[FF] Horoscope's Girl--Chapter 1


Zodiac for today 
Sagittarius
Career :
You'll get some surprise money
Health :
Using a scarf can avoid you from cold
Love :
Just give a bright smile at him, and you'll gonna get much love. 

-Seoul, South Korea.
"Irene!"
Sebuah teriakan yang berasal dari luar diikuti dengan suara ketukan pintu kamar yang cukup keras membuat seorang gadis yang baru saja selesai mandi kini mendengus kesal. Sambil berusaha mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk, ia pun berjalan kearah pintu.
"Nde , Eomma !!" Sahutnya kesal saat membuka pintu tersebut. Dihadapannya kini tampak seorang wanita paruh baya yang hanya dapat menghela nafas panjang saat mendengarkan keluhan anak gadis semata wayangnya itu.
"Kau ini! Kalau eomma tidak membangunkanmu, kau pasti terlambat. Ujung-ujungnya eomma lagi yang disalahkan." Tutur sang Mama.
Mendengar itu membuat Irene ikut menghela nafas pelan. Bagaimanapun juga apa yang dikatakan oleh mamanya itu memang benar.
"Gwencana . Aku sudah bangun daritadi! Cuma terlambat saja menjawab panggilan eomma, soalnya tadi aku sedang dikamar mandi. Jadi tidak kedengaran."
Sang mama kini mengangguk paham. "Ya sudah, cepat siap-siap! Setelah itu turun kebawah. Eomma dengan Ray tunggu kamu di ruang makan."
"Oke, mom!" Sahut Irene tersenyum lebar seraya menaruh 4 jari sekaligus disamping dahinya hingga membentuk gerakan hormat.
"Oh iya!" Mamanya yang sebelumnya hendak melangkah pergi dari sana mendadak berhenti. "Ini buat kamu." Katanya seraya memberikan sebuah amplop kecil berwarna cokelat pada Irene.
"Apa ini?" Tanya Irene seraya membuka amplop tersebut perlahan sebelum akhirnya membelalakkan matanya terkejut. Isi amplop tersebut ternyata adalah beberapa lembar uang.
"Kemarin eomma habis terima hasil bulan pertama pembukaan kafe. Berhubung ide pembukaan kafe itu berasal dari kamu, jadi eomma pikir tidak ada salahnya kalau dikasih sebagian hasilnya ke kamu." Tutur mama-nya.
Irene sendiri langsung memeluk wanita dihadapannya itu. Tampak wajahnya yang tersenyum lebar disana.
"Jeongmal gomawoyo , eomma! Aku senang sekali!" Serunya semangat membuat sang Mama memgelus rambutnya pelan.
"Iya sayang, sama-sama." Ucapnya kemudian melepaskan pelukan mereka.
"Kamu bisa menggunakan sebagian uang itu buat persiapan kita ke Jepang nanti."
"Nde!!" Sahut Irene tersenyum.
Mamanya sendiri juga ikut tersenyum melihat anaknya itu. Detik berikutnya ia pun melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut. Membiarkan Irene yang tampak berpikir sesaat sebelum akhirnya menutup pintu kamarnya kembali.
--Career. Passed.
==========
Matahari pagi yang cerah menyinari bangunan sebuah sekolah. Tampak beberapa siswa maupun siswi berjalan masuk melewati pintu pagar SMA Hanryul. Sebagian dari mereka tampak berjalan sambil mengobrol satu sama lain. Sedangkan sebagian lainnya terlihat mulai berlari kecil menuju ke kelas mereka masing-masing. Salah seorang diantaranya adalah Claurience. Gadis yang biasa dipanggil Irene itu tampak berjalan santai dengan headset yang terpasang di telinganya. Sambil melantunkan lagu ia terus berjalan ke depan, tanpa menyadari panggilan seseorang dari belakangnya.
"Tunggu!" Seru gadis itu saat berhasil meraih pundak orang yang dipanggilnya sejak tadi. Ia pun segera mengatur nafasnya saat melihat Irene akhirnya berbalik memandangnya.
"Jieun?" Ucap Irene santai. "Kenapa kau? Habis balapan?"
Mendengar itu membuat Jieun mengangkat wajahnya kemudian menatap kesal kearah sahabatnya itu. "Iya! Barusan aku habis balapan sama orang tuli!" Semprotnya
Irene sendiri kini terkikik mendengarnya. "Mianhae . Tadi aku sedang dengar lagu." Terangnya. Jieun sendiri hanya menghela nafasnya singkat.
"Kau sakit, yah?" Tanya Jieun tiba-tiba membuat Irene mengernyitkan dahi
"Hah?! Tidak. Memangnya kenapa?"
Jieun memegang scarf yang dikenakan oleh sahabatnya itu.
"Untuk apa kau pake scarf ke sekolah di cuaca cerah?"
Mendengar hal itu membuat Irene seketika tersenyum.
"Oh ini..." Ucapnya seraya memperbaiki posisi scarf nya yang sebenarnya tidak berantakan. "Ini karna horoscope sagitarius hari ini bilang kalau aku harus memakai scarf supaya tidak kena flu."
"Lagi dan lagi. Kau ini kenapa terlalu percaya dengan ramalan?! Horoscope itu..."
"Aigooo! Cukup. Kau sudah mengatakan hal itu berkali-kali padaku." Sela Irene sebelum Jieun sempat melanjutkan kalimatnya. "Kalau tidak percaya ya sudah, tidak apa-apa. Tapi please, jangan memaksaku untuk berhenti mempercayai ramalan."
Apa yang dikatakan Irene barusan berhasil membuat Jieun mengalah. Ia sadar jika dirinya terus melanjutkan perbincangan mengenai hal ini lebih lama lagi, yang ada mereka berdua akan berakhir bertengkar satu sama lain. Seperti yang terjadi setahun yang lalu. Dimana keduanya memilih untuk tidak menyapa satu sama lain.
Hal itu terjadi saat Irene mulai membahas soal horoscope. Ramalan yang sebelumnya hanya untuk bacaan hiburan perlahan-lahan seolah menjadi kebutuhan bagi seorang Claurience. Jieun yang awalnya masih membiarkan Irene yang mulai mencocokkan apa yang terjadi pada keseharian mereka. Akhirnya mulai tidak setuju saat menyadari sahabatnya itu ternyata mengikuti apa yang tertulis dalam ramalan tersebut. Namun saat dirinya berusaha memperingatkan Irene, yang terjadi keduanya justru berakhir dengan pertengkaran. Butuh waktu seminggu sebelum mereka kembali berbaikan satu sama lain. Bagi orang lain seminggu mungkin adalah waktu yang singkat. Namun itulah kenyataannya.
Kenyataan bahwa keduanya tidak dapat bermusuhan terlalu lama. Itu karna keduanya sudah bersahabat semenjak mereka bertemu di SMP. Mereka sebelumnya bertetangga sebelah, namun setelah kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua Jieun membuat gadis itu terpaksa pindah dari sana. Meskipun begitu mereka masih tetap dapat bertemu di sekolah. 
Walaupun Jieun harus bekerja keras ia demi menghidupi kedua adiknya yang masih kecil bahkan kadang mengalami hal sulit ia sama sekali tidak pernah menunjukkannya pada Irene. Itu karna ia tidak ingin membuat sahabatnya itu merasa khawatir.
"Morning, ladies!!"
Sebuah panggilan membuat Irene maupun Jieun menoleh bersamaan. Dihadapan mereka kini sedang berdiri seorang pemuda yang mengenakan sweater hitam putih sambil tersenyum.
"Jungkook." Ucap Jieun datar
Berbeda dengan respon sahabatnya itu, Irene justru tersenyum lebar kearah pemuda yang tidak lain adalah kekasihnya.
"Pagi!" Sahutnya bersemangat
"Kalian lama sekali. Aku bahkan harus berjalan kesini dulu." Tutur pemuda bernama Jungkook itu.
"Siapa juga yang menyuruhmu datang kesini." Gumam Jieun pelan. Namun baik Jungkook maupun Irene masih bisa mendengarnya dengan jelas. Mendengar hal itu membuat Irene sedikit kesal.
"Jieun-ah, kau ini..."
"Sayang, sudahlah. Tidak apa-apa." Sela Jungkook sebelum Irene sempat melanjutkan kalimatnya. "Mungkin dia sedang bad mood hari ini. Lagipula aku juga baik-baik saja."
Melihat Irene yang masih sedikit kesal membuat Jungkook kembali menghela nafas.
"Ayolah, jangan cemberut seperti itu. Nanti cantiknya hilang loh!" Kali ini ucapan pemuda itu tampaknya berhasil membuat kekasihnya itu mengalah dan akhirnya tersenyum kecil. "Begini kan lebih bagus. Lebih baik sekarang kita masuk kelas, soalnya sebentar lagi bel berbunyi. Ayo!" Tuturnya
Irene sendiri akhirnya hanya mengangguk pelan kemudian berjalan mengikuti Jungkook menuju ke kelas. Membiarkan Jieun yang mengikut dari belakang. Jujur saja ia selalu merasa heran dengan sikap sahabatnya itu. Padahal sebelumnya Jieun biasa-biasa saja dan bahkan mendukung hubungannya dan Jungkook. Tapi akhir-akhir ini sikapnya justru berubah menjadi acuh dan malah terkesan kurang menyukai kekasihnya itu.
  
