“Su..Sungyeol~ah..” Ucap Ieru terbata. Dia benar-benar
tidak menyangka Sungyeol bisa datang ke tempat ini. Tanpa berkata apa-apa
Sungyeol lalu berbalik dan pergi. Ieru pun langsung mengejarnya.
Disaat yang bersamaan, Woohyun yang baru saja pulang kini
berpapasan dengan Sungyeol. Keduanya sempat saling bertatapan tajam, sampai
kemudian Sungyeol kembali berjalan keluar dan akhirnya menghilang dari balik
pagar.
“Sungyeol~ah..!! Akkh~!!”
Ieru yang berniat mengejar Sungyeol mendadak terjatuh karna luka dikakinya
masih terasa sedikit perih. Woohyun yang melihat itu seketika menghampirinya.
“Ya~gwencana?!” Tanya Woohyun khawatir.
“Dwaesso~nan gwencana.” Setelah menepis tangan pemuda
itu, Ieru pun kembali berdiri dan masih berusaha mengejar Sungyeol. Membuat Woohyun
tertegun sesaat.
Ieru terus berusaha mengejar Sungyeol walaupun dengan
keadaan kaki yang masih sakit. “Sungyeol~ah!!!” Serunya membuat langkah
Sungyeol terhenti.
“Wae?! Kenapa berbohong padaku?!” Tanya Sungyeol
akhirnya. “Mengatakan bahwa kau tinggal bersama dengan sepupumu. Yang
sebenarnya adalah Tunanganmu sendiri. Aku benar-benar kecewa padamu Song Ieru.”
Ieru tidak menjawab. Rasa sakit dikakinya semakin menjadi. Lagipula ia tau
semua ini adalah kesalahannya, jadi ia berhak untuk membela diri. “Kenapa tidak
menjawab?! Ah~atau mungkin karna kau sudah tidak menganggapku sebagai sahabatmu
lagi?! Keurae..kalau memang seperti itu. Terserah padamu.” Ujar Sungyeol lalu
berbalik dan berniat pergi.
Ieru yang sudah tidak tahan lagi mendadak ambruk di
jalan. Ngilu di kakinya benar-benar semakin menjadi saat ini. Luka yang
tergores saat terkena karang kemarin, kini kembali terbuka dan akhirnya mulai
mengeluarkan sedikit darah.
Sungyeol yang merasa ada yang aneh mencoba berbalik dan
akhirnya terkejut saat melihat Ieru yang terduduk dijalan sambil memegangi
kakinya yang berdarah. “Ieru~ya!!” Serunya berlari menghampiri gadis itu.
Kemudian menggendong dan membawa Ieru ke tempat lain.
“Gadis bodoh! Kalau sakit kenapa terus mengejarku hah!?”
Sungyeol sedang mengobati luka dikaki Ieru dengan obat-obatan yang sudah
dibelinya di market terdekat barusan.
“Mianhae..” Jawab Ieru pelan.
Sungyeol menghela nafas. “Lagipula..sampai kapan kau akan
menyembunyikan semua ini dariku?! Jika suatu hari nanti..kalian menikah. Aku
pasti akan mengetahuinya.”
“Itu tidak akan terjadi.” Sergah Ieru cepat.
“Hm? Memangnya kenapa?!”
“Karna..bukan aku yang menginginkan semua ini.”
“Mwo?! Musun sorieyo?!” Tanya Sungyeol heran. Ieru
sendiri tidak menjawab, ia tidak yakin bagaimana harus menjelaskannya pada
Sungyeol. “Arra~gwencana kalau kau tidak ingin mengatakannya. Dasar! Sok
misterius!”
“Mworago?! Hha~jinjja..” Ieru baru akan memukul pemuda
itu namun ia lebih dulu menghindar.
“Yaa~neo jinjja!! Kau tidak lihat apa, aku yang
membantumu mengobati lukamu saat ini. Bisa-bisanya kau ingin memukulku.
Woaha!!”
Ieru langsung mengurungkan niatnya. “Hha~jeongmal! Baru
begitu saja..dasar! keurae arasseo..~Gomawoyo Lee Sungyeol!!” Serunya sambil
tersenyum lebar.
“Nah~begitu kan lebih baik!” Ujar Sungyeol senang. Ieru
menatap Sungyeol yang sedang mengobati lukanya. Pemuda itu benar-benar melakukannya
dengan pelan dan hati-hati. Ia lalu tersenyum penuh arti. “Gomawoyo Sungyeol~ah..”
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang dari kejauhan memandangi
mereka sejak tadi. Bahkan mendengarkan percakapan mereka dari awal. Nam
Woohyun.
::::::::::::::::::::::::::::::
Tanpa terasa hari sudah berganti malam. Woohyun yang baru
saja pulang kerumah mendadak menghentikan langkahnya saat melihat Ieru didapur.
“Apa yang kau lakukan disini..?!” Tanyanya saat
menghampiri gadis itu.
Ieru menatap Woohyun sebentar lalu kembali memasak. “Oh?!
