Don't Stare at Me Part 2


 “Kalau begitu kau duduk disana..” Perintah gurunya. Rainy pun mengikuti perkataannya berniat duduk di tempat itu sampai ia terkejut saat melihat kearah tempat yang ditunjuk gurunya saat ini. Seorang pemuda sudah duduk disana. Dan pemuda itu tidak lain adalah Baro. Kenapa juga dia harus sekelas dengan namja ini. Dan parahnya lagi tangan Pak Guru jelas mengarah ke tempat duduk disebelah Baro saat ini. Tatapan mata Baro jelas menunjukkan dia menolaknya. Rainy tidak berani menghadapi tatapan itu. Tatapan aneh juga dirasakannya saat melihat setengah mata didalam ruangan juga menatapnya. Rainy masih terpaku di tempatnya. Dia bingung harus melakukan apa. Tatapan itu menakutkan.
  “Rainy~si ada apa?!” Tanya Gurunya bingung.
  “Ah~tidak..eum..apa tidak ada tempat lain Pak?” Rainy malah bertanya balik.
  “Semua tempat duduk sudah penuh. Jadi cepatlah duduk, agar kita bisa melanjutkan pelajarannya.”Seketika Rainy merasa tidak enak pada Gurunya itu. Ia pun memberanikan diri berjalan menuju tempat itu. Saat ia duduk, Rainy sudah siap jika tiba-tiba Baro mengamuk disebelahnya. Dia tidak punya pilihan lain. Tapi anehnya tak ada yang terjadi. Baro hanya diam. Saat Rainy mencoba menoleh, ia terkejut mendapati Baro yang menatapnya. Tapi tatapannya berbeda. Bukan tatapan benci. Tatapan itu seolah mencari sesuatu. Entah kenapa Rainy merasa ada yang aneh hingga ia langsung memalingkan wajahnya. Wajahnya tiba-tiba saja memanas. Sudah dua kali ia mengalami ini. Tatapan itu benar-benar Aneh.
Saat jam istirahat tiba kebetulan Rainy mendapat tugas dari Gurunya untuk membawa buku tugas teman-teman kelasnya. Saat berjalan tiba-tiba saja matanya terarah pada sesuatu. Lebih tepatnya seseorang. Baro. Pemuda itu sedang duduk di belakang sekolah bersama seorang siswi yang Rainy sendiri tak mengenalnya. Mereka sedang tertawa. Tidak. Baro hanya tersenyum. Entah mengapa Ia merasa senang saat melihat Pemuda itu tersenyum. Harus ia akui pemuda itu terlihathandsome saat sedang tersenyum. Lamunannya seketika buyar saat Baro tiba-tiba saja menatap kearahnya mebuat Rainy seketika secepat mungkin pergi dari tempat itu. Tatapan itu lagi. Entah kenapa Rainy selalu merasa gugup saat melihat tatapan itu. Karna berusaha menghindarinya Rainy tidak sengaja menabrak seseorang membuat Buku-buku yang dipegangnya kini berserakan di lantai.
  “Aah~Maafkan aq..sungguh..aq tidak sengaja..maaf”Ucap Rainy sambil menundukkan kepalanya berkali-kali. Baro yang menyaksikan kejadian itu hanya tersenyum simpul.
Rainy sibuk membereskannya. Sampai ia terkejut saat sebuah tangan ikut memungut buku-buku itu. Saat ia mengangkat kepala di depannya kini sudah ada seorang Pemuda. Matanya cerah berwarna kecoklatan  dan rambutnya berwarna pirang.
  “Chogi*~ ini bukumu..”Ucapannya berhasil menyadarkan Rainy dari lamunannya.
  “Gomawo* ah bukan..Maafkan aq”Jawab Rainy menggeleng. Ia masih belum sadar sepenuhnya. Lalu mencerna apa yang baru saja dilakukannya. Tepatnya diucapkannya.
  “Haha..kau ini lucu sekali. Setelah terima kasih malah minta maaf..”Pemuda itu tertawa kecil. Senyum yang indah. Mirip dengan senyum seseorang. Rainy dengan sigap menggelengkan kepalanya membuat pemuda itu heran.
  “Ah..maaf..” Rainy kembali merunduk. Sesaat kemudian ia menyadari sesuatu.
  Pemuda itu mengernyitkan dahi sesaat lalu tersenyum pada Rainy. Gadis itu merasa ada yang aneh. Sebuah getaran aneh terjadi di dadanya. Pemuda itu kini berjalan meninggalkan Rainy yang masih dalam lamunannya. Sebuah suara yang entah berasal darimana membisikkan sesuatu.Sepertinya.. aq menyukainya.
==========================