"Kau serius ingin ke Jepang?"
Jungkook menatap datar kearah Irene yang tampak sibuk menikmati es krim miliknya. Keduanya kini sedang berada di sebuah kafe. Mereka memang biasa ke tempat itu setelah pulang sekolah.
"Iya." Irene mengangguk. "Aku, eomma dan Ray akan berangkat bersama-sama."
"Berapa lama? Kalian kesana hanya untuk menghabiskan liburan sekolah?" Tanya Jungkook lagi
Kali ini Irene menghentikan kegiatannya lalu menoleh kearah pemuda itu.
"Seminggu. Sebenarnya bukan cuma untuk liburan saja, tapi juga sekalian berkunjung ke rumah Clara ahjumma Kau tau, kan? Kakak pertama dari ibuku. Yang dulu kuceritakan menikah dengan orang Jepang kemudian tinggal disana." Terangnya
Jungkook sendiri tampak tidak berkomentar dan hanya menjawabnya dengan deheman pelan. Ia memang tidak terlalu peduli dengan hal tersebut.
"Kau sudah memberitahu Jieun?" Mendengar pertanyaan Jungkook membuat Irene mengangguk cepat.
"Sudah."
"Irene-ah. Aku boleh bertanya sesuatu?"
"Apa itu?"
Jungkook tampak sedikit ragu. "Emm~Jieun, dia...sudah punya kekasih?"
Irene menatap pemuda itu heran. Tidak biasanya Jungkook menanyakan hal seperti ini padanya. Apalagi menyangkut tentang sahabatnya.
"Belum. Memangnya kenapa? Suka?"
Jawaban Irene sontak membuat Jungkook membelalakkan matanya terkejut.
"Hah?! Kau ini bicara apa?!" Sahut pemuda itu cepat. Irene sendiri kini terkekeh pelan.
"Bercanda. Kenapa sampai kaget begitu?"
"Aku hanya tidak ingin kalau kau berpikir yang tidak-tidak." Tutur Jungkook
"Arassseo. Aku percaya padamu."
Jungkook memandang lega kearah kekasihnya itu. Ia bersyukur bisa mendapatkan seorang gadis seperti Irene. Seseorang yang selalu percaya dan ada untuk mendukungnya. Meskipun begitu harus ia akui ada sesuatu yang janggal di pikirannya.
  
"Terima kasih banyak." Seru seorang gadis seraya tersenyum saat memberikan sisa kembalian uang pada Jungkook yang tampak baru saja membeli sebuah mie ramyun seperti biasa di Minimarket.
Setelah menemukan kursi yang telah disediakan ia pun duduk sambil membuka makanan yang hampir tiap hari ia konsumsi itu.
"Aack! Panas!!" Pekiknya saat mencoba memasukkan mie kedalam mulutnya.
"Waah~bahkan untuk sebuah mie instan seseorang masih harus menunggu terlebih dulu." Gumamnya kesal.
Alasan pemuda itu selalu memilih makan mie instan bukan karna ia sama sekali tidak memiliki uang untuk membeli makanan yang lebih baik. Melainkan karna dirinya sendiri yang tidak ingin makan di rumahnya.
Jeon Jungkook. Anak dari dua orang pengusaha yang cukup terkenal. Ayahnya adalah seorang pengusaha hotel dan apartemen sedangkan ibunya sendiri adalah pemilik usaha salon yang telah memiliki cabang bahkan di beberapa negara.
Namun sayangnya kehebatan itu pula yang berhasil menjadikannya anak yang bisa dibilang kurang mendapat perhatian. Kedua orang tuanya sangat jarang berada di rumah dan seringkali harus keluar negeri. Meskipun keduanya sering memberikan uang saku yang terbilang berlebihan pada anak semata wayang mereka itu, namun Jungkook sama sekali tidak begitu senang akan hal itu. Yang ia inginkan hanyalah kebersamaan. Hanya itu.
Setelah cukup lama menunggu dengan memandangi langit malam, ia pun kembali memasukkan mie kedalam mulutnya dan kali ini akhirnya berhasil menikmati mie ramyun miliknya. Namun baru saja berniat kembali memakannya kegiatannya mendadak terlalihkan pada seberang jalan. Sosok yang dikenalnya tampak berjalan memasuki sebuah bangunan.
  
