Mereka akhirnya sampai di rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Itu artinya sejam lagi Rainy akan berangkat. Ia harus bersiap-siap sekarang. Gadis itu berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya setelah sempat melihat Baro yang juga memasuki kamarnya lebih dulu.
Cukup 30 menit lama bagi Rainy untuk bersiap-siap. Dia memang tidak begitu peduli terhadap penampilannya. Bagi gadis itu penampilan yang baik adalah penampilan yang nyaman dan indah baginya. Rainy berjalan menelusuri rumah,namun rasanya begitu sepi. Baro. Dimana dia..? Rainy ingat sebelum masuk rumah Baro berkata akan mengantarnya ke Taman Hiburan lalu membiarkannya bertemu Jinyoung disana. Mungkin saja di kamarnya. Gadis itu berjalan menuju kamar Baro. Dihadapannya kini terdapat sebuah pintu yang tertutup. Jujur saja dia merasa sedikit takut untuk masuk kedalam, tapi tidak ada plihan lain. Ia pun memberanikan diri membukanya perlahan. Nampak seseorang yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Gadis itu memberanikan diri mendekat. Baro sedang terbaring dengan seragamnya yang masih basah. Matanya tertutup. Apa mungkin dia tertidur..? Rainy memperhatikan wajah Baro, sepertinya ada yang aneh. Ia terkejut saat menyentuh kening pemuda itu. Seluruh badannya panas. Pasti karna tadi ia kehujanan.
“Eum..?! Apa yang kau lakukan disini..??” Pemuda itu terbangun lalu menengok jam tangannya.“Ya~bukankah kau seharusnya pergi menemui Jinyoung di taman hiburan” Rainy terkesiap mendengar pertanyaan Baro. Keadaannya sepeerti ini tapi ia masih sempat memikirkan tentang Aq dan Jinyoung yang pergi ke Taman hiburan.
“Baro~si, badanmu..badanmu panas sekali..” Rainy memandangnya khawatir.
Baro memegang keningnya sejenak.”Dwaesso..aq tidak apa-apa. Cepatlah pergi..” Rainy tau pemuda itu sedang berbohong. Jelas-jelas tadi Rainy merasakan panas saat menyentuhnya.
“Baro~si..mungkin sebaiknya aq batalkan saja” Rainy semakin khawatir melihat tingkahnya
“Bodoh..” Baro menghela nafas lalu bangkit dari ranjangnya.”Lihat..aq bisa berdiri. Aq baik-baik saja. Aq akan mengantarmu..” Tepat saat pemuda itu menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya mendadak ambruk. Untung saja Rainy dengan sigap menahannya.
“Babo~ya!!” Kata itu terlontar begitu saja dari bibir gadis itu membuat Baro tertegun. Rainy sendiri tidak peduli lagi. Dia sudah tak tahan dengan pemuda di depannya ini. Tiba-tiba saja matanya memanas. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
”Ya~bukankah aq belum memarahimu sama sekali. Tapi kenapa kau malah menangis duluan..?”. Baro menatap gadis itu heran.
“Bagaimana..? Bagaimana mungkin aq bisa bersenang-senang di luar sana,sedangkan kau terbaring sakit di tempat ini?” Mungkin kau akan menganggapku bodoh mengatakan ini..
“Bagaimana mungkin aq bisa tersenyum untuk orang lain sedangkan hatiku sedih memikirkanmu..” Mungkin memang aq yang bodoh karna baru menyadarinya..
“Bagaimana mungkin kau bisa menyuruhku menyukai orang lain..sedangkan hati dan pikiranku hanya mengingatmu seorang..?” Rainy terdiam sesaat. “Aq menyukaimu...”
Baro tidak dapat berkata apapun. Awalnya ia berpikir kalau gadis ini hanya berusaha menumpahkan kekesalannya. Namun kalimat terakhir yang diucapkannya sungguh membuat pemuda itu terkejut. Belum lagi gadis itu kini mampu menatapnya secara langsung. Menandakan bahwa yang dikatakannya serius. Bahwa Dia menyukaiku...
