“Ieru~ya!!” Seru Sungyeol saat Ieru selesai mengikuti
kuliah terakhirnya dan berjalan pulang. Namun tidak ada jawaban. Gadis itu
terus saja berjalan dan kini berniat menyebrang jalan. Ieru yang sama sekali
tidak memperhatikan jalan tidak menyadari ada sebuah mobil yang melaju kencang
kearahnya. Dan akhirnya...
Tepp!!
Beruntung Sungyeol yang cepat berlari kearahnya dengan
sigap menarik lengan Ieru.
“Ya~MICEOSSO?!!! Kau mau mati hah?!!” Bentak Sungyeol
masih menggenggam lengan gadis itu.
“Geumanhae..aku ingin pulang. Lepaskan aku.” Jawab Ieru
lemah seraya berusaha melepaskan diri dari genggaman Sunyeol dan berniat pergi.
Sungyeol yang kesal kembali menarik gadis itu.
“BABO~YA!! Neo waegurae?! Apa kau pikir dengan
terus-terusan sedih seperti ini orangtuamu bisa tenang diatas sana?! Melihat
anak mereka satu-satunya kini kehilangan semangat sampai-sampai tidak
memperdulikan kehidupannya lagi!!”
“LALU AKU HARUS BAGAIMANA HAH?!! Apa aku harus tertawa
riang gembira menganggap seolah-olah semuanya baik-baik saja dan tak ada yang
terjadi?!!” Teriak Ieru tak kalah. Keduanya kini saling menatap tajam satu sama
lain.
“Ikut aku!” Sungyeol tiba-tiba saja menarik tangan Ieru
dan masuk kedalam taksi yang baru saja dihentikan oleh pemuda itu. Ieru sama
sekali tidak melawan, ia tau Sungyeol akan membawanya ke suatu tempat.
::::::::::::::::::::::::::::::::::
Hening. Baik Sungyeol
maupun Ieru sama-sama tidak mengatakan apapun. Keduanya kini berada
didalam bianglala yang sedang berputar.
“Mwoya?! Apa kau pikir dengan membawaku ke tempat hiburan
seperti ini bisa membuatku senang dan melupakan semua yang terjadi?!” Ucap Ieru
dengan nada yang lumayan tinggi. Sungyeol sendiri tidak menjawab dan hanya
menatap gadis itu.
“Yaa Lee Sungyeol! Kenapa kau diam saja hah?!!” Ieru
mulai berteriak sambil menarik sweater yang dikenakan Sungyeol. “Cepat jawab
aku!! Kenapa kau diam saja!! Apa kau tidak punya mulut?!! Dasar brengsek!!” Teriak
Ieru seraya memukul dada pemuda dihadapannya itu. Perlahan teriakan Ieru mulai
berubah menjadi sebuah isakan. Ia benar-benar tidak bisa menahan airmatanya
lebih lama lagi. Saat itulah Sungyeol langsung menarik gadis itu dalam
pelukannya. “Nappeun namja! Kenapa kau melakukan ini padaku!! Hiks..hiks..” Ucap
Ieru menangis sambil terus memukul Sungyeol. Pemuda itu sendiri hanya
membiarkannya, dia ingin gadis itu meluapkan semua kesedihannya ditempat ini. Saat
ini juga.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
“Ini..minumlah.” Sungyeol memberikan sebuah minuman
kaleng hangat pada Ieru. Ia lalu duduk disamping gadis itu. Keduanya sedang
berada ditaman yang letaknya tidak jauh dari tempat hiburan tadi. “Wah~udara
sudah mulai dingin padahal ini masih sore. Sepertinya malam ini akan turun
salju..” Pemuda itu sengaja menggenggam minumannya demi mendapatkan rasa
hangat.
“Gomawoyo Sungyeol~ah..’ Kata Ieru pelan membuat Sungyeol
berbalik menatapnya. “Karna telah membantuku mengeluarkan semuanya. Sesuatu yang
selama ini tidak dapat kulakukan.”
Tiba-tiba saja Sungyeol mengulurkan tangannya dihadapan
Ieru. Membuat gadis itu menatapnya bingung. “Mwoya ige..?”
“Bayaranku. Karna telah berhasil membantumu..kau sendiri
kan yang bilang.” Ucapan Sungyeol membuat Ieru melongo sesaat lalu detik
berikutnya tersenyum. “Oh?! Bertambah! Karna kau tersenyum.” Tambah Sungyeol.
Ieru yang mendengarnya malah tertawa pelan.
“Haha..jinjja!!”
“Woah~sekarang seharusnya aku dapat bonus karna berhasil
membuatmu tertawa..”
“Ahaha..jinjja! Geumanhae~!!” Pekik Ieru tertawa sambil
memukul pelan lengan pemuda itu.
Namun bukannya berhenti, Sungyeol malah semakin menjadi.
“Oho~! Kali ini ditambah 2 kali lipat. Karna kau berani memukulku..”
Dan begitu seterusnya. Sore itu pun berakhir dengan tawa dan
canda. Sejak dulu Sungyeol memang selalu saja tau cara membuatnya tertawa
kembali. Dan tni jugalah salah satu alasan mengapa Ieru selalu merasa nyaman
saat bersama pemuda itu.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Hari sudah malam dan Sungyeol baru saja pergi setelah
berhasil mengantar Ieru sampai dirumah Keluarga Nam. Gadis itu kini berjalan
masuk kedalam rumah, namun saat berniat memasuki kamarnya langkahnya mendadak
terhenti. Mata Ieru menatap kamar Woohyun sejenak, sampai akhirnya ia berjalan
masuk kedalam.