Jieun berjalan menelusuri ruangan yang tampak bising tersebut. Di tangannya terdapat sebuah nampan yang berisi bermacam-macam pesanan minuman yang harus diantarkannya ke beberapa orang. Tempat tersebut tidak lain adalah sebuah diskotik.
Demi menghidupi adik-adiknya, gadis itu terpaksa harus bekerja keras. Siang hari setelah pulang sekolah ia harus bekerja di salah satu Minimarket. Dan malam yang seharusnya ia gunakan untuk beristirahat justru harus dihabiskannya bekerja di Diskotik sebagai seorang pelayan. Meskipun ia tau pekerjaan ini tidaklah begitu baik dimata orang lain karna selain harus menggunakan pakaian minim ia juga harus selalu berurusan dengan beberapa pria. Namun semua itu terpaksa harus dilakukannya demi kehidupan mereka.
"Ini pesanan anda." Kata Jieun saat menyediakan minuman yang dibawanya keatas meja. Orang-orang yang kebanyakan pria di depannya tersebut tampak tidak peduli. Namun saat gadis itu tengah ingin menaruh gelas minuman terakhir, pria didekatnya tiba-tiba saja sengaja menyentuh paha Jieun hingga sontak membuatnya terkejut dan tanpa sengaja menumpahkan minuman dan mengenai baju salah seorang tamu.
"Apa yang baru saja lakukan?!!" Bentak pria tersebut kesal sambil menepis bagian kemejanya yang basah
"Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak sengaja." Sahutnya cepat seraya berkali-kali menundukkan kepalanya. Ia sudah tau hal-hal semacam ini adalah salah satu resiko saat dirinya bekerja disana, itulah sebabnya ia hanya mampu menahannya.
"Apa kau tau berapa harga kemeja ini?! Dasar bodoh. Kenapa diam saja hah?!" Umpat pria itu lagi. Kali ini ia tiba-tiba saja menyiramkan minuman ke wajah Jieun hingga membuat gadis itu terkejut seketika.
"Dasar! Bahkan jika kau menjual dirimu, kau tidak akan bisa membelinya tau!" Mendengar perkataan pria itu kali ini membuat Jieun menatapnya tajam. "Apa?! Berani sekali kau menatapku seperti..."
Buggh!
Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, sebuah pukulan sudah lebih dulu mendarat di pipi kanannya hingga membuatnya seketika jatuh tersungkur diatas meja dan membuatnya berantakan.
Pria itu tampak sempoyongan bangkit dari tempatnya. Tangannya memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Anak brengsek! Apa-apaan kau ini?!" Bentaknya pada pemuda yang baru saja memukulnya tersebut yang rupanya tidak lain adalah Jungkook.
"Ah, bagaimana ini? Sepertinya aku harus mengeluarkan banyak uang karna telah memukulmu." Kata Jungkook santai
Pria itu sendiri menatapnya tak percaya. "Apa?"
Jungkook lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya kemudian melemparkannya ke pria tersebut. "Ini untuk biaya ganti rugi kemeja hebat-mu itu." Ucapnya kemudian kembali melemparkan selembar cek bertuliskan 10 juta won. "Dan ini untuk biaya pengobatan wajahmu." Katanya lagi. "Ah, dan juga...." Ia lalu berjalan mendekati pria tersebut.
"Ini untukmu." Tuturnya seraya memberikan sebuah cek kosong. "Kau boleh menuliskan beberapa pun disana sebagai biaya pemakaman-mu, jika berminat." Katanya tersenyum seraya menatap tajam mata pria dihadapannya itu yang kini tampak ketakutan.
Jungkook yang kesal akhirnya berjalan mendekati Jieun dan seketika menarik tangan gadis itu dan membawanya keluar dari tempat tersebut.
"Lepaskan aku!" Teriak Jieun sambil melepaskan tangannya dari genggaman Jungkook
Pemuda itu sendiri tampak begitu kesal melihatnya. "Ada apa denganmu? Di depanku dan Irene kau terlihat seolah begitu tangguh. Tapi didepan mereka kau seperti orang bodoh yang tidak dapat membela dirimu sendiri. Apa kau bodoh..?"
"Itu benar!!" Sela Jieun membuat Jungkook seketika menatapnya terkejut.
"Aku memang bodoh! Terima kasih karna sudah menghamburkan uangmu untuk membelaku. Kau memang hebat! Sekarang kau pasti merasa bangga karna sudah berhasil memamerkannya. Lalu apa maumu?!" Tuturnya dingin
Jungkook sendiri tidak langsung menjawab dan hanya menghela nafas panjang. "Benar. Aku memang hebat. Menghamburkan uang adalah kelebihanku." Balasnya kesal
Jieun sendiri tampak tertawa kesal. "Benar. Kalau begitu masalah selesai." Serunya kemudian berniat pergi dari sana namun Jungkook lebih dulu menahannya.
"Selesai apa maksudmu? Lalu bagaimana dengan uang yang sudah ku-hamburkan untuk menolongmu?" Tanyanya
Mendengar itu membuat Jieun memandangnya heran. "Apa?! Memangnya siapa yang memintamu menolongku?!"
"Ah, jadi begitu" Jungkook tersenyum. "Aku baru tau kalau kau ternyata tipe orang yang tidak tau berterima kasih."
"Apa maumu sebenarnya?!" Jieun semakin menatap pemuda dihadapannya itu kesal
"Aku ingin kau membayarnya."
Jieun tertawa seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jungkook.
"Kau bodoh? Uang darimana?! Apa aku harus membayarnya dengan tubuhku?"
"Tentu saja. Memangnya ada cara lain?" Sahut Jongkook santai sedangkan Jieun sendiri sudah lebih dulu melongo mendengarnya.
"Kau harus bekerja selama sebulan dirumahku." Terangnya lagi
"Jangan bercanda. Kau kan sudah memiliki banyak pengurus rumah." Jieun memandangnya bingung
Tiba-tiba saja Jungkook mengeluarkan hp miliknya kemudian menelpon seseorang.
"Oh, Bongsun ahjumma. Aku ingin mulai besok kau cuti sementara selama sebulan." Ucapnya kemudian menutup sambungan telepon
"Kau sudah gila?!" Tanya Jieun semakin tidak mengerti dengan sikap pemuda dihadapannya itu
"Besok pagi jam 8 kau sudah harus ada di rumahku. Memasak, membersihkan rumah dan..." Kalimat Jungkook sesaat terhenti kemudian tersenyum kecil. "Cukup itu saja." Ucapnya mengakhiri kemudian masuk kedalam sedan merah miliknya tanpa memperdulikan panggilan Jieun dibelakangnya.
Selama beberapa detik ia mengamati sosok Jieun dari kaca spion sebelum akhirnya kembali tersenyum dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
  
Pagi hari ini di kota Seoul tampaknya cukup sepi. Mungkin karna matahari belum menampakkan dirinya. Meskipun begitu ada seseorang yang sudah menampakkan dirinya lebih dulu dan kini tengah berdiri di depan sebuah pintu rumah besar.
Jieun menatap layar hp miliknya. Disana terdapat beberapa angka yang tidak lain adalah sandi untuk membuka pintu rumah tersebut. SMS yang semalam dikirimkan oleh Jungkook padanya.
"Aissh! Kenapa juga aku harus mengikuti keinginannya." Desisnya lalu berniat pergi dari sana namun mendadak menghentikan langkahnya
"Tidak. Kau adalah gadis yang tau cara berterima kasih. Nam Jieun." Ucapnya pada dirinya sendiri lalu kembali berbalik menghadap pintu. Cukup lama ia menatapnya sebelum akhirnya menghela nafas panjang lalu menekan beberapa tombol angka pada mesin yang terdapat di pintu tersebut hingga akhirnya terbuka.
Perlahan Jieun melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Wajahnya tampak kagum saat menyadari betapa besarnya rumah tempatnya menginjakkan kaki saat ini. Rumah tersebut tidak hanya luas tapi juga benar-benar mewah. Hal-hal yang biasanya hanya dapat ia temukan dalam drama kini ia sendiri telah mengalaminya.
"Permisi."
Panggilan seseorang membuat Jieun sedikit terkejut hingga berbalik dan mendapati seorang pria paruh baya sedang berdiri dibelakangnya sambil tersenyum.
"Apa mungkin anda ini, nona Jieun?"Tanyanya
Jieun sendiri mengangguk sopan. "Nde."
"Izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Hansik. Saya adalah kepala pengurus dirumah ini. Jika kelak anda butuh bantuan atau hal lainnya, silahkan beritahu pada saya." Tuturnya pada Jieun
"Nde. Mohon bimbingannya." Sahut gadis itu sopan
Jieun kini kembali berjalan lebih dalam menjelajahi seisi rumah tersebut sampai akhirnya menemukan dapur. Hal pertama yang dilakukannya adalah membuka kulkas. Selama beberapa saat ia terdiam sebelum akhirnya mulai mengeluarkan satu per satu makanan yang terdapat di dalam sana.
"Apa yang ingin anda lakukan?" Tanya Hansik membuat Jieun tersenyum
"Ah, maaf. Apa boleh aku mengatur ulang posisi makanan dan minuman dalam kulkas ini? Aku hanya ingin mengatur sesuai jenisnya."
Hansik tersenyum sambil mengangguk. "Tentu saja. Silahkan. Apa anda ingin saya membantu?"
Jieun menggeleng cepat. "Tidak usah, ahjussi. Aku bisa melakukannya." Sahutnya membuat Hansik mengangguk paham. "Oh iya! Orang itu..." Ia menghentikan kalimatnya sesaat. "Maksudku, Jungkook-si. Apa yang biasa pengurus rumah sebelumnya masak untuk sarapannya."
Hansik tampak berpikir sesaat. "Entahlah. Tapi saya rasa tuan muda akan senang dengan masakan apapun yang akan anda buat. Selama itu adalah masakan rumah."
Jieun mengangguk pelan. "Ah, dan juga..." Ia memandang ke sekeliling sesaat. "Maaf, tapi apa semua orang sudah pergi bekerja? Rumah ini tampaknya sepi sekali."
"Tuan dan Nyonya Jung memang sangat jarang pulang ke rumah. Nyonya sedang berada diluar negeri untuk pembukaan salon miliknya, sedangkan Tuan sendiri memang lebih sering menginap di salah satu hotel miliknya agar lebih mudah mengurus perusahaan." Tutur Hansik
Jieun sendiri tidak mengatakan apa-apa. Ternyata kisah dalam drama dimana orang kaya seringkali hanya sibuk dengan urusan mereka bisa terjadi dalam kehidupan nyata. Atau mungkin cerita tersebut memang dibuat berdasarkan kenyataan yang telah terjadi.
  
