Fiance Part 6



“Ieru~ya!!” Seru Sungyeol saat Ieru selesai mengikuti kuliah terakhirnya dan berjalan pulang. Namun tidak ada jawaban. Gadis itu terus saja berjalan dan kini berniat menyebrang jalan. Ieru yang sama sekali tidak memperhatikan jalan tidak menyadari ada sebuah mobil yang melaju kencang kearahnya. Dan akhirnya...
Tepp!!
Beruntung Sungyeol yang cepat berlari kearahnya dengan sigap menarik lengan Ieru.
“Ya~MICEOSSO?!!! Kau mau mati hah?!!” Bentak Sungyeol masih menggenggam lengan gadis itu.
“Geumanhae..aku ingin pulang. Lepaskan aku.” Jawab Ieru lemah seraya berusaha melepaskan diri dari genggaman Sunyeol dan berniat pergi. Sungyeol yang kesal kembali menarik gadis itu.
“BABO~YA!! Neo waegurae?! Apa kau pikir dengan terus-terusan sedih seperti ini orangtuamu bisa tenang diatas sana?! Melihat anak mereka satu-satunya kini kehilangan semangat sampai-sampai tidak memperdulikan kehidupannya lagi!!”
“LALU AKU HARUS BAGAIMANA HAH?!! Apa aku harus tertawa riang gembira menganggap seolah-olah semuanya baik-baik saja dan tak ada yang terjadi?!!” Teriak Ieru tak kalah. Keduanya kini saling menatap tajam satu sama lain.
“Ikut aku!” Sungyeol tiba-tiba saja menarik tangan Ieru dan masuk kedalam taksi yang baru saja dihentikan oleh pemuda itu. Ieru sama sekali tidak melawan, ia tau Sungyeol akan membawanya ke suatu tempat.
::::::::::::::::::::::::::::::::::
Hening. Baik Sungyeol  maupun Ieru sama-sama tidak mengatakan apapun. Keduanya kini berada didalam bianglala yang sedang berputar.
“Mwoya?! Apa kau pikir dengan membawaku ke tempat hiburan seperti ini bisa membuatku senang dan melupakan semua yang terjadi?!” Ucap Ieru dengan nada yang lumayan tinggi. Sungyeol sendiri tidak menjawab dan hanya menatap gadis itu.
“Yaa Lee Sungyeol! Kenapa kau diam saja hah?!!” Ieru mulai berteriak sambil menarik sweater yang dikenakan Sungyeol. “Cepat jawab aku!! Kenapa kau diam saja!! Apa kau tidak punya mulut?!! Dasar brengsek!!” Teriak Ieru seraya memukul dada pemuda dihadapannya itu. Perlahan teriakan Ieru mulai berubah menjadi sebuah isakan. Ia benar-benar tidak bisa menahan airmatanya lebih lama lagi. Saat itulah Sungyeol langsung menarik gadis itu dalam pelukannya. “Nappeun namja! Kenapa kau melakukan ini padaku!! Hiks..hiks..” Ucap Ieru menangis sambil terus memukul Sungyeol. Pemuda itu sendiri hanya membiarkannya, dia ingin gadis itu meluapkan semua kesedihannya ditempat ini. Saat ini juga.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
“Ini..minumlah.” Sungyeol memberikan sebuah minuman kaleng hangat pada Ieru. Ia lalu duduk disamping gadis itu. Keduanya sedang berada ditaman yang letaknya tidak jauh dari tempat hiburan tadi. “Wah~udara sudah mulai dingin padahal ini masih sore. Sepertinya malam ini akan turun salju..” Pemuda itu sengaja menggenggam minumannya demi mendapatkan rasa hangat.
“Gomawoyo Sungyeol~ah..’ Kata Ieru pelan membuat Sungyeol berbalik menatapnya. “Karna telah membantuku mengeluarkan semuanya. Sesuatu yang selama ini tidak dapat kulakukan.”
Tiba-tiba saja Sungyeol mengulurkan tangannya dihadapan Ieru. Membuat gadis itu menatapnya bingung. “Mwoya ige..?”
“Bayaranku. Karna telah berhasil membantumu..kau sendiri kan yang bilang.” Ucapan Sungyeol membuat Ieru melongo sesaat lalu detik berikutnya tersenyum. “Oh?! Bertambah! Karna kau tersenyum.” Tambah Sungyeol.
Ieru yang mendengarnya malah tertawa pelan. “Haha..jinjja!!”
“Woah~sekarang seharusnya aku dapat bonus karna berhasil membuatmu tertawa..”
“Ahaha..jinjja! Geumanhae~!!” Pekik Ieru tertawa sambil memukul pelan lengan pemuda itu.
Namun bukannya berhenti, Sungyeol malah semakin menjadi. “Oho~! Kali ini ditambah 2 kali lipat. Karna kau berani memukulku..”
Dan begitu seterusnya. Sore itu pun berakhir dengan tawa dan canda. Sejak dulu Sungyeol memang selalu saja tau cara membuatnya tertawa kembali. Dan tni jugalah salah satu alasan mengapa Ieru selalu merasa nyaman saat bersama pemuda itu.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Hari sudah malam dan Sungyeol baru saja pergi setelah berhasil mengantar Ieru sampai dirumah Keluarga Nam. Gadis itu kini berjalan masuk kedalam rumah, namun saat berniat memasuki kamarnya langkahnya mendadak terhenti. Mata Ieru menatap kamar Woohyun sejenak, sampai akhirnya ia berjalan masuk kedalam.
