Don't Stare at Me Part 3


  “Kau Jatuh Cinta Padaku..” Suara itu seketika mengejutkan Rainy. Gadis itu menoleh ke samping dan menemukan Baro sedang menatapnya. Ya Tuhan..kenapa ia selalu saja melakukan itu..?!!!
  “Mw..Mworago?! Jangan bicara sembarangan lagi! Kau ini..bukankah kau sudah tau kalau aq tidak bisa ditatap seperti itu tapi kenapa kau selalu saja melakukannya terhadapku..” Sahut Rainy mencoba mengubah topik pembicaraan mereka. Rainy sulit menyembunyikan rasa nervous nya saat ini. “Aa..aq mau kembali ke kelas saja..”.
  “YAA~Neo..!! Mau kemana..?!! Aq kan cuma Bercan...waa~!!” Baro yang tiba-tiba menarik pergelangan Rainy yang hendak bangkit dari tempatnya membuat gadis itu mendadak kehilangan keseimbangan.
  “Aaagh!!” Pekik Rainy saat tidak mampu menahan tubuhnya hingga tak sengaja jatuh menimpa Baro. Saat ini Rainy berada dalam posisi menindih Pemuda itu. Gadis itu dapat merasakan detak jantung Baro. Wajah mereka berdua kini hanya berjarak 5 cm. Saat itulah pandangan keduanya kembali bertemu. Tapi kali ini ada yang berbeda.

Suara Bel sekolah yang berbunyi menyadarkan keduanya. Rainy yang baru sadar kalau ia sedang menindih Baro spontan mengangkat tubuhnya. Baro sendiri tidak berkata apa-apa. Pemuda itu hanya menatap kosong kearah lain. Tak ingin berlama-lama lagi Rainy berniat pergi dari situ namun saat berjalan ia merasakan sesuatu yang aneh. Dan benar saja, pergelangan kakinya terasa sakit. Rupanya saat terjatuh tadi kakinya sempat keseleo karna posisi jatuhnya yang menyamping. Gadis itu berusaha menyembunyikannya lalu terus berjalan menuju tangga turun. Baru saja ia melangkahkan kaki di anak tangga pertama, kakinya yang sakit terasa nyeri hingga membuatnya hilang keseimbangan dan hampir terjatuh kalau saja sebuah tangan tidak menahannya.
  “Babo~ya..?!! Kalau mau mati jangan disini..” Bentak Baro sambil memegang lengan Rainy. “Dia..menyelamatkanku. Ternyata orang seperti Baro baik juga..” Pikir Rainy seraya tersenyum kecil.
  “Jangan salah paham..aq hanya tidak ingin orang-orang mengira aq yang membunuhmu jika kau mati disini..”Sergah Baro membuat senyum di wajah gadis itu berubah jadi cemberut seketika.Aiiish~Dasar namja menyebalkan!!.  “Ayo..” Sahut Baro sambil membantu Rainy menuruni anak tangga satu per satu. Gadis itu menoleh kearah lengannya yang kini digenggam oleh Baro. Ia tau saat ini degupan di dadanya belum normal. Walau tak sekuat tadi. Diam-diam ia kembali menoleh kearah Baro.  Dia memang baik.

Saat mereka tiba di dalam kelas,Rainy berjalan sendiri ke tempat duduknya. Baro sengaja melepasnya agar tidak terlihat oleh Jinyoung. Sejenak Rainy teringat akan sesuatu “Saat pelajaran nanti katakan pada Jinyoung bahwa kau ingin mengajaknya ke suatu tempat..eum, ah! Bilang saja kau ingin mengajaknya ke taman hiburan” Ujar Baro antusias.
Rainy membelalakan matanya “Mworago?! Masa aq sih yang harus mengajaknya. Kau pikir aq tidak malu apa mengajak pria lebih dulu. Lagipula dia mungkin juga tidak akan mau kuajak. “ Sahut Rainy terdengar lirih.
“Babo~ya..tenang saja. Aq yakin dia pasti mau..percayalah padaku..” Ucap Baro terlihat yakin. Namun berbeda dengan Rainy. Entah kenapa ia merasa ragu akan semua ini. Apa benar dia ingin melakukan semua ini untuk seseorang bernama....Jinyoung?
Rainy kembali tersadar. Dia menoleh kearah Jinyoung yang sedang menatap ke depan. Mungkin benar. Karna pemuda ini. “Jinyoung~si..boleh aq bertanya sesuatu?” Tanya Rainy.
Pemuda itu menoleh kearah Rainy lalu tersenyum “Ada apa..?”
  “Itu..eum. mau tidak kau menemaniku ke suatu tempat..?” Tanya Rainy sedikit ragu.
Pemuda itu berpikir sejenak.”Memangnya kau mau kemana?”
  “Aq..ingin mengajakmu ke Taman hiburan. Tapi kalau tidak mau juga..”
  “Aq mau kok..” Jawab Jinyoung santai. Membuat sudut bibir gadis itu terangkat.
  “Jiinca..?! Kalau begitu kita ketemu disana sore nanti ya..?” Ucap Rainy antusias. Jinyoung mengiyakannya dengan mengangguk seraya tersenyum. Rainy tidak menyangka sama sekali.
======================