Setelah bergelut cukup lama di dapur, Jieun pun akhirnya selesai memasak.
"Done." Ucapnya lega setelah selesai menyediakan makanan diatas meja makan
Gadis itu kemudian melirik jam tangannya.
"Sudah hampir jam 9 tapi belum ada tanda-tanda kehidupan darinya." Gumam Jieun pada dirinya sendiri yang tidak lain sedang menyinggung Jungkook yang belum juga terbangun dari tidurnya. "Apa dia memang selalu seperti ini?" Tanyanya pada Hansik yang berdiri tidak jauh dari sana
"Nde. Tuan muda biasanya memang harus dibangunkan terlebih dulu Bongsun setiap pagi." Jawabnya seraya mengangguk
"Aigoo, dasar anak manja." Cibir Jieun sebelum akhirnya tersadar sesuatu dan seketika membulatkan matanya
"Huh?! Aku tidak harus membangunkan dia, kan? Ayolah ahjussi, kau tidak mungkin tega melakukannya padaku." Tanyanya sambil memohon pada Hansik dan berharap pria itu dapat membantunya.
"Maafkan saya, tapi ini adalah salah satu tugas pengurus dirumah ini."
Mendengar jawaban Hansik membuat kaki gadis itu terasa lemah. Kenapa juga ia harus berurusan dengan pemuda macam Jung Jongkook.
  
"Yaa! Jeon Jungkook! Cepat bangun!"
Ini adalah kali ke-5 Jieun berteriak di depan kamar Jungkook sambil mengetuk pintunya namun tidak juga ada respon dari dalam. Hal ini membuat gadis itu frustasi dan akhirnya memberanikan diri masuk kedalam kamar yang memang tidak dikunci itu.
Jieun melangkahkan kakinya perlahan. Kamar yang cukup luas itu sesaat menyita perhatiannya sebelum akhirnya pandangannya tertuju pada sosok yang masih berbaring diatas tempat tidur.
Gadis itu berjalan menuju jendela besar kemudian membuka gorden untuk membiarkan cahaya matahari masuk namun seketika terkagum saat menyadari bahwa ia dapat melihat hamparan taman luas di belakang rumah tersebut.
Setelah membuka jendela dan puas menghirup udara segar, ia pun kembali berbalik dan berjalan mendekati tempat tidur.
"Wajahnya bisa kelihatan polos juga jika sedang tidur seperti ini." Ucapnya sambil tersenyum kecil saat mengamati Jungkook.
"Yaa, cepatlah bangun! Aku sudah lelah berteriak sejak tadi." Ancamnya seolah-olah pemuda itu dapat mendengarnya.
"Yaa! Jeon Jungkook!! Aku tau kau bisa mendengarku!" Serunya lagi. Karna masih tidak ada respon dari Jungkook membuatnya akhirnya kehilangan kesabaran dan langsung menarik selimut pemuda itu dan menyadari kalau pemuda itu tidak memakai baju dan hanya memakai celana pendek.
"Aah, berisik sekali. Pagi-pagi begini, Yaa! Apa yang kau lakukan disini?!!" Jungkook yang sebelumnya menggeliat mendadak berteriak karna terkejut melihat sosok Jieun yang berada dalam kamarnya. Ia pun spontan menarik selimut untuk kembali menutupi tubuhnya.
"Kau ini perempuan bukan?! Berani sekali masuk kamar laki-laki." Pekiknya namun Jieun tampak tidak peduli.
Jieun sendiri tampak menghela nafas kesal. "Aissh! Yaa! Kalau kau bisa bangun sejak tadi aku juga tidak harus masuk kesini, tau! Salah sendiri tidur seperti orang mati." Balas Jieun kesal.
Jungkook sendiri tidak membalas.
"Terserahlah. Yang penting tugasku sudah selesai membangunkanmu. Aku sudah menyiapkan sarapan jadi cepat bangun dan makan sebelum itu dingin." Tutur Jieun lagi kemudian berniat pergi dari sana namun Jungkook mendadak menarik tangannya hingga jatuh duduk di tempat tidur
"Aku tidak menyangka kalau kau serius datang kesini." Ucapnya takjub
"Apa aku harus pulang dan berhenti datang mulai sekarang?!" Tanya Jieun dingin namun membuat pemuda itu sedikit terkejut. 
"Dan juga, sampai kapan kau akan menahanku?" Tanyanya lagi membuat Jungkook melihat kearah tangannya yang masih menggenggam lengan gadis itu sebelum akhirnya melepaskannya.
"Maaf. Aku hanya terlalu senang." Ungkapnya jujur namun membuat Jieun menatapnya heran. "Aku senang melihat ada orang lain yang bisa membangunkanku di pagi hari selain Bongsun ahjumma."
"Bagaimana dengan Irene?" Pertanyaan Jieun membuat Jungkook tertawa kecil.
"Bagaimana mungkin dia bisa membangunkan orang lain jika dia sendiri masih sulit membangunkan dirinya."
Mengingat kenyataan yang satu itu membuat keduanya tertawa bersamaan.
"Bagaimanapun juga, terima kasih karna telah menepati janjimu."
Jieun menaikkan salah satu alisnya. "Sejak kapan aku berjanji padamu? Bukankah kau yang memaksaku melakukan ini?"
"Ah, benar juga. Mianhae." Kata Jungkook yang baru tersadar dan seketika merasa bersalah
Melihat sikap pemuda itu membuat Jieun tersenyum kecil.
"Aku ini gadis yang tau berterima kasih. Jadi tidak apa-apa."
"Kau masih tetap akan berada dirumah ini kan? Kau tidak akan pulang sekarang, kan?!" Tanya Jungkook terlihat khawatir
Jieun menatapnya cukup lama kemudian tersenyum sambil mendesis.
"Issh! Tentu saja! Aku tidak mungkin membiarkanmu memakan masakanku seorang diri." Jawaban gadis itu membuat Jungkook seketika tersenyum senang.
"Ayo cepat bangun! Aku sudah lapar, tau! Kutunggu diruang makan." Kata Jieun lagi kemudian berjalan keluar dari kamar meninggalkan Jungkook yang masih tidak bisa menghentikan raut senang di wajahnya.
It's started from here.-

#To Be Cont.