  Hari sudah malam disaat Baro pulang. Ia baru berniat masuk sampai langkahnya mendadak terhenti.
  “Apa yang kau lakukan di depan sini?” Tanyanya pada Rainy ysng sedang duduk di teras depan. Sepertinya sudah dari tadi ia berada disitu.
  “Eum..itu..tidak ada seorang pun dirumah..” Jawab Rainy sekenanya.
  “Oh ya, Bibi Han kan sedang di desa. Lagipula Eomma pasti sudah pergi lagi.” Tiba-tiba saja Baro melemparkan sesuatu hingga jatuh tepat didepan Rainy. Sebuah kunci. Rainy tau kalau itu kunci rumah. Dia pun mengambilnya dan berhasil membuka pintu. Namun saat pintu terbuka langkah Rainy mendadak terhenti. Tubuhnya kaku.
Baro yang melihatnya heran. Ada apa dengan gadis itu? Pintu sudah terbuka bukannya masuk dia malah diam di tempatnya. Baro berjalan mendekati Rainy yang tampak kaku.
  “Aa..aq tidak bisa masuk. Aq takut...gelap.”Kata Rainy membuat Baro mengernyitkan dahi.
Baro mendecak tak percaya.”Don’t be kidding..” Baro baru saja melangkah masuk kedalam rumah sampai ia menoleh ke belakang dan melihat Rainy yang masih berdiri di tempatnya. Ia mulai merasa kesal dengan gadis itu. Hingga akhirnya menghampiri Rainy.
  “Ya!! Apa yang kau lakukan disitu? Cepat ma..”Baro berniat menarik Gadis itu masuk namun ucapannya terhenti saat menyentuh tangan Rainy. Tangan gadis itu kini  sedingin es. Baro dapat melihat keringat di wajah Rainy saat ini. Gadis itu gemetaran.
Tanpa berkata apa-apa lagi Baro langsung masuk kedalam dan menyalakan lampu rumah.
 ====================

Hangatnya mentari masuk melalui celah jendela rumah. Seorang namja yang sudah berpakaian sekolah lengkap dengan salah satu Earphone yang terpasang di telinganya berjalan menuju meja makan. Sampai langkahnya terhenti. Nampaknya terkejut melihat sudah ada hidangan di atas meja. Siapa yang membuatnya..? Bukankah bibi Han..?
  “Chogi~ maaf..”Baro sontak menoleh ke belakang. Ia mendapati Rainy yang tengah memegang dua gelas berisi air minum. Ia tau gadis inilah yang memasaknya.
  “Maaf yah..aq hanya tau membuat nasi goreng.” Ucap Rainy ragu. Dia dan Baro kini duduk berhadapan. Baro belum berkomentar apapun.
  “Em..Aa..aq duluan yah..sampai jumpa di sekolah!” Rainy berjalan cepat setelah mengambil tas sekolahnya meninggalkan Baro yang bingung karna kelakuannya. Pemuda itu kembali tersenyum kecil. Sepertinya menyadari sesuatu.
Ia mencicipi sesendok nasi goreng di piringnya. Sesaat kemudian ia tertegun. Walaupun penampilannya tidak begitu menarik. Tapi rasanya benar-benar enak.
 =======================

