“Kau pikir aku akan menyerah semudah itu padamu? Pertandingan kali ini bukanlah pertandingan biasa bagiku. Pertandingan ini adalah pertandingan yang menentukan apa aku harus terus berusaha membuat Remi jatuh cinta padaku atau...membiarkannya tetap mempertahankan cintanya padamu.” Perkataan Kris barusan sontak membuat Lay mematung ditempatnya.
“Mwo..mworago?!” Tanya Lay berusaha memastikan
Kris menatapnya sebentar lalu tertawa kecil. “Jangan pura-pura tidak tau.” Lagi-lagi Lay terpaku di tempatnya. “Sejak awal kau sudah tau kalau Remi menyukaimu. Aku juga tau kalau kau..sebenarnya juga menyukai Remi. Hanya saja kau tidak berani mengatakannya dan lebih memilih menikmati perasaanmu sendiri. Saat Sani menyatakan perasaannya padamu, kau awalnya bingung namun karna tidak tega akhirnya kau memilih untuk menerimanya.” Lay tidak dapat berkata apa-apa. Entah bagaimana Kris bisa mengetahuinya, tapi semua yang dikatakan pemuda itu memang benar.
“Aku bisa menyadari semuanya selama bersama kalian hanya dalam beberapa hari ini. Awalnya aku belum yakin, tapi melihat responmu seperti saat ini. Sepertinya tebakanku tepat sasaran. Dasar pengecut! Kalau memang tidak berani mengatakannya jangan bersikap seolah-olah kau masih memberi harapan pada Remi. Sikapmu yang seperti ini hanya akan membuat Remi dan Sani bingung dan terluka!!” Seru Kris kesal. Lay sendiri tidak mampu berkata apa-apa. Pemuda itu masih mematung ditempatnya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata sikapnya selama ini hanya akan membuat Remi dan Sani terluka. Kedua orang yang juga merupakan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Jantung Lay seolah berhenti sesaat saat tanpa sengaja menemukan sosok Remi dan Sani yang kini memandang sedih sekaligus kesal kearahnya. Detik berikutnya Remi akhirnya berjalan pergi dari sana membuat Lay langsung berlari mengejarnya.
Meski dengan satu kaki terluka Remi tetap memaksakan dirinya dan berharap bisa pergi sejauh mungkin dari tempat itu namun seperti apapun usahanya tetap saja gagal, karna Lay bisa dengan mudah menahan lengannya saat berniat menyebrang jalan karna ingin menaiki taksi yang sudah dipanggilnya dari arah berlawanan.
“Remi~ya!!” Seru Lay sambil memegang lengan gadis itu
“Lepaskan aku!!” Tolak Remi seraya berusaha melepaskan genggaman Lay
“Remi~ya..kumohon! Aku sama sekali tidak berniat merusak hubunganmu dengan Kris. Aku benar-benar tidak tau kalau kau ternyata juga menyukaiku.” Tutur Lay
Remi menatap Lay kecewa. Masalah utama baginya sebenarnya bukanlah hubungannya dengan Kris, tapi Sani. Bagaimana mungkin Lay bisa melakukan ini pada sahabatnya sendiri. Mata Remi mendadak terarah pada kedua orang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya dan Lay. Kris dan Sani kini memandang kearah mereka berdua. Merasa kalau itu akan semakin melukai Sani, Remi pun langsung melepaskan genggaman Lay dan berlari menyebrangi jalan. Namun karna tidak berkonsentrasi saat menyebrang gadis itu tidak menyadari kalau ada sebuah mobil yang melaju tepat kearahnya.
Lay yang lebih dulu menyadari itu mendadak berlari kearah Remi dan langsung mendorongnya hingga selamat karna terjatuh di pinggiran jalan. Sebaliknya Lay yang tidak dapat menghindar saat menggantikan posisi Remi akhirnya tertabrak dan jatuh terhempas dari atas mobil.
“LAY!!!!” Pekik Remi sambil berjalan menghampiri Lay yang berlumuran darah. Begitupula Kris dan Sani yang melihat kejadian itu langsung berlari menghampiri mereka.
“Lay~ah..” Ucap Sani yang nampaknya begitu terkejut saat melihat keadaan Lay.