What is Love (Chapter 5/End)



“Bagaimana Unnie? Apa rasanya enak?” Tanya Hana saat Putri baru saja selesai mencicipi sup yang ada diatas meja.
Putri sendiri mengangguk mantap sambil tersenyum.”Enak. Masakan ini enak sekali..”
“Benarkah?! Itu aku dan Sehun oppa yang membuatnya bersama-sama..” Ucapan Hana barusan membuat Putri sejenak menghentikan kegiatannya namun akhirnya kembali tersenyum lebar.
“Begitu yah..itu artinya kalian berdua cocok jika bersama-sama.” Kali ini giliran Sehun yang menghentikan aktivitas makannya, dan menatap tajam kearah Putri.
Kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal aneh seperti itu?
Jinjja?! Wah!! Aku senang sekali mendengar unnie berkata seperti itu..kkk~” Kekeh Hana membuat Putri tersenyum melihat tingkahnya.
“Ah iya! Hubungan oppa dan unnie sebenarnya apa? Kenapa malam itu kalian bisa bersama-sama..?”
Pertanyaan Hana barusan seketika membuat Sehun dan Putri menghentikan kegiatan makannya karna terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Hana akan menanyakan hal seperti ini. Dan sejujurnya, mereka tidak yakin harus menjawab apa.
“Dia adalah...”
“Adik perempuan!” Seru Putri tiba-tiba saat Sehun berniat mengatakan yang sebenarnya.
Pemuda itu kini menatap terkejut kearah Putri.
Apa yang baru saja dikatakannya? Adik perempuan?! Sebenarnya ada apa dengannya?

“Ah~jadi kalian berdua ini bersaudara?! Padahal aku sempat berpikir kalau kalian ini pasangan kekasih. Tapi syukurlah, ternyata dugaanku salah. Itu sebabnya kau mau mendukungku, terima kasih banyak unnie..” Seru Hana terkekeh. Tampaknya ia begitu senang saat ini, membuat Putri mengangguk seraya tersenyum lebar melihatnya. Berbeda dengan Sehun yang masih menatap kearah Putri. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa gadis itu bukannya mengatakan bahwa dia sebenarnya adalah calon tunangannya dan malah berkata bahwa ia hanya seorang adik perempuan. Ia harus mencari tau apa sebenarnya yang terjadi.
Malam sudah larut namun entah kenapa Putri sama sekali belum bisa tidur. Itulah sebabnya ia memilih keluar dan duduk di teras rumah.
Putri memandang kearah langit, malam ini tidak seperti kemarin. Salju tidak turun dan yang ada hanyalah bulan yang menyinari malam dengan cahayanya ditemani bintang-bintang yang semakin membuat langit terlihat begitu indah saat ini.
“Disini kau rupanya..” Suara seseorang yang begitu dikenalnya membuat Putri seketika tersadar dari lamunannya. Melihat Sehun yang kini berada dibelakangnya membuatnya bangkit seketika dan berniat masuk kedalam rumah sampai Sehun berhasil menahan lengannya.
Dwaesso, kau pikir berapa lama kau bisa menyembunyikan alasanmu terus-menerus dariku?!” Kalimat Sehun membuat Putri terdiam sejenak lalu akhirnya kembali duduk di tempatnya semula diikuti Sehun yang juga duduk disebelahnya.
Babo~ya? Kenapa kau harus berbohong padanya?” Tanya Sehun akhirnya
“Apa kau lupa? Bukankah sebelumnya kau sudah mendengarnya. Hana sudah kuanggap seperti adik perempuanku sendiri, dan seorang kakak tidak mungkin membiarkan adiknya sedih apalagi terluka.”
Sehun menatap gadis itu tidak percaya. “Tapi dia itu kan juga bukan adik kandungmu..?”
“Kau bisa mengatakan itu karna kau tidak tau seperti apa rasanya kehilangan seorang adik.”
Sehun menatapnya heran.
“Apa maksudmu?”
“Aku masih ingat, saat itu aku dan kedua orang tuaku begitu menunggu-nunggu kehadiran adik perempuanku yang masih berada dalam kandungan. Sampai kecelakaan itu pun terjadi. Eomma yang sudah siap berangkat menghadiri acara perpisahan sekolahku berniat menuruni tangga, namun karna terburu-buru ia mendadak jatuh terpeleset saat hampir menuruni 4 anak tangga terakhir membuatnya harus kehilangan bayinya saat itu juga."
Tutur Putri kemudian menarik nafas dalam.
"Hal itu diperparah saat dokter terpaksa harus mengangkat rahim eomma karna dianggap membahayakan dirinya akibat dari keguguran tersebut. Kau tau kan apa artinya itu? Eomma tidak akan bisa mengandung lagi dan aku tidak akan pernah bisa tau seperti apa rasanya memiliki seorang adik. Untuk selamanya. Apa kau tau bagaimana perasaan kami saat itu? Apa...” Gadis itu tidak sanggup melanjutkan kalimatnya karna airmatanya sudah lebih dulu menetes di pipinya. Kenangan itu memang terlalu sulit untuk dilupakannya.
Sehun menatap Putri yang sedang kini terisak ditempatnya sambil tertunduk. Seolah tergerak dengan sendirinya, ia mendekat lalu menarik gadis itu dalam dekapannya erat, membuat isakan Putri semakin menjadi. Namun Sehun membiarkannya, entah kenapa ia tidak suka jika melihat gadis itu menangis.
Hatinya terasa begitu sakit dan sesak melihat Putri yang terisak seperti saat ini, dan sebisa mungkin ia akan berusaha membuat kesedihan gadis itu berkurang.
Sekitar beberapa menit keadaan itu berlangsung dan akhirnya perasaan Putri sudah cukup membaik saat ini. Putri yang sepertinya baru menyadari sesuatu lalu mengangkat kepalanya hingga tanpa sengaja mendapati wajah Sehun yang juga menatapnya saat ini dengan jarak yang begitu dekat. Keduanya terdiam saat pandangan mereka bertemu satu sama lain.
“Jangan sampai kau juga menyukaiku.” Kata Putri membuat Sehun tersadar dan langsung menarik wajahnya menjauh.
“Apa maksudmu? Memangnya kena..?” Seolah sesuatu Sehun menatap tajam kearah gadis itu.
“Mungkinkah itu artinya..ka..kau...?”
Putri tersenyum kearah Sehun.
“Tidak salah apa yang dikatakan Jihyun ahjumma tentangmu. Kau memang cerdas."
"Mwo?" Sehun masih menatap gadis itu lirih
"Benar. Aku menyukaimu.”
Mendengar itu Sehun seolah terpaku di tempatnya. Pernyataan Putri yang tiba-tiba seperti ini sungguh membuatnya tidak tau harus mengatakan ataupun melakukan apa sekarang.
“Kau pasti terkejut kan? Mianhae..jujur awalnya tidak berniat mengutarakan perasaanku, namun daripada terus menyimpannya sendirian akan lebih baik jika aku mengatakannya padamu sekarang. Karna aku takut setelah ini aku tidak akan punya kesempatan lagi untuk melakukannya.” Tutur Putri. Sehun sendiri masih diam ditempatnya tanpa berkomentar apapun. Detik kemudian Putri menatap mata Sehun dalam lalu tersenyum kecil.
“Sehun~ah..kita batalkan saja perjodohan ini.”
Ucapan Putri kali ini membuat hati Sehun serasa mencelos seketika. Seolah tidak percaya dengan semua hal yang baru saja di dengarnya. Ia mendengus keras. “Apa kau sedang mempermainkanku? Jangan jadikan perjodohan ini sebagai candaan..”
“Apa aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda dimatamu?!” Sehun menatap kearah Putri. Gadis itu kini kembali meneteskan airmatanya.
“Kau ini sebenarnya kenapa?! Kenapa tiba-tiba saja memutuskan untuk membatalkan perjodohan seperti ini?!” Tanya Sehun dengan nada yang mulai meninggi
“Karna aku tidak ingin bersama dengan seseorang yang sama sekali tidak mencintaiku!!”
Mwo?!”
“Kau...mencintai Hana.”
“Ap…apa katamu? Ya! Bagaimana mungkin kau bisa beranggapan seperti itu?”
“Benarkah? Kalau begitu sekarang katakan kalau kau tidak menyukainya!”
Sehun tidak menjawab. Entah kenapa ia sama sekali tidak tau harus menjawab apa. Sejujurnya saat ini ia belum tau harus mengartikan seperti apa perasaannya pada Hana. Tapi ia juga tidak berani untuk mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun terhadap gadis itu.
Melihat Sehun seperti itu membuat Putri tertawa pelan. “Lihat..kau tidak berani mengatakannya. Itu karna kau memang memilki perasaan untuknya.” Sehun menatap Putri yang masih berusaha tersenyum namun ia masih bisa melihat pipi gadis itu yang basah karna airmata. Detak jantungnya seolah berpacu dengan cepat setiap kali melihat wajah Putri. Dan ia benar-benar benci setiap kali gadis itu meneteskan airmatanya.
“Hana sudah kuanggap seperti adikku sendiri, dan seorang kakak tidak mungkin akan membiarkan adiknya sedih..apalagi sampai terluka. Jadi kumohon..jaga dia baik-baik.” Pesannya pada Sehun yang hingga kini masih memberikan tatapn tak mengerti kearahnya.
“Baiklah. Semuanya sudah kukatakan padamu. Kau tenang saja, setelah tiba di Seoul nanti aku yang akan menjelaskan semuanya pada Eomma dan Jihyun ahjummaAnnyeong..” Ucap Putri bangkit dari tempatnya dan berniat pergi dari sana.
“Katakan padaku..” Kata Sehun tiba-tiba seraya membelakangi Putri membuat gadis itu menghentikan langkahnya. “Apa cinta itu sebenarnya..?”
“Cinta adalah saat dimana jantungmu berdetak cepat disaat melihat seseorang yang kau sayangi bahagia maupun terluka. Cinta juga dapat hadir secara tiba-tiba dan hanya memerlukan waktu sedetik untuk merasakannya, namun terkadang membutuhkan waktu yang lama baru bisa menyadarinya. Seperti saat Hana mengatakan perasaannya padamu dan saat nanti kau juga baru akan menyadari seperti apa perasaanmu padanya sebenarnya.” Terang Putri lalu akhirnya berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Sehun yang masih terdiam di tempatnya. Pandangan pemuda itu menerawang ke depan.