Sudah 15 menit Rainy menunggu di Halte. Tapi belum ada bus yang melintas di depannya. Padahal sebentar lagi jam pertama masuk. Saat ia kebingungan sebuah motor tiba-tiba berhenti didepannya. Dari motor dan sweater yang digunakan pengendaranya Rainy bisa tau siapa orangnya. Tepat sekali. Baro. Mau apa dia..? Jangan-jangan mau meledekku lagi..?
  “Naiklah..” Baro membuka penutup helmnya tanpa melihat kearah Rainy.
Rainy tertegun. Berusaha memastikan yang baru saja didengarnya.”Kau..menyuruhku naik?”
  “Bukankah aq sudah mengatakannya..cepatlah!!” Sahut Baro masih menghadap ke depan.
  “Maksudmu kita berangkat bersama-sama naik motormu..?” Tanya Rainy lagi.
  “Bukan! Naik Perahu!!” Sergah Baro membuat Rainy melongo kemudian mengerucutkan bibirnya. “Babo~ya!! Tentu saja naik motor! Memangnya kau lihat sekarang aq naik apa hah?!!..Aiish~jiinca*,Palliwaaaa~*”Gerutu Baro yang merasa kesabarannya telah habis. Lalu mengarahkan matanya pada Rainy. Gadis itu spontan naik ke atas motor. Diam-diam Baro tersenyum tanpa sepengetahuan Gadis itu. Ternyata tebakannya benar. Tidak salah lagi.
Selama perjalanan mereka hanya diam. Rainy tidak berani mengatakan apapun. Dia takut jika salah bicara hanya ledekan atau umpatan yang diterimanya.
  “Kau menyukai orang itu kan..?” Pertanyaan Baro yang tiba-tiba membuat Rainy terkejut.
Orang itu? Maksudnya..? “Orang itu siapa..?”Tanya Rainy bingung.
  “Jung Jinyoung. Ketua kelas kita. Tepatnya pemuda yang kau tabrak kemarin.”
  “Jadi kau melihatnya..?!!” Rainy tidak menyangka Baro melihat kejadian itu. Ah~tentu saja..dia kan menatapnya saat itu.”Eum soal pemuda itu..aq bahkan baru tau namanya..”
  “Aq akan membantumu.” Kata Baro singkat sambil terus melajukan motornya.
Rainy terkejut mendengarnya.”Mw..mworago*?!”Tanya Rainy berusaha memastikan. Mungkin saja dia salah dengar. Pasti salah.
  “Keurae..aq akan membantumu mendapatkannya. Cukup sehari saja. Aq pasti bisa membuatnya menyukaimu”Katanya dengan nada yakin.
  “Hah?!” Rainy semakin tidak mengerti jalan pikiran pemuda di depannya ini. Mana mungkin seseorang bisa menyukai orang lain hanya dalam waktu sehari. Tidak mungkin.
  “Impossible..mana mungkin..” Bagi Rainy ini kedengaran seperti sesuatu yang aneh.
  “Lihat saja nanti..” Kata pemuda itu santai. Baro yakin bisa melakukannya. Mungkin.
  “Tapi..kenapa kau mau melakukan semua ini..?” Tanya gadis itu merasa penasaran.
Baro tidak menjawab.  “Entahlah...” Cuma itu yang terucap dari bibirnya. Ia sendiri tak tau.
Sesampainya mereka di sekolah. Baro berlari masuk ke kelas lebih dulu. Pemuda itu sudah merencanakan sesuatu. Rainy berjalan masuk kedalam kelas. Langkahnya terhenti sesaat. Ia melihat Baro yang kini mengedikkan kepalanya ke suatu tempat.
    "Pokoknya hari ini kau duduk bersamanya. Soal teman duduknya aq bisa mengaturnya. Kau hanya perlu pelan-pelan akrab dengannya. Arasseo..!!” Moment  itu melintas di benak Rainy. Kata-kata Baro saat itu terdengar lebih seperti gertakan. Jadi dia hanya mampu mengangguk. Tanpa berani membantah. Rainy menatap tempat duduk disebelah pemuda bernama Jinyoung itu kini telah pindah. Entah apa yang dilakukan Baro padanya. Tatapan Baro kembali menyadarkan Rainy. ia pun mulai berjalan kearah Jiyoung yang sedang menulis sesuatu. Tepat saat Rainy tiba didepannya pemuda itu mengangkat wajahnya.

