Sudah
seminggu setelah kejadian di kantin. Semenjak hari itu Rizu dan Youngmin sangat
jarang menyapa satu sama lain. Sama halnya dengan Kwangmin dan Rara, mereka
juga terkadang sulit berkomunikasi dikarenakan Rara yang memiliki sifat
cenderung pendiam. Berbeda dengan Kwangmin yang selalu ceria.
Hari ini kelas mereka ada pelajaran olahraga.
Sejujurnya saat ini tubuh Rara sedang tidak baik. Bagaimana tidak, sejak pagi
lambungnya terus saja terasa sakit entah kenapa. Namun lagi-lagi ia sengaja
menyembunyikannya.
“Baiklah..sekarang kita lakukan pemanasan
dulu. Lari keliling lapangan sebanyak 5 kali.” Perintah Songsaenim membuat
semuanya mulai berlari. Putaran pertama dan kedua memang belum bermasalah bagi
Rara. Tapi berbeda saat di putaran ketiga, Perih di lambungnya menjadi sangat
kuat. Sakit sekali. Meski begitu ia masih tetap berusaha berlari. Ia tidak
ingin terlihat sebagai gadis yang lemah, apalagi di depan Kwangmin. Namun
sekuat apapun Rara berusaha, dia tidak mungkin bisa melawan penyakitnya saat
ini. Alhasil ia pun ambruk di pinggir lapangan membuat semua orang terkejut,
termasuk Kwangmin yang kemudian berlari menghampirinya.
“Ya Kim Rara!! Neo waegurae?!!” Seru Kwangmin
seraya mengguncang tubuh Rara. Namun tidak ada respon sama sekali. Gadis itu
pingsan.
“Rara~ya!! Waegurae?!!” Tanya Rizu yang panik
saat menghampiri Rara.
“Songsaenim..izinkan saya membawa Rara ke
Uks..” Kata Kwangmin.
“Sepertinya kau langsung bawa saja dia ke
rumah sakit Kwangmin~ah!! Karna di Uks saat ini tidak ada siapapun.” Terang
Songsaenim yang langsung diiyakan oleh Kwangmin. Tanpa membuang waktu lagi
pemuda itu langsung menggendong Rara.
“Aku ikut,Kwangmin~ah!!” Kata Rizu berniat
pergi namun Kwangmin menahannya.
“Tidak usah..bukankah setelah ini ada ulangan
matematika?! Kalau kau ikut, bisa-bisa kau tidak ujian.” Baru saja Rizu ingin
bicara lagi. Kwangmin sudah lebih dulu menyelanya. “Percaya padaku. Dia akan
baik-baik saja..” Katanya tenang.
“Hmm..baiklah. eh keundae..kau sendiri
bagaimana?! Itu artinya kau juga..”
“Gwencana..~aku bisa mengurusnya nanti.”
“Jeongmal gomawo~yo, Kwangmin~ah..” Kwangmin
hanya tersenyum seraya mengangguk, kemudian bergegas membawa Rara ke mobil
miliknya.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Rara membuka matanya pelan. Mengamati
langit-langit ruangan yang berwarna putih. Tercium bau obat-obatan. Dia tau ini
rumah sakit, tapi yang ia bingung kenapa ia bisa berada disini? Memangnya apa
yang terjadi?. Saat ia sibuk berpikir seseorang tiba-tiba membuka pintu.
“Kau ini…kenapa jadi bodoh seperti itu?!” Tanya
Kwangmin menghampiri Rara. Dokter barusan mengatakan semuanya pada dirinya.
“Mwo?” Tanya Rara heran sampai kemudian
mengerti maksud pemuda itu.“Ah~chogii..mianhae. Aku hanya berpikir masih bisa
melakukan itu walaupun dengan keadaan seperti ini..” Ia benar-benar merasa
bersalah.