Cinta adalah saat dimana jantungmu berdetak cepat disaat melihat seseorang yang kau sayangi bahagia maupun terluka..

Mengingat ucapan Putri barusan membuat Sehun mendadak tertawa kecil. Bayangan saat Hana tersenyum kemudian berganti wajah Putri saat menangis mendadak muncul di benaknya. Sehun menatap telapak tangan kanannya cukup lama, detik berikutnya ia menempelkan telapak tangan tersebut di dadanya.

“Apa yang harus kulakukan? Apa mungkin..aku menyukai kedua gadis itu?!”
♥~:♥~:♥

Matahari sudah menampakkan sinarnya, walaupun tidak begitu cerah dikarenakan pagi ini cukup berawan. Putri, Sehun dan juga Hana kini baru saja tiba di Pantai Jungmun yang merupakan salah satu tempat indah di Pulau Jeju ini.
“Wah~benar-benar indah..” Ucap Putri yang memandang takjub ke sekeliling pantai, begitupula dengan Sehun dan Hana. Sapuan pasir pucat dan tanaman hijau yang merambat di bukit pasir serta angin pantai yang berhembus pelan membuat tempat itu terasa begitu nyaman dan tenang.
“Hari ini, kumohon bersikaplah seperti biasa.” Ucap Putri tiba-tiba membuat Sehun berbalik menatapnya.
“Anggap saja semalam tidak ada yang terjadi dan aku tidak pernah mengatakan apapun padamu. Aku hanya ingin..hari ini kita bertiga bisa bersenang-senang tanpa ada beban sedikitpun. Kau bisa kan melakukan itu?!” Tanyanya seraya ikut berbalik dan akhirnya saling bertatapan dengan Sehun. Pemuda itu sendiri tidak mengatakan apapun.
Unnie, kemarilah!” Seru Hana memanggil Putri dari kejauhan, berniat memanggilnya untuk ikut berjalan di pinggiran pantai. Membuat keduanya langsung tersadar lalu akhirnya memandang kearah lain.
“Iya! Tunggu sebentar!” Sahut Putri lalu mendadak melepaskan sepatunya. “Kau juga!” Tuturnya pada Sehun tiba-tiba, membuat pemuda itu menatapnya terkejut sekaligus heran.
“Untuk apa?! Aku tidak mau melakukan hal aneh..” Tolak Sehun membuat Putri mendadak merunduk lalu mulai membuka sepatunya. Sehun yang tidak menyangka kalau Putri akan melakukan itu berusaha menahannya. “Ya!Apa yang mau kau lakukan..?!”
Aiish jinjja!! Buka saja..kalau tidak aku akan terus memaksammu!”
Yaa!!! Baik..baiklah! Akan kubuka! Kau ini benar-benar..” Kata Sehun yang akhirnya membuka sepatunya sendiri. “Bagaimana? Senang?!”
Putri langsung tertawa riang. “Senang sekali..Haha!! Akan lebih menyenangkan jika kita berjalan diatas pasir seperti ini tanpa alas kaki. Kkaja!!” Serunya lalu berlari menuju Hana, tanpa menyadari Sehun yang seolah terpaku ditempatnya. Jantungnya mendadak berdetak cepat saat tadi melihat Putri tertawa seperti itu. Sesuatu yang kembali dirasakannya seperti semalam, namun kali ini ada yang berbeda. Ia merasa senang melihat gadis itu
Sesaat ia tersenyum sendiri ditempatnya, lalu akhirnya berlari menuju tempat Putri dan Hana. Namun baru saja ia sampai disana, Kedua gadis itu tiba-tiba saja memercikkan air laut kearahnya kemudian tertawa. Sehun sendiri malah menunjukkan wajah kesalnya membuat tawa keduanya seketika tehenti.
“Kalian pikir ini lucu? Membuat pakaianku sampai basah seperti ini!” Kata Sehun dingin
Mianhae..kami hanya..Kyaaa!!!” Ucapan Putri mendadak tergantikan pekikan saat Sehun tiba-tiba saja memercikkan air ke wajahnya. “Bagaimana, aktingku hebat bukan?!” Seru Sehun seraya tersenyum puas membuat Putri mendelik kearahnya
Aiish jinjja..bisa-bisanya membohongiku. Rasakan ini!!” Putri membalas dengan kembali memercikkan air dan tepat mengenai wajah Sehun dan Hana dan begitu seterusnya. Saat-saat itu benar-benar mereka habiskan dengan tawa dan canda tanpa beban sedikitpun.
Akhirnya setelah puas bermain di Pantai, mereka pun memutuskan untuk mengunjungi taman yang berada di dekat Tebing Jusangjeolli. Sebuah taman yang sengaja dibangun dengan jalan kecil yang berada di sepanjang taman yang memang diperuntukkan bagi pejalan kaki dimana mereka bisa memandangi tebing tersebut dari berbagai sudut.
“Indah sekali ya, oppa!” Seru Hana antusias saat mereka melewati taman. Sehun mengangguk pelan seraya tersenyum. Sedangkan Putri, lagi-lagi ia harus merasa takjub dengan keindahan yang dimiliki oleh Korea selatan terutama Pulau Jeju ini. Begitu banyak keindahan yang ditemukan olehnya selama berada di tempat ini. Keindahan yang mungkin akan sulit ditemukannya di Indonesia.
Langkah Putri mendadak terhenti saat mengingat Indonesia, entah kenapa ia begitu merindukan tanah airnya itu. Rumahnya, suasana kampus bahkan cuaca hangat disana. Ia benar-benar sangat merindukan semua itu. Putri sadar, seindah apapun tempat ini hal itu tidak akan membuatnya lupa pada tempat asalnya sendiri. Karna tempat itu adalah tempat dimana ia memulai kehidupannya dan menyimpan banyak kenangan baginya.
Putri memandang Hana yang terus berjalan ke depan sambil merangkul lengan Sehun. Keduanya nampak begitu menikmati pemandangan taman. Melihat itu Putri tersenyum kecil. Sepertinya inilah saat yang tepat untuk melakukan rencananya.
“Hana~ya..Sehun~ah. Sampai jumpa” Ucapnya pelan lalu mengeluarkan hp dari kantong celana jeans nya dan akhirnya menekan sebuah nomor.
Eomma...”
♥~:♥~:♥