Woohyun yang kebetulan baru saja kembali dari dapur melihat hal itu. Namun ia membiarkannya, ia ingin tau apalagi yang diinginkan gadis itu dikamarnya. Selangkah demi selangkah ia mengikuti Ieru dari jauh. Ternyata gadis itu masuk kedalam kamarnya hanya karna ingin menuju ke pantai.
“Mwoya?! Apa yang dilakukan gadis itu di pantai malam-malam begini?! Oh?! Jangan- jangan dia ingin..?” Gumam Woohyun khawatir. Beruntung saat tiba di dekat air Ieru langsung duduk dipasir membuat pemuda itu merasa lega. Ia pikir tadi gadis itu ingin melompat kedalam air karna putus asa, tapi syukurlah tebakannya salah. Woohyun pun lalu memperhatikan Ieru dari belakang.
“Appa..Eomma, maafkan sikapku tadi yah?! Aku benar-benar menyesal.” Ujar Ieru. “Kalian..bahagia diatas sana kan?! Aku merindukan kalian..Jeongmal bogoshippo~” Ieru menatap bintang di langit lama, detik berikutnya air mata kembali menetes dipipinya. Dengan cepat gadis itu mengusapnya.”Ssh~mianhaeyo Appa..Eomma, aku berjanji mulai sekarang akan hidup bahagia dan tidak akan bersedih lagi.” Ucap Ieru berusaha tersenyum, namun yang terjadi malah airmatanya mengalir semakin deras. Gadis itu kembali terisak. Salju yang turun ditambah angin laut yang dingin benar-benar membuat hatinya terasa pilu saat ini. Namun Ieru sudah tidak peduli lagi. Ia ingin meluapkan semuan kesedihannya saat ini, karna setelah hari ini ia akan memulai hidup bahagia seperti janjinya pada kedua orangtuanya.
Woohyun menatap nanar gadis dihadapannya saat ini. Kehilangan orang-orang yang kita sayangi memang bukanlah suatu hal yang mudah dilalui. Itu sebabnya selama ini ia hanya membiarkan sikap diam Ieru, bukan karna tidak peduli. Tapi karna ia tau gadis itu perlu waktu untuk semua ini. Ingin sekali rasanya ia mendekap dan membiarkan Ieru menangis sepuasnya di dadanya. Entah mengapa melihat gadis itu menangis membuat hatinya merasakan sesuatu. Perih.
 Akhirnya pemuda itu pun memutuskan untuk menemani Ieru sampai gadis itu selesai. Setengah jam sudah berlalu dan Ieru sama sekali belum beranjak dari tempatnya.
Melihat cuaca yang sudah sangat dingin ditambah salju yang tak kunjung berhenti membuat Woohyun merasa khawatir. “Sebenarnya sampai kapan dia ingin terus berada disini?!” Mata namja itu kini mengarah pada Ieru yang mulai terlihat aneh. Akhirnya Woohyun pun memberanikan diri mendekati gadis itu. Nampak Ieru dalam posisi menundukkan kepala pada kedua lututnya. “Yaa..” Panggil Woohyun. Tapi Ieru sama sekali tidak bergerak. Namja itu lalu mencoba memanggilnya lagi. “Yaa~Song Ieru!!” Woohyun benar-benar terkejut saat ia menyentuh tangan Ieru. Tangan gadis itu benar-benar dingin, bahkan seolah hampir membeku. Tanpa berkata apa-apa lagi Woohyun langsung mengangkat tubuh Ieru lalu cepat membawanya masuk kedalam rumah. Woohyun menatap Ieru yang kini berada dalam gendongannya. Bibir gadis itu gemetar hebat, tanda bahwa ia benar-benar kedinginan saat ini. Detik kemudian Woohyun tiba-tiba saja mempererat pegangannya pada Ieru, lebih tepatnya mempererat dekapannya.
Setelah menyuruh Jiae Ahjumma menggantikan pakaian Ieru dan memberikan selimut hangat untuk Ieru, Woohyun pun kembali masuk kedalam kamar gadis itu.
Woohyun duduk disamping ranjang sambil memandang Ieru yang sedang tertidur. “Dasar gadis bodoh~kau selalu saja membuatku khawatir.” Tangan Woohyun kini mulai mengusap pelan kepala Ieru. Ia menghela nafas pelan. “Mungkin aku tidak tau bagaimana cara untuk membuatmu tersenyum. Tapi setidaknya aku bisa ikut merasakan apa yang kau rasakan saat ini..” Woohyun mulai mencondongkan tubuhnya dan berniat mengecup dahi gadis itu sampai akhirnya terhenti karna baru menyadarinya. Ia sendiri cukup terkejut dengan apa yang baru saja ingin dilakukannya. Iapun akhirnya menarik diri lalu berniat pergi dari sana sampai langkahnya kembali terhenti. Woohyun lalu berbalik kembali menatap kearah Ieru.
“Tidak mungkin..”

#TBC

0 comments:

Posting Komentar