  “Annyeong..”Sapa Rainy yang kedengarannya kaku. “Boleh tidak..a..aq duduk disini?”
  Pemuda itu menatapnya sebentar. “Tidak.” Jawabny membuat Rainy melongo seketika. Pemuda itu lalu tersenyum kecil 
  “Becanda kok...duduklah“ Perasaan Rainy lega. Ia pun akhirnya berhasil duduk di sebelah Jinyoung.
  “Kau sudah membantuku hari itu..padahal aq yang menabrakmu..” Ujar Rainy.
  “Oh jadi itu yah alasannya...” Jinyoung tiba-tiba kembali tersenyum.
Rainy menoleh. Tidak mengerti maksud pemuda itu “Eum? Apa..maksudmu..?”
  “Alasan mengapa hari itu setelah mengucapkan terima kasih kau lalu meminta maaf..”
Rainy baru sadar kalau hari itu ia memang berkata seperti itu. Jinyoung pasti menganggapnya aneh saat itu. Ah~memalukan.
  “Oh ya..perkenalkan. Namaku Rainy.” Ucap Gadis itu santai.
  “Aq tau..” Rainy mengernyitkan dahinya.”Bukankah dulu kau sudah mengatakannya saat pertama kali masuk..”
Gadis itu kini melongo di tempatnya.” Ehe..Maaf..” Katanya canggung.
  “Rainy...nama yang unik..” Pemuda itu seperti memikirkan sesuatu lalu berbalik menatap Rainy sambil tersenyum.
  “Jiinca..?!! Uhm..Gomawo..” Seru Rainy antusias. Namun sesaat setelahnya ia kembali menyadari sesuatu. Saat ia menoleh ia sudah mendapati Jinyoung yang tertawa kecil kearahnya.
  “Haha..kau ini benar-benar lucu..” Rainy hanya menatap pemuda itu. Senyum itu lagi.
Tanpa mereka sadari Baro menatap mereka dari tempatnya. Pemuda itu tidak tersenyum. Bukankah seharusnya saat ini ia harusnya senang karna melihat Rainy yang berhasil melaksanakan rencananya. Entah mengapa ada hal yang menahan senyumnya saat ini. Sesuatu yang ia sendiri tidak tau. Atau mungkin...tidak yakin.
Setelah perkenalan itu sampai istirahat tiba Rainy tidak berbicara apa-apa lagi. Ia benar-benar tak tau harus berkata apa. Jinyoung sendiri terus sibuk dengan buku-buku dihadapannya. Karna bingung, Rainy akhirnya berniat mencari Baro untuk menanyakan hal ini. Walau sebenarnya ada sedikit rasa khawatir di hatinya. Salah seorang temannya mengatakan bahwa Baro sempat terlihat menuju atap gedung belakang sekolah. Dan benar saja, ternyata pemuda itu memang disana. Rainy melangkah mendekatinya. Rupanya pemuda itu kini sedang tertidur dengan earphone yang masih melekat di telinganya. Baru saja Rainy duduk disebelahnya, pemuda itu sepertinya sudah menyadari kehadirannya. “Ada apa..?” Tanyanya seakan tau tujuan gadis itu datang ke tempat ini.
  “Eum..aq..aq tidak tau ingin melakukan apa pada Jinyoung. Maksudku..aq bingung harus berbicara apa jika bersamanya.” Rainy mencoba menjelaskannya. Walau sedikit takut.
Baro melengos.”Hm.?!” Pemuda itu bangkit dari tidurnya. Sesaat ia diam kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Rainy sambil menatapnya tajam. Seperti yang ia perkirakan. Gadis itu sontak memalingkan wajahnya kemudian perlahan mernunduk.