Bel sekolah tanda pelajaran hari ini selesai. Rainy pun bergegas pulang. Saat tengah berjalan menuju Halte hujan tiba-tiba saja turun dan akhirnya membuatnya basah. Sesaat ia merasa ada yang aneh. Entah mengapa ia merasa orang-orang di halte sedang memperhatikannya. Sampai akhirnya ia terkejut saat menyadarinya. Seragam putihnya ternyata tipis dan hal itulah yang menyebabkan hingga pakaian dalamnya terlihat. Gadis itu spontan membelakangi orang-orang lalu mencoba menutupi bagian depan tubuhnya dengan menyilangkan tangan. Namun disaat itupula Bus yang ditunggunya tiba.
Bagaimana ini? Busnya sudah tiba. Kalau aq naik kesana orang-orang pasti akan memperhatikanku selama perjalanan. Tapi..aq juga tidak punya pilihan lain. Aq harus secepatnya pulang. Rainy tetap berniat naik ke Bus. Menurutnya tidak ada jalan lain lagi.
Tepat saat gadis itu hampir melangkah masuk, seseorang tiba-tiba saja menarik tangannya lalu memeluknya. Beberapa orang sempat memperhatikan mereka.

  “Pulang denganku.” Rainy baru menyadarinya kalau orang itu ternyata tidak lain adalah Baro. Tapi kenapa ia melakukan ini..? Gadis itu mencoba melepaskan pelukannya tapi Baro malah menahannya. “Jangan Bodoh!! Kau pikir jika kau melepaskannya orang-orang tidak akan memperhatikanmu.” Jadi dia tau..?! Dia ternyata sengaja melakukannya untuk menolongku.” Pikir Rainy. Mendadak gadis itu kembali merasakan debaran hatinya yang aneh. “Kenapa selalu seperti ini..? Mengapa setiap dekat dengannya hatiku selalu saja berdebar tak karuan..?!” Mungkin..saat ini aq belum mengerti namun sejujurnya hatiku merasa tenang saat ini. Dinginnya air hujan tidak begitu terasa bagiku, mungkin karna tubuh Baro yang memelukku terasa  begitu hangat. Tubuhku hangat..Begitupula hatiku. Untung saja sekarang hujan deras, kalau tidak ia pasti akan mendengar detak jantungku.
  “Tunggu sebentar..”Baro melepaskan sweater nya. “Sampai kapan kau mau memelukku terus..?” Ucap Baro membuat Rainy tersadar dan seketika melepaskan pelukannya. Pemuda itu kini tersenyum puas karna berhasil mengerjai Gadis itu lagi.
  “Pakai ini..” Ia lalu memakaikan sweaternya ke tubuh gadis itu. Rainy masih menunduk. Gadis itu masih belum berani menatap Baro secara langsung.
Hujan masih turun deras saat mereka dalam perjalanan pulang. Rainy menatap punggung Baro yang sedang melajukan motor. Dia tau pemuda itu pasti sangat kedinginan saat ini karna ia hanya memakai Seragam. Sedangkan sweater nya digunakan oleh gadis itu. ”Baro~si..mungkin lebih baik kau ambil kembali sweater mu ini. Aq tau kau pasti kedi..”
  “Dwaesso*!  Lebih baik kau diam.”Ucap Baro dingin membuat gadis itu tidak berani bicara lagi. Ia takut jika bicara lagi hanya akan menimbulkan masalah.

#TBC

0 comments:

Posting Komentar