“Remi~ya..Sani~ya..Maafkan aku. Ak..aku sama sekali tidak berniat menyakiti ka..kalian berdua..Akkh!!” Rintih Lay saat merasakan sakit di tubuhnya.
“Bagaimana ini?! Kenapa darahnya begitu sulit dihentikan?!” Tanya Sani heran saat berusaha mengusap darah di kepala Lay namun seolah mengalir semakin cepat.
Seakan teringat sesuatu, mata Remi mendadak membulat. “Lay~ah!! Sudah hentikan! Jangan bicara lagi!” Perintahnya pada Lay. “Seseorang..kumohon panggil ambulans!! Cepat!!!!” Teriak Remi lagi.
“Mianhae..” Tepat setelah mengatakan itu Lay menutup matanya. Pemuda itu kini kehilangan kesadarannya.
“LAY..!!!”
♥:♥:♥
“Ini minumlah.” Ucap Kris seraya memberi sebuah minuman kalenh saat menghampiri Remi. Mereka berdua sedang berada di teras atas rumah sakit. Remi memang sengaja pergi ke tempat ini untuk menenangkan pikirannya setelah sempat dipanikkan oleh masa-masa kritis Lay yang sebelumnya terjadi. Beruntung saat-saat itu kini sudah berakhir dan Lay sudah diistirahatkan dalam sebuah ruangan,
“Aku..benar-benar takut.” Ucap Remi singkat. “Anak itu..kenapa dia begitu bodoh? Bukankah ia tau kalau dirinya mengidap Hemofilia, tapi kenapa ia masih saja melakukannya?!”
“Karna ia menyayangimu.” Jawaban singkat dari Kris membuat Remi berbalik menatapnya.
“Dia menyayangimu, itulah sebabnya dia ingin melindungimu bahkan melupakan dirinya sendiri.”
“Tapi aku takut. Takut kalau aku tidak bisa lagi..”
“Doremi.” Ucap Kris membuat Remi mendadak menghentikan kalimatnya. “Kau tau kenapa aku memanggilmu dengan nama itu?” Tanya Kris membuat gadis itu menggeleng.
“Itu adalah nama seorang gadis yang tumbuh bersama denganku di panti asuhan dulu. Doremi. Gadis kecil itu begitu periang dan selalu bersemangat, meski ia tau kalau umurnya tidak akan lama lagi.”
“Maksudmu?” Tanya Remi tak mengerti
“Doremi mengidap kanker darah sewaktu masih kecil. Leukimia yang memang merupakan penyakit keturunan dalam keluarganya. Saat itu ia masih kecil, tapi ia sadar seperti apa penyakit yang dideritanya. Namun walaupun begitu ia sama sekali tidak pernah mengeluh, bahkan tetap semangat dan ceria seperti biasa. Itu karna ia sadar, ia ingin menikmati dan memanfaatkan dengan baik hidup ini. Dan tetap menjadi Doremi yang periang dan semangat hingga ajal menjemputnya.” Remi menatap Kris yang masih memandang ke depan. “Aku ingin..kau seperti gadis kecil itu. Seberat apapun masalah yang menghampirimu kau harus bisa bertahan dan tetap menjalani segalanya dengan tersenyum. Karna hanya dengan begitulah, kau bisa merasakan kebahagiaan dalam hidupmu. Dan aku..selalu ingin melihatmu bahagia.”
Remi tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu terus mengamati Kris yang entah kenapa sejak tadi belum juga balik memandangnya.
“Jangan memandangiku terus..nanti kau bisa jatuh cinta padaku.” Kata Kris lalu akhirnya berbalik dan mendapati Remi yang ternyata belum mengubah posisinya. Gadis itu masih memandanginya.
“Gomawo.” Ucap Remi singkat membuat Kris menatapnya dalam lalu akhirnya tersenyum.
“Aku tidak ingin ucapan terima kasih seperti itu. Aku ingin dengan cara lain.”
“Apa itu?”
“Kiss.” Ucap Kris singkat. Jujur saja pemuda itu hanya bercanda namun mendadak ia terkejut saat Remi tiba-tiba saja menutup matanya.
