I'm Not a Slave Part 2



“Oppa~kau terlambat lagi.” Kata gadis itu sebal.
“Mianhaeyo~tadi Oppa ada sedikit masalah..Eunsu~ya” Jawaban Sungmin yang begitu lembut sontak membuat Wana melongo. Daebak! Apa dia punya kepribadian ganda?!. Wana memperhatikan gadis dihadapannya itu, sebenarnya siapa dia? Sampai-sampai orang seperti Sungmin bisa tiba-tiba berubah drastis menjadi seperti ini.
Sesaat setelah memikirkannya, gadis bernama Eunsu itu kini tersenyum lalu memeluk Sungmin. Dan kini tanpa diberitahupun, Wana bisa menebak kalau dia pastilah yeojachingu nya. Pantas saja.
“Oppa~geu yeoja nugueyo?!” Tanya Eunsu yang akhirnya menyadari kehadiran Wana. Pertanyaan itu membuat Wana khawatir. Sebentar lagi ia pasti akan mendengar Sungmin mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang Slave alias budak. Kata yang sungguh dibencinya.
“Dia hanyalah...orang yang diperintahkan Abeoji untuk mengawasiku. Kau tau kan Abeoji orangnya seperti apa.” Wana menatap Sungmin tidak percaya. Dia..tidak mengatakannya?!
Cukup lama Wana harus mengikuti kedua orang itu dari belakang. Mulai dari berjalan-jalan hingga berbelanja kesana kemari. Jujur saja, hal ini benar-benar membuat Wana lelah apalagi ia yang diperintahkan oleh Sungmin untuk membawa semua barang belanjaan yang terbilang cukup banyak dan berat. Dan entah mengapa, sejak tadi Wana merasa perutnya begitu sakit. Tapi ia masih berusaha menahannya.
“Oppa..mianhae. Aku harus pulang sekarang.” Kata Eunsu tiba-tiba.
“Oh..baiklah! kalau begitu aku akan mengantarmu.” Sungmin berniat pergi sampai Eunsu malah menahannya.
“Aa~aah..tidak usah Oppa..”
“Waeyo?!” Tanya Sungmin heran.
“Aah~ituu..AH!! Bukankah ini sudah larut malam?! Oppa seharusnya pulang sekarang juga. Kalau tidak Ayahmu pasti akan marah besar. Dan kalau kau mengantarku kau bisa terlambat kan!” Awalnya Sungmin merasa ada yang aneh pada Eunsu. Tapi bagaimanapun yang dikatakannya semua benar, Sungmin sama sekali tidak berminat melihat Ayahnya marah.
Akhirnya Sungmin pun membiarkan Eunsu pulang sendiri dengan membawa beberapa barang yang sengaja dibelikan olehnya.
“Kkaja..kita pulang.” Perintah Sungmin pada Wana. Gadis itu pun mengangguk dan berjalan keluar lebih dulu. Namun tepat saat Wana berjalan tidak jauh dari hadapannya, Sungmin terkejut melihat sesuatu seperti noda berwarna merah kini memenuhi hampir setengah dari celana jeans yang dikenakan gadis itu.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Wana masih memegangi perutnya saat Sungmin mengatakan untuk pulang. Ia sendiri masih tidak mengerti apa yang membuat perutnya nyeri seperti ini. Tepat saat ia sedang berjalan keluar seseorang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang membuat dirinya terkejut. Wana mencoba menoleh dan mendapati wajah orang yang kini memeluk tubuhnya yang tidak lain ternyata adalah Sungmin.
“Sungmin~si..mwoya neo..?!!!” Wana mencoba melepaskan diri namun Sungmin malah menahannya.
“Jangan berontak kalau kau tidak ingin malu.”
“Musun sorieyo..?!!” Tanya Wana tidak mengerti.
“Apa tamu mu belum mengunjungimu selama bulan ini..?!”
Sesaat Wana masih bingung dengan perkataan Sungmin barusan, namun detik kemudian ia membelalakkan matanya. Ia akhirnya menyadarinya.
Pantas saja sejak tadi perutnya terus merasa nyeri. OMO~!! Apa mungkin Sungmin sengaja melakukan ini karna dibelakangku...?!! Ottokhae!!?!
“Waeyo?! Sudah sadar kah?!” Ucap Sungmin yang masih dalam keadaan memeluk Wana. “Kita harus memikirkan cara untuk terlepas dari situasi ini”
