Don't Touch Me !- Chapter 1



CAST:
Choi Jun Hee aka Juniel
Choi Minhwan (FT Island) 
Choi Eunjae

Pagi yang awalnya begitu cerah kini berubah menjadi gelap. Langit yang tadinya menampakkan sinar mataharinya, kini beralih menurunkan tetesan air hujan. Udara yang awalnya begitu hangat kini terasa dingin dan memilukan.
Sebuah mobil sedan berwarna biru baru saja keluar dari Universitas Seoul, Nampak seorang gadis sedang memandang kearah luar jendela mobil, ditemani oleh seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah supir pribadi dan seorang wanita yang bertindak seolah pengawal baginya.
“Nona Juniel..” Panggilan seseorang membuat lamunan gadis bernama Juniel itu buyar, kemudian berbalik. Orang yang memanggilnya tidak lain adalah salah seorang dari pengawalnya tersebut. “Maaf, saya hanya ingin memberitahukan bahwa tadi Nyonya baru saja menelpon dan mengatakan bahwa..”
“Dia sudah menemukan orang baru lagi kan!” Sela Juniel membuat wanita itu menatapnya dalam. Juniel menghela nafas pelan. “Aku sudah tau.” Ucapnya singkat kemudian memasang earphone miliknya ke telinga. Gadis itu kembali diam sambil menatap jalanan Seoul yang masih cukup ramai, seolah turunnya hujan tidak dapat menganggu aktifitas mereka. Sama seperti Eomma-nya, yang kini pasti masih berada di kantor dan sibuk dengan urusan perusahaan. Begitu sibuknya sampai-sampai walau hanya untuk mengatakan sesuatu begitu singkat dan memberitahukannya hanya melalui pengawalnya. Terutama dalam memilih orang baru. Orang yang nantinya memiliki peran yang penting dalam kehidupan Juniel. Mungkin.
♥:♥:♥

Mobil akhirnya tiba didalam pekarangan rumah. Tanpa membuang waktu lama, Juniel pun langsung bergegas memasuki rumah yang nampak luas dan besar itu.
“Nona, sudah pulang rupanya..” Sapa seorang wanita paruh baya berumur 50 tahun-an, keluar dari arah dapur membuat langkah Juniel terhenti saat berniat menaiki anak tangga.
“Ne. Aku sudah pulang, Yara Ahjumma!” Ucapnya tersenyum
“Malam ini, saya akan membuatkan makanan kesukaan Nona.” Terang Ahjumma yang tidak lain adalah pengurus rumah ini. Walaupun statusnya hanya seorang pengurus rumah tapi bagi Juniel, YaraAhjumma adalah sosok seorang Ibu. Yara Ahjumma, selalu ada disaat ia membutuhkan seseorang disampingnya, sejak kecil. Itulah sebabnya ia sangat menyayangi Ahjumma-nya itu. Bahkan mungkin, lebih dari ia menyayangi Ibu kandungnya sendiri.
Gomawo~yo Ahjumma! Aku sangat menyayangimu.” Katanya seraya memeluk Yara Ahjumma yang hanya tersenyum kecil mendengarnya. “Baiklah. Kalau begitu aku ganti baju dulu lalu nanti akan membantumu memasak.” Katanya seraya melepaskan pelukannya lalu berlari menaiki tangga tanpa memberikan kesempatan bagi Ahjumma-nya itu untuk menolak.
♥:♥:♥