Hana dan Sehun masih terus berjalan menyusuri taman sambil memandang sekeliling.
“Pemandangan disini benar-benar indah, aku senang sekali bisa datang ke tempat ini bersama Sehun oppa dan Putri unnie. Menurut unnie sendiri bagaimana..?” Tanyanya pada Putri. Merasa tidak ada jawaban dari belakang, keduanya pun akhirnya berbalik dan terkejut saat mendapati jalanan yang kosong tanpa seorangpun.
“Oh?! unnie pergi kemana? Bukankah tadi ia bersama-sama dengan kita?”
Mendadak hp milik Sehun bergetar, rupanya sebuah pesan masuk. Sehun terkejut saat melihat nama pengirim pesan yang ternyata tidak lain adalah Putri. Ia pun mulai membacanya

Sehun~ah..saat ini aku akan kembali ke Indonesia. Tidak ada lagi yang harus kulakukan disini, aku juga sudah menjelaskan semuanya pada eomma dan Jihyun ahjumma dan mereka bisa menerimanya dengan baik. Jadi jangan khawatir. Sampaikan salamku untuk Hana dan kumohon jaga dia baik-baik. Terima kasih untuk semua yang telah kalian lakukan untukku selama ini. Sampai jumpa..^^

Hati Sehun serasa mencelos seketika saat selesai membaca pesan di layar hpnya. Tangannya menggenggam erat hp tersebut. Entah kenapa hatinya terasa begitu sesak dan sakit saat membaca pesan tersebut. Pikirannya pun seolah mulai kacau saat ini.
Sehun menatap jauh ke belakang, jujur saat ini ia ingin sekali berlari dan mencari Putri agar bisa mencegah kepergian gadis itu. Namun ia tidak mungkin melakukan itu disaat Hana sendiri masih bersama dengannya saat ini.
Oppa..kau sebenarnya mencintai Putri unnie kan?!” Pertanyaan Hana yang tiba-tiba seketika membuat Sehun tertegun di tempatnya.
“Ap..apa maksudmu?”
“Kau mencintainya oppa..itu bisa terlihat dari sikapmu saat ini.”
“Jujur saja saat ini aku sendiri tidak bisa mengartikan perasaanku sendiri.” Kata Sehun akhirnya.
“Dia bilang cinta itu adalah saat dimana jantung seseorang berdetak cepat dikala elihat orang yang disayangi bahagia maupun sedih. Tapi aku justru merasakan hal itu pada kalian berdua.”
“Apa oppa yakin?!” Tanya Hana lagi
“Apa sebenarnya maksudmu?!” Sehun menatap gadis itu tidak mengerti
“Disaat aku dan unnie tersenyum detak jantung oppa mungkin berdetak lebih cepat, namun perlakuanmu saat aku dan unnie sedang sedih begitu berbeda. Apalagi setelah menyaksikan semuanya semalam.”
Sehun menatap terkejut kearah Hana.
“Kau...melihatnya?!”
“Semalam saat oppa mendekap unnie aku bisa melihat dengan jelas kalau kau terus memperhatikannya. Tatapanmu malam itu menunjukkan bahwa kau seolah bisa merasakan seperti apa kesedihan yang dirasakan oleh unnie. Sangat berbeda dengan perlakuanmu padaku saat berada di dapur. Waktu kau memelukku saat itu yang aku rasakan hanya sebuah pelukan dari seorang kakak yang ingin menenangkan adiknya. Tidak lebih.” Tutur Hana membuat Sehun akhirnya ikut menyadarinya.
Malam itu saat ia melihat kekhawatiran di wajah Hana, ia memang sengaja memeluknya untuk menghilangkan kekhawatiran gadis itu sekaligus berusaha menenangkannya. Sedangkan saat bersama Putri, tubuhnya seolah bergerak dengan sendirinya mendekap gadis itu karna hatinya ikut merasakan sakit saat melihat gadis itu meneteskan airmatanya.
“Cinta mungkin buta oppa, tapi kita tidak buta..kita harus tau siapa orang yang sebenarnya kita cintai dalam hati ini. Lagipula, aku yakin kalau kau bukan mencintaiku. Kau hanya menyayangiku, berbeda dengan Putri unnie. Gadis yang sebenarnya diinginkan oleh hatimu. Dialah gadis yang sesungguhnya kau cintai, oppa..”
Sehun kini tidak mampu berkata apa-apa. Mendadak ia teringat akan perkataan eommanya saat ia dan Putri baru saja tiba di Jeju.

“Eomma hanya ingin kau dapat belajar suatu hal disana. Sesuatu yang sebenarnya dapat Eomma katakan secara langsung padamu. Namun akan lebih baik jika kau dapat menemukannya sendiri.”

Mungkinkah? Yang selama ini dimaksud oleh eommanya itu adalah menemukan arti cinta yang sebenarnya. Pemuda itu mengepalkan tangannya kuat. Menyesali dirinya sendiri yang begitu bodoh karna terlambat menyadari semua ini.
“Semuanya sudah terlambat. Dia sudah akan kembali ke negara asalnya..”
Aniyo..oppa!! Sama sekali belum terlambat. Bukankah oppa orang yang cerdas?! Kau pasti bisa menemukan cara untuk menemukannya! Aku percaya padamu..” Kata Hana seraya menatap dalam kearah Sehun membuat pemuda itu tersenyum kecil.
Gomawoyo. Kau benar, aku pasti akan menemukannya. Pasti.”
♥~:♥~:♥