“Lakukan saja kalau itu bisa menjadi pengganti kata Terima kasihku.” Ujar Remi
Kris memandang wajah gadis dihadapannya itu cukup lama. Sudah lama ia berharap bisa mengamati wajah Remi sampai sedekat ini. Ia pun mulai mendekatkan wajahnya perlahan dan akhirnya...
Remi yang terkejut karna sesuatu, mendadak membuka matanya dan mendapati Kris yang ternyata tidak menciumnya tetapi malah memeluknya.
“Aku bukan seorang namja yang tega mengambil kesempatan dalam kesempitan. Apalagi terhadap gadis yang kusukai.” Ujar Kris sambil memeluk erat tubuh Remi. Gadis itu sendiri seolah tetegun di tempatnya. Jantungnya mendadak berdegup kencang dan entah ingin sekali rasanya ia membalas pelukan Kris saat ini.
“Senang rasanya dapat memelukmu langsung seperti ini. Karna mungkin saja nanti aku tidak akan bisa melakukannya lagi.”
“Ap..apa maksudmu?” Tanya Remi heran
“Bukan apa-apa.” Jawab Kris singkat. “Ini adalah pertama sekaligus terakhir kalinya aku mengatakannya padamu.”
Saranghae..
♥:♥:♥
Remi masih tertidur lelap saat mendadak terusik oleh sesuatu. Rupanya seorang Suster masuk ke dalam ruangan lalu mengganti bunga dalam vas.
“Anda pasti lelah menunggu pasien semalaman. Seseorang menyuruh saya untuk memberikan ini pada anda.” Kata Suster tersebut seraya memberikan sebotol minuman vitamin kepada Remi.
“Siapa?” Tanya Remi heran. Suster itu terlihat berpikir sejenak.
“Maaf, dia tidak menyebutkan namanya.” Tutur sang Suster. “Oh iya, dia juga memberikan ini untuk anda.” Ucapnya lalu memberikan secarik kertas yang terlipat pada Remi. “Saya permisi dulu..” Pamit Suster itu lalu berjalan keluar kamar.
Tanpa membuang banyak waktu, Remi langsung membuka kertas tersebut lalu membacanya.
Sebelum membacanya kau harus minum vitamin itu dulu.
Kalimat pertama yang membuat Remi terkejut. Ia memang hampir lupa dengan minuman yang tadi diberikannya. Ia pun mengambil minuman itu lalu meneguknya sekali.
“Hmm..rasanya enak juga.” Gumam Remi lalu kembali membaca kertas itu.
Bagaimana? Rasanya enak kan?! Syukurlah kalau kau suka.Waktuku telah habis.Saat menyaksikan seberapa paniknya dirimu saat melihat Lay terluka,Seolah menyadarkanku bahwa sepertinya..aku telah gagal.Gagal membuatmu beralih mencintaiku.Sesuai janjiku sebelumnya, aku akan pergi untuk selamanya dari kehidupanmuMungkin minuman itu adalah hal terakhir yang dapat kuberikan untukmu.Good bye!My Doremi..
Remi memandangi kertas dihadapannya datar. Ia sadar orang yang menulis ini pasti adalah Kris. Mata Remi seketika membulat saat teringat akan sesuatu. Hari ini? Bukankah ini hari ke-3? Apa ini berarti Kris telah pergi dari kota ini..untuk selamanya?!
Remi mengenggam erat kertas ditangannya. Entah kenapa Jantungnya berdegup begitu kencang , dan nafasnya seolah sesak saat mengetahui hal itu. Apa yang terjadi dengannya? Bukankah ini memang perjanjian antara mereka berdua, bahwa jika gagal Kris akan langsung kembali ke Kanada dan tidak akan pernah kembali lagi kesini. Tapi kenapa hati Remi sakit saat mengetahui bahwa pemuda itu akan pergi meninggalkannya.
Remi menatap Lay cukup lama kemudian menutup mata, lalu perlahan menghembuskan nafasnya. Detik berikutnya gadis itu membuka mata, nampak terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya. Berusaha memastikan ia pun menaruh telapak tangannya di dada. Detakan itu belum berhenti.