Ahjumma, apa makanan ini tidak sedikit berlebihan?!” Tanya Juniel ditengah kegiatannya menyiapkan makanan diatas meja. Entah kenapa ia merasa ada yang berbeda dengan masakan Yara malam ini. Tidak biasanya ia memasak makanan dalam jumlah seperti ini. Bukankah mereka hanya berdua?
“Tidak, Nona. Semua ini tidak berlebihan. Menurut saya, semua ini masih dalam batas cukup. Untuk anda berdua.” Perkataan Yara Ahjumma membuat Juniel menatapnya heran. Seolah menyadari sesuatu.
“Tunggu..kau bilang..anda berdua? Apa maksud..” Ucapan Juniel mendadak terhenti saat matanya menemukan sesosok pemuda yang kini berjalan menghampirinya.
Tepat sekitar 1 meter dihadapan Juniel, pemuda itu menghentikan langkahnya lalu akhirnya tersenyum kecil. Juniel malah menatapnya heran.
Nuguseyo?” Tanya Juniel bingung
“Perkenalkan! Namaku Choi Minhwan, dan Nyonya Choi. Eomma-mu. Beliau adalah orang yang menyuruhku untuk datang kesini.” Tutur namja itu santai
Juniel masih menatapnya heran sampai akhirnya menyadari sesuatu. Gadis itu lalu memandangi tubuh pemuda bernama Minhwan itu dari kaki sampai kepala. Baju kaos merah yang tertutupi oleh sweaterberwarna putih, berpadu dengan celana jeans cokelat gelap. Beserta sebuah ransel yang cukup besar yang ia bawa di pundaknya.
Maldo andwae.” Ucap Juniel seolah tak percaya. Ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dihadapannya saat ini. Bagaimana mungkin Eomma-nya memilih seseorang yang masih begitu muda seperti orang ini. Terlebih lagi ini menyangkut tentang kehidupannya. “Apa kau yakin Eomma yang menyuruhmu? Maksudku apa..kau benar-benar bisa melakukannya dengan baik?” Tanyanya seolah tak yakin apa orang seperti ini benar-benar dapat menyelesaikan masalahnya.
Minhwan menatap tajam kearah Juniel sesaat. Detik berikutnya ia mendadak berjalan maju menghampiri gadis itu, membuat Juniel terkejut hingga melangkah mundur. Minhwan mendekatkan wajahnya kearah Juniel, membuatnya semakin terkejut hingga langsung menutup matanya.
“Hmm...” Gumam Minhwan pelan lalu akhirnya kembali menarik wajahnya membuat Juniel akhirnya membuka matanya pelan kemudian mundur beberapa langkah.
“Kau..apa yang baru saja kau lakukan?!” Tanya Juniel kesal sekaligus bingung
Minhwan sendiri hanya menghembuskan nafasnya pelan. “Sepertinya lumayan sulit.”
Mwo?” Tanya Juniel memastikan, membuat Minhwan mengangguk.
“Benar. Sepertinya akan cukup sulit bagiku untuk melakukannya.” Tutur Minhwan. “Tapi hal ini tidak akan menghalangiku, dan aku janji padamu..kalau aku tidak akan pergi dari sini sebelum berhasil mengatasinya.”
Juniel menatap pemuda dihadapannya itu takjub. Rasa percaya diri yang terlihat dalam diri Minhwan seolah membuat semangatnya yang dulu hilang, kini rasanya sedikit terangkat kembali. Harapan yang sejak kecil ia nantikan, namun hingga kini belum juga ada seseorang yang mampu mewujudkannya.
Sudah beberapa orang yang mencobanya, namun tetap saja tidak dapat mengatasi masalahnya ini. Jujur saja semua ini mulai membuat Juniel merasa lelah dan putus asa, namun bertemu dengan Minhwan seolah membuatnya kembali berharap, dan entah kenapa..untuk kali ini ia merasa dapat mempercayai seseorang.
“Baiklah!” Kata Minhwan tiba-tiba membuat Juniel tersadar dari lamunannya. “Mulai saat ini, aku Choi Minhwan berjanji..akan melakukan yang terbaik untukmu.” Seru Minhwan seraya mengulurkan tangannya membuat Juniel sedikit tersentak lalu mundur selangkah. Menyadari itu. Minhwan pun menarik tangannya cepat. “Ah iya~Maaf! Aku lupa..”
Juniel menatapnya dalam. “Tapi..Minhwan~si, apa kau yakin?” Tanyanya, jujur saja gadis itu merasa sedikit ragu. Bukannya takut kalau Minhwan tidak dapat melakukan yang terbaik, tapi takut jika justru nantinya ia yang akan mengecewakan pemuda itu.
Minhwan menatap dalam gadis dihadapannya itu cukup lama, lalu akhirnya tersenyum.
“Percayalah padaku.”
♥:♥:♥

Hari masih begitu pagi saat seseorang masuk kedalam kamar Juniel. Orang yang tidak lain adalah Minhwan. Namja itu memandang kearah Juniel yang nampak masih terlelap dalam tidurnya, kemudian berjalan pelan menghampirinya.
Kini sambil berdiri disamping tempat tidur, Minhwan menatap gadis itu sesaat lalu akhirnya tertawa kecil. “Nona Juniel~si, sudah waktunya untuk bangun!!” Serunya cukup keras membuat Juniel mulai menggeliat dari tempatnya.
Juniel yang masih dalam keadaan setengah sadar hanya membuka matanya perlahan lalu memandang kearah Minhwan sesaat, dan setelah itu kembali menutup wajahnya dengan selimut. Beberapa detik kemudian, seolah baru menyadari apa yang baru saja dilihatnya gadis itu pun membuka selimut untuk memastikannya. Dan benar saja, semua itu bukan mimpi. Orang itu benar-benar Minhwan, dan kini sedang berada di dalam kamar. Di dalam kamar?!
KYAAA!!” Pekiknya terkejut seraya melompat menjauh dari tempat tidurnya.
Minhwan sendiri ikut terkejut, bukan karna gadis itu tapi melainkan teriakannya. “Aiiissh~jinjja!!Yaa~kenapa teriakanmu kencang sekali. Telingaku seperti tertusuk sesuatu saat mendengarnya tau!!” Seru Minhwan seraya mengusap telinganya kanannya.
“Kau..ke..kenapa kau bisa masuk kedalam sini?! Apa yang kau lakukan padaku?! Siapa yang mengizinkanmu?!!” Juniel melontarkan pertanyaan bertubi-tubi
“Wah~kesadaranmu sudah kembali rupanya. Keurae..aku akan menjawabnya satu per satu.” Tutur Minhwan seraya mengangguk kecil. “Alasanku masuk kedalam kamar ini adalah untuk membangunkanmu, agar kita bisa segera memulai terapinya. Kenapa aku berani masuk kedalam sini, itu karna aku sudah mendapat izin dari Eomma-mu sendiri. Yara Ahjumma juga mengatakan bahwa saat tidur kau juga selalu tertutup. Jadi tidak perlu khawatir. Lagipula aku mungkin baru 10 menit menginjakkan kaki didalam sini, jadi mana mungkin aku melakukan hal yang tidak-tidak padamu!”
Ya! Tapi kan…” Juniel baru saja ingin membantah namun akhirnya menyadari semua yang dikatakannya hanya akan berbuah sia-sia. Toh! Semua ini sudah mendapat izin dari Eomma-nya. Ia pun akhirnya mengurungkan niatnya.
“Bagus! Sekarang kau sudah mengerti. Kalau begitu cepat ganti bajumu..aku tunggu dibawah.” Ucap Minhwan lalu berniat pergi dari sana
“Tunggu!” Panggilan Juniel menghentikan langkahnya. “Kita..mau kemana?” Tanyanya pada Minhwan, namun bukannya menjawab namja itu hanya tersenyum lalu kembali berjalan hingga akhirnya menghilang dari balik pintu kamar.
“Apa-apaan dia itu?! Namja aneh..” Ucap Juniel sedikit kesal namun akhirnya berjalan masuk kedalam kamar mandi.
♥:♥:♥