Melihat Baro yang tak bereaksi membuat Rainy tersenyum simpul.”Mianhae..aq tau seharusnya aq tak begini. Tapi aq hanya mengikuti kata hatiku..dan hatiku berkata bahwa aq memang menyukaimu..walaupun aq tau mungkin kau tidak...”
Baro menatap gadis dihadapannya saat ini. Gadis itu masih berusaha tersenyum, tapi Baro tau ia tak sedang tersenyum. Sebab saat tersenyum airmata gadis itu tetap menetes. Dan entah mengapa ia merasa terusik dengan hal itu. Dadanya terasa sesak dan panas melihat senyuman yang dipaksakan oleh Rainy. Dan ia benci akan hal itu..
Tepat saat gadis itu belum menyelesaikan kalimatnya Baro tiba-tiba menarik Rainy kedalam pelukannya. Ia tersenyum kecil saat merasakan debaran hati gadis itu. Kali ini ia tau apa yang dilakukannya. Dia sudah menyadarinya.
Rainy begitu terkejut saat Baro tiba-tiba saja memeluknya. Ia tak peduli jika ini hanyalah sebuah mimpi,karna jika benar ia berharap mimpi ini tak pernah berakhir.
“Aq juga..” Ucapan itu membuat Rainy terenyak. “Aq juga menyukaimu.” Baro kembali mengulangi kata-katanya. Hal itu membuat Rainy yakin kalau apa yang dialaminya saat ini bukanlah mimpi. Mendadak tubuh Baro hampir jatuh, untung Rainy kembali sigap menahannya lalu membantunya berbaring di tempat tidur. Pemuda itu lupa akan penyakitnya.
“Bajumu jadi ikut basah..mianhae~” Ucap Baro saat memperhatikan baju Rainy.
Gadis itu kini malah tersenyum padanya.“Gwencana..” Rainy lalu kembali memeriksa kening pemuda itu. Namun saat ia menarik tangannya tiba-tiba saja Baro menahannya.
“Kau sudah berani menatap mataku rupanya..”
“Benarkah?!! Aq tidak menyadarinya sama sekali..” Sanggah Rainy.
Tiba-tiba saja ide licik muncul di benak pemuda itu. “Bagaimana kalau kita pastikan saja..?!” Rainy melihatnya bingung.”Kemarilah..”Pinta Baro sambil perlahan menarik lengan gadis itu mendekat padanya. Kini wajah mereka berjarak sangat dekat, dan pada saat itu pula handphone Rainy tiba-tiba berdering. Membuat gadis itu sontak berbalik. Baro yang melihatnya mendengus kesal.Hampir Saja..
“Oh~Jinyoung si” Nama itu sontak membuat Baro menoleh. Pandangannya bertemu dengan Rainy. “Mianhae..saat ini Baro sedang sakit. Dan aq harus menjaganya..jadi..”
“Gwencana..aq mengerti kok..!” Sahut sebuah suara dari hp Rainy. Jinyoung sepertinya sudah mengerti dengan keadaan saat ini. Atau memang sudah mengerti dari awal.
“Hmm..mungkin belum saatnya bagiku.. Aq harap saat itu akan datang..” Ucapan Jinyoung membuat Rainy bingung. Ia tidak mengerti maksud pemuda itu.
“Eh?! Apa maksudmu..?” Tanya Rainy heran.
“Tidak.. tidak apa-apa. Sudah yah~annyeong” Sapa Jinyoung ramah lalu menutup telpon.
“Ne~annyeong..” Gadis itu masih bingung dengan apa yang dikatakan Jinyoung. Sebenarnya apa maksudnya..?
Lamunan gadis itu terhenti saat mendengar sesuatu.
“Aiish~orang itu..menganggu saja..”Gumam Baro pelan.
Rainy lalu menoleh ke arahnya.”Barusan kau mengatakan sesuatu..?”Tanyanya.
“Ah?! Eh~tidak..oh ya, kita lanjutkan saja yang tadi..” Baro masih belum menyerah.
“Eum?! Maksudmu..?! aah~itu..baiklah..” Rainy hanya mengangguk santai. Gadis itu memang polos, dan kepolosannya itulah yang dipergunakan Baro saat ini.
