Sungmin menatap tajam wajah Wana yang tepat berada
dihadapannya.“Kau..Menyukaiku?!” Pertanyaan
Sungmin seketika membuat mata Wana terbuka lebar. Gadis itu sama sekali tidak
menyangka kalu Sungmin akan menanyakan hal seperti ini. Padanya.
Wana tak langsung menjawab, selama
beberapa saat ia dan Sungmin saling menatap satu sama lain.
“Ne. Joahaeyo.” Jawaban Wana membuat
Sungmin seketika terpaku di tempatnya. Walaupun Wana tau dirinya dan Sungmin
tidak akan bisa bersama, walau mungkin nantinya Sungmin atau Tuan Lee berniat
memecatnya ia tidak peduli. Dan walaupun ia tau..Sungmin tak pernah
menyukainya. Ia akan tetap mengatakan perasaannya. Ia tidak ingin memendamnya
lebih lama lagi.
Sungmin yang mendengar jawaban dari
Wana tampak seolah begitu terkejut. Ia sama sekali tidak pernah menyangka kalau
gadis itu ternyata benar-benar menyukainya. Padahal tadi ia berpikir jika Wana
sudah menjawab tidak, maka ia bisa menggunakan hal tersebut. Kenapa seseorang
yang tidak menyukainya harus repot-repot menyatukannya kembali dengan mantan
kekasihnya?. Tapi ternyata dugaannya salah besar. Wana malah menjawab
sebaliknya.
“Aku menyukaimu Sungmin~si. Aku
sengaja melakukan semua ini karna aku ingin orang yang aku sukai bisa tersenyum
kembali. Aku harap kau bisa kembali dengannya.” Ujar Wana seraya memandang
kearah Eunsu yang tidak menyadari mereka.
“Haah~sepertinya aku terlalu banyak
bicara.” Wana menghela nafas saat menyadari Sungmin belum mengatakan apapun
sejak tadi. “Pergilah. Aku akan menunggumu di Taman sana. Aku tidak ingin
menjadi penghalang lagi bagimu dan Eunsu untuk bersatu kembali. Sudah cukup bagiku
karna merasa telah menjadi penyebab berpisahnya kalian.” Setelah mengatakan itu
Wana pun akhirnya berjalan meninggalkan Sungmin yang masih menatapnya pergi.
Wana akhirnya memutuskan duduk di
bangku Taman yang letaknya tidak jauh dari Cafe. Pandangan gadis itu menerawang
kedepan. Bayangan saat Sungmin menemui Eunsu terlintas dibenaknya. Jujur saja.
Hal itu membuatnya sedih. Gadis mana yang bisa begitu tenang melihat namja yang
disukainya bersama dengan yeoja lain. Sekalipun yeoja itu adalah mantan kekasihnya.
Wana menghela nafas.”Keurae.~memang
sudah seharusnya seperti ini.” Ujarnya lalu tersenyum.”Apa yang aku lakukan
sudah benar.”
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Sungmin menatap mocca hangat
didepannya. Sejak tadi ia dan Eunsu belum bicara apapun setelah menyapanya.
“Oppa..” Ucap Eunsu akhirnya.
“Apa gadis itu yang memintamu
kesini..?” Tanya Sungmin membuat Eunsu memandangnya sebentar lalu kemudian
mengangguk pelan.
“Oppa mianhaeyo..” Ujar Eunsu membuat
Sungmin memandangnya heran. “Aku...tidak bisa kembali.”
Sungmin hanya diam. Bukankah
seharusnya ia merasa kesal, kecewa atau bahkan sedih saat mengetahui hal itu.
Tapi entah mengapa kalimat itu seolah tidak berpengaruh padanya saat ini. Ia
tidak mengerti.
“Wae? Apa kejadian di klub itu..?!”
“Aniiyo~oppa. Sejujurnya alasan
utamaku meminta putus darimu bukanlah karna hal itu. Itu karna aku mempunyai
namja lain” Sungmin menatapnya tak percaya. Benarkah?!