Woohyun yang kebetulan baru saja kembali dari dapur
melihat hal itu. Namun ia membiarkannya, ia ingin tau apalagi yang diinginkan
gadis itu dikamarnya. Selangkah demi selangkah ia mengikuti Ieru dari jauh.
Ternyata gadis itu masuk kedalam kamarnya hanya karna ingin menuju ke pantai.
“Mwoya?! Apa yang dilakukan gadis itu di pantai
malam-malam begini?! Oh?! Jangan- jangan dia ingin..?” Gumam Woohyun khawatir.
Beruntung saat tiba di dekat air Ieru langsung duduk dipasir membuat pemuda itu
merasa lega. Ia pikir tadi gadis itu ingin melompat kedalam air karna putus
asa, tapi syukurlah tebakannya salah. Woohyun pun lalu memperhatikan Ieru dari
belakang.
“Appa..Eomma, maafkan sikapku tadi yah?! Aku benar-benar
menyesal.” Ujar Ieru. “Kalian..bahagia diatas sana kan?! Aku merindukan
kalian..Jeongmal bogoshippo~” Ieru menatap bintang di langit lama, detik
berikutnya air mata kembali menetes dipipinya. Dengan cepat gadis itu
mengusapnya.”Ssh~mianhaeyo Appa..Eomma, aku berjanji mulai sekarang akan hidup
bahagia dan tidak akan bersedih lagi.” Ucap Ieru berusaha tersenyum, namun yang
terjadi malah airmatanya mengalir semakin deras. Gadis itu kembali terisak.
Salju yang turun ditambah angin laut yang dingin benar-benar membuat hatinya
terasa pilu saat ini. Namun Ieru sudah tidak peduli lagi. Ia ingin meluapkan
semuan kesedihannya saat ini, karna setelah hari ini ia akan memulai hidup
bahagia seperti janjinya pada kedua orangtuanya.
Woohyun menatap nanar gadis dihadapannya saat ini. Kehilangan
orang-orang yang kita sayangi memang bukanlah suatu hal yang mudah dilalui. Itu
sebabnya selama ini ia hanya membiarkan sikap diam Ieru, bukan karna tidak
peduli. Tapi karna ia tau gadis itu perlu waktu untuk semua ini. Ingin sekali
rasanya ia mendekap dan membiarkan Ieru menangis sepuasnya di dadanya. Entah
mengapa melihat gadis itu menangis membuat hatinya merasakan sesuatu. Perih.
Akhirnya pemuda
itu pun memutuskan untuk menemani Ieru sampai gadis itu selesai. Setengah jam
sudah berlalu dan Ieru sama sekali belum beranjak dari tempatnya.
Melihat cuaca yang sudah sangat dingin ditambah salju
yang tak kunjung berhenti membuat Woohyun merasa khawatir. “Sebenarnya sampai
kapan dia ingin terus berada disini?!” Mata namja itu kini mengarah pada Ieru
yang mulai terlihat aneh. Akhirnya Woohyun pun memberanikan diri mendekati
gadis itu. Nampak Ieru dalam posisi menundukkan kepala pada kedua lututnya. “Yaa..”
Panggil Woohyun. Tapi Ieru sama sekali tidak bergerak. Namja itu lalu mencoba
memanggilnya lagi. “Yaa~Song Ieru!!” Woohyun benar-benar terkejut saat ia
menyentuh tangan Ieru. Tangan gadis itu benar-benar dingin, bahkan seolah
hampir membeku. Tanpa berkata apa-apa lagi Woohyun langsung mengangkat tubuh
Ieru lalu cepat membawanya masuk kedalam rumah. Woohyun menatap Ieru yang kini
berada dalam gendongannya. Bibir gadis itu gemetar hebat, tanda bahwa ia
benar-benar kedinginan saat ini. Detik kemudian Woohyun tiba-tiba saja
mempererat pegangannya pada Ieru, lebih tepatnya mempererat dekapannya.
Setelah menyuruh Jiae Ahjumma menggantikan pakaian Ieru
dan memberikan selimut hangat untuk Ieru, Woohyun pun kembali masuk kedalam
kamar gadis itu.
Woohyun duduk disamping ranjang sambil memandang Ieru
yang sedang tertidur. “Dasar gadis bodoh~kau selalu saja membuatku khawatir.” Tangan
Woohyun kini mulai mengusap pelan kepala Ieru. Ia menghela nafas pelan.
“Mungkin aku tidak tau bagaimana cara untuk membuatmu tersenyum. Tapi
setidaknya aku bisa ikut merasakan apa yang kau rasakan saat ini..” Woohyun
mulai mencondongkan tubuhnya dan berniat mengecup dahi gadis itu sampai
akhirnya terhenti karna baru menyadarinya. Ia sendiri cukup terkejut dengan apa
yang baru saja ingin dilakukannya. Iapun akhirnya menarik diri lalu berniat
pergi dari sana sampai langkahnya kembali terhenti. Woohyun lalu berbalik
kembali menatap kearah Ieru.
“Tidak mungkin..”
#TBC


0 comments:
Posting Komentar