Rainy kembali menatap Baro, perlahan wajah mereka kembali dekat. Kali ini lebih dekat dari sebelumnya.
“KALIAN?!!” Sebuah suara berhasil mengejutkan keduanya membuat mereka sontak memisahkan diri. Aargh~Kenapa selalu saja ada yang menghalangi..?!!” Sesal Baro dalam hati. Mereka mencoba mencari arah suara sampai terhenti di pintu kamar. Orang itu tidak lain adalah Cha Jieun. Ibunya Baro. Wanita itu berjalan mendekati mereka berdua.
“Eom..Omo?!!Egh Eomma?!! Kau..?! Kenapa bisa pulang..?” Tanya Baro terbata. Ia terkejut. Tidak menyangka kalu orang itu ternyata Ibunya.
“MWO?!!* Pertanyaan macam apa itu?! Apa kau tidak senang Eomma pulang ke rumah..?” Sahut Jieun mencoba mengucek rambut anaknya itu namun terhenti saat menyentuhnya.
“Ya!! Kau demam hah..?!! Bukankah Eomma sudah bilang kau paling sensitif dengan air hujan..anak ini~iissh..”Geram Wanita itu. “Lagipula barusan itu apa..?”Tanyanya curiga.
“Ahjumma~mianhae, sebenarnya ini semua salahku. Itu...” Rainy pun menceritakan semuanya. Waktu Baro berusaha menolongnya di sekolah sampai kejadian yang baru dilihat wanita itu.
“Jeongmal Jwiseonghamnida Ahjumma~ Baro hanya berniat membantuku. Tolong jangan memarahinya..” Ucap Rainy merunduk gadis itu merasa bersalah telah membuat Baro dimarahi oleh Ibunya.
“Hhaha..Rainy~ah!! Sayaaang..kau ini benar-benar polos..~!!” Jieun tiba-tiba saja tertawa. Membuat Rainy heran. Gadis itu tadinya berpikir kalau Ahjumma itu akan marah, tapi kenapa malah..?? Memangnya ada apa..??
“Kau mau saja percaya pada Baro yang berkata seperti itu..” Lanjut Jieun namun Rainy masih tidak mengerti maksudnya. Wanita itu lalu menarik Rainy sambil membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu “Hhaha..sini Ahjumma beritahu padamu..”
“Eomma~ANDWAE!!!*” Seru Baro berusaha mencegah Eomma nya namun terlambat. Raut wajah Rainy kini telah berubah. Wajah gadis itu itu kini memerah dan jelas sekali terlihat kalau ia terkejut. Baro yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya karna malu. Ah~menyebalkan.Kenapa Eomma harus mengatakannya sih..?! Ck..
Jieun menghela nafas.”Huft..kalau begitu Rainy~ah,temani tante membuatkan bubur untuk Baro ya? Ahjumma turun duluan..” Ucap wanita itu lalu menghilang dari balik pintu kamar.
Sunyi. Canggung. Itulah yang dirasakan keduanya saat ini. Mereka sama-sama bingung mau mengatakan apa. “Eum..aq mau bantu Ahjumma dulu.” Rainy mencoba beranjak namun tangannya kembali di tahan oleh Baro.
“Mianhae..aq tau seharusnya tidak membohongimu. Aq sama sekali tidak berniat memanfaatkanmu seperti yang kau kira..aq...” Rainy bisa melihat dengan jelas raut penyesalan di wajah pemuda itu. Dan sebenarnya ia sama sekali tidak marah padanya.
Entah mengapa, tiba-tiba saja Gadis itu mengecup pipi Baro sekilas. Spontan membuat pemuda itu menghentikan kalimatnya. Rainy yang baru menyadarinya kini berlari keluar kamar meninggalkan Baro yang masih tertegun di ranjangnya.
“Hha! Ahaha~..!!!Wow!!” Seru Baro seakan baru tersadar dari keterkejutannya. Pemuda itu terlalu senang hingga meloncat diatas ranjang sambil berteriak, tanpa menyadari Rainy yang berada di balik pintu kamar. Gadis itu tersenyum ceria sambil menutup wajahnya.
