya tersenyum. Tangan Minhwan yang seolah tergerak dengan sendirinya ingin mengusap kepala Juniel membuat gadis itu menatapnya terkejut lalu menutup matanya. Merasa tidak ada yang terjadi, ia pun  membuka matanya. Rupanya Minhwan hanya memegang ujung rambutnya.
“Dasar bodoh, Kau tidak akan merasakan apa-apa jika hanya sebatas ini..” Ujar Minhwan. “Kalau memang kau merasa takut, aku akan menemanimu masuk kedalam kelas. Ayo!” Katanya lagi seraya melepaskan pegangannya kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Juniel yang mematung di tempatnya.
Juniel masih memandangi punggung Minhwan yang berjalan menjauh. Perlahan gadis itu meletakkan salah satu telapak tangannya di dada. Detik berikutnya ia tersenyum kecil lalu akhirnya berlari kecil mengikuti Minhwan dari belakang.
Sekilas Juniel teringat perkataan Minhwan barusan. 
Dasar bodoh, Kau tidak akan merasakan apa-apa jika hanya sebatas ini..”
Pernyataan itu...sepertinya tidak benar.


 #TO BE CONT.^^

0 comments:

Posting Komentar