“Youngmin~si..Gwencanayo?!!
Omo~lenganmu berdarah!!” Pekik Rizu saat melihat darah yang memenuhi lengan
baju pemuda itu. Gadis itu benar-benar khawatir dan juga panik. Itulah mengapa
ia lalu merobek ujung kain bajunya dan berniat menutup lengan Youngmin agar
pendarahannya bisa berhenti.
“Dwaesso!!..tidak usah pedulikan aku. Cepatlah
pulang!!” Youngmin menepis tangan gadis itu.
“YAA!! JO YOUNGMIN!! Aku tau kalau kau tidak
menyukaiku, tapi setidaknya bersikap baiklah sedikit padaku!! Aku kan hanya
ingin membantumu!!” Kata Rizu kesal lalu kembali mengikatkan kain itu ke lengan
Youngmin yang berdarah. Ia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda itu sangat
keras kepala.
“Aku tidak butuh bantuanmu!! Lagipula aku kan
sudah bilang..kau tidak tau..”
Ucapan Youngmin terhenti saat Rizu lebih dulu menyelanya.
“Arra!! Aku memang tidak tau apa-apa tentang dirimu!! Yang kutau saat ini hanya
satu. Aku ingin menolong seseorang yang terluka karna berusaha melindungiku.
Apa aku salah?!! Neo jiinca~Apa kau tau bagaimana paniknya diriku saat melihat
kau hampir saja tertusuk Hah?!! Aiissh~ dasar namja brengsek!!” Entah apa yang
terjadi dengannya. Saat ini Rizu sendiri tidak tau apa yang diucapkannya. Kalimat
itu terucap begitu saja. Dan yang
semakin membuatnya bingung, airmata malah menetes di pipinya.
“Keurae~aku memang brengsek! Karena itu… akan
lebih baik jika kita tidak bersama-sama.” Tanpa berkata apa-apa lagi Youngmin
menaiki motornya lalu melaju meninggalkan Rizu sendirian. Gadis itu masih
terisak di tempatnya, perkataan Youngmin barusan membuat dadanya terasa sakit.
Satu hal yang ia sadari saat ini. Ia
menyukai pemuda itu.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Siang ini Ke 4 anak kembar itu kini sedang
makan bersama di kantin. Ini pertama kalinya mereka kembali berkumpul lengkap
seperti ini.
“Oh?! Hyung..aku baru sadar kalau lenganmu
terluka. Wae irae?!” Tanya Kwangmin saat melihat lengan hyungnya yang dibalut
perban. Mendengar itu seketika Rizu menjadi resah.
“Gwencana..ini karna aku kurang hati-hati saat
mengendarai motor kemarin. Makanya terluka saat terjatuh.” Jawab Youngmin
berbohong. Membuat Rizu memandang kearahnya, namun yang ditemukan gadis itu
hanyalah ekspresi tenang dan dingin seperti biasa. Tidak, bahkan pemuda itu
tidak melihatnya sama sekali.
“Eh..by the way, bukankah besok rencananya
kelas kita akan mengadakan liburan sehari ke gunung. Menurut kalian bagaimana?”
Tanya Kwangmin antusias.
“Menurutku itu pasti akan menyenangkan. Banyak
hal yang bisa kita lakukan disana..” Sahut Rizu yang pertama kali berbicara.
“Kau sendiri bagaimana Rara~ya?!!” Tanya
Kwangmin beralih ke Rara.
“Eh?! Aku?! Eum..kalau aku sama saja dengan
yang dikatakan unnie. Kita mungkin bisa menemukan pengalaman baru
disana..”Jawabnya tersenyum pelan.
“Hmm..benar juga. Hyung..menurutmu sendiri
bagaimana?!” Kali ini Kwangmin beralih pada Hyungnya yang dari tadi hanya diam.
“Menurutmu sendiri bagaimana?!” Youngmin balik
bertanya.
“Eumm~kalau menurutku sendiri hal itu akan
menyenangkan. Selain kita bisa menemukan suasana baru untuk refreshing kita
juga bisa menemukan pengalaman baru seperti yang dikatakan Rara tadi..”
Jelasnya pada Youngmin.
“Sekarang kau sudah mendengar jawabanku..”
Ucapan Youngmin membuat mereka semua bingung tidak mengerti.
“Semua yang kau katakan adalah apa yang ingin
aku katakan juga. Jadi aku tidak perlu memberitahumu lagi..” Kata Youngmin
santai lalu menyeruput minumannya.
Kwangmin yang mendengarnya tidak bisa
mengatakan apa-apa lagi. Hyungnya ini memang selalu seperti itu. Ia hanya bisa
tersenyum menatap Hyungnya. Sesaat kemudian ia teringat akan sesuatu “Ah~iya..aku
sampai lupa. Bukankah sore ini kita harusnya latihan dance?!”. Youngmin,Rizu,
dan Kwangmin memang sama-sama memiliki kemampuan dalam bidang dance. Itulah
sebabnya mereka terkadang latihan bersama.
“Iya benar. Aku hampir saja lupa..~!!” Kata
Rizu yang juga baru menyadarinya. Gadis itu memang semangat kalau soal menari.
“Mian~ kali ini aku tidak bisa..kau tau
sendiri kan..” Ucap Youngmin seraya
menunjukkan lengannya pada Kwangmin.
Kwangmin langsung mengerti.”Arasseo~hyung!!
Kau istirahat saja dulu..”
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Rara sebenarnya bisa pulang lebih dulu setelah
pelajaran berakhir. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang menahannya. Gadis itu
begitu ingin melihat Kwangmin dan Unnie nya yang sedang latihan. Sesampainya disana,
ia hanya menyaksikan mereka dari balik pintu karna tidak berani untuk masuk
kedalam. Selain karna sifatnya yang memang pemalu itu juga karna ia sama sekali
tidak mempunyai alasan tepat untuk bergabung bersama mereka.