Woohyun~si. Ah~ini..karna Jiae Ahjumma sedang kurang enak badan dan Nam Ahjumma
tidak ada dirumah makanya aku sengaja membuatkan bubur ini untuknya.” Jelas
Ieru sambil terus mengaduk bubur. “Ah~sepertinya sudah masak. Hm..mangkuk
dimana ya?!” Ieru berbalik kesana kemari sampai matanya berhasil menemukan
mangkuk yang berada di rak piring diatas sana. “Hah~itu dia..”
Ieru berusaha mengambil mangkuk tersebut, namun entah
karna letaknya yang terlalu tinggi atau karna tubuh gadis itu yang tidak cukup
tinggi membuatnya kesulitan saat mengambilnya.
Woohyun yang melihat itu mendadak mengulurkan tangannya
berniat mengambil mangkuk tersebut. Sayangnya tubuh Woohyun yang tepat berada
dibelakang Ieru membuat jarak wajah mereka kini begitu dekat. Saking dekatnya
Ieru seolah bahkan bisa merasakan detakan jantung Woohyun saat ini dan juga
mencium wangi parfum yang masih melekat ditubuh pemuda itu.
DEG!!
Sadar apa yang baru saja terjadi membuat keduanya
langsung memisahkan diri. “Ehem!!” Woohyun berdehem pelan. “Ini ambillah. Dasar
pendek.” Ucapnya lalu memberikan mangkuk yang berhasil diambilnya.
Merasa tidak terima Ieru langsung membalas. “Mwo?! Hha~Ya!!
Kau pikir dirimu sendiri setinggi apa..?!! hha~jinjja!! Kau itu hanya beberapa
senti lebih tinggi dariku!!”
Woohyun yang merasa ketahuan tidak tau harus mengatakan
apa. “Neo..argh! Dwaesso! Aku lelah kalau harus berdebat terus denganmu.”
“Na ddo. Sekarang menyingkirlah..aku ingin membawakan
bubur ini pada Jiae Ahjumma.” Ieru berniat pergi dari sana sambil membawa
semangkuk bubur dan segelas air diatas nampan, sampai mendadak berbalik kebelakang.
“Ah~iya..aku sampai lupa. Gomawoyo sudah membantuku.” Katanya mengakhiri lalu
berjalan kembali meninggalkan tempat itu.
Woohyun tidak langsung naik kekamarnya tapi malah berjalan
menuju kamar Jiae Ahjumma. Dari luar pintu kamar yang rupanya sedikit terbuka
membuatnya bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi didalam.
“Dwasseoyo Ahjumma..kau berbaring saja. Biar aku yang akan
menyuapimu.” Ujar Ieru saat wanita itu ingin bangkit dari posisinya saat ini.
“Keundae~ Nona adalah majikan saya. Jadi..”
“Ahjumma~anggap saja aku ini anakmu yang sedang menyuapi
ibunya sendiri.” Mendengar perkataan Ieru barusan membuat Jiae Ahjumma maupun
Woohyun sama-sama tertegun. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu
sama sekali tidak pernah membedakan derajat seseorang.
Pada akhirnya wanita itu pun bersedia disuapi oleh Ieru.
Dari luar sana Woohyun bisa melihat ketulusan gadis itu dari caranya menyuapi
yang dilakukannya sedikit demi sedikit dan penuh kesabaran. Harus Woohyun akui,
ia kagum dengan Ieru saat ini.
“Gadis yang menarik..” Ucapnya pelan sambil tersenyum.
♥~♥~♥
Hari ini adalah hari dimana kedua orang tua Ieru akan
kembali ke Seoul. Itu sebabnya ia merasa sangat senang saat ini. Mungkin.
Gadis itu baru saja selesai berbelanja di Mini market
dekat kampus, sampai mendadak handphone nya berdering. Ieru menatap layar hp
nya. Nam Ahjumma.
“Nde Ahjumma..” Ucapnya saat mengangkat telepon. Awalnya
belum ada jawaban, namun selanjutnya terdengar sesuatu atau lebih tepatnya
suara seseorang yang sedang terisak.
“Ieru~ya. Baru saja Ahjumma mendapat telpon dan mereka
mengatakan..” Suara Nam Ahjumma terdengar sesak saat mengucapkannya. “Bahwa
pesawat yang ditumpangi kedua orangtuamu mengalami kecelakaan dan...” Jantung
Ieru serasa mencelos saat mendengarkan perkataan Nam Ahjumma barusan. Tubuhnya
terasa lemas seketika hingga akhirnya jatuh terduduk dijalan.
“Eomma..Appa...Hiks~” Ucapnya lirih. Detik berikutnya air
mata mulai mengalir deras di pipinya. Gadis itu terisak dijalanan. Sendirian.
♥~♥~♥
Seminggu sudah berlalu sejak kejadian itu, namun
kesedihan yang nampak diwajah Ieru sama sekali tidak berkurang. Sejak pulang
dari pemakaman orang tuanya gadis itu jadi lebih sering diam dan mengurung diri
di kamar.
“Ieru~ya!!” Seru Sungyeol saat Ieru selesai mengikuti
kuliah terakhirnya dan berjalan pulang. Namun tidak ada jawaban. Gadis itu
terus saja berjalan dan kini berniat menyebrang jalan. Ieru yang sama sekali
tidak memperhatikan jalan tidak menyadari ada sebuah mobil yang melaju kencang
kearahnya. Dan akhirnya..#TBC


0 comments:
Posting Komentar