Jadi selama ini Eunsu..?. “Mianhaeyo~oppa. Aku melakukan ini bukan
karna aku jenuh denganmu. Hanya saja aku baru menyadari kalau kita tidak
cocok.” Sungmin memandang Eunsu tidak mengerti. “Selama hampir setahun kita
pacaran, setiap kali aku meminta ini dan itu kau pasti akan langsung
mengabulkannya tanpa berpikir lebih dulu. Awalnya aku senang dengan semua itu.
Tapi setelah mengenal namja itu semuanya menjadi berbeda. Ia mampu
mengajarkanku bagaimana caranya menyukai seseorang tanpa harus bergantung pada
orang tersebut. Dan aku benar-benar merasa bahagia akan hal itu. Bukan hanya
kebahagiaan sebagai seorang kekasih, tapi juga sebagai seseorang yang bisa
menjadi panutan dalam hidupku.”
Mendengar penjelasan dari Eunsu
membuat Sungmin tertegun. Dia tidak pernah menyangka kalau Eunsu yang biasanya
begitu manja padanya kini dapat berpikir dewasa seperti saat ini. Hal itu
membuatnya kagum.
“Arasseo. Eunsu yang sekarang kini
sudah mampu berpikir lebih matang dan dewasa. Sejujurnya walau begitu berbeda
dengan dirimu yang dulu, aku tetap senang akan hal ini. Keuraeso~ Chukhaeyo
untuk kalian berdua.” Sungmin tersenyum sambil mengulurkan tangannya
“Gomawo~yo..Oppa.”Eunsu meraih uluran
tangan Sungmin seraya tersenyum senang. “Oh..malam ini benar-benar dingin.”
Seru Eunsu sambil menyeruput Mocca hangat diatas meja. “Selain itu..tiba-tiba
juga turun Salju.”
“Mwoya~ bukankah tadi pagi prakiraan
cuaca memang mengatakan bahwa akan turun salju malam ini.” Sergah Sungmin
tertawa pelan.
Eunsu sedikit terkejut mendengarnya.
“Oh jinjja?! Aku tidak tau sama sekali.” Sungmin sendiri hanya mengangguk
mengiyakan.
Sungmin memperhatikan butiran-butiran
es kecil yang terus saja jatuh dari langit. Sampai kemudian mendadak ia
teringat akan sesuatu. “Aiish~dasar bodoh. Dia kan juga tidak
tau akan hal ini.” Gumamnya. Ia baru ingat kalau tadi Wana hanya memakai jeans
dan sweater yang tidak begitu tebal.
“Oppa~kau begitu khawatir padanya. Apa
mungkin..kau menyukainya?” Tanya Eunsu penasaran.
“Mw..mwo?! Tentu saja tidak. Aku hanya
tidak ingin kalau dia kenapa-kenapa. Maksudku, kalau dia sakit kan aku juga
yang repot.”
“Eum..begitu yah. Kalau begitu kenapa
tidak kau jemput saja? Diluar sedang turun salju. Dia pasti akan kedinginan
kalau disana terus.”
“Mwo?1 Hha~Dia itu bukan gadis lembut
sepertimu. Aku berani jamin kau akan terkejut kalau tau seperti apa dia
sebenarnya. Lagipula..sebentar lagi kau akan melihatnya masuk kedalam mobil
karna merasa dingin diluar.”Kata Sungmin seolah tetap acuh padahal sejujurnya
ada sedikit rasa khawatir dalam dirinya saat ini. Eunsu sendiri hanya
mengangguk seolah mengiyakan, walau sebenarnya ia tau pemuda itu sedang
berbohong. Bagaimana mungkin ia tidak tau? Sudah hampir setahun Eunsu bersama
Sungmin. Aneh kalau dia sama sekali tidak tau kebiasaan Sungmin seperti apa.
Selama 5 menit Sungmin memandangi
mobilnya diluar. Tidak ada tanda-tanda bahwa Wana pernah mendekati mobil itu
sekalipun. Salju yang turun juga kini semakin lebat. “Apa
dia bodoh..?” Batinnya.
Harus Sungmin akui kali ini dirinya benar-benar khawatir.
Sungmin akhirnya bangkit dari
tempatnya duduk.”Eunsu~ya..aku harus pergi.”
Seolah paham Eunsu mengangguk lalu
tersenyum.”Arra~pergilah.”