Harus ia akui saat menyaksikan mereka,
keduanya terlihat begitu keren dan enerjik. Gerakan-gerakan mereka berpadu
dengan baik satu sama lain. Saat sedang asik menyaksikan, tiba-tiba Rizu
terjatuh membuat Rara terkejut dan spontan hampir masuk kedalam. Untung saja
ada Kwangmin yang lebih dulu menghampirinya. Entah apa yang mereka bicarakan
hingga kemudian pemuda itu mulai mengurut pergelangan kaki Rizu. Dan entah
mengapa pemandangan itu terlihat sedikit aneh dimata Rara. Saat ini wajah
Kwangmin terlihat begitu khawatir. Apa
mungkin Kwangmin menyukai Unnie? . Rara tau tidak seharusnya ia seperti
ini. Kwangmin memang tunangannya. Tapi siapa yang bisa menjamin kalau namja itu
menyukainya dan tidak akan menyukai orang lain? Sekalipun orang itu adalah
Unnie nya sendiri. Dan jika ternyata hal itu benar, maka hanya satu hal yang
bisa dilakukannya. Memutuskan pertunangan ini. Lebih tepatnya memutuskan
pertunangannya dengan Kwangmin. Tanpa ia sadari airmatanya jatuh menetes.
“Rara~si..apa yang kau lakukan disini?” Sebuah
suara yang amat dikenalnya membuat gadis itu terkejut.
“Ah Youngmin~si..anii,aku tadinya ingin
menanyakan sesuatu pada Unnie. Keundae..aku tidak ingin menganggu latihan
mereka.” Rara berusaha menyembunyikan airmatanya. “A..aku..pulang duluan ya.
Annyeong” Pamitnya lalu berjalan meninggalkan Youngmin yang menatapnya. Pemuda
itu sebenarnya sudah tau kalau tadi Rara sedang menangis. Sesaat kemudian,
pemuda itu melihat kearah ruang latihan. Menatap lama Kwangmin dan Rizu yang
masih bersama. Kini ia tau mengapa gadis itu menangis.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Seperti yang telah diketahui sebelumnya, hari
ini kelas mereka akan mengadakan liburan ke gunung. Rizu dan Rara sedikit
terlambat datang karna mereka baru menyelesaikan persiapannya. Rara yang naik
ke bus lebih dulu terkejut karna ternyata tempat duduk didalamnya sudah hampir
terisi semua. Kecuali 2 tempat kosong. Yakni disebelah Kwangmin dan Youngmin.
“Rara~ya!! Disini..” Seru Kwangmin yang lebih
dulu melihat Rara sambil melambaikan tangannya. Melihat pemuda itu seketika
mengingatkannya pada kejadian kemarin. Dan harus ia akui saat ini, diriny masih
belum bisa menerima hal itu. Ia pun berjalan maju.
“Mi..mian..aku mau duduk disini saja.”
Langkahnya terhenti saat berada disebelah tempat duduk Youngmin.
“Youngmin~si..bolehkah aku duduk disini?” Tanya Rara sopan. Kwangmin yang
mendengarnya sedikit terkejut.
Youngmin sendiri tidak langsung menjawab, dia
menatap gadis itu lebih dulu. “Duduklah..” Ucapnya singkat seraya tersenyum
membuat Rara ikut tersenyum lalu duduk disebelahnya. Kwangmin yang melihatnya
hanya mampu tertegun. Bukan hanya pemuda itu,ternyata ada seseorang lagi yang
menyaksikannya. Rizu.
Pandangan gadis itu sempat bertemu dengan
Youngmin sampai kemudian pemuda itu mengalihkan pandangannya keluar jendela.
“Baiklah~semuanya cepat naik. Kita sudah mau
berangkat..” Seruan Songsaenim membuat Rizu tersadar. Ia pun berjalan menuju
tempat Kwangmin. “
Kwangmin~ah..aku boleh duduk disini?” Tanyanya.
Kwangmin~ah..aku boleh duduk disini?” Tanyanya.
“Anii~!!” Jawaban Kwangmin seketika membuat
Rizu melongo. Hingga sesaat kemudian pemuda itu tertawa “Hhaha..keurom!!
memangnya kapan aku melarangmu?!! Aku malah senang kau mau duduk disini!!”
Wajah Rizu seketika berubah ceria. Lalu ia pun duduk disamping pemuda itu.
Kwangmin selalu bisa membuatnya tertawa disaat yang tepat.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Setelah
selesai mendirikan tenda bersama Unnie nya. Rara bergegas meninggalkan tempat
itu menuju ke tempat dekat sungai. Sebuah tempat yang sangat tenang dimana
tidak ada seorangpun disana.
Udara yang sejuk berpadu dengan suara air yang
mengalir pelan dan suara serangga kecil. Benar-benar menakjubkan. Hal itu
membuat Rara ingin melakukan sesuatu. Sesuatu yang selama ini selalu ingin ia
lakukan di tempat terbuka seperti ini. Menyanyi. Yah benar, menyanyi adalah
satu kegemaran gadis ini. Hanya saja dia terlalu pemalu dan tertutup hingga
hanya melakukannya disaat-saat tertentu.
Rara menutup matanya, lalu kemudian
perlahan-lahan mulai bernyanyi. Gadis itu menyanyi sambil tersenyum, ia
benar-benar menghayati lagu tersebut. Suaranya yang lembut dan indah
benar-benar menyatu dengan alam disekitarnya.

0 comments:
Posting Komentar