Tidak butuh waktu lama bagi Juniel untuk bersiap-siap, ia dan Minhwan pun kini sudah berada di pekarangan rumah.
“Sudah siap? Kalau begitu, Ayo!” Seru Minhwan lalu berlari kecil lebih dulu. Juniel yang tidak mengerti awalnya masih diam di tempat namun akhirnya ikut berlari mengikuti pemuda itu dari belakang.
Keduanya pun akhirnya berlari-lari kecil di pinggiran kota Seoul, nampak beberapa orang yang juga sedang melakukan lari pagi di sekitar sana.
Mwoya~baru lari seperti ini saja kau sudah kelelahan.” Ledek Minhwan saat Juniel berhenti sejenak seraya mengatur nafasnya.
Mwo?! Ya!! Kau piker mudah apa berlari dari rumah sampai kesini? Kau ini benar-benar…apa kau tau? Ini pertama kalinya aku melakukan hal seperti ini.” Balas Juniel sambil terus mengatur nafasnya.
“Justru karna itulah aku mengajakmu melakukannya.” Perkataan Minhwan barusan membuat Juniel memandangnya. Ia sama sekali tidak mengerti.
“Apa maksudmu?” Tanyanya membuat Minhwan berjalan mendekat kearahnya. “Jangan mendekat!” Pekiknya membuat pemuda itu mendengus pelan
Arasseo !! Eiiyy~jinjja…” Gerutu Minhwan kesal karna Juniel meneriakinya seperti seseorang yang ingin melakukan hal jahat pada gadis itu. Ia pun akhirnya berdiri dihadapan gadis itu dengan jarak sekitar 1 meter. “Kau tau..sikapmu yang seperti inilah yang membuatmu tidak pernah berhasil mengatasi ketakutanmu.” Juniel hanya menatapnya datar, masih tidak mengerti apa maksud Minhwan sebenarnya.
“Bagaimana mungkin kau bisa bertahan terus menerus berada di dalam rumah? Apa kau tidak ingin merasakan sejuknya udara di pagi hari dan hangatnya kebersamaan dengan orang lain seperti saat ini? Kau selalu menutup diri dan terus bersembunyi dari orang lain. Bukannya menghilang, tapi ketakutanmu justru hanya akan bertambah jika kau terus bersikap seperti itu” Lanjut Minhwan
Juniel masih memandangnya datar, namun kali ini ia tau apa maksud perkataan Minhwan. Semua yang dikatakan pemuda itu memang benar dan ia sama sekali tidak dapat mengelak saat ini.
“Minhwan~si..kau tau kan kalau aku…” Belum sempat Juniel melanjutkan kalimatnya seorang anak kecil yang tidak dikenal tanpa sengaja menabrak sebelah kanan tubuh gadis itu membuat Minhwan seketika membelalakkan matanya begitupula dengan Juniel.
Pusing. Itu adalah hal yang pertama kali dirasakan oleh Juniel. Penglihatannya kini seolah mulai berputar, jantungnya berdetak begitu cepat namun tubuhnya perlahan terasa begitu lemah. Detik berikutnya gadis itu pun jatuh pingsan di tempatnya. Ia kehilangan kesadarannya.
Beberapa orang kini memandang terkejut kearah Juniel, tidak terkecuali Minhwan. Namun berbeda dengan orang lain, tatapan Minhwan justru lebih menunjukkan kesedihan daripada rasa terkejut.
“Eh?! Bagaimana ini?! Apa dia baik-baik saja..?! Saya benar-benar minta maaf!” Kata seorang wanita seraya membungkukkan badannya sambil mengenggam tangan anak kecil yang tadi menabrak Juniel. Wanita yang tidak lain adalah Eomma dari anak itu. Minhwan yang melihat itu ikut menundukkan kepalanya pelan.
“Tolong…jangan dekati dia.”


#TBC

0 comments:

Posting Komentar