Keduanya tersenyum saat kembali mengingat apa yang baru saja dialaminya.. tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing...
The End
Nb: once again..thanks for all who has read it^^
Cukup 30 menit lama bagi Rainy untuk bersiap-siap. Dia memang tidak begitu peduli terhadap penampilannya. Bagi gadis itu penampilan yang baik adalah penampilan yang nyaman dan indah baginya. Rainy berjalan menelusuri rumah,namun rasanya begitu sepi. Baro. Dimana dia..? Rainy ingat sebelum masuk rumah Baro berkata akan mengantarnya ke Taman Hiburan lalu membiarkannya bertemu Jinyoung disana. Mungkin saja di kamarnya. Gadis itu berjalan menuju kamar Baro. Dihadapannya kini terdapat sebuah pintu yang tertutup. Jujur saja dia merasa sedikit takut untuk masuk kedalam, tapi tidak ada plihan lain. Ia pun memberanikan diri membukanya perlahan. Nampak seseorang yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Gadis itu memberanikan diri mendekat. Baro sedang terbaring dengan seragamnya yang masih basah. Matanya tertutup. Apa mungkin dia tertidur..? Rainy memperhatikan wajah Baro, sepertinya ada yang aneh. Ia terkejut saat menyentuh kening pemuda itu. Seluruh badannya panas. Pasti karna tadi ia kehujanan.
“Eum..?! Apa yang kau lakukan disini..??” Pemuda itu terbangun lalu menengok jam tangannya.“Ya~bukankah kau seharusnya pergi menemui Jinyoung di taman hiburan” Rainy terkesiap mendengar pertanyaan Baro. Keadaannya sepeerti ini tapi ia masih sempat memikirkan tentang Aq dan Jinyoung yang pergi ke Taman hiburan.
“Baro~si, badanmu..badanmu panas sekali..” Rainy memandangnya khawatir.
Baro memegang keningnya sejenak.”Dwaesso..aq tidak apa-apa. Cepatlah pergi..” Rainy tau pemuda itu sedang berbohong. Jelas-jelas tadi Rainy merasakan panas saat menyentuhnya.
“Baro~si..mungkin sebaiknya aq batalkan saja” Rainy semakin khawatir melihat tingkahnya
“Bodoh..” Baro menghela nafas lalu bangkit dari ranjangnya.”Lihat..aq bisa berdiri. Aq baik-baik saja. Aq akan mengantarmu..” Tepat saat pemuda itu menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya mendadak ambruk. Untung saja Rainy dengan sigap menahannya.
“Babo~ya!!” Kata itu terlontar begitu saja dari bibir gadis itu membuat Baro tertegun. Rainy sendiri tidak peduli lagi. Dia sudah tak tahan dengan pemuda di depannya ini. Tiba-tiba saja matanya memanas. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
”Ya~bukankah aq belum memarahimu sama sekali. Tapi kenapa kau malah menangis duluan..?”. Baro menatap gadis itu heran.
“Bagaimana..? Bagaimana mungkin aq bisa bersenang-senang di luar sana,sedangkan kau terbaring sakit di tempat ini?” Mungkin kau akan menganggapku bodoh mengatakan ini..
“Bagaimana mungkin aq bisa tersenyum untuk orang lain sedangkan hatiku sedih memikirkanmu..” Mungkin memang aq yang bodoh karna baru menyadarinya..
“Bagaimana mungkin kau bisa menyuruhku menyukai orang lain..sedangkan hati dan pikiranku hanya mengingatmu seorang..?” Rainy terdiam sesaat. “Aq menyukaimu...”
Baro tidak dapat berkata apapun. Awalnya ia berpikir kalau gadis ini hanya berusaha menumpahkan kekesalannya. Namun kalimat terakhir yang diucapkannya sungguh membuat pemuda itu terkejut. Belum lagi gadis itu kini mampu menatapnya secara langsung. Menandakan bahwa yang dikatakannya serius. Bahwa Dia menyukaiku...
Melihat Baro yang tak bereaksi membuat Rainy tersenyum simpul.”Mianhae..aq tau seharusnya aq tak begini. Tapi aq hanya mengikuti kata hatiku..dan hatiku berkata bahwa aq memang menyukaimu..walaupun aq tau mungkin kau tidak...”