“Haah~dwaesso..lain kali jangan memaksakan
sesuatu lagi kalau memang tidak bisa. Hufft..untunglah kau tidak apa-apa.” Ucap
Kwangmin lega. Rara memperhatikan pemuda itu sebentar. Apa mungkin Kwangmin khawatir padaku? Memikirkan itu membuat jantung
gadis itu berdetak lebih cepat. Ia senang sekali
“Baiklah..kalau begitu, sekarang ayo kita
kembali.” Pinta Kwangmin yang dibalas anggukan oleh Rara. Saat mereka menuju
pintu keluar rumah sakit,tiba-tiba saja Rara berhenti. Ada sesuatu yang menarik
perhatiannya. Tanpa berkata apa-apa ia berbalik menghampiri seorang nenek yang
sepertinya begitu lelah dan lemah. Rara lalu memperhatikan beberapa lembar
kertas yang dipegangnya. Kwangmin menatap gadis itu bingung. Apa yang sebenarnya ingin dilakukannya..?
“Haelmoni~apa anda ingin melakukan semua tahap
pengobatan ini..?” Tanya Rara sopan. Nenek itu hanya mengangguk mendengarnya.
Mendadak Rara berbalik kearah Kwangmin. “Kwangmin~si..apa tidak apa-apa kalau
kau kembali duluan?”
Kwangmin menatapnya heran.”Mwo?! Memangnya ada
apa..?”
Rara tersenyum.“Aku..ingin menemani Haelmoni
menyelesaikan pengobatannya.” Kwangmin tertegun mendengarnya. Jadi dia...?
“Mwoya..~kalau begitu aku akan menemani kalian
sampai selesai..”
“Eh?! Keundae..bukankah masih ada 1 pelajaran
terakhir di sekolah?!”
“Ya~apa maksudmu?! Apa kau pikir aku bisa
meninggalkanmu sendirian disini?! Babo~ya..” Rara terdiam mendengarnya. Melihat
itu Kwangmin langsung menyadari ucapannya barusan. “Eum..mianhae~aku bukannya
bermaksud marah. Hanya saja aku sudah berjanji pada Rizu untuk menjagamu.”
Perkataan Kwangmin membuat gadis itu sedikit tenang. Ia tau kalau pemuda itu
memang tidak bermaksud kasar padanya.
Seperti yang dikatakannya, Rara benar-benar
membantu nenek itu menyelesaikan pengobatannya. Walau harus bolak-balik dari
suatu tempat ke tempat lainnya ia sama sekali tidak pernah terlihat lelah. Ia sungguh-sungguh
menolongnya. Diam-diam Kwangmin memperhatikan Rara yang sedang membantu
membersihkan sisa makanan di pinggir mulut nenek itu. Gadis ini..? bukankah kondisinya sendiri belum baik? Lagipula..hanya
orang bodoh yang tidak bisa menebak kalau saat ini ia kelelahan. Tapi..ia masih
saja berusaha tersenyum.
Setelah mengantar nenek itu pulang kerumahnya.
Kwangmin lalu mengantar Rara pulang kerumahnya. “Rara~ya, sudah sampai” Ucap
Kwangmin saat mereka tiba didepan pagar. Rara yang tertidur karna lelah jadi
bangun.
“Ah~sudah sampai..mianhae aku sampai tertidur.
Oh ya, Kwangmin~si..hari ini jeongmal gomawoyo..sampai jumpa.” Sapanya.
Kwangmin tidak menjawab, ia terus memperhatikan gadis itu. Firasatnya tidak
enak. Dan benar saja, tepat saat Rara berjalan masuk tubuhnya tiba-tiba
terhuyung lemah. Untung saja Kwangmin berhasil menangkapnya. “Agh neo jiinca..”
Tiba-tiba saja Kwangmin menggendongnya. Membuat gadis itu terkejut setengah
mati. “Kwangmin~si..apa yang kau lakukan..?!!!” Serunya. Namun Kwangmin tidak
menjawab,dia terus membawa gadis itu sampai dikamarnya lalu membaringkannya
disana.
“Haah~kau ini..berat sekali. Badanku sampai
sakit semua..” Ucap Kwangmin sambil meregangkan tubuhnya. Rara merasa menyesal
karna itu. “Mianhae..~”
“Ah~jiinca..aku benar-benar bingung denganmu.