“Remi~ya..” Sebuah suara menyadarkan Remi dari lamunannya, rupanya Lay yang sudah sadarkan diri.
“Lay..kau baik-baik saja?” Tanya Remi sambil menatap Lay yang tiba-tiba saja menggenggam tangannya.
“Joahaeyo.” Satu kata yang diucapkan Lay mampu membuat Remi seolah terpaku ditempatnya seketika. “Aku benar-benar menyukaimu, Oh Remi. Mungkin setelah ini atau bahkan sejak saat ini kau sangat membenciku. Tapi walau bagaimanapun aku akan tetap mengatakannya padamu. Maaf karna selama ini aku terus berpura-pura dan membiarkanmu seolah tetap berharap padaku. Maaf juga karna telah menodai persahabatan ini hingga membuatmu dan Sani terluka.”
“Aku sama sekali tidak pernah membenci siapapun. Merasa kesal mungkin, tapi bukan berarti aku membenci seseorang yang sudah menyakitiku. Kau adalah sahabatku yang terbaik saat ini dan selamanya.” Tutur Remi seraya tersenyum
“Selamanya..? Apa itu berarti aku hanya dapat menjadi sebatas sahabat denganmu seumur hidupku.” Remi menatap Lay dalam. Ia tau arah pembicaraan pemuda itu sekarang kemana.
“Lay..apa kau ingat? Dulu kau pernah mengatakan sesuatu padaku. Disaat seseorang berharap membayangkan orang yang disukainya tapi malah wajah orang lain yang hadir itu berarti apa yang ada di pikiran dan dihati orang tersebut berbeda. Dan kau berkata, akan lebih baik jika kita memilih apa kata hati.” Lay menatap Remi datar. Ia ingat memang pernah mengatakan hal itu pada gadis ini, tapi ia sama sekali tidak mengerti mengapa Remi mengatakan ini padanya.
“Tadi aku baru saja melakukan hal itu. Aku selalu mengatakan bahwa aku menyukaimu dan aku berharap bisa terus membayangkan wajahmu. Tapi apa kau tau apa yang terjadi saat aku melakukan itu? Wajah yang hadir saat aku menutup mataku bukanlah Lay yang aku sukai, tapi wajah orang lain. Dan orang itu adalah Kris.”
Lay sama sekali tidak mampu berkata apa-apa. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Remi akan mengatakan hal seperti ini. Dan sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu ternyata benar-benar memiliki perasaan pada Kris.
“Remi~ya..apa kau yakin bahwa kau benar-benar telah melupakan aku dan menyukai pemuda itu?” Tanya Lay berusaha memastikan
Remi menatapnya sesaat lalu tersenyum kecil. “Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku sudah melupakanmu. Tapi bukan berarti aku tidak bisa melakukannya.Maafkan aku, Lay.. Selama ini aku terus memikirkanmu dan berharap bisa bersamamu, tanpa menyadari bahwa ternyata ada cinta diluar sana yang begitu indah yang diciptakan untukku. Kau seperti sebuah otak bagiku, tapi saat ini Kris merupakan jantungku. Manusia tanpa otak mungkin hanya akan menjadi bodoh, tapi manusia tanpa jantung..dia tidak akan bisa hidup.” Tepat setelah mengatakan itu Remi pun bangkit dari tempatnya dan berniat pergi meninggalkan ruangan sampai mendadak menghentikan langkah dan kembali berbalik menatap Lay seraya tersenyum.
“Kau tau? Mencintai seseorang memang tidaklah mudah, tapi belajar mengenal dan mencintai orang lain mungkin bisa menjadi jalan terbaik untuk kita dalam menemukan kebahagiaan yang baru.” Ujar Remi lalu berbalik memandang kearah seorang gadis yang masih tertidur lelap di sofa ruangan. “Sani adalah gadis yang baik dan dia juga sangat menyayangimu. Aku yakin..kau bisa menemukan hal itu dalam dirinya jika kau ingin mencoba.” Kata Remi mengakhiri lalu kembali berjalan keluar ruangan meninggalkan Lay yang memandang kearah Sani.