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan akhirnya Putri pun tiba di bandara Soekarno-Hatta, Indonesia. Gadis itu hanya sendiri, itu karna ia memang memutuskan untuk pulang lebih dulu. Gadis itu memandang sekeliling, rasanya baru beberapa hari ia meninggalkan tempat ini tapi kenapa rasanya begitu senang saat kembali kesini.
Mungkinkah itu karna tidak ada lagi seseorang yang menjadi alasannya untuk tetap berada di Seoul?
Sadar kalau lagi-lagi teringat akan hal itu, ia pun cepat-cepat menggeleng lalu akhirnya memanggil taksi. Ia hanya ingin secepatnya sampai dirumah agar bisa menenangkan dirinya. Melupakan semua yang telah terjadi dan melanjutkan kehidupan lamanya yang sempat tergantikan selama beberapa hari.
Tidak butuh waktu lama bagi Putri untuk sampai dirumahnya. Kini ia sudah berada di depan sebuah rumah putih yang ukurannya cukup besar dan luas. Putri menghembuskan nafasnya lega lalu tersenyum kecil kemudian mulai melangkah masuk.
“Eh?! Nona Putri udah pulang?!” Seru Bibi Ina yang tidak lain adalah pengurus rumah ini. Orang yang juga sudah Putri anggap seperti Ibu kedua baginya.
“Iya bi..” Sahut Putri seraya tersenyum
“Kok gak nelpon ke rumah sih, Non? Nyuruh Pak Saman buat jemput di bandara..”
“Gak apa-apa kok, bi..lagian Putri sendiri yang pengen naik taksi kesini.”
“Ya udah, nona istirahat aja dulu. Nanti biar Bibi buatin makanan. Non, pasti laper kan?” Tanya Bi Inah membuat Putri mengangguk lalu tersenyum kecil. Begitupula dengan Bi Inah.
Akhirnya Putri pun berjalan menaiki tangga, dan setelah sampai di dalam kamar gadis itu langsung menghempaskan tubuh diatas tempat tidur kesayangannya.
Alih-alih memandangi seisi kamar, mata gadis itu mendadak terarah pada sebuah pintu kaca di depannya. Sebuah pintu menuju balkon. Tak ingin berlama-lama, ia pun berjalan menuju pintu lalu membukanya. Setelah sampai di balkon, ia langsung menuruni tangga kecil yang menuju halaman belakang rumah. Balkon tersebut memang sengaja dibangun agar Putri bisa dengan cepat sampai ke halaman yang terdapat di belakang rumah mereka. Tempat yang menjadi bagian favorit dari rumah ini bagi Putri.
Putri tersenyum memandang ke sekelilingnya. Tempat itu dikelilingi rerumputan hijau, dan terdapat sebuah kolam renang ukuran sedang di tengahnya. Gadis itu kini berjalan menuju kolam renang dan setelah sampai disana ia pun langsung duduk di pinggiran kolam.
Pandangan Putri menerawang ke depan, mena
tap pancaran sinar matahari sore yang seolah menembus air di kolam. Angin dingin mendadak menerpa tubuh gadis itu, membuatnya sempat terkejut dan seketika merapatkan jaket yang dikenakannya. Seolah menyadari sesuatu, kegiatan gadis itu mendadak terhenti. Detik berikutnya ia lalu melepas jaket yang dikenakannya lalu menatap barang tersebut yang kini berada dalam genggamannya. Sebuah jaket kulit berwarna hitam, yang tidak lain adalah jaket milik Sehun.
Jaket yang malam itu diberikan oleh Sehun saat ia merasa kedinginan dan berhasil membuatnya merasa hangat. Bukan hanya menghangatkan tubuhnya, tapi juga menyadarkannya akan kehangatan yang tersembunyi dibalik sikap Sehun yang dingin dan terkadang menyebalkan. Sesuatu yang seharusnya bisa menyadarkannya bahwa saat itu ia sudah menyukai pemuda itu.
Mengingat semua itu membuat Putri mendadak menundukkan kepalanya. Detik kemudian setetes airmata jatuh membasahi pipi mungilnya. Menyesali dirinya yang ternyata belum bisa melupakan Sehun. Ia tidak mampu melakukannya.
“Menangis lagi.”

Suara yang begitu dikenal oleh Putri mendadak terdengar, membuatnya langsung mengangkat kepalanya dan seketika terpaku di tempatnya saat matanya mengarah ke depan. Sehun.
Pemuda itu juga kini sedang duduk di pinggiran kolam seberang sana. Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, Putri lalu menggeleng cepat.
“Tidak mungkin. Ini pasti hanya perasaanku saja! Ini tidak..” Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya Sehun sudah lebih dulu melompat masuk kedalam air dan berenang menuju kearahnya.
Tidak butuh waktu lama, pemuda itu pun kini sudah berada tepat dihadapannya membuat Putri hanya bisa melongo di tempatnya karna kehilangan kata-kata saking terkejutnya.
Sehun akhirnya kesal karna gadis itu tidak juga memberi respon. “Ya!! Kau ini benar-benar! Aku sudah mencari berbagai cara agar bisa secepatnya bertemu denganmu. Tapi yang ada sekarang kau malah diam saja dan tidak...” Kalimat Sehun mendadak terhenti saat Putri tiba-tiba saja ikut melompat kedalam kolam dan langsung memeluknya erat. Jantungnya mendadak berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Terkejut, sedih sekaligus bahagia itulah yang dirasakannya saat ini. Kali ini ia tidak akan salah mengartikannya.
“Aku merindukanmu..” Ucap Putri kini terisak di pelukan Sehun karna terlalu bahagia saat melihat pemuda itu. Sulit dipercaya kini ia melihat Sehun berada di tempat ini.
Saranghae.

Satu kata yang diucapkan oleh Sehun berhasil membuat Putri tertegun di tempatnya saat ini. Berpikir bahwa ia baru saja salah dengar. Ia lalu melepaskan pelukannya dan menatap dalam kearah Sehun.
“Ba..barusan kau bilang apa?!” Tanyanya gugup
“Kau tidak mendengarnya? Aku bilang bahwa aku mencintaimu!” Ulang Sehun
“Tapi bagaimana mungkin? Bagaimana dengan Hana..?”
“Bukankah kau bilang Hana sudah seperti adikmu sendiri? Aku pun merasa seperti itu, bagiku Hana adalah seorang adik perempuan yang sudah seharusnya kujaga dan kulindungi." Tutur Sehun membuat Putri menatapnya dalam.
"Namun bukan seorang gadis yang bisa menempati hatiku, karna hati ini sudah lebih dulu terisi olehmu. Hanya saja aku yang terlambat menyadarinya. Lagipula kau tenang saja, aku sudah mengatakan semua padanya, dan ternyata ia bisa menerima semuanya.” 
Ya! Bukankah aku sudah menyatakan perasaanku padamu?! Sekarang giliranmu!” Ucapnya pada Putri tiba-tiba
“Cinta tidak harus selalu diungkapkan dangan kata-kata Sehun~si, terkadang hanya dengan melihat apa yang dilakukan seseorang untukmu bisa membuatmu sadar seperti apa besarnya cinta orang tersebut padamu.”
“Wah! Kau ini benar-benar ahli masalah percintaan!”
Putri menatap Sehun datar. “Keurae?! Menurutmu begitu..?”
Sehun sendiri tidak menjawab dan malah kembali menarik gadis itu dalam dekapannya.
“Tentu saja. Kau adalah gadis pertama yang membuatku jatuh cinta dan menyadarkan aku tentang hal itu. Karna itu, mulai sekarang ajarkan aku lebih banyak hal mengenai apa dan seperti apa cinta itu sebenarnya. Karna dengan begitu aku bisa semakin dan semakin mencintaimu, untuk selamanya.” Ujarnya tersenyum lalu mempererat dekapannya.
Putri yang sebelumnya sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Sehun, kini berubah tersenyum lalu akhirnya ikut melingkarkan lengannya di pinggang pemuda itu.

-Cinta itu seperti bunga. Sesuatu yang keindahannya terkadang hanya dipandang sesaat. Tanpa tau bahwa bunga tersebut sebenarnya memiliki wangi yang dapat memikat hati seseorang untuk merawatnya. Kita hanya perlu melihat lebih dekat untuk menyadarinya.-



                                   --FINISH--