Sungmin baru ingin keluar dari pintu
sampai kemudian ia terhenti.”Gomawo~yo Eunsu..” Ucapnya pada Eunsu kemudian
berlari keluar Cafe. Ia sudah mengerti. Semuanya.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Wana tersadar dari lamunannya saat
butiran-butiran es kecil jatuh dihadapannya. “Oh?! Salju? Kenapa malam ini
tiba-tiba turun salju?!” Wana baru saja berniat melangkah menuju mobil sampai
ia tiba-tiba berhenti. “Andwae..kalau aku kesana dan sampai terlihat, Eunsu
pasti bisa salah paham lagi. Dan mereka pasti tidak akan..? Ah~andwae..pokoknya
tidak boleh. Aku harus tetap disini!” Ucapnya lalu kembali duduk.
Sudah lebih dari 5 menit Wana duduk
disana. Hal itu benar-benar membuatnya kedinginan. Tapi ia tetap pada
pendiriannya, ia tak akan pergi kesana sebelum Eunsu dan Sungmin selesai dengan
urusannya. “Brrr..huuft, dasar Wana babo!! Andai aku tau akan turun salju aku
pasti tidak akan meninggalkan sweaterku dalam mobil. Argggh~babooo!!” Umpat
Wana pada dirinya sendiri. Wana berusaha menghangatkan dirinya dengan
mengusa-usap lengannya sendiri. Namun tidak berhasil, kini semakin lama udara
semakin dingin. 5 menit lagi ia masih disini, Wana yakin dirinya pasti sudah
menjadi patung es pertama yang terpajang di taman ini. *lebay :P
“Brrr..dingin sekali!!” Ucap Wana
mengusap kedua telapak tangannya.
Tepat saat ia selesai mengatakan itu
seseorang tiba-tiba saja mendekapnya dari belakang. “Kalau begini sudah hangat
belum?!”
“OMO~!! Su..Sungmin~si?!!” Seru Wana lalu
berdiri seraya melepaskan pelukan pemuda itu.
Sungmin sendiri menatapnya
heran.”Waeyo?! Tidak suka?”
Wana terlihat masih kaget, itu
sebabnya ia tidak langsung menjawab. Atau mungkin ia ragu mengatakan yang
sebenarnya. “Eum..anii~itu..”
Belum sempat Wana melanjutkan
kalimatnya Sungmin sudah kembali menariknya dalam pelukannya. Membuat Wana
lagi-lagi terkejut. “Babo. Kenapa harus tetap bertahan diluar dengan udara
dingin seperti ini?!” Tanya Sungmin yang masih memeluk erat Wana. “Apa kau tau
bagaimana khawatirnya aku padamu tadi hah?!”
Ucapan Sungmin kali ini membuat Wana
tertegun seketika. Benarkah
yang didengarnya barusan? Kalau Sungmin..mengkhawatirkannya?!
Wana mencoba memastikan
sesuatu.”Sungmin~si..mungkinkah kau..”
“Joahaeyo~” Mendengar jawaban Sungmin
barusan membuat detak jantung Wana seolah terhenti sesaat. Ia benar-benar tidak
pernah menyangka Sungmin akan mengatakan hal itu. “Keurae..aku menyukaimu Shin
Wana. Bersama dengan Eunsu selama hampir setahun dibandingkan denganmu beberapa
hari ini benar-benar terasa berbeda. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi
aku..benar-benar merasa menjadi diriku saat bersamamu. Aku selalu merasa ingin
bersamamu walaupun nantinya hanya pertengkaran yang akan terjadi. Aku
merindukan semua itu. Aku..merindukanmu.”
Wana sudah tidak dapat menahan lagi
genangan airmatanya. Ia hanya bisa membiarkan airmata itu mengalir deras di
pipinya. Semua ini benar-benar diluar dugaannya. Ia sama sekali tidak pernah
berpikir Sungmin akan membalas perasaannya. Tapi kenyataan berbeda. Pemuda itu
menyukainya.
“Ya~jangan bilang kalau saat ini kau
menangis?! Aku tidak pernah melihat ada Singa yang menangis. Itu merupakan
pelecehan besar tau..” Canda Sungmin. Wana yang merasa kesal langsung
melepaskan diri.
“Mworago?! Neo jinjja..YA!! Lee Sungmin!!