♥:♥:♥
Remi sedang berada di Bandara Incheon sekarang, sejak tadi gadis itu terus saja berlari kesana kemari menjelajahi hampir setiap bagian dari bandara. Berharap bisa menemukan sosok Kris, namun sampai saat ini belum juga terkabul. Merasa dirinya mulai kelelahan, Remi pun akhirnya berjalan menuju bagian informasi.
“Permisi, saya ingin bertanya. Pesawat menuju Kanada..apakah sudah berangkat?” Tanyanya pada petugas di bagian informasi tersebut.
Petugas tersebut mengeceknya terlebih dulu, kemudian tersenyum. “Iya benar. Pesawat tersebut sudah berangkat sejak satu jam yang lalu.”
Hati Remi serasa mencelos saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh petugas itu. Remi berjalan meninggalkan tempat itu. Dengan langkah gontai dan tanpa arah gadis itu terus saja berjalan, detik berikutnya ia pun jatuh terduduk di lantai seolah kehilangan tenaganya. Dadanya terasa sakit sekaligus sesak saat ini, menyesali sikap bodohnya yang terlambat menyadari perasaannya. Airmata kini jatuh menetes membasahi pipinya.
Remi merasakan ngilu di kakinya dan beberapa orang juga kini memandang heran kerarahnya namun ia sama sekali sudah tidak perduli dengan semua itu. Harapannya kini telah hilang, dan Kris sudah pergi meninggalkannya. Untuk selamanya.
♥:♥:♥
Remi memasuki sebuah pekarangan rumah. Entah kenapa rasanya ia ingin sekali pergi ke tempat ini. Tempat yang tidak lain adalah Panti asuhan.
Remi tersenyum kecil memandang bangunan dihadapannya. Ini adalah tempat dimana dulu Kris membawanya dan menceritakan kehidupannya, juga tempat dimana Remi pertama kali merasakan detakan aneh terhadap pemuda itu namun sama sekali tidak menyadarinya. Bangunan ini memang sederhana, tapi dengan keadaan Remi yang seperti sekarang kehangatan dalam rumah ini mungkin dapat membantunya melupakan semua itu.
Tak ingin berlama-lama lagi, Remi pun berjalan masuk kedalam rumah. Gadis itu sedikit terkejut saat masuk kedalam, tidak ada seorangpun didalam.
“Oh?! Nona Remi, kan?” Ucapan seseorang membuat Remi berbalik dan mendapati Ibu kepala panti yang berjalan menghampirinya.
“Annyeong haseyo..” Sapa Remi seraya membungkukkan badannya pelan. Kepala panti itu tersenyum melihatnya.
“Ada apa? Apa ada masalah..?” Tanya Ibu itu membuat Remi terdiam sesaat lalu mengangguk pelan.
“Ne. Aku sama sekali tidak tau harus bagaimana saat ini, tapi entah kenapa hatiku seolah terus menyuruhku untuk ke tempat ini. Jadi aku pikir..mungkin dengan bermain dengan anak-anak disini bisa membuat perasaanku menjadi lebih tenang.” Tutur Remi
“Anak-anak sedang bermain di halaman belakang. Kau bisa menemukan mereka disana, bahkan mungkin bisa menemukan apa yang sebenarnya benar-benar kau cari.” Ucapan Ibu itu terdengar sedikit aneh sekaligus membingungkan bagi Remi. Tapi walau bagaimanapun gadis itu tetap mengikuti perkataannya dan berjalan menuju halaman.
Remi akhirnya tiba di halaman. Benar saja, rupanya semua anak-anak panti sedang bermain disana dan mereka bermain bersama dengan seseorang. Sinar matahari yang sedikit menyilaukan cukup menghalangi penglihatan Remi. Sampai akhirnya gadis itu tiba-tiba saja membelalakkan matanya tidak percaya. Sosok tinggi berambut cokelat keemasan, memakai kaos hitam biru dengan balutan perban di tangan kanannya. Jantung Remi mendadak berdegup sangat kencang, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Didepannya seseorang yang selalu ia cari kini sedang tertawa dan bermain bersama dengan anak-anak, tanpa menyadari kehadirannya.