Kau ini terlalu baik atau terlalu bodoh sih?! Aku kan hanya bercanda..” Pemuda
itu malah terkekeh. Rara yang baru menyadarinya hanya tersenyum malu. Perasaan itu
sudah hadir.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Saat ini sudah pukul 9 malam, dan Rizu masih
tetap berniat pergi ke Supermarket dekat rumah. Sebenarnya ia biasa pergi
bersama dengan Rara,tapi berhubung adiknya itu sedang sakit jadi dia terpaksa
belanja sendirian.
Satu demi satu barang yang ia perlukan
dikumpulkannya. Namun ia terkejut saat berniat mengambil sebuah camilan.
Seseorang yang sama sekali tidak ia harapkan muncul dari kejauhan. Youngmin
ternyata sedang membeli sesuatu disana. Berpikir bahwa Youngmin belum
melihatnya, membuat Rizu berniat secepatnya pergi dari tempat itu. Gadis itu
masih merasa canggung jika bertemu lagi dengan pemuda itu. Sekalipun mereka
adalah tunangan.
Satu per satu barang telah di check di kasir,
namun sial saat ingin membayar Rizu ternyata lupa membawa dompetnya. Membuat
gadis itu panic seketika. “Egh..cho..chogii, bisakah kalau saya membayarnya
lain kali. Aku..aku pasti akan membayarnya nanti. Aku lupa membawa dompetku..”
Pinta Rizu.
“Maaf nona..tapi kami tidak bisa melakukan
itu..ini adalah peraturan di supermarket kami.” Sahut Karyawan di kasir itu.
Hal itu membuat Rizu bertambah panik. Bagaimana
ini?! Padahal aku sudah berjanji pada Rara akan menikmatinya bersama-sama...
“Tolong satukan jumlahnya dengan milikku.
Nanti biar aku yang membayar belanjaan gadis ini..” Sebuah suara yang begitu
dikenal oleh Rizu membuat gadis itu terpaku seketika. Jo Youngmin. Dengan gugup
Rizu berbalik kearah Youngmin,tapi pemuda itu tidak memperdulikannya sama
sekali. Selesai membayar, tanpa berkata apa-apa Youngmin langsung pergi
meninggalkannya. Padahal gadis itu berniat berterima kasih. Apa dia masih marah padaku?
Otak Rizu yang terus saja memikirkan banyak
hal membuat gadis itu tidak memperhatikan jalannya. Ia baru saja menyadari
kalau jalan yang dilaluinya saat ini ternyata sepi sekali. Tidak ada seorangpun
disini. Tiba-tiba saja firasatnya tidak enak. Ia merasa kalau ada seseorang
yang sedang mengikutinya. Dan benar saja, saat ia berniat pergi tiba-tiba saja
ada 2 orang preman yang menahannya.
“Wah~nona cantik..mau kemana sendirian
malam-malam begini..?” Kata salah seorang preman itu sambil tertawa.
“Ya~!! Ma..mau apa kalian..jangan
macam-macam..!!” Gertak Rizu berusaha untuk terlihat tenang.
“Haha~tidak usah galak begitu. Kami hanya
ingin main sebentar denganmu..ayolah..~” Ucap preman yang satunya lagi. Kali
ini mereka mulai menarik tangan Rizu. Sejujurnya saat ini gadis itu benar-benar
merasa ketakutan. Otthokhae?!! Appa~tolong
aku..”gumamnya.
Tiba-tiba saja sebuah benda mendarat di kepala
salah satu preman itu. Ada seseorang yang sengaja melemparnya. Ternyata orang
itu tidak lain adalah Youngmin. Seketika kedua preman itu berlari kearahnya dan
berniat memukulnya,namun dengan sigap Youngmin mampu menghindar kemudian balik
memukul mereka satu per satu hingga babak belur. Sayangnya saat berkonsentrasi
pada seseorang saja, preman yang satu lagi tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah
pisau dan berniat menusuk Youngmin. Beruntung Rizu yang melihatnya langsung
berteriak sehingga Youngmin tidak tertusuk. Tapi sayang, lengannya malah
tergores oleh pisau itu. Melihat hal itu membuat Youngmin seketika menendang
preman tersebut hingga akhirnya ambruk.
“Youngmin~si..Gwencanayo?!! Omo~lenganmu
berdarah!!” #TBC

0 comments:
Posting Komentar