Enak saja kau mengataiku seperti itu. Kau pikir aku ini ap..” Wana kembali
terkejut saat Sungmin tiba-tiba saja mengecup bibirnya. Wana sampai tidak bisa
berbuat apa-apa saking terkejutnya.
“Kau ini benar-benar
berisik..!!” Ucap Sungmin saat ia melepaskan ciumannya. Wana tidak langsung
menjawab. Dirinya masih sulit mencerna apa yang baru saja terjadi. Sungmin
malah tersenyum melihat kelakuan Wana. “Kau menyukainya?!”.
Gadis itu menatapnya bingung.”Eh?!
Mwo?!”
“Kisseu~...kau menyukainya kan?! Woah~aku
tidak menyangka gadis sepertimu ternyata bisa bersemu juga dengan hal seperti
itu..Hhaha” Kekeh Sungmin.
“MWORAGO?!! Kesal sekaligus malu kini
menyatu dalam pikiran Wana.
“Gwencana~ tenang saja. Aku jamin ini
bukan yang terakhir kalinya aku akan melakukan itu padamu. Hehehe..”
Wana menatap Sungmin tak percaya.
“Mworago?!”
“Yaa..Ya!! Tatapan macam apa
itu?! Kau ini satu-satunya Slave yang berani menatapku seperti itu.”
Protes Sungmin.
“Yaa~bukankah sudah kubilang jangan
memanggilku seperti itu.” Kesal Wana lalu beranjak pergi dari tempat itu namun
Sungmin lebih dulu menariknya dalam pelukan namja itu.
“Mianhae~ tadi itu aku hanya
bercanda.” Ujar Sungmin. Pemuda itu tampak menyesal. Wana sendiri hanya
menghela nafas. “Aku berjanji tidak akan memanggilmu dengan sebutan seperti itu
lagi. Cause you’re not Slave...You’re my Girlfriend. Benar kan?” Wana
mengangguk seraya tersenyum kecil membuat Sungmin mempererat dekapannya.
“Sungmin~ah, bisa tidak kau
melepaskanku sekarang?!” Pinta Wana.
Sungmin pun akhirnya
melepaskannya.”Waeyo?! kau tidak suka dipeluk oleh namjachingumu sendiri..?!”
“Bukan begitu~ aku hanya...”
“Aah~aku tau. Kau pasti lebih suka
jika aku mencium mu kan?! Hhaha!! Yaa~!! Benar-benar gadis yang mengejutkan.”
Tawa Sungmin. Mendengar hal itu seketika membuat Wana membelalakkan matanya. Padahal tadi ia menyuruh Sungmin untuk
melepaskannya karna merasa sedikit sulit bernafas saat dipeluk. Tapi yang
terjadi malah..?
“MWO?!!! Yaa~Neo..” Belum sempat Wana
melanjutkan kata-katanya Sungmin tiba-tiba saja mencondongkan tubuhnya. Wana
yang berpikir kalau Sungmin akan menciumnya lagi kini mendadak menutup mata
sambil tertunduk. Tapi anehnya tidak ada yang terjadi. Wana pun akhirnya
membuka mata hingga menemukan wajah Sungmin yang berada tepat didepan wajahnya.
CUP!! Sebuah kecupan
singkat mendarat di pipi kanan Wana membuatnya sedikit kaget. “Kali ini aku
mengalah. Tapi seperti yang aku bilang sebelumnya, itu bukanlah yang terakhir
kali aku melakukannya. Jadi kau harus siap-siap.” Bisik Sungmin ditelinga gadis
itu seraya mengedipkan sebelah matanya. Lalu kemudian berjalan pergi.
Baru beberapa detik saat Sungmin
mendadak menghentikan langkahnya. “Waeyo?! Lebih suka jadi patung es disinikah
daripada pulang bersamaku?!” Tanyanya saat menyadari Wana yang belum beranjak
dari tempatnya.
“Houfft~jinjja..~” Wana sendiri hanya
melongo sesaat namun kemudian tertawa dan akhirnya berlari menghampiri Sungmin.
THE END
#Hhaaaa~finally..selese juga..
neomu..neomu gamsahaeyo bwt kalian yg
dah bca mpe
part trakhir..hehe *bow*^^


0 comments:
Posting Komentar