“Kris..”Ucap Remi pelan membuat Kris nampak terkejut mendengarnya kemudian perlahan membalikkan wajah dan akhirnya mendapati Remi yang kini hanya berjarak sekitar 1 meter darinya. Keduanya terdiam, sama-sama terkejut dengan apa yang ditemuinya saat ini.
“Mianhae.” Ucap Kris akhirnya. “Aku tau kalau aku sudah melanggar perjanjian ini. Seharusnya aku sudah pergi sejak tadi dan tidak menampakkan diri lagi dihadapanmu. Tapi sebelum pergi aku ingin bermain dengan anak-anak ini dulu, karna ini adalah terakhir kalinya aku berada disini. Setelah ini aku akan kembali ke Kanada..dan tidak akan bisa bertemu mereka lagi. Begitupun denganmu.”
Remi tidak mengatakan apa-apa, sejak tadi gadis itu terus saja menatap datar kearah Kris.
“Kau tenang saja, secepatnya aku akan pergi dari sini. Dan sesuai janjiku aku tidak akan..” Kalimat Kris mendadak terhenti saat Remi tiba-tiba saja menarik wajahnya lalu mengecup bibirnya. Membuat dirinya dan semua yang berada disana terkejut seketika.
Perlahan Remi pun akhirnya melepaskan ciumannya, lalu menatap Kris dalam.
“Apa aku pernah mengatakan setuju tentang perjanjian itu? Apa aku pernah menyuruhmu pergi dari sini? Darimana kau tau kalau kau gagal membuatku jatuh cinta padamu?” Kris tidak menjawab. Pemuda itu masih menatap tajam kearah Remi yang kini mulai meneteskan airmatanya.
“Dasar bodoh! Apa kau tau bagaimana sedihnya aku saat tidak dapat menemukanmu di bandara? Aku berlari seperti orang gila kesana kemari mencarimu namun seolah kehilangan seluruh tenagaku saat tidak juga bisa menemukan sosokmu. Berpikir bahwa aku tidak akan pernah mendengar suara dan melihat wajahmu lagi. Berpikir bahwa kau benar-benar telah meninggalkanku dan tidak akan pernah lagi bertemu denganmu..” Tepat setelah Remi mengatakan itu Kris langsung menariknya dalam dekapan pemuda itu membuat tangis gadis itu pecah seketika. “Aku benci padamu! Aku benar-benar membencimu! Jangan tinggalkan aku. Tetaplah bersamaku.” Isak Remi seraya memukul pelan punggung Kris.
“Mianhae..aku sama sekali tidak menyangka kalau ternyata usaha yang kulakukan dalam 3 hari ini benar-benar berhasil membuatmu jatuh cinta padaku.” Tutur Kris tersenyum seraya mempererat dekapannya. “Oh iya, tadi itu kau nekat juga..”
Remi melepaskan dirinya perlahan. “Mwo? Maksudmu..?” Tanyanya heran
“Ciuman itu. Kau berani sekali melakukannya didepan anak-anak ini.” Mata Remi langsung membulat saat mendengarnya, ia benar-benar lupa akan semua itu. Tadi tubuhnya seolah tergerak dengan sendirinya. Merasa malu karna masih ditatap oleh anak-anak yang kini berbisik sambil tersenyum kecil kearah mereka membuat Remi langsung berbalik dan berniat pergi dari sana namun akhirnya terjatuh karna luka di kakinya yang belum sembuh total.
“Akkh!! Sakit!” Rintihnya sambil memijit pergelangan kaki kirinya.
“Babo.” Ucap Kris tersenyum kemudian mengangkat tubuh gadis itu lalu berjalan sambil menggendongnya. Membuat anak-anak disana seketika berseru kearah mereka, sebagian bahkan bersiul. Remi yang menyaksikan itu hanya mampu menyembunyikan wajahnya yang memerah karna malu dibalik dada Kris.
“Hati akan memilih sendiri siapa yang benar-benar diinginkannya..”
THE END
"Gomawo buat yg dah setia baca mpe selesai..Mian ya klu endingnya trkesan biasa atau apalah~author dah brusaha semampunya, jd mohon dimaklumi y.Sekali lgi Jeongmal Gamsahamnida~!!^^"


0 comments:
Posting Komentar