“Keundae bagaimana caranya? Kita berdua sama sekali tidak memiliki pakaian lebih untuk menutupinya. Apalagi kita berada ditengah-tengah Mall, akan sangat sulit jika harus mencari toilet lebih dulu. Sekalipun dengan berlari” Keduanya sadar bahwa saat ini mereka hanya menggunakan masing-masing selembar kemeja ditubuhnya tanpa jaket maupun sweater yang biasa mereka gunakan. “Selain itu...kita juga tidak mungkin berada dalam posisi seperti ini terus.” Ucapan Wana kali ini membuat Sungmin menoleh ke sekitarnya. Beberapa orang kini menatap aneh kearah mereka.
Sebuah ide mendadak muncul dibenak Sungmin. Dan tanpa berkata apa-apa terlebih dulu ia tiba-tiba saja mengangkat tubuh Wana membuat gadis itu lagi-lagi terkejut. Sungmin lalu berjalan keluar menyusuri Mall sambil menggendong Wana. Dengan begini, orang-orang tidak akan bisa melihat noda di jeans gadis itu.
Wana akhirnya bisa sedikit lega karna masalahnya sudah teratasi saat ini. Namun ia tertegun menyadari karna Sungmin yang sedang menggendongnya membuat wajah pemuda itu kini begitu dekat dengannya.
Selama berjalan Wana bisa melihat beberapa orang yang terkejut saat melihat mereka. Dan sejujurnya itu membuatnya sedikit malu.
“Kalau merasa malu. Benamkan saja wajahmu di dadaku.” Ucap Sungmin seolah bisa membaca pikiran gadis itu.
“Eh?! Mwo?! Keundae..” Wana merasa ragu akan hal ini.
“Jangan sampai ada temanku yang mengenalimu lebih dulu lalu menceritakan semua ini pada Eunsu. Jadi cepat lakukan, ini perintah!!” Tegas Sungmin seraya terus berjalan sambil menatap kedepan.
Mendengar bahwa ini sebuah perintah, Wana tidak bisa membantah lagi. Ia pun mengalungkan tangannya di leher Sungmin dan membenamkan wajahnya. Kini Wana bisa mencium wangi parfum dan merasakan hangatnya tubuh pemuda itu.
DEG!! Mendadak Wana merasakan hal yang aneh. Entah kenapa jantungnya seolah berdetak cepat. Sekilas ia menatap wajah Sungmin dan kembali merasakan detakan jantungnya, kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Wana lalu menggigit bibir bawahnya. Ottokhae?! Sepertinya..aku menyukainya.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Sungmin akhirnya lega karna telah sampai diluar Mall sekarang, namun ia terkejut saat melihat Wana. Gadis itu ternyata tertidur saat tadi Sungmin tengah membawanya keluar Mall.
“Mwoya..~ah jinjja. Bisa-bisanya ia tertidur disaat seperti ini?! Dasar gadis aneh. Yaa~ireo..” Sungmin baru saja ingin membangunkan gadis itu sampai niatnya terhenti. Rasa tidak tega muncul dalam dirinya. Ia lalu beralih dengan membawa Wana masuk kedalam mobil. Melihat keadaannya yang seperti ini membuat Sungmin memastikan kalau ia pasti tidak akan bisa menyetir jadi pemuda itu berniat membaringkan Wana di belakang.
Tepat saat Sungmin berhasil membaringkan tubuh gadis itu, Wana tiba-tiba saja mengigau dan tanpa sengaja menarik leher Sungmin. Kalau saja pemuda itu tidak dapat menahan tubuhnya, ia pasti sudah menindih tubuh Wana saat ini. Meskipun begitu tangan Wana yang masih melingkar di leher Sungmin membuat wajahnya kini begitu dekat dengan wajah gadis itu.
Selama beberapa detik Sungmin memandangi wajah Wana sampai akhirnya menyadari sesuatu. Benar juga, saat tidur beberapa orang bisa terlihat begitu polos bahkan...cantik.
Sadar dengan apa yang dipikirkannya barusan membuat Sungmin sontak bangkit seraya melepaskan tangan Wana dan berniat menutup pintu mobil sampai kegiatannya terhenti. Sesaat ia menatap kearah Wana yang masih tertidur pulas, detik kemudian ia tertawa pelan.”Ah jinjja..aku pasti sudah gila.” Ucapnya lalu menutup pintu kemudian mengendarai mobil pulang kerumah.
][][[][][][][][][][][][][][][][][