Baro menatap gadis dihadapannya saat ini. Gadis itu masih berusaha tersenyum, tapi Baro tau ia tak sedang tersenyum. Sebab saat tersenyum airmata gadis itu tetap menetes. Dan entah mengapa ia merasa terusik dengan hal itu. Dadanya terasa sesak dan panas melihat senyuman yang dipaksakan oleh Rainy. Dan ia benci akan hal itu..
Tepat saat gadis itu belum menyelesaikan kalimatnya Baro tiba-tiba menarik Rainy kedalam pelukannya. Ia tersenyum kecil saat merasakan debaran hati gadis itu. Kali ini ia tau apa yang dilakukannya. Dia sudah menyadarinya.
Rainy begitu terkejut saat Baro tiba-tiba saja memeluknya. Ia tak peduli jika ini hanyalah sebuah mimpi,karna jika benar ia berharap mimpi ini tak pernah berakhir.
“Aq juga..” Ucapan itu membuat Rainy terenyak. “Aq juga menyukaimu.” Baro kembali mengulangi kata-katanya. Hal itu membuat Rainy yakin kalau apa yang dialaminya saat ini bukanlah mimpi. Mendadak tubuh Baro hampir jatuh, untung Rainy kembali sigap menahannya lalu membantunya berbaring di tempat tidur. Pemuda itu lupa akan penyakitnya.
“Bajumu jadi ikut basah..mianhae~” Ucap Baro saat memperhatikan baju Rainy.
Gadis itu kini malah tersenyum padanya.“Gwencana..” Rainy lalu kembali memeriksa kening pemuda itu. Namun saat ia menarik tangannya tiba-tiba saja Baro menahannya.
“Kau sudah berani menatap mataku rupanya..”
“Benarkah?!! Aq tidak menyadarinya sama sekali..” Sanggah Rainy.
Tiba-tiba saja ide licik muncul di benak pemuda itu. “Bagaimana kalau kita pastikan saja..?!” Rainy melihatnya bingung.”Kemarilah..”Pinta Baro sambil perlahan menarik lengan gadis itu mendekat padanya. Kini wajah mereka berjarak sangat dekat, dan pada saat itu pula handphone Rainy tiba-tiba berdering. Membuat gadis itu sontak berbalik. Baro yang melihatnya mendengus kesal.Hampir Saja..
“Oh~Jinyoung si” Nama itu sontak membuat Baro menoleh. Pandangannya bertemu dengan Rainy. “Mianhae..saat ini Baro sedang sakit. Dan aq harus menjaganya..jadi..”
“Gwencana..aq mengerti kok..!” Sahut sebuah suara dari hp Rainy. Jinyoung sepertinya sudah mengerti dengan keadaan saat ini. Atau memang sudah mengerti dari awal.
“Hmm..mungkin belum saatnya bagiku.. Aq harap saat itu akan datang..” Ucapan Jinyoung membuat Rainy bingung. Ia tidak mengerti maksud pemuda itu.
“Eh?! Apa maksudmu..?” Tanya Rainy heran.
“Tidak.. tidak apa-apa. Sudah yah~annyeong” Sapa Jinyoung ramah lalu menutup telpon.
“Ne~annyeong..” Gadis itu masih bingung dengan apa yang dikatakan Jinyoung. Sebenarnya apa maksudnya..?
Lamunan gadis itu terhenti saat mendengar sesuatu.
“Aiish~orang itu..menganggu saja..”Gumam Baro pelan.
Rainy lalu menoleh ke arahnya.”Barusan kau mengatakan sesuatu..?”Tanyanya.
“Ah?! Eh~tidak..oh ya, kita lanjutkan saja yang tadi..” Baro masih belum menyerah.
“Eum?! Maksudmu..?! aah~itu..baiklah..” Rainy hanya mengangguk santai. Gadis itu memang polos, dan kepolosannya itulah yang dipergunakan Baro saat ini.
Rainy kembali menatap Baro, perlahan wajah mereka kembali dekat. Kali ini lebih dekat dari sebelumnya.