  “Kau ini..apa selalu seperti itu..?” Tanya Baro yang melihat kearah bangunan sekolah.
Rainy berpikir sejenak. Selalu seperti itu? Apa mungkin maksudnya..?.”Ah~benar. Dari kecil aq memang sudah takut dengan kegelapan. Itu memang penyakitku dari dulu..” Sahut gadis itu santai.
  “Agh~neo* jiinca..kau ini polos atau bodoh sih?!” Gerutu Baro sambil menggaruk kepalanya. Rainy menatapnya heran sambil berpikir Bukankah yang dimaksud penyakitku? Kalau bukan lalu apa?.
Baro kembali menghela nafas. “Neo..beritahu padaku. Apa kau selalu menghindar saat seseorang menatapmu hah?!”. Pertanyaan Baro sontak membuat Rainy gelagapan. Dia tidak menyangka bahwa ternyata yang dimaksud Baro adalah ini. Dia harus mengakui kalau ucapan pemuda itu benar. Tapi ia juga takut dikatakan cupu jika berterus terang.
  “Mworago?! Ma..mana mungkin..? Jangan sembarangan menilai orang lain!!” Jawab Rainy berusaha terdengar biasa. Namun percuma, Pemuda itu sudah tau dari awal.
  “Oowh..benarkah..?” Sahut Baro sambil mengangguk pelan. Rainy merasa ada yang tidak beres dengan anggukan itu. Perasaannya tidak enak. Dan benar saja sesaat setelah itu Baro menatapnya tajam dan mulai mendekatkan wajahnya kearah gadis itu. Sejujurnya saat ini Rainy merasa detakan jantungnya memompa lebih cepat. Namun ia berusaha menahannya. Ia tetap tak ingin memalingkan wajahnya. Ia tak ingin ketahuan. Sayangnya Baro yang sudah bisa memastikannya terus saja mendekat. Dan kini wajah mereka hanya berjarak 10cm. Tepat saat jarak mata mereka hanya 5cm Rainy merasa degupan jantungnya sudah tak terkendali hingga akhirnya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Baro yang sudah tau kini tersenyum puas. Ia menghela nafas sambil kembali berbaring di lantai dengan tangan yang disilangkan dibawah kepala. Pemuda itu kembali menghela nafas. “Huuft..kalau menatap lawan bicaramu saja kau tidak bisa. Bagaimana mungkin kau bisa mengobrol dengannya. Lagipula orang yang melihatmu seperti itu bisa-bisa menyangka kau gilabicara sendirian atau mungkin bicara pada lantai jika kau menunduk..” Ujarnya. Kini ia memasangearphone nya lalu kembali menutup matanya.

Rainy seperti baru saja melakukan Maraton, degup di jantungnya mulai kembali normal. Ia menoleh kearah Baro yang kini berbaring santai disebelahnya . Mungkin saja kembali tidur. Diam-diam ia memperhatikan pemuda itu. Ia baru sadar ternyata selain tersenyum Baro juga terlihat begitu berbeda saat ini. Wajahnya kelihatan begitu polos dan tenang. Sesuatu yang aneh tiba-tiba saja terjadi pada Rainy. Detak jantungnya yang awalnya mulai normal kembali menjadi tidak karuan. Ia kembali menoleh ke arah Baro dan kembali menemukan detakan jantungnya yang aneh. Perlahan Rainy menempelkan telapak tangan di dadanya sendiri.  
  Ada apa ini..?! Apa  mungkin...? Apa mungkin ini karna..?!!
 “Kau Jatuh Cinta Padaku ...” Ucap Baro tiba-tiba.

#TBC

0 comments:

Posting Komentar