Pagi yang tidak begitu cerah, mungkin karna musim dingin mulai tiba. Sejak berangkat dari rumah suasana di mobil selama perjalanan menuju kampus terasa begitu sepi. Hening. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir Sungmin maupun Wana.
“Ehem..Su..Sungmin~si..” Ucap Wana pelan mencoba mencairkan suasana. Sungmin sendiri tidak menoleh dan terus saja memainkan hp nya. “Sungmin~si..”Ulang Wana, namun lagi-lagi No Respons. Merasa kesal diabaikan Wana lalu berteriak.”YA~LEE SUNGMIN!!!”
Teriakan Wana tadi sontak membuat Sungmin terkejut hingga tanpa sengaja salah memencet tombol di hpnya. Rupanya pemuda itu tadi sedang bermain game, butuh waktu lama bagi Sungmin untuk sampai ke level tadi, dan sekarang sebuah teriakan dari Wana berhasil membuatnya kalah hingga harus mengulanginya dari awal. “Aiissh~Jinjja!! YA!! Neo ttaemunae!!” Umpat Sungmin masih melihat hp nya lalu detik kemudian menatap Wana. “Aagh~ WAE?!!!”
“Anii~soal tadi malam..aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Neomu gamsahaeyo..” Sesal Wana.
Sejenak Sungmin menatap Wana yang duduk di depan. Gadis itu lumayan terfokus dengan kegiatannya menyetir mobil. Sungmin tidak menjawab. Ia tak tau ingin mengatakan apa, atau mungkin ragu akan jawabannya sendiri.
::::::::::::::::::::::::::::::: 
“Sungmin~si..sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Wana bingung karna sejak pulang kuliah tadi Sungmin hanya menunjukkan arah jalan tanpa memberitahunya sedikitpun kemana tujuannya saat ini. Entahlah..yang pasti saat ini hari sudah malam dan jujur saja perasaan Wana lagi-lagi tidak enak akan hal ini.
“Neo jinjja..~cerewet sekali! Diamlah!!..tugasmu hanyalah menyetir mobil ini sesuai perintahku. ARRA?!!”. Wana yang mendengarnya hanya bisa menahan kekesalannya. “Bagus! Kita sudah sampai.” Kata Sungmin.
Wana yang akhirnya tau kini hanya dapat melongo ditempat. Dihadapannya saat ini terdapat sebuah pintu dengan papan diatasnya yang bertuliskan “CLUB” dengan lampu kecil warna-warni yang berkelap-kelip mengelilinginya.
“Sungmin~si!!” Cegah Wana saat Sungmin berniat masuk kedalam.
“Ah~wae?!!” Sungmin menoleh kesal.
“MWO?! Kau tanya kenapa?! Ya!! Kau pasti bercanda kan?!” Wana mencoba memastikan.
Sungmin menatap yeoja dihadapannya datar. “Ani..aku memang ingin masuk kedalam.”. Apa yang dipikirkan Wana ternyata benar.
“Yaa! Bukankah Tuan Lee sudah melarangmu untuk pergi ke tempat ini?”
“Bagaimana kalau aku tidak peduli?”
Seketika Wana membelalakkan matanya.”Mwo?! Ya!! Kalau kau tetap masuk kedalam. Aku akan memberitahu Lee Doryeonim saat ini juga.” Ancamnya.
Sungmin malah tersenyum mengejek membuat Wana mendeliknya heran. “Hegh..Kau pikir aku bodoh? Selama seminggu Abeoji berada di Australia jadi kau tidak mungkin bisa memberitahukan hal ini padanya. Kalaupun kau melakukan hal itu sekarang, kau hanya akan mengganggu pekerjaannya. Dan lagi..apa kau lupa dengan apa yang pernah kukatakan huh?”
“Ani. Aku tidak lupa sama sekali. Dan juga, aku bisa kok memberitahu Doryeonim saat ia pulang nanti. Walaupun kau mengancam akan memecat Appaku sepertinya takkan bisa. Karna aku yakin Doryeonim akan berterimakasih padaku dan tidak akan membiarkan semua itu terjadi.” Jelas Wana seraya tersenyum puas.
Berbeda dengan Sungmin. Senyum di wajah pemuda itu kini berubah drastis. Bukan raut wajah khawatir atau takut. Melainkan kesal dan marah. Sungmin sadar apa yang dikatakan yeoja itu sepenuhnya benar.
Wana terkejut saat Sungmin tiba-tiba saja menarik lalu menyandarkannya di tembok.”Neo..jangan pikir aku hanya bisa mengancammu dengan satu hal saja.” Ucap Sungmin yang wajahnya hanya berada beberapa senti dari Wana. Pemuda itu kini semakin mendekatkan wajahnya.
“Mw..mwoya?! Sungmin~si..apa yang akan kau lakukan?!!”

#To be cont.

0 comments:

Posting Komentar