“KALIAN?!!” Sebuah suara berhasil mengejutkan keduanya membuat mereka sontak memisahkan diri. Aargh~Kenapa selalu saja ada yang menghalangi..?!!” Sesal Baro dalam hati. Mereka mencoba mencari arah suara sampai terhenti di pintu kamar. Orang itu tidak lain adalah Cha Jieun. Ibunya Baro. Wanita itu berjalan mendekati mereka berdua.
“Eom..Omo?!!Egh Eomma?!! Kau..?! Kenapa bisa pulang..?” Tanya Baro terbata. Ia terkejut. Tidak menyangka kalu orang itu ternyata Ibunya.
“MWO?!!* Pertanyaan macam apa itu?! Apa kau tidak senang Eomma pulang ke rumah..?” Sahut Jieun mencoba mengucek rambut anaknya itu namun terhenti saat menyentuhnya.
“Ya!! Kau demam hah..?!! Bukankah Eomma sudah bilang kau paling sensitif dengan air hujan..anak ini~iissh..”Geram Wanita itu. “Lagipula barusan itu apa..?”Tanyanya curiga.
“Ahjumma~mianhae, sebenarnya ini semua salahku. Itu...” Rainy pun menceritakan semuanya. Waktu Baro berusaha menolongnya di sekolah sampai kejadian yang baru dilihat wanita itu.
“Jeongmal Jwiseonghamnida Ahjumma~ Baro hanya berniat membantuku. Tolong jangan memarahinya..” Ucap Rainy merunduk gadis itu merasa bersalah telah membuat Baro dimarahi oleh Ibunya.
“Hhaha..Rainy~ah!! Sayaaang..kau ini benar-benar polos..~!!” Jieun tiba-tiba saja tertawa. Membuat Rainy heran. Gadis itu tadinya berpikir kalau Ahjumma itu akan marah, tapi kenapa malah..?? Memangnya ada apa..??
“Kau mau saja percaya pada Baro yang berkata seperti itu..” Lanjut Jieun namun Rainy masih tidak mengerti maksudnya. Wanita itu lalu menarik Rainy sambil membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu “Hhaha..sini Ahjumma beritahu padamu..”
“Eomma~ANDWAE!!!*” Seru Baro berusaha mencegah Eomma nya namun terlambat. Raut wajah Rainy kini telah berubah. Wajah gadis itu itu kini memerah dan jelas sekali terlihat kalau ia terkejut. Baro yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya karna malu. Ah~menyebalkan.Kenapa Eomma harus mengatakannya sih..?! Ck..
Jieun menghela nafas.”Huft..kalau begitu Rainy~ah,temani tante membuatkan bubur untuk Baro ya? Ahjumma turun duluan..” Ucap wanita itu lalu menghilang dari balik pintu kamar.
Sunyi. Canggung. Itulah yang dirasakan keduanya saat ini. Mereka sama-sama bingung mau mengatakan apa. “Eum..aq mau bantu Ahjumma dulu.” Rainy mencoba beranjak namun tangannya kembali di tahan oleh Baro.
“Mianhae..aq tau seharusnya tidak membohongimu. Aq sama sekali tidak berniat memanfaatkanmu seperti yang kau kira..aq...” Rainy bisa melihat dengan jelas raut penyesalan di wajah pemuda itu. Dan sebenarnya ia sama sekali tidak marah padanya.
Entah mengapa, tiba-tiba saja Gadis itu mengecup pipi Baro sekilas. Spontan membuat pemuda itu menghentikan kalimatnya. Rainy yang baru menyadarinya kini berlari keluar kamar meninggalkan Baro yang masih tertegun di ranjangnya.
“Hha! Ahaha~..!!!Wow!!” Seru Baro seakan baru tersadar dari keterkejutannya. Pemuda itu terlalu senang hingga meloncat diatas ranjang sambil berteriak, tanpa menyadari Rainy yang berada di balik pintu kamar. Gadis itu tersenyum ceria sambil menutup wajahnya.
Keduanya tersenyum saat kembali mengingat apa yang baru saja dialaminya.. tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing...
The End
Nb: once again..thanks for all who has read it^^

0